Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kuliner

Jombang Belum Siap Kemasukan Resto Terkenal seperti Richeese Factory

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
13 Februari 2025
A A
Richeese Jombang kini sepi MOJOK.CO

Ilustrasi - Richeese Jombang kini sepi. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Richeese Jombang: indikator kemajuan

Desember 2024 lalu, saya sempat berbincang dengan pakar ekonomi dari Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendu Mantilet.

Belakangan, memang ada kecenderungan di tengah masyarakat—terutama Gen Z—yang menjadikan keberadaan ritel atau franchise modern sebagai indikator kemajuan suatu daerah.

Mudahnya begini, jika suatu daerah ada bioskop atau brand-brand besar yang selama ini identik dengan “brand kota” (seperti Richeese), maka daerah tersebut layak disebut maju.

Richeese Jombang kini sepi MOJOK.CO
Richeese Jombang kini sepi. (Aly Reza/Mojok.co)

Sebaliknya, jika tidak ada, maka daerah tersebut disebut tertinggal dan jauh dari peradaban.

Indikator itu tak pelak membuat anak-anak muda di suatu daerah kecil berharap agar di daerahnya kemasukan brand-berand besar nan terkenal. Karena tidak ingin daerahnya dianggap tertinggal.

“Padahal kita juga harus lihat, modernisasi itu tidak selalu mencerminkan pembangunan yang subtantif dan sustain,” ujar Yusuf.

Uang jajan harian yang nggak cukup

Menurut Yusuf, kemajuan daerah itu tidak bisa dilihat sebatas ada/tidaknya brand besar yang masuk ke sana. Lebih subtansial dari itu, yakni harus dilihat dari pondasi dasarnya: terjaminnya kesejahteraan masyarakat.

Yusuf menjelaskan situasi yang relevan dengan kondisi di Richeese Jombang.

Sangat wajar jika suatu brand besar di suatu daerah—apalagi daerah kecil seperti Jombang—hanya akan ramai di awal masa bukanya saja. Selebihnya berangsur sepi.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh SI KOPAR | Kuliner Jombang & Sekitarnya (@kontenlapar)

“Ya karena pendapatan orang tua mereka atau pendapatan mereka sendiri tidak meningkat,” jelas Yusuf. Dengan kata lain, dalam konteks Richeese Jombang, kondisi keuangan masyarakat tidak memungkinkan mereka sering-sering makan di sana.

Iklan

Maka, lanjut Yusuf, hal paling dasar dari kemajuan suatu daerah adalah bagaimana membuat masyarakatnya sejahtera lebih dulu. Salah satunya, dalam konteks jangka pendek, yakni dengan meningkatkan upah daerah bagi masyarakat.

Sebab, dengan upah layak, maka masyarakat punya peluang lebih besar dalam mengakses ruang-ruang yang selama ini identik dengan kultur orang kota/orang kaya.

Untuk konteks jangka panjang, lanjut Yusuf, berkaitan dengan bagaimana pemerintah daerah menciptakan lapangan kerja yang sifatnya bisa meningkatkan kesejahteraan jangka menengah dan panjang. Di saat bersamaan juga bisa menyerap angkatan kerja yang besar.

“Kalau kesejahteraan masyarakat setempat secara umum sudah meningkat, nanti akan ada efek bola salju. Investor akan masuk kembali. Dan itu lebih sustain,” tegas Yusuf.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Hanya karena Nggak Ada Mie Gacoan Bukan Berarti Daerah Saya Tertinggal, Ukuran Maju Tak Sereceh Itu atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 14 Februari 2025 oleh

Tags: Jombangricheese jombang
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Jombang itu kota serba nanggung MOJOK.CO
Catatan

Jombang Kota Serba Nanggung yang Bikin Perantau Bingung: Menggoda karena Tenteram, Tapi Terlalu Seret buat Hidup

12 Januari 2026
Bus Harapan Jaya Surabaya Jawa Timuran hanya untuk orang-orang tangguh MOJOK.CO
Ragam

Bus Harapan Jaya Jawa Timuran Busnya Orang-orang Tak Punya Pilihan: Jauh dari Kemewahan, “Menyiksa” Sepanjang Perjalanan

10 Juni 2025
Kehidupan desa di Jombang, termasuk Ngoro, jauh dari rasa tenang MOJOK.CO
Ragam

Ngerinya Kehidupan Desa di Jombang, Harta-Nyawa Bisa Lenyap Kapan Saja

9 Juni 2025
Perjalanan menyiksa rute Tuban-Jombang naik bus Bagong hingga Widji MOJOK.CO
Catatan

Perjalanan Menyiksa Rute Tuban-Jombang, Berdesakan dan Berpanasan Melibas Sisi Lain Jalanan Jawa Timur

3 April 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

gen z, biaya nikah, nikah di gedung, pernikahan.MOJOK.CO

Lebih Baik Nikah di Gedung daripada di Desa: Lebih Praktis dan Murah, tapi Harus Siap Dinyiyiri Tetangga

22 Februari 2026
merantau di Jogja.MOJOK.CO

Cerita Perantau Jatim: Diremehkan karena Tinggal di Kos Kumuh Jogja, Bungkam Mulut Tetangga dengan Membangun Rumah Besar di Desa

25 Februari 2026
5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau Mojok.co

5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau 

25 Februari 2026
Mudik ke desa pakai motor setelah bertahun-tahun merantau di kota seperti Jakarta jadi simbol perantau gagal MOJOK.CO

Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga

26 Februari 2026
Gamplong Studio Alam, Tempat Wisata Sleman yang Unik, tapi Nggak Perlu Diulang Dua Kali Mojok.co

Gamplong Studio Alam, Tempat Wisata Sleman yang Unik, tapi Nggak Perlu Diulang Dua Kali

27 Februari 2026
produk indomaret, private label.MOJOK.CO

Private Label Indomaret Penyelamat Hidup Saat Tanggal Tua Bulan Ramadan, Murah tapi Tak Murahan

24 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.