Mie ayam menjadi menu sarapan yang umum disantap sebagian banyak pekerja di Jakarta (Walaupun terdengar/terlihat aneh bagi orang-orang yang lebih sering menyantapnya di siang, sore, atau malam hari).
Lebih dari itu, mie ayam di Jakarta bukan sekadar menu pengganjal perut sebelum memulai hari. Tapi juga menjadi saksi para pekerja yang berusaha tetap bertahan di tengah hiruk-pikuk Ibu Kota.
Pagi penuh keterpaksaan
Meski dikenai kewajiban salat Subuh, tapi Wirawan (27) tetap dengan sengaja menarik selimut dan memaksa matanya memejam saat azan sudah berkumandang. Meski sebenarnya tubuhnya selalu refleks terbangun saat pengeras suara musala dan masjid di perkampungan kosnya–di Jakarta Pusat—berbunyi sahut-menyahut.
Bukan karena Wirawan membenci azan atau salat. Ia tak pernah meninggalkan salat, meski memang lebih sering kelewat waktunya. Kendati di lingkungannya, orang mengerjakan salat justru dipandang sebagai “keanehan”, bukan kewajaran.
Wirawan bersikap begitu (malas-malasan saat azan Subuh) lebih karena ia selalu malas menyambut pagi. Pagi artinya ia harus berangkat bekerja lagi, bertemu orang-orang sekantor yang tidak ia sukai, juga bertemu bos yang kerap tantrum bahkan untuk masalah yang harusnya bisa diselesaikan dengan duduk rileks sambil menyeruput kopi.
Tapi mau bagaimana lagi. Jika matahari belum terbit dari barat, artinya ia harus beranjak dari kasur untuk menghadapi itu semua. Begitu terus secara berulang, kecuali di hari Minggu sebagai satu-satunya hari yang memungkinkannya “mati suri” seharian (tidur sepuasnya di kos).
Di Ibu Kota, kabar buruk lebih cepat datang
Wirawan bekerja di bidang pemasaran di sebuah perkantoran swasta di Jakarta Pusat. Pagi sebelum mulai bekerja, ia sering duduk sendiri di sebuah warung mie ayam yang buka sejak pagi buta.
“Atau kalau nggak sempet, pagi nggak sarapan, tapi makan siangnya nanti di mie ayam dekat-dekat kantor,” ujarnya bercerita melalui aplikasi kirim pesan, Sabtu (10/1/2025).
Hidup di Ibu Kota membuat Wirawan terpapar kabar buruk lebih cepat. Entah dari negara, media sosial, atau dari kantornya sendiri.
Di antara sekian kabar buruk itu, setidaknya ada tiga yang membuat hati Wirawan diremas-remas rasa cemas. Satu, berita-berita soal gelombang PHK. Dua, kebangkrutan sejumlah perkantoran. Dan tiga, realita betapa makin ke sini makin susah mencari kerja. Tak peduli seberapa berpengelaman kamu di bidang tertentu, atau lulusan dari kampus top dengan gelar Cumlaude sekalipun. Tidak ada jaminan bisa dapat pekerjaan dengan mulus, kecuali ada akses dari orang dalam.
“Misalnya, amit-amit kantor bangkrut, atau aku kena PHK, lalu susah cari kerja lagi. Gila. Kehidupan macam apa itu. Sementara aku nggak mungkin pulang ke kampung halaman, lalu jadi beban buat orang tua (lagi) yang sudah bahagia menikmati masa pensiun,” keluh pekerja di Jakarta Pusat itu.
Mie ayam bukan solusi, tapi jadi ruang jeda bagi pekerja Jakarta
Mie ayam yang ia santap di suatu pagi atau sore memang tidak lantas membuat seluruh ketakutannya itu mereda. Tapi ia bisa menjadi ruang jeda–setidaknya bagi Wirawan.
Ketika semangkuk mie ayam terhidang, pikirannya hanya fokus meresapi betapa nikmatnya makanan tersebut. Gurih kuahnya. Kenyal mienya. Potongan sawinya. Lembut potongan ayamnya. Ah…
“Aroma mie ayam juga jadi penenang saat hati sumpek sehabis dievaluasi (lebih tepatnya dimaki-maki) atasan gara-gara target bulanan nggak terpenuhi dengan semestinya,” ucap pemuda asal Sukabumi, Jawa Barat itu.

Mie ayam, amunisi pekerja Jakarta untuk tetap waras
Mie ayam juga punya arti penting bagi pekerja Jakarta lain: Nilam (29), perempuan asal Bekasi.
Berkali-kali Nilam selalu ingin mengakhiri hidup. Kerap kali ia merasa sudah tidak waras dan tidak tahan dengan kehidupan yang ia jalani.
“Tapi semangkuk mie ayam di warung langgananku ternyata masih seenak itu. Aku kan nggak bisa memastikan di akhirat ada mie ayam atau nggak hahaha,” ujarnya berkelakar, juga melalui aplikasi kirim pesan.
Sudah sejak lama Nilam menyukai mie ayam. Namun, baru belakangan–setelah membaca novel Semangkuk Mie Ayam Sebelum Mati–nya Brian Krishna–ia menyadari, betapa hal “sekecil” mie ayam bisa menjadi alasan untuk tetap layak hidup.
Kini, setiap selesai makan mie ayam, pekerja di sebuah event organizer (EO) di Jakarta Selatan itu selalu bisa menjernihkan pikiran: Menarik napas panjang, melapangkan hati dan pikiran, lalu mulai kembali menjalani rutinitas yang meremukkan jiwa dan raga. Walaupun Nilam sendiri menduga, kewarasannya pasti akan menemui batasnya suatu saat nanti.

Telepon dari rumah, kutukan yang hanya bisa terputus kalau Nilam mati
Nilam sebenarnya sudah terbiasa menelan kehidupan serba cepat dan semrawut di Jakarta. Namun, ia masih tidak terbiasa dengan telepon dari rumahnya sendiri.
“Setiap telepon masuk, kabarku berada di list pertanyaan paling akhir orang tuaku. Setelah mereka memastikan hidup mereka akan baik-baik saja ke depan, walaupun itu artinya anak pertamanya ini harus remuk-remukan,” ucap Nilam lesu. “Kalau dirasa-rasain malah mirip Kaluna (tokoh utama di film Home Sweet Loan).”
Nilam anak pertama. Ia punya dua adik. Adik paling bontot sedang kuliah. Sementara adik tengahnya tidak bisa diandalkan: Putus sekolah saat kelas 2 SMA. Bukan untuk bekerja membantu keluarga tapi malah hobi keluyuran. Hanya saja ia tak lupa rumah: Kalau lapar atau tak punya uang, pasti pulang.
“Itu saja dia sudah ngebet nikah tahu. Sementara aku, di umur segini, buat jatuh cinta saja rasanya nggak sempet. Kasihan cowok kalau nanti berpasangan sama aku, dia bakal mikul bebanku juga,” tutur Nilam.
Bapak Nilam sudah tidak bekerja karena fisiknya sekarang mudah lelah. Sementara ibunya ikut bekerja ke saudara yang buka jasa catering.
“Jadi kalau telepon masuk, hal pertama yang ditanyakan adalah, “Kamu ada uang yang bisa dikirim nggak?”. Buat bayar kuliah lah, tambahan biaya listrik lah, bulan depan ada ini lah-itu lah, macem-macem,” beber Nilam.
Ada janji yang harus ditepati, jangan buru-buru mati
Tentu tidak cukup kalau Nilam mengandalkan penghasilan dari satu tempat. Oleh karena itu, ia mengambil macam-macam freelance. Meski itu akan membuat tubuhnya terasa remuk, kurang tidur, dan nyaris gila.
Ia tak bisa serta merta menyalahkan kondisi keluarganya, yang menempatkannya sebagai tumpuan. Tapi situasi yang ia alami membuatnya berpikir: Kehidupannya layak untuk diakhiri jika ingin mengakhiri penderitaan dan kutukan tersebut.
Akan tetapi, duduk di warung mie ayam–sendiri atau dengan teman dekat–membuat pekerja Jakarta itu tetap punya alasan untuk terus hidup. Setidaknya untuk besok atau lusa.
“Kalau sama temen deket, biasanya makan mie ayam sambil curhat soal hidup. Ya jadi punya perspektif baru terus dalam memandang hidup. Dan setiap selesai makan, selalu temanku bilang, “Kita harus eksplor mie ayam enak lain.” Oke, setidaknya aku punya janji yang harus ditepati, jadi nggak buru-buru mati,” tutup Nilam dengan tawa.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Kiat Menemukan Alasan untuk Tetap Hidup dalam Seporsi Mie Ayam ala Brian Khrisna atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














