Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kuliner

5 Penanda Pempek Asli dan Palsu di Jogja Menurut Lidah Orang Palembang

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
16 Oktober 2025
A A
5 Penanda Pempek Asli dan Palsu di Jogja Menurut Lidah Orang Palembang.MOJOK.CO

Ilustrasi - 5 Penanda Pempek Asli dan Palsu di Jogja Menurut Lidah Orang Palembang (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Berikut ini cara membedakan pempek asli dan palsu di Jogja menurut lidah orang Palembang. Biar nggak salah pilih.

***

Lima tahun lebih kuliah dan kerja di Jogja, Rahma (25) sudah mencoba puluhan warung pempek yang mengklaim “asli Palembang”. Namun, tiap kali menggigit, selalu ada yang kurang di lidahnya. 

“Kadang terlalu manis, kadang terlalu keras, kadang cuko-nya hambar,” kata perempuan asli Palembang ini, Senin (13/10/2025). 

Sebagai mahasiswa perantau, Rahma belajar satu hal: menemukan pempek yang cita rasanya benar-benar asli di Jogja ternyata lebih sulit daripada yang ia bayangkan. Setiap warung yang memasang label “asli” membuat dirinya selalu kepo: apakah kali ini benar-benar sesuai harapan, atau sekadar “tipu muslihat”?

Ibu Rahma berjualan pempek di Palembang. Dari kecil, Rahma sudah terbiasa membantu mengaduk adonan ikan tenggiri segar, menakar sagu, dan mencicipi cuko panas yang pekat aroma bawang putih dan gula merah. 

Sialnya, ketika pertama kali mencoba pempek di Jogja, Rahma merasa seperti sedang menyantap makanan lain. Padahal, tempat ia makan sudah jelas-jelas memasang spanduk besar: “Pempek Asli Palembang”. Dari pengalaman itu, Rahma akhirnya belajar membedakan mana pempek asli dan yang bukan.

#1 Pempek asli Palembang harus dari ikan yang tepat

Rahma ingat jelas momen di warung pertama yang dikunjungi. Kapal selam dan lenjer (pempek panjang) tersaji hangat di depan mata. Ia kemudian bertanya ke penjual, “Ikan apa yang dipakai?”

Penjual itu tersenyum dan jujur: “Pakai ikan lokal saja, biar murah, Mbak.” Kemudian Rahma mengetahui bahwa itu adalah pempek ikan kakap.

Lidah Rahma langsung mengenali perbedaannya. Pempek asli Palembang yang memakai ikan tenggiri atau belida segar, rasanya kenyal tapi tetap lembut, dengan aroma khas ikan. 

Di Jogja, adonannya terasa berbeda, lebih padat, aroma ikan samar. Saat itu Rahma sadar, banyak warung hanya menawarkan versi “ekonomis” pempek, bukan yang asli.

#2 Adonan kenyal tapi tidak keras

Pengalaman lain, ada yang aromanya sudah “tenggiri banget” tapi teksturnya sangat lain. Lebih keras, tidak kenyal seperti pempek asli Palembang.

Di warung lain, Rahma mencoba lenjer yang terlihat menggoda. Gigitan pertama membuat rahangnya bekerja keras. Kata dia, adonan terlalu padat. Ia kemudian membandingkan dengan adonan pempek di rumah yang lebih elastis, ringan, tapi tetap mampu menahan isian telur di kapal selam.

Di momen itu, Rahma merasa seperti “kritikus pempek dadakan”, mencoba menjelaskan pada teman Jogja: “Ini bukan kenyal, ini keras.” 

Iklan

“Kenyal itu seni, anjay! Nggak asal keras kayak karet. Artinya itu ada yang salah sama campuran sagu.”

#3 Cuko yang asli rasanya “seimbang”

Cuko selalu menjadi pusat perhatian Rahma. Ibunya mengajarkan cara membuat cuko yang benar: gula merah larut sempurna, bawang putih dihaluskan dengan tangan, cabai diatur agar pedasnya pas. 

Sementara di Jogja? Ia mencicipi cuko yang terlalu manis atau terlalu encer.

Sekali lagi, tatkala Rahma mencoba menanyakan ke penjual: “Apakah ini cuko resep asli Palembang?” Penjual menjawab: “Ya”

“Meskipun aku tahu rasanya nggak Palembang banget. Harus seimbang, nggak bisa terlalu pedas atau terlalu manis.”

#4 Varian pempek asli Palembang itu beragam

Di rumah, Rahma mengenal kapal selam, lenjer, adaan, keriting, bahkan pistel–sebagai varian pempek asli Palembang. Sementara di Jogja, banyak warung hanya menyediakan lenjer dan kapal selam. 

Suatu sore, ia datang ke warung yang katanya lengkap. Ia memesan kapal selam, lenjer, dan bertanya: “Ada keriting atau adaan juga?”

Penjual menggeleng, bahkan seperti asing mendengar nama-nama varian tersebut. Rahma pun cuma bisa tersenyum kecut. 

Baginya, varian pempek bukan sekadar pilihan, tapi bagian dari budaya dan pengalaman makan yang lengkap. Tanpa varian lengkap, pempek terasa “setengah hati”.

#5 Penyajian yang autentik

Pempek asli disajikan hangat, biasanya di atas daun pisang, dengan irisan timun segar dan cuko kental. Di Jogja, Rahma sering mendapatkan pempek di piring plastik, cuko encer, dan tanpa timun.

Suatu malam, ketika mencoba warung baru, Rahma melihat pempek diletakkan di atas piring keramik, tapi cuko encer dan tanpa daun pisang. Ia tersenyum pahit, mengingat rumah di Palembang: aroma daun pisang, sensasi hangat adonan di tangan, dan rasa timun segar menyeimbangkan cuko. 

Detail kecil itu ternyata memengaruhi pengalaman makan, membuatnya terasa jauh dari rumah.

“Aku bukan bermaksud menjadi polisi skena pempek asli Palembang. Hanya saja sebagai orang yang sejak kecil hidup bareng sama makanan ini, rindu aja karena belum nemu yang autentik di perantauan.”

Namun, setiap pengalaman itu membuat Rahma belajar satu hal: menemukan pempek asli di Jogja itu susah, tapi pengalaman mencoba warung demi warung membuat lidahnya semakin peka. 

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Pertama Kali Coba Tahu Gimbal Khas Semarang, Dibuat Bingung dan Khawatir karena Pedagangnya yang Suka Iri-irian atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 16 Oktober 2025 oleh

Tags: kapal selammakanan khas palembangpalembangpempekpempek asli palembangpempek di jogjapilihan redaksi
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO
Catatan

Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran”

7 April 2026
Kelas menengah ke bawah harus mawas diri Kalau pemasukan pas-pasan jangan maksa gaya hidup dalam standar dan tren media sosial MOJOK.CO
Tajuk

Kelas Menengah ke Bawah Harus Mawas Diri, Pemasukan Pas-pasan Gaya Hidup Jangan Pakai Standar dan Tren Media Sosial

6 April 2026
Pekerja Jogja kaget pindah kerja di Purwokerto demi alasan slow living. Tapi kaget dengan karakter orang Banyumas MOJOK.CO
Urban

Pekerja Jogja Pindah Kerja ke Purwokerto Nyari Slow Living, Tapi Dibuat Kaget sama Karakter Orang Banyumas karena di Luar Ekspektasi

6 April 2026
Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO
Urban

Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Salatiga Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup

6 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

kuliah s2.MOJOK.CO

Penyesalan Lanjut S2 Cuma karena Pelarian dan FOMO: Nganggur dan Dicap Overqualified, Sudah Kerja pun Gaji Setara Lulusan SMA

5 April 2026
Niat MBG Itu Mulia: Cerita Guru Wali Kelas yang Harus Memastikan Siswa Mau Mencoba Menghabiskan Makanannya MOJOK.CO

Niat MBG Itu Mulia: Cerita Guru Wali Kelas yang Harus Memastikan Siswa Mau Menghabiskan Makanannya

1 April 2026
Gaji 8 Juta di Jakarta Jaminan Miskin, Kamu Butuh 12 Juta MOJOK.CO

Gaji 8 Juta di Jakarta Tetap Bisa Bikin Kamu Miskin, Idealnya Kamu Butuh Minimal 12 Juta Jika Ingin Hidup Layak tapi Nggak Semua Pekerja Bisa

2 April 2026
Gagal kuliah di PTN karena tidak lolos SNBP, padahal masih ada jalur SNBT dan UM UGM

Keterima ITS tapi Tak Diambil demi Nama Besar UGM, Malah Merasa Bodoh karena Gagal SNBP padahal Hanya Seleksi “Hoki-hokian” dan Kuliah di PTN Tak Pasti Aman

1 April 2026
Kuliah soshum di PTN merasa gagal karena tak jadi wong untuk orang tua

Lulusan Soshum Merasa Gagal Jadi “Orang”, Kuliah di PTN Terbaik tapi Belum Bisa Penuhi Ekspektasi Orang Tua

6 April 2026
Ribetnya urusan sama pesilat. Rivalitas perguruan pencak silat seperti PSHT dan PSHW (SH Winongo) bikin masalah sepele jadi alasan rusuh MOJOK.CO

Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial

7 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.