Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Megahnya Jogja City Mall Bergaya Romawi dengan Filosofi Keberuntungan, Nyatanya Makin Menyesatkan Orang “Buta Arah” Seperti Saya

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
3 Februari 2026
A A
Jogja City Mall, Sleman bikin orang nyasar. MOJOK.CO

ilustrasi - Jogja City Mall, Sleman.

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pengalaman nyasar di Jogja City Mall (JCM), Sleman bikin saya bertanya-tanya, kenapa belum ada sistem yang bagus untuk mengintegrasikan denah bangunan mal di era teknologi yang semakin canggih? Dengan begitu, pengunjung bisa lebih nyaman datang ke tempat baru.

***

Jalan-jalan di mal memang menyenangkan bahkan ada yang rela menghabiskan waktunya selama berjam-jam untuk jalan kaki sambil melihat-lihat produk tanpa membeli. Julukan bagi mereka yang melihat tanpa membeli biasanya disebut sebagai “rojali” alias rombongan jarang beli. Tapi bagi saya, rojali masih wajar. Yang lebih mengesalkan adalah rombongan hanya tanya atau rohana. 

Barangkali saya tidak tergolong tipe keduanya, karena saya tidak terlalu suka jalan-jalan di mal. Selain pegal dan tidak suka keramaian, saya juga “buta arah”. Apalagi jika mal itu baru saya kunjungi pertama kali. Dan benar saja, saya pernah kesasar saat di Jogja City Mall (JCM) untuk meliput suatu acara. 

Filosofi bangunan yang tak mempan bagi saya

Sebetulnya, Jogja City Mall di Sleman lebih sempit dari Pakuwon Mall–satu-satunya mal terluas di Jogja saat ini dan merupakan mal terbesar ketujuh di Indonesia. Denahnya pun lebih mudah dihafalkan karena modelnya yang melingkar dengan atap terbuka, sehingga kita bisa melihat berbagai produk di satu tempat atau satu atap. Konsep ini biasa disebut one stop shopping.

Bangunan Jogja City Mall juga memiliki arsitektur yang unik karena menonjolkan gaya Romawi yang dipadukan dengan interior Jawa khas Yogyakarta. Tak heran, sebab pendirian gedung ini harus mendapat izin dari Sultan Hamengkubuwono X dan Bupati Sleman Sri Purnomo pada tahun 2015 silam.

Jogja City Mall, Sleman juga memiliki 17 pilar tinggi yang berada di sayap kiri dan 9 pilar di sayap kanan. Angka 17 dipercaya sebagai simbol keberuntungan, sedangkan 9 dipercaya sebagai kesempurnaan. Sayangnya, filosofi angka pilar tersebut sepertinya tak berlaku bagi saya.

Sebab, meski dibangun dengan konsep one stop shopping untuk mempermudah pengunjung, saya masih juga nyasar. Terutama saat akan menuju ke parkiran motor. Karena kelelahan setelah seharian pergi ke berbagai tempat, saya jadi linglung dan hampir tak menemukan motor saya.

Karcis parkiran JCM tiada fungsi

Jam sudah menunjukkan pukul 20.30 WIB saat saya hendak pulang dari Jogja City Mall, Sleman. Dengan perasaan riang usai mendapat sehelai bulu merak dari sebuah acara yang saya kunjungi, saya kemudian memencet tombol “P1” di dalam lift untuk menuju parkiran.

Setelah tiba di lantai P1, saya pun berjalan tegap penuh percaya diri ke sisi seberang dekat pintu keluar parkiran. Saya tidak terlalu ingat kode-kode tulisan di tiang, tempat saya menaruh motor. Karena buru-buru masuk ke mal, saya hanya mengingat rambu bertuliskan “keluar” dekat loket. Dengan begitu, saya tidak terlalu jauh jalan kaki nantinya.

Nahas, setelah mengitari lantai P1 parkiran sekali, saya tak kunjung menemukan sepeda motor pelat L milik saya. Sekali lagi saya mencari dan berkeliling ke berbagai sisi. Mulai dari sisi kanan arah pintu masuk mal, lalu ke sisi tengah, hingga ke sisi kiri tapi tak juga ketemu.

Saya mulai panik tapi memutuskan duduk sebentar dan mendinginkan kepala. Saya pun mengirim pesan kepada teman saya yang ahli teknologi dan menjelaskan situasi konyol tersebut. Tak lupa juga mengirim foto berupa tiket parkir motor dan bertanya sesuatu yang menurut dia aneh.

“Dengan kode-kode yang tertulis di tiket parkir motor tersebut, apakah kamu bisa menemukan posisi motorku?” tanya saya, entah dapat ide dari mana.

“Nggak iso lah! Kan iku gur karcis gawe nge-scan (Nggak bisa lah. Kan itu hanya karcis untuk scan keluar),” balasnya, “Coba langsung tanya satpam terus bilang ‘Pak, saya sudah muter-muter tapi nggak menemukan motor saya,” lanjutnya buru-buru memperbaiki kalimat lebih tenang usai kaget dengan pertanyaan saya di awal.

Namun, saya urung karena bisa jadi saya yang salah. Akhirnya saya memutuskan masuk lagi ke Jogja City Mall untuk istirahat sebentar. Hitung-hitung mengisi amunisi sebelum mencari motor di tempat parkiran berbeda yakni P2.

Tolong perbarui sistem lebih canggih

Setelah istirahat sebentar dan naik lift lagi, barulah saya sadar ada tempat parkiran lain yang tampaknya lebih meyakinkan kalau saya parkir di sana ketimbang P2. Lantai itu bernama LG. Sebelumnya, saya tidak mengira ada tempat parkiran di sana sebab saya kira lower ground (LG) di Jogja City Mall hanya berisi Hypermart dan gerai-gerai lain. 

Sebelumnya, saat mengitari lantai tersebut, saya hanya melihat Bakso Kota Cak Man, Richeese Factory hingga toko optik. Setelah saya pikir-pikir lagi, saya memang masuk dari jalur pintu LG. Saat melihat loket pintu keluar parkiran, saya semakin saya kalau motor saya ada di sana. Dan benar saja, firasat saya terbukti.

Sejak saat itu saya punya prinsip, selalu mencatat kode-kode di tiang parkiran dekat motor saya diletakkan. Tak mengandalkan rambu-rambu “keluar” semata. Walaupun saya masih berharap ada teknologi canggih yang bisa menunjukkan lokasi parkir motor pengunjung, entah lewat karcis parkiran atau langsung dari sistem. 

Iklan

Saya masih beruntung, sebab pengalaman nyasar ini baru saya alami di JCM, Sleman. Bayangkan apa jadinya kalau saya nyasar di Pakuwon Mall Jogja atau Tunjungan Plaza Surabaya. Kini, saya pun paham kenapa orang bisa nyasar di mal bahkan tidak bisa keluar.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Jogja City Mall Bikin Orang yang Biasanya Cuma Ngemal di Royal Plaza Surabaya Mumet dan Terlihat Kampungan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 3 Februari 2026 oleh

Tags: jcmjogja city mallkarcis parkirlantai malparkiranparkiran motorsleman
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

ilustrasi MBG

Kisah Pilu Pegawai SPPG: Sering Dicap Ikut Korupsi Anggaran MBG, Padahal Niat Bekerja Sepenuh Hati

21 Agustus 2026

Punya 30 Kamar Kost Putri Ternyata Tidak Seindah yang Dibayangkan

19 Agustus 2026
Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman meluncurkan aplikasi Gandheng ATS untuk atasi masalah anak putus sekolah MOJOK.CO

Sleman Punya Aplikasi Pencegahan Dini Anak Tidak Sekolah

5 Agustus 2026
Bupati Sleman, Harda Kiswaya, menyerahkan hibah daerah ke ormas, tempat ibadah, dan para seniman MOJOK.CO

Hibah Pemkab Sleman untuk Ormas, Tempat Ibadah, dan Seniman: Serahkan Ratusan-Miliaran Juta untuk Dioptimalkan

10 Juli 2026
Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik MOJOK.CO

Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik, Membuat Derak Roda Ekonomi Bergerak ke Seluruh Pelosok DIY

26 April 2026
Naik Travel dari Jogja ke Surabaya Penuh Derita, Nyawa Terancam (Unsplash)

Naik Travel dari Jogja ke Surabaya, Niatnya Ingin Tenang Berakhir Penuh Derita dan Nyawa Terancam

13 Maret 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Lulus S3 dan Jadi Peneliti, Hidup Saya Malah Bergantung pada Honor Riset yang Tak Kunjung Cair MOJOK.CO

Lulus S3 dan Jadi Peneliti, Hidup Saya Malah Bergantung pada Honor Riset yang Tak Kunjung Cair

19 Agustus 2026
Ide bisnis sewa HP flagship, ide aneh raup omzet 20 juta per bulan MOJOK.CO

Ide bisnis sewa HP flagship ternyata begitu menguntungkan, modal 3 HP bisa raup omzet 20 juta per bulan

20 Agustus 2026
Kelebihan Daikin sebagai AC terbaik untuk hunian modern dengan listrik terbatas MOJOK.CO

Daikin Multi-S, Pilihan AC Terbaik untuk Rumah Hemat Energi

15 Agustus 2026
ilustrasi MBG

Kisah Pilu Pegawai SPPG: Sering Dicap Ikut Korupsi Anggaran MBG, Padahal Niat Bekerja Sepenuh Hati

21 Agustus 2026
Tercatat 1 juta lulusan S1 (sarjana) jadi pengangguran hingga terjebak pinjol karena hidup konsumtif MOJOK.CO

Banyak Lulusan S1-S3 Nganggur Bukan Cuma karena Lapangan Kerja, Tapi Ada Juga Dua Masalah yang Jarang Disadari

19 Agustus 2026
Saat Kemerdekaan RI Belum Bisa Dirasakan Buruh. MOJOK.CO

Saat Kemerdekaan Belum Bisa Dirasakan Kelompok Buruh dan Pekerja

17 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.