Beberapa kuliner Jawa—yang identik sebagai kuliner kerakyatan (karena banyak ditemukan di pinggir-pinggir jalan—ini pada dasarnya memang makanan sederhana saja. Namun, siapapun penemunya pertama kali, rasa-rasanya patut menerima ucapan “terima kasih sebesar-besarnya”.
***
Bermula dari celetukan istri, saya terpantik untuk bertanya ke sejumlah orang, “Makanan apa yang kamu pengin banget bilang “terima kasih” karena udah menemukannya?”
Istri saya amat menyukai mendoan khas Jawa Tengah. Katanya, rasanya berbeda dengan di tempat asalnya, Jombang, Jawa Timur.
Ia memang kelewat menyukai sayap ayam di Richeese Factory. Namun, ia selalu takluk kalau soal mendoan. Seperti tidak ada bosannya.
Setiap kami ke Rembang (kampung halaman saya), ia pasti akan mengajak saya berburu mendoan dari satu pantai ke pantai lain. Itu sudah cukup membuatnya senang. Sungguh healing yang amat merakyat sekali.
“Siapa ya dulu yang menemukan mendoan pertama kali? Makasih lah, ini makanan enak sekali dinikmati. Apalagi kalau cuaca dingin, mendoannya hangat-hangat,” begitu celetuknya.
Pertanyaan spontan istri saya itu lalu saya tanyakan ke sejumlah orang. Dan inilah kuliner di Jawa yang ingin diberi ucapan terima kasih:
#1 Pecel, kuliner Jawa yang inklusif
Saat hujan tengah mengguyur Jogja pada Jumat (13/2/2026) sore, sebenarnya Faizal (24) tengah menikmati sepiring nasi rendang. Meski begitu, katanya, nasi pecel tetap menjadi kuliner terbaik versinya.
Pertama, nasi pecel banyak dijumpai di banyak daerah. Walaupun kultur gastronomi antardaerah berbeda, tapi identitas nasi pecel nyaris tidak pernah goyah.
Misalnya seperti ini: soto Jogja cenderung bening, sementara soto Lamongan berkuah kuning. Cita rasa kuliner Jogja cenderung manis, sementara daerah Jawa Timuran cenderung pedas.
Berbeda dengan pecel. Di manapun, sepertinya rasanya sama saja. Yang berbeda sering kali hanya isian pelangkapnya.
“Di Jawa Timuran itu isinya macem-macem. Kangkung, kemangi, irisan timun, di Jombang malah pakai bunga turi juga. Dan memang, pecel itu kayak bisa dimakan pakai apa saja. Pakai telur oke, tahu-tempe enak, ayam goreng oke. pakai dadar jagung (bakwan) juga mantap. Bisa semua. Ini kuliner inklusif,” ujar Faizal berkelakar.
Dari hidangan istana ke kaki lima
Narasi inklusivitas pecel dari Faizal ini ternyata sejalan dengan dengan perjalanan pecel sebagai salah satu kuliner di Jawa.
Menurut Murdijati Gardjito, pakar gastronomi penulis buku Kuliner Jawa: Melacak Jejak Sejarah dan Filosofi dalam Masakan Nusantara, pecel tercatat sebagai hidangan Istana. Ini seperti tercatat dalam Babad Tanah Jawi dan Serat Centhini.
Seiring waktu, pecel justru lebih identik sebagai kuliner kerakyatan. Menjadi lebih inklusif: bisa dinikmati oleh semua kalangan.
Kalau mau interpretasi yang “agak liar”, pecel juga menjadi simbol kesederhanaan dan kemandirian pangan, loh. Bagaimana tidak. Bahan-bahan untuk olahan ini (sayur-sayuran dan bumbu kacangnya) ibarat bisa diambil dari kebun sendiri.
#2 Penyetan, kuliner Jawa yang simpel tapi nikmat dan solutif
Sementara Hanifa (26), perempuan asal Jawa Timur, mengaku ingin berterima kasih kepada penemu kuliner Jawa bernama “penyetan”.
Sama seperti pecel, penyetan cukup mudah ditemukan di daerah-daerah lain. Entah penyetan khas daerah tertentu atau orang Jawa Timur merantau ke daerah lain untuk jualan kuliner tersebut.
“Kalau menurutku, kuliner ini selalu jadi penyelamat di malam hari. Misalnya, di malam hari bingung mau makan apa, pilihan terakhir pasti jatuh ke penyetan. Solutif. Makanan simpel, tapi enak,” ungkap Hanifa.
Menu dasar penyetan memang nasi hangat dan sambal halus. Lalu lauknya bisa bermacam-macam: ada lalapan berupa kubis, timun, terong, dan kemangi. Sementara untuk “ikannya” bisa milih sesuai selera: lele, telur, ayam, bebek, atau bahkan hanya sekadar tahu-tempe.
Apapun lauknya, tetap masuk-masuk saja. Karena memang cita rasa utamanya berasal dari olahan sambalnya.
Makanan rumahan jadi menu urban
Ini bagian yang tidak Hanifa sadari. Hanifa sebenarnya amat sering masak masakan simpel di kosannya kalau memang sedang malas makan di luar, tapi juga agak malas mengolah bahan di dapur.
Maka, ia cukup menanak nasi, mengolah cabai-cabaian menjadi sambal, dan mendadar telur dan tempe. “Jadi aku mengira, ya ini inspirasinya dari penyetan di warung. Cuma minus nggak ada lalapan,” ucap Hanifa.
Jika ditelisik, ternyata situasi awalnya sebenarnya terbalik. Mengutip sejarawan kuliner Fadly Rahman dalam bukunya Jejak Rasa Nusantara, penyetan sebenarnya hanyalah masakan rumahan biasa. Terutama di wilayah Arekan (Surabaya dan sekitarnya).
Kata Fadly, kultur masyarakat di wilayah Arekan memang kurang afdal kalau makan tanpa sambal. Sambal wajib ada di meja makanan, entah sekadar pelengkap atau justru menjadi menu utama (sambelan).
Sambelan kemudian berubah menjadi kuliner urban sejak medio 1980-1990-an, seiring dengan arus urbanisasi di Surabaya. Penyetan langsung menjadi kuliner jujukan bagi banyak pekerja urban.
Ada tiga asumsi. Pertama, menjadi obat kangen atas masakan sederhana berupa sambelan di rumah. Kedua, menjadi makanan yang simpel dan mudah ditemukan di banyak sudut jalan hingga gang-gang perkampungan. Secara harga pun cenderung ramah kantong. Ketiga, mereka pun tidak akan takut tidak cocok dengan rasanya. Sebab, mereka hanya butuh makan dengan sambal.
#3 Bakso mie ayam: makanan sejuta umat yang beri alasan untuk tetap hidup
Di atas pecel dan bakso, Hanifa, Faizal, dan dua responden lain yang saya mintai pendapat sepakat, bakso dan mie ayam memang menjadi kuliner puncak yang penemunya patut diberi ucapan terima kasih.
Bakso dan mie ayam memang bukan kuliner khas Jawa. Sejumlah catatan gastronomi menyebutnya berasal dari Tiongkok. Namun, kuliner ini dinilai sangat berjasa terutama bagi masyarakat Jawa.
Pertama, banyak orang-orang kabupaten di Jawa yang berprofesi sebagai pedagang bakso dan mie ayam di kota-kota besar. Salah satu yang terkenal adalah Wonogiri, sebuah daerah di Jawa Tengah yang kebanyakan warganya merantau sebagai pedagang bakso dan mie ayam.
Kedua, bakso dan mie ayam menjadi makanan cepat saji yang kerap menjadi alternatif jika seseorang tidak mood makan nasi. Di Jakarta, mie ayam bahkan menjadi salah satu menu sarapan. Pun apalagi jika cuaca dingin atau saat hujan, dua kuliner tersebut akan menjadi penghangat yang dicari-cari.
Ketiga, bagi beberapa orang, bakso atau mie ayam bisa menjadi makanan pelarian yang membuat orang untuk tetap memiliki alasan untuk hidup meski tengah dihajar oleh nasib buruk, seperti dalam tulisan, “Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua”.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Cerita Satu-satunya Warung Kuliner Ekstrem di Jogja: Di Tangannya Segala Jenis Reptil Jadi Masakan Menggoda atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














