Curiga dengan Pedagang Mie Ayam di Dekat Rutan Solo, Beli Seporsi tapi Tak Diminta Bayar. Eh, Ternyata Intel Lagi Nyamar

makan mie ayam di Solo. MOJOK.CO

ilustrasi - curiga dengan intelijen berkedok dagang mie ayam di Solo. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Sebagai pekerja lapangan yang harus pulang pergi dari Jogja ke Solo, Reza* (26) seringkali tak membawa bekal dari rumah. Suatu hari, saat ia sedang kelaparan di jam makan siang, Reza memutuskan membeli mie ayam. Siapa sangka, pedagangnya ia curigai sebagai intelijen.

Piye iki rek, mangan mie ayam bakul e malah minggat, ditinggal, ora dikon mbayar. Jebul intel sat, bangsat. (Bagaimana ini teman, makan mie ayam penjualnya malah pindah. Ditinggal. Aku tidak disuruh bayar. Ternyata dia adalah intelijen),” keluh Reza yang mengirim rekaman video ke istrinya.

Menu andalan makan siang

Pertemuan Reza dan pedagang mie ayam yang diduga intelijen terjadi pada Selasa (5/5/2026) lalu. Sejak pagi hingga siang, Reza sudah mengitari sekitaran Solo untuk mengirim pesanan. Karena lelah dan lapar, Reza memutuskan istirahat sejenak. 

Ia pun mampir ke pedagang mie ayam langganannya tapi ternyata gerobaknya tutup. Pakai motor pribadinya, Reza melanjutkan perjalanan sembari menengok kiri-kanan, siapa tahu ada pedagang yang buka.

Sejatinya, ia memang penggemar mie ayam. Selain karena harganya yang terjangkau, Reza berujar kalau kuliner legendaris akulturasi bakmi Tiongkok itu punya cita rasa yang cocok dengan lidah warga lokal. 

Mie ayam sebagai comfort food juga tak hanya disukai oleh pekerja, tapi juga dari berbagai kalangan. Berdasarkan data dari situs databoks.com, Indonesia menjadi negara dengan tingkat konsumsi mie terbesar kedua di dunia setelah China. 

Bahkan sebuah jurnal berjudul Waktu dan Ekonomi: Pola Habitualitas Mahasiswa dalam Konsumsi Mie Ayam mengungkap mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta terbiasa mengonsumsi mie.

Sebabnya, karena mereka cenderung memilih makanan cepat saji, alias proses pembuatannya sederhana, sekaligus dapat mengurangi rasa lapar terutama saat di jam istirahat. Selain itu, gerobaknya juga mudah ditemukan. 

Alasan itu yang pula yang bikin Reza tak berpaling dari mie ayam sebagai menu makan siangnya, tanpa menaruh curiga sedikitpun pada pedagangnya. Sampai kemudian ia mengalami kejadian aneh di Solo.

Menemukan mie ayam di dekat Rutan Solo

Setelah berkeliling selama beberapa menit di Solo, Reza akhirnya menemukan gerobak mie ayam di dekat area Rumah Tahanan Negara (Rutan) Surakarta. Di jam makan siang tersebut, suasananya tampak sepi tapi Reza tak peduli karena ia sudah lapar sedari tadi. 

“Kebetulan juga lokasinya dekat dengan tempat kerja saya. Jadi walaupun beda dengan langganan saya, saya tetap ke sana,” kata Reza saat dikonfirmasi Mojok, Senin (25/5/2026).

Saat memesan, Reza juga tak melihat gerak-gerik aneh dari pedagang. Beberapa menit kemudian, seporsi mie ayamnya pun sudah jadi. Toh, ia juga tidak perlu antre. Dan inilah letak keanehannya. 

“Baru saja pesanannya datang, penjualnya langsung pergi,” kata Reza yang ditinggal sendirian di sebuah warung dengan meja dan kursi panjang. 

Penjual tersebut beralasan kalau ingin mengantar pesanan ke orang lain. Anehnya, dia tidak membawa mangkok pesanan yang sudah jadi. Bahkan, sebelum pedagang itu berangkat, Reza tak sengaja mendengar percakapannya di telepon.

“Jadi HP dia (pedagang) bunyi, terus dia angkatkan. Saya dengar tuh, dia bilang ‘siap Ndan! Saya otw sekarang’,” ucapnya. 

Reza menduga panggilan ‘ndan’ adalah sebutan untuk komandan atau jabatan tinggi di kalangan kepolisian atau militer. Oleh karena itu, ia curiga kalau sebenarnya pedagang tersebut adalah intelijen.

“Yang bikin lebih curiga lagi adalah, setelah angkat telepon itu, dia bilang ke saya, ‘mas ini saya ada pesanan lain, saya tinggal ya maaf. Nggak usah dibayar. Nanti mangkoknya taruh di pojokan situ saja’,” tutur Reza.

Intelijen menyamar jadi tukang mie ayam di Solo

Mendengar pesan itu dari penjual mie ayam, Reza tak merespons macam-macam meskipun sudah curiga. Ia habiskan semangkuk mie ayamnya dengan lahap. Dan benar saja, penjual itu tak kembali bersama gerobaknya.

Di bangku panjang yang ia duduki, perasaannya campur aduk antara bersyukur dan bingung. Bersyukur karena dapat makanan gratis. Bingung, karena mie ayam buatan abangnya ternyata enak padahal Reza sudah curiga kalau dia sedang menyamar.

Kecurigaan Reza bukan tanpa dasar. Fenomena intelijen menyamar jadi pedagang kecil seperti tukang bakso yang membawa handy talkie (HT), penjual nasi goreng, sampai pedagang durian seringkali jadi perbincangan bahkan lelucon di masyarakat. 

Cerita ini bahkan diakui oleh Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) A.M Hendropriyono. Hendro berujar intelijen memang bisa menyamar sebagai tukang bakso sampai pedagang siomay guna memberi informasi soal target tanpa melakukan kontak fisik.

“(Dia bertugas) mencari keterangan, sampai dia tahu dan kenal betul siapa musuh, dan siapa rakyat, dan bagaimana medannya, dan akses menuju ke jantung itu bagaimana,” jelas Hendropriyono dikutip dari Youtube Deddy Corbuzier, Rabu (27/5/2026).

Bahkan seorang mantan intelijen bernama Sersan Badri (bukan nama sebenarnya) pernah menceritakan pengalamannya dalam buku ‘Kopassus untuk Indonesia Jilid II’ sebagai tukang durian. Tujuannya untuk menyusup ke pusat kekuasaan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Oleh karena itu, bukan mustahil jika pedagang mie ayam yang ditemui Reza adalah intelijen, mengingat gerak-gerik dan alasannya yang tak masuk akal. Di era teknologi yang semakin canggih, agaknya intelijen sekarang tak perlu memakai handy talkie lagi, seperti yang dilakukan pedagang yang ditemui Reza tadi.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Belajar Membangun Bisnis dari Pedagang Mie Ayam Bintang, Sekilas Tampak Sederhana tapi Punya 5 Cabang di Jakarta atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version