Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Ortu Miskin Dihina Saudara Kaya saat Ingin Kuliahkan Anak, Meski Kuliah di PTN Ecek-ecek Malah Punya Karier Terhormat ketimbang Anak Saudara

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
8 Januari 2026
A A
Bapak-ibu dihina saudara sendiri karena ingin kuliahkan anak di PTN, tapi beri pembuktian. Meski anak jadi mahasiswa di PTN ecek-ecek tapi jadi sarjana pekerja kantoran MOJOK.CO

Ilustrasi - Bapak-ibu dihina saudara sendiri karena ingin kuliahkan anak di PTN, tapi beri pembuktian. Meski anak jadi mahasiswa di PTN ecek-ecek tapi jadi sarjana pekerja kantoran. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Keinginan kuliah di sebuah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) sempat jadi hinaan bagi saudara sendiri. Hanya karena ekonomi yang dianggap tak mendukung dan hidup sebagai orang desa biasa, maka mimpi menjadi mahasiswa sampai sarjana hanyalah impian kosong belaka.

***

Sampai saat ini, Latufa (26) masih mengingat persis detail kejadian malam itu, di sebuah rumah mewah—yang di halamannya terparkir dua mobil dan tiga motor—milik saudara laki-lakinya: Anak dari pamannya. Ia masih mengingat, kalimat perkalimat bernada merendahkan yang keluar dari keluarga saudaranya itu.

Di pertengahan kelas 3 SMA pada 2016, Latufa mulai mantap untuk melanjutkan kuliah di PTN. Apalagi orang tuanya juga mendukung.

Di antara keluarga Latufa, memang hanya keluarga saudaranya yang saat itu dibilang mapan. Anak dari pamannya itu saat itu aktif-aktifnya bergiat di partai politik. Sementara istrinya adalah seorang guru berstatus PNS. Keluarga mereka bergelimang uang dan barang-barang mewah. Jalan karier mereka itu konon karena ijazah PTN yang mereka miliki.

“Sebenarnya rumah kami nggak satu desa. Mereka tinggal di pusat kecamatan. Nah, suatu hari, aku dan ibuku ketemu pamanku itu. Dia paman dari bapak (kakaknya bapak), cuma katanya paman sambung. Mereka beda ibu. Pas tahu aku pengin kuliah, paman menyarankan agar aku main ke rumah anaknya, konsultasi soal pilihan PTN dan jurusan. Biar nanti lulus bisa punya karier bagus,” ucap Latufa membagi cerita kepada Mojok, Rabu (7/1/2025) malam.

Latufa merasa yang mendukungnya semakin banyak saja. Tidak hanya dari orang tua sendiri. Mengikuti saran sang paman, pada sautu malam, bertamulah ia ke rumah saudaranya yang mewah itu.

Ingin kuliah di sebuah PTN terkenal, langsung direndahkan

Malam itu, setelah basa-basi yang canggung dan dingin, juga setelah menyeruput cokelat sachet hangat buatan ART di rumah saudaranya, percakapan itu terjadi:

“Kamu mau kuliah Psikologi di PTN (A)?” Tanya saudara laki-lakinya dengan nada meremehkan. Latufa mengangguk.

“Mau jadi Psikolog? Emang kerjaannya jelas? Iya kalau kamu suatu saat nanti ada di Jakarta, baru bisa itu jadi Psikolog. Kalau kuliah itu Ekonomi atau Akuntansi saja, perempuan kayak kamu cocoknya di situ. Prospek kerjanya juga lebih bagus,” sambung saudara laki-lakinya itu.

Latufa mulai merasa, sepertinya konsultasi malam itu akan berlangsung amat tidak menyenangkan. Apalagi setelah istri si saudara laki-laki Latufa menyahut.

“Ya jangan jauh-jauh ngomongin prospek kerja dulu. Biaya ke PTN (A) itu juga nggak murah. Emang mampu?” Begitu kalimat yang keluar dari istri saudara laki-lakinya, dengan raut wajah seperti tidak suka dengan kehadiran Latufa. Kalimat yang membuat Latufa langsung “makdeg!”. Tidak mengira kalau jawabannya bakal semenyakitkan itu.

Bapak dan ibu dihina karena lulusan SD dan hidup seadanya

Sesi selanjutnya, istri saudara laki-laki Latufa lebih banyak bicara. Hanya karena Latufa “salah meminta saran”.

“Kalau ada saran, Mas, Mbak, kuliah di PTN dan jurusan yang biayanya bisa bapakku jangkau?,” begitu kata Latufa. Ucapan yang langsung disambut tawa merendahkan dari istri saudara laki-lakinya.

Iklan

Kata istri saudaranya itu, harusnya Latufa dan orang tuanya ngaca. Sudah tahu kondisi ekonomi tidak mendukung. Orang tua hanya lulusan SD. Bapak kuli serabutan, ibu hanya IRT biasa, kok berani-beraninya punya mimpi kuliah di PTN. Tidak realistis.

“Uang bapakmu nggak akan cukup. Wong kerja saja nggak tentu. Ibumu juga nggak mungkin pegang uang, wong hari-hari cuma di rumah dan sawah. Kecuali kalau kamu dapat beasiswa. Tapi kamu cukup pintar nggak buat dapat beasiswa?,” ujar istri saudara laki-laki Latufa ketus.

Di momen itu, Latufa langsung menunduk dalam. Ia susah payah menahan tangis. Dalam hatinya: Silakan kalau mau menghina mimpi-mimpiku, tapi tolong jangan hina orang tuaku.

Apa salah bapak dan ibuku?

Pertemuan malam itu tak berlangsung lama. Karena takut air matanya tumpah, ia memutuskan untuk pamit. Di sepanjang jalan menuju rumah, Latufa menangis sejadi-jadinya di atas motor.

Di rumah, bapak dan ibu Latufa sebenarnya kaget ketika melihat mata Latufa sembab. Tapi Latufa tak mungkin menceritakan apa yang ia alami di rumah mewah itu. Ia hanya bilang kalau ia kelilipan di jalan. Tidak bawa helm soalnya.

“Terus dapat solusi apa dari saudaramu?” Tanya bapak Latufa.

“Banyak, Pak.” Jawab Latufa.

“Ya sudah. Semoga nanti bisa jadi mahasiswa dan sarjana ya, Mbak,” timpal sang bapak dengan senyum tulus, sebelum Latufa pamit masuk kamar untuk tidur lebih awal.

Di kamar, air mata Latufa tumpah makin deras. Apa salah  bapak dan ibuku sampai digitukan oleh saudara sendiri, oleh orang yang dulu katanya sering digendong bapak sewaktu kecil? Apakah aku memang jangan kuliah saja, daripada membebani bapak karena pekerjaannya yang tak menentu? Suara-suara itu menyerbu batin Latufa.

Kuliah di PTN tak terkenal dengan UKT murah, dihina tapi tetap terus jalan

Singkat cerita, Latufa kuliah di sebuah PTN yang namanya tidak terlalu terkenal di Jawa Timur. Tak masalah, yang penting UKT-nya murah. Karena sebelumnya upayanya untuk mendapat beasiswa juga tidak berhasil.

Selama kuliah di PTN tersebut, Latufa masih sesekali bertemu dengan saudara laki-lakinya dan istrinya yang ketus dan sombong itu. Terutama saat lebaran.

Tidak satu pertemuan pun yang berlangsung tanpa hinaan. Karena Latufa akhirnya menjadi mahasiswa di sebuah PTN ecek-ecek. Jurusan Psikologi pula—sebagai jurusan yang tidak direkomendasikan saudara laki-lakinya.

Tapi, entah kenapa, Latufa tak mau mengambil hati terlalu dalam. Tersinggung, pasti. Tapi ia memilih untuk fokus. Ia bertekad untuk memberi pembuktian.

Merasa lebih terhormat: Jadi sarjana pekerja kantoran

Latufa lulus empat tahun persis. Ia kemudian bekerja di Jawa Timur. Jadi pekerja kantoran pula, sebagai HRD. Kariernya berjenjang. Dari kerja di kantor biasa dengan gaji tanggung, lalu dua kali pindah di kantor yang lebih besar, dengan upah lebih layak pula.

Ia merasa lebih terhormat. Sebab, dengan segala hinaan yang pernah ia dan orang tuanya sebelumnya dapat, kini ia nyatanya bisa hidup cukup. Gajinya masih bisa ia nikmati sendiri dan dibagi untuk orang tuanya di rumah.

“Saudaraku itu punya dua anak. Laki-laki dan perempuan. Kuliah dua tahun setelahku. Mereka kuliah di PTS karena seleksi PTN saja nggak tembus,” ucap Latufa.

“Kalau sekarang mereka sudah lulus. Yang laki-laki awalnya mau dimasuk-masukin si bapak ke parpol. Tapi bapaknya saja kariernya terancam di situ. Kalau yang cewek, setahuku malah nggak mau dipaksa berkarier dulu. Udah kecantol laki-laki, maunya dinikahkan,” sambung Latufa.

Sampai saat ini, Latufa sesekali masih bertemu mereka. Terutama saat lebaran. Tapi ia tak mau menyapa duluan atau berbincang akrab dengan mereka. Hatinya masih dendam, tapi juga puas karena kalau ditanya, ia bisa menjawab dengan penuh percaya diri soal kariernya.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Sarjana Akuntansi Nekat Pilih Jualan Penyetan di Tengah Keluarga PNS, Direndahkan karena Tak Berseragam, Nggak Tahu Aja Hidupnya Lebih Makmur atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 8 Januari 2026 oleh

Tags: jurusan dengan prospek kerja baguskerja kantoranloker kerja kantoranMahasiswamahasiswa ptnPTNsarjana
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Reporter Mojok.co

Artikel Terkait

14 juta pekerja terima gaji di bawah UMP/UMK, sebagian besar dari kalangan lulusan perguruan tinggi (sarjana) MOJOK.CO
Ragam

Nasib Sarjana Kini: Masuk 14 Juta Pekerja Bergaji di Bawah UMP, Jadi Korban Kesenjangan Dunia Kerja

9 Januari 2026
5 liputan terpopuler Mojok 2025. Cerita para sarjana S1 hingga lulusan S2 yang hadapi realitas menjadi pengangguran MOJOK.CO
Liputan

5 Liputan Terpopuler Mojok Sepanjang 2025: Saat Realita Dunia Kerja Menampar Para Sarjana dan Lulusan S2

1 Januari 2026
Didikan bapak penjual es teh antar anak jadi sarjana pertama keluarga dan jadi lulusan terbaik Ilmu Komunikasi UNY lewat beasiswa KIP Kuliah MOJOK.CO
Kampus

Didikan Bapak Penjual Es Teh untuk Anak yang Kuliah di UNY, Jadi Lulusan dengan IPK Tertinggi

29 Desember 2025
Sarjana nganggur digosipin saudara. MOJOK.CO
Ragam

Dianggap Aib Keluarga karena Jadi Sarjana Nganggur Selama 5 Tahun di Desa, padahal Sibuk Jadi Penulis

22 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sisi lain suasana Surabaya after rain yang dianggap puitis dan romantis: Ada tangis dan lelah yang tersapu hujan MOJOK.CO

Surabaya Setelah Hujan Indah dan Romantis, Tapi Sisi Lain Jadi Penyebab Tangis

3 Januari 2026
Kenangan lepas perjaka di kawasan prostitusi Stasiun Rambipuji, Jember MOJOK.CO

Kenangan Lepas Perjaka di Stasiun Rambipuji Jember, Mencari Kepuasan di Rel Remang dan Semak Berbatu dengan Modal Rp30 Ribu

5 Januari 2026
Slow Living Frugal Living di Desa Memang Omong Kosong (Unsplash)

Slow Living dan Frugal Living di Desa Memang Omong Kosong, Apalagi Kalau Kamu Cuma Buruh Rendahan dan Gajimu Mengenaskan

4 Januari 2026
Hidup di Desa.MOJOK.CO

Jadi Anak Terakhir di Desa Itu Serba Salah: Dituntut Merawat Ortu, tapi Selalu Dinyinyiri Tetangga karena Tak Merantau

7 Januari 2026
Tinggal di kos murah Taman Siswa (Tamsis) Jogja: Malam-malam ada suara ceplak-ceplok, saling pukul di kamar, hingga terusir gara-gara sengketa warisan MOJOK.CO

Sewa Kos Rp350 Ribu Berdinding Triplek di Tamsis Kota Jogja, Bonus Suara “Ceplak-ceplok” Tengah Malam hingga Terusir Gara-gara Sengketa Warisan

6 Januari 2026
outfit orang Surabaya Utara lebih sederhana ketimbang Surabaya Barat. MOJOK.CO

Kaos Oblong, Sarung, dan Motor PCX adalah Simbol Kesederhanaan Sejati Warga Surabaya Utara

8 Januari 2026

Video Terbaru

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

6 Januari 2026
PB Champion Klaten: Tempat Badminton dan Mental Juara Dibentuk

PB Champion Klaten: Tempat Badminton dan Mental Juara Dibentuk

3 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.