Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Nestapa Mahasiswa Jurusan Psikologi Pengidap Anxiety Disorder, Berat Jalani Studi tapi Terselamatkan

Hammam Izzuddin oleh Hammam Izzuddin
2 Januari 2024
A A
mahasiswa jurusan kuliah psikologi. dengan anxiety disorder.MOJOK.CO

Ilustrasi mahasiswa jurusan kuliah psikologi dengan masalah kejiwaan.MOJOK.CO

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ada adagium di kalangan mahasiswa jurusan psikologi bahwa mereka ini kuliah sambil “rawat jalan”. Meski studi di bidang yang erat dengan kesehatan mental, ketika terkena anxiety disorder mereka  merasakan situasi yang begitu menyulitkan dan butuh bantuan.

***

Saat sedang menjalani mata kuliah Psikologi Abnormal Dewasa di semester lima, dosen dari Fatir* (24) tiba-tiba berkelakar kepada mahasiswanya, “Kita sebenarnya ini kuliah sambil rawat jalan.”

Mendengar itu di sesi kelas yang sedang membahas simtom-simtom gangguan jiwa, tiba-tiba seisi kelas langsung tertawa. Sebagian seperti mengafirmasi ucapan itu. Termasuk Fatir sendiri yang terkadang merasakan ada permasalahan yang mengarah ke persoalan mental.

“Meski ya bukan permasalahan yang serius. Tapi, namanya gejala, aku ngerasa ada yang mengerah ke persoalan mental,” kenangnya.

Di media sosial, Fatir banyak menemukan unggahan bernada bercanda bahwa anak jurusan psikologi itu banyak yang mendaftar kuliah karena ingin mempelajari persoalan kejiwaan yang mereka rasakan. Sepanjang berkuliah, ia memang tidak menemukan satu pun temannya yang punya niat itu sejak awal masuk kuliah.

“Tapi di perjalanannya, ada beberapa teman yang merasa seakan sedang ‘rawat jalan’,” cetusnya.

Selain mengetahui gejala, mahasiswa yang dulu mengambil jurusan psikologi di sebuah PTS di Jogja ini mengaku jadi bisa mengantisipasi jika ada kecenderungan persoalan mental yang muncul di dirinya. Namun, pada taraf yang lebih serius, mahasiswa seperti Fatir juga perlu bantuan.

Ada sebuah pengalaman yang tak pernah Fatir lupakan. Seorang teman satu tongkrongannya, tiba-tiba datang dan berujar kalau ia tidak bisa naik motor.

Fatir tentu kaget. Sebab temannya biasa mengendarai motor dengan lincah tanpa gangguan sama sekali.

“Ternyata, saat itu setiap naik motor tangannya bergetar parah sampai nggak bisa mengendalikan stang sama sekali,” kenangnya.

Saat mahasiswa jurusan psikologi alami anxiety disorder

Meski mengambil jurusan psikologi tak berarti bisa menangani persoalan itu sendiri. Seperti dokter, ketika sakit pun membutuhkan dokter lain untuk mengobati. Fatir segera menyarankan temannya untuk konsultasi ke psikolog.

Setelah mengambil assessment di psikolog, ternyata vonisnya mengarah ke beberapa penyakit yang cukup kompleks. Ia mengalami bulimia, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), dan anxiety disorder atau gangguan kecemasan.

Bulimia merupakan gangguan makan yang berkaitan dengan kondisi psikologisnya. Sedangkan anxiety disorder membuat pengidapnya merasakan kecemasan yang berlebihan hingga memengaruhi banyak sisi kehidupan. Sementara itu, pada orang dewasa, ADHD gejalanya dapat berupa perasaan gelisah yang berlebihan.

Iklan

Fatir melihat temannya memang menunjukkan gejala seperti itu. Kondisi itu baru terjadi setelah masuk di jurusan psikologi.

Pada saat gejalanya sedang kambuh, temannya berbicara dengan suara yang sangat lirih. Bahkan seperti sedang berbisik-bisik. Ia kemudian menjalani pengobatan jalan. Sampai Fatir lulus kuliah dan berjumpa dengannya, sang teman masih rutin mengonsumsi obat-obatan untuk menangani anxiety disorder dan beberapa persoalan lainnya.

“Pengobatannya berlanjut dari psikolog ke psikiater. Setiap hari dia perlu mengonsumsi obat yang dosisnya cukup tinggi untuk menangani kondisinya supaya tidak kambuh,” kata Fatir.

“Aku melihatnya dia benar-benar bingung dan butuh bantuan. Mau kuliah apa saja, termasuk psikologi, kalau ada masalah kejiawaan ya harus mendapatkan perawatan profesional,” imbuhnya.

Jurusan Kuliah Psikologi.MOJOK.CO
Ilustrasi. Mereka yang mempunyai masalah kejiwaan perlu pendampingan (Shvets Production/Pexels)

Beruntungnya, di lingkungan mahasiswa jurusan psikologi, persoalan semacam itu dipahami dengan baik. Teman-temannya, meski belum pada taraf mampu memberikan solusi klinis, namun memahami cara memberikan pendampingan.

“Kalau bicara persoalan mental, di luar, orang awam itu kan banyak yang masih menyepelekan. Malah memberikan diskriminasi. Setidaknya kami paham untuk berlaku secara baik pada teman kami,” papar Fatir.

Bahkan di Indonesia, pergi untuk mendapatkan bantuan kesehatan jiwa ke profesional masih dianggap aib bagi kebanyakan orang. Psikolog Della Nova Nusantara mengungkapkan masyarakat perlu menyadari bahwa permasalahan mental itu seperti persoalan kesehatan fisik.

“Gangguan kesehatan mental itu bukan hal yang tabu, bukan pula aib. Sama seperti saat fisik kita sedang terluka, capek, kadang butuh istirahat, butuh treatment yang tepat sesuai kebutuhannya saat itu. Mungkin istirahat atau olahraga. Begitu juga dengan kesehatan mental, perlu treatment yang tepat untuk menjaga kesehatannya,” papar Della melansir CNN Indonesia.

Kuliah psikologi menyadarkan dan menyelamatkan banyak hal

Seperti Fatir, Udin (25) mahasiswa jurusan psikologi lain, juga mengakui bahwa studi yang ia ambil membuatnya menyadari lebih jauh tentang persoalan kesehatan mental. Di tengah jalan, ia menemukan sebagian temannya yang menyadari bahwa, meski dalam taraf ringan yang belum membutuhkan bantuan profesional, mereka merasakan ada persoalan di kesehatan mentalnya.

Hal itu lantaran perkuliahan yang mereka jalani memberikan banyak pandangan soal apa yang ideal dan kurang ideal dalam konteks kejiwaan. Misalnya tentang regulasi emosi hingga motivasi melakukan suatu tindakan.

“Kuliah juga memberikan insight bahwa apa yang kita lalui dahulu bisa memberikan dampak bagi diri kita saat ini dan orang di sekitar. Jadi memang banyak mengenal diri,” papar lelaki yang saat ini juga sedang mengambil studi S2 pada bidang yang sama.

Dulu saat masih S1, ia juga mengaku banyak teman yang di tengah jalan merasa seperti sedang “rawat jalan”. Namun, sifatnya lebih ke reflektif atau mengenali jiwanya secara lebih mendalam. Termasuk tentang sebab dan akibat dari tinjauan psikologis tentang tindakan yang mereka lakukan.

Persoalan kesehatan mental memang jadi isu yang perlu dapat perhatian. Data Riskesdas (2018) menunjukkan prevalensi depresi di Indonesia sebesar 6,1 persen.

Bahkan, menurut Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey 2022, 15,5 juta (34,9 persen) remaja mengalami masalah mental dan 2,45 juta (5,5 persen) remaja mengalami gangguan mental. Dari jumlah itu, baru 2,6 persen yang mengakses layanan konseling, baik emosi maupun perilaku.

Penulis: Hammam Izzuddin

Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Terancam Drop Out, Nestapa Mahasiswa UNY dan ITS Jalani Semester 14 Penuh Tekanan dan Kesepian

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 2 Januari 2024 oleh

Tags: jurusan kuliahkesehatan mentalMahasiswapsikologi
Hammam Izzuddin

Hammam Izzuddin

Reporter Mojok.co.

Artikel Terkait

Ngekos setelah menikah, ngekos di jogja, kesehatan mental.MOJOK.CO
Sehari-hari

Memilih Ngekos Setelah Menikah daripada Tinggal Bareng Ortu-Mertua, Finansial Memang Empot-empotan tapi Kesehatan Mental Aman

16 Februari 2026
Ibu yang sudah menua sering diabaikan anak
Catatan

Orang Tua yang Menua adalah Ketakutan Terbesar Anak, meski Kita Menolak Menyadarinya

13 Februari 2026
Tabungan penting, tapi mahasiswa Jogja yang masih harus irit demi makan kesulitan menabung
Sehari-hari

Tabungan Itu Penting, Tapi Mahasiswa Jogja yang Masih Harus Gali Lubang Tutup Lubang Demi Makan Mana Bisa

10 Februari 2026
Asriadi Cahyadi pemilik Dcell Jogja Store, toko musik analog. MOJOK.CO
Sosok

Saat Musik Analog Bukan Lagi Barang Jadul yang Bikin Malu, tapi Pintu Menuju Kenangan Masa Lalu bagi Pemuda di Jogja

4 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pertama kali merantau ke Jogja: kerja palugada di coffee shop dengan gaji Rp10 ribu MOJOK.CO

Pertama Kali Merantau ke Jogja: Kerja di Coffee Shop 12 Jam Gaji Rp10 Ribu Perhari, Capek tapi Tolak Pulang karena Gengsi

24 Februari 2026
Vokal kritisi kebijakan uin alauddin makassar, berujung fatal. MOJOK.CO

Pahitnya Jadi Mahasiswa Kritis di UIN Makassar: Berujung Skors, Beasiswa Dicabut, hingga Kecewakan Orang Tua yang Seorang Guru Honorer

24 Februari 2026
Upaya 1 tahun Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang kerja untuk warga, apa hasilnya? MOJOK.CO

Upaya 1 Tahun Pemkot Semarang Bekerja untuk Warga di Tengah Ragam Tantangan dan Keterbatasan, Apa Hasilnya?

23 Februari 2026
Kuliah online di universitas terbuka: meski tak ngampus tapi dirancang serius untuk mudahkan mahasiswa, meski diserang hacker MOJOK.CO

Kuliah Online di Universitas Terbuka (UT): Meski Tak Ngampus tapi Tak Asal-asalan, Sering Diserang Hacker tapi Tak Mempan

23 Februari 2026
Bisnis coffe shop, rumah dekat kafe, jogja.MOJOK.CO

Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur

26 Februari 2026
Rela Melepas Status WNI demi Hidup Sejahtera di Norwegia, Karier Melejit berkat Beasiswa Luar Negeri MOJOK.CO

Rela Melepas Status WNI karena “Technical Stuff” di Norwegia, Karier Melejit berkat Beasiswa Luar Negeri

27 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.