Puluhan ibu di Jogja yang tergabung dalam kelompok masyarakat sipil Suara Ibu Indonesia kembali turun ke jalan untuk melakukan aksi damai “Jalan Sore Pukul Panci” pada Selasa (8/9/2026), sebagai bentuk protes mereka terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Aksi dimulai dengan doa bersama, lalu long march dari Perempatan Tugu Jogja hingga Bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM). Dalam aksi tersebut, para ibu juga melakukan orasi sambil membawa poster bertulis kritikan, hingga memukul panci sebagai simbol protes dari dapur.
Perwakilan dari Suara Ibu Indonesia, Kalis Mardiasih, berujar panci tersebut bukan hanya alat yang dipakai seorang ibu untuk memasak makanan sehat, tapi juga simbol protes mereka terhadap kasus keracunan massal dalam program MBG yang seiring berjalannya waktu terus memakan korban dalam jumlah besar.
“Kalau sudah dipukul seperti ini dan masih tidak mendengar, fix nggak punya malu,” kata Kalis kepada awak media saat aksi di Jogja pada Selasa (8/9/2026).
Selain karena jumlah korban MBG yang sudah mencapai 43.838 orang berdasarkan catatan Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), aksi ini juga menuntut beberapa hal. Pertama, tolak MBG dan alihkan dananya untuk penanganan bencana. Kedua, hentikan segala bentuk kekerasan terhadap masyarakat sipil. Ketiga, hentikan upaya membenturkan konflik horizontal.
#1 Tolak MBG, prioritaskan penanganan bencana
Suara ibu Indonesia merasa prihatin terhadap korban MBG yang terus berjatuhan. Belum selesai dengan ujian tersebut, informasi mengenai bencana yang datang bertubi-tubi di beberapa titik di Indonesia membuat hati mereka tergerak.
Mulai dari gempa yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur pada Agustus 2026, hingga di saat bersamaan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda Sumatra dan Kalimantan dengan luas lahan terbakar mencapai puluhan ribu hektare.
Tak berhenti sampai di situ, banjir dan tanah longsor juga terus terjadi di berbagai wilayah mulai dari Banten, Sumatra Utara, Sumatra Selatan, hingga Kalimantan Utara. Sementara status Siaga ditetapkan pada sejumlah gunung api aktif seperti Anak Krakatau, Merapi, Lewotobi Laki-Laki, Awu, dan Semeru.
“Di tengah beruntunnya bencana yang mengancam keselamatan rakyat ini, negara justru menggelontorkan dana besar untuk program yang gagal menjamin keselamatan warganya sendiri,” ujar Kalis.
“Oleh karena itu, Suara Ibu Indonesia mendesak pemerintah untuk menghentikan program MBG, mengevaluasi total tata kelolanya, serta mengalihkan anggarannya untuk memperkuat mitigasi bencana, kesiapsiagaan, dan pemulihan korban bencana secara tuntas bukan sekadar tanggap darurat sesaat,” lanjutnya.
#2 Hentikan tindakan represif terhadap masyarakat yang tolak MBG
Dalam menyuarakan tuntutan tolak program MBG, tak sedikit aktivis yang mendapat kekerasan dan intimidasi dari pihak aparat kepolisian. Amnesty International mencatat sedikitnya ribuan orang ditangkap aparat kepolisian pasca gelombang demonstrasi besar sejak akhir Agustus 2025 lalu. Begitupun nasib sejumlah aktivis dan admin akun kritis yang turut menjadi sasaran penangkapan.
Warga yang menyuarakan kritik dan protes atas kebijakan pemerintah pun bukan tidak mungkin menjadi target selanjutnya. Oleh karena itu, Suara Ibu Indonesia berharap aksi protes MBG dengan memukul panci ini harus dijamin keselamatannya.
“Kami menolak segala bentuk tindakan represif, intimidasi, maupun pembungkaman terhadap suara-suara kritis masyarakat, termasuk ibu-ibu dan warga sipil yang menuntut keadilan,” kata Kalis.
#3 Hentikan upaya membenturkan konflik horizontal
Di sisi lain, Kalis menjelaskan narasi “penyusup”, “perusuh”, hingga tudingan gerakan rakyat didanai pihak asing kerap digulirkan untuk membenturkan sesama warga dan mengalihkan perhatian publik dari akar persoalan sesungguhnya, yakni buruknya tata kelola kebijakan negara.
“Pola pemecah-belahan semacam ini, mulai dari operasi buzzer di ruang digital hingga stigmatisasi terhadap kelompok kritis, dinilai sebagai bentuk politik adu domba yang justru melemahkan solidaritas rakyat dalam menuntut pertanggungjawaban negara,” kata Kalis.
Oleh karena itu, Suara Ibu Indonesia menolak segala bentuk politik adu domba yang sengaja diciptakan untuk memecah solidaritas warga. Pemerintah, ujar Kalis, seharusnya tidak mengalihkan perhatian publik dari akar persoalan sesungguhnya yang mengorbankan keselamatan rakyat.
“Melalui gerakan warga kolektif yang damai dan tertib ini, kami berharap suara dari dapur-dapur rakyat dapat terus memperkuat posisi tawar warga demi mendesak pertanggungjawaban negara atas korban keracunan MBG, serta melahirkan kebijakan yang lebih adil dan berpihak pada keselamatan rakyat,” ucap Kalis.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Kasus Keracunan MBG: Evaluasi Tanpa Perombakan Sistem Cuma Jadi Omong Kosong, Masalah Tak Akan Terselesaikan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
