ADVERTISEMENT

Setahun Tolak MBG, Panci Penyok Berpantat Hitam Jadi Simbol Protes Emak-emak di Jogja

Aksi protes MBG dengan pukul panci di Jogja. MOJOK.CO

Panci penyok yang menghitam di bagian bawahnya itu jadi saksi bisu perjuangan Kalis Mardiasih bersama kelompok Suara Ibu Indonesia untuk menolak program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang hingga 1 tahun lamanya belum juga didengar oleh otoritas negara.

Ibu-ibu aksi di bundaran UGM. MOJOK.CO
Suara Ibu Indonesia lakukan aksi damai pukul panci sebagai peringatan satu tahun program MBG. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Suara panci dan klakson berpadu di Bundaran UGM

Selasa (8/9/2026) sore, Suara Ibu Indonesia menggelar Aksi Damai bertajuk “Jalan Sore Pukul Panci” sebagai peringatan satu tahun protes mereka menolak MBG. Aksi dimulai dari titik kumpul Tugu Golong Gilig menuju titik akhir Bundaran UGM dengan berjalan kaki bersama diiringi dengan suara panci yang nyaring.

Seorang ibu pukul panci penyok. MOJOK.CO
Seorang ibu ikut memukul panci penyok dalam aksi damai protes MBG. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Kalis berujar panci tersebut bukan hanya alat yang dipakai seorang ibu untuk memasak makanan sehat, tapi juga simbol protes mereka terhadap kasus keracunan massal dalam program MBG yang seiring berjalannya waktu terus memakan korban dalam jumlah besar.

Seorang ibu pukul panci. MOJOK.CO
Seorang ibu memukul panci di bundaran UGM. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

“Aksi dengan memukul panci menjadi simbol yang sangat darurat, ketika para ibu telah keluar dari rumah mereka, membawa alat domestik yang biasanya di dalam rumah tetapi hari ini sudah keluar dari rumah meminta keadilan, meminta pengelola negara membuka kuping,” ucap Kalis.

“Kalau sudah dipukul seperti ini dan masih tidak mendengar, fix nggak punya malu,” lanjutnya.

Jumlah korban MBG. MOJOK.CO
JPPI catat 43.838 orang jadi korban MBG dalam 1 tahun terakhir.(Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Protes itu bukan tanpa alasan. Berdasarkan data dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), sebanyak 3 ribu orang telah menjadi korban program MBG pada tahun pertama. Kini, jumlahnya terus naik menjadi 43.838 orang.

“Ironinya, belum ada satu pun pihak yang ditetapkan sebagai tersangka,” ujar Kalis.

Protes MBG: Alihkan dananya untuk penanganan bencana

Dana MBG untuk penanggulangan bencana. MOJOK.CO
Prioritaskan dana MBG untuk penanggulangan bencana. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Tak berhenti sampai di situ, alokasi MBG tak hanya merugikan orang tua dan anak. Kalis berujar dampaknya semakin meluas hingga memotong pos-pos anggaran lain, termasuk anggaran untuk penanganan bencana yang mestinya menjadi prioritas keselamatan warga. 

Kalis protes MBG. MOJOK.CO
Kalis Mardiasih saat orasi di bundaran UGM. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Hal itu, kata Kalis, bisa tampak dari Pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang terus digenjot, tapi fasilitas pendidikan dan kesehatan di berbagai daerah dibiarkan terbengkalai tanpa perbaikan yang berarti. 

“Ironisnya, ketimpangan alokasi anggaran ini terjadi justru ketika Indonesia sedang dilanda rentetan bencana yang datang bertubi-tubi,” ucapnya.

Flyer aksi protes MBG. MOJOK.CO
Flyer bertuliskan: Bunyikan klakson kalau muak. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Namun, pemerintah seolah bebal untuk mendengarkan suara hati rakyat. Alih-alih membuka ruang dialog, Kalis melihat bahwa pemerintah justru kerap merespons kritik dan protes rakyat dengan represi.

Bunyi panci menggema di Bundaran UGM. MOJOK.CO
Satu tahun peringatan MBG, para ibu minta dihentikan. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Oleh karena itu, Kalis selaku perwakilan dari kelompok Suara Ibu Indonesia berharap suara bising dari pukulan panci penyok miliknya mampu memekakan telinga para pemangku kebijakan, agar segera menghentikan kebijakan MBG.

Massa aksi protes MBG. MOJOK.CO
Para ibu mendengarkan orasi lalu memukul panci. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

“Kami mendesak pemerintah menghentikan program MBG dan mengevaluasi total tata kelolanya, serta mengalihkan anggarannya untuk memperkuat mitigasi bencana, kesiapsiagaan, dan pemulihan korban bencana secara tuntas bukan sekadar tanggap darurat sesaat,” tutur Kalis.

Doa para ibu. MOJOK.CO
Para ibu berdoa agar pemangku kebijakan mendengar suara rakyat. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Lewat aksi kolektif yang dilakukan Suara Ibu Indonesia, mereka berharap saran dari dapur-dapur rakyat dapat melahirkan kebijakan yang lebih adil dan berpihak pada keselamatan rakyat.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

LIHAT JUGA: Nyaring Panci Ibu-ibu di Jogja Memprotes MBG: Menu Tak Enak, Racuni Anak, dan Bikin Repot Guru atau konten Membidik Cerita (foto jurnalistik) Mojok lainnya di rubrik Bidikan

Terakhir diperbarui pada 8 September 2026 oleh .

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.