Minggu (6/9/2026) saya mendampingi anak-anak magang untuk menikmati wisata malam di Jalan Pasar Kembang atau Sarkem, sebuah kawasan di Kota Jogja yang diidentikkan dengan hiburan malam dan prostitusi tapi tidak semua gang jadi tempat lokalisasi.

Sarkem sendiri memiliki tiga gang utama yang cabangnya lebih kompleks saat Anda mencoba masuk ke sana. Gang 1 dan 2 misalnya, keduanya masuk wilayah Kampung Sosrowijayan Wetan atau berada di sisi pintu selatan Stasiun Tugu.

Di gang 1 Sosrowijayan Sarkem itulah kami bertemu Yosi yang mengaku menjabat sebagai ketua RT sana. Yosi mengklaim kampungnya bukan tempat lokalisasi. Malahan, kedua kampung tersebut terkenal dengan sebutan “kampung turis” di Jogja, karena menjadi jujugan wisatawan asing untuk menyewa penginapan.
Dengan kata lain, Kampung Sosrowijayan Wetan yang dulunya merupakan hunian bagi para bangsawan keturunan keraton dan abdi dalem pada era 70-an, kini berubah menjadi pusat kegiatan komersial yang menyajikan wisata malam di Kota Jogja.

Barangkali, hal itu juga yang menyebabkan para tetangga Yosi di Sarkem memilih pindah domisili dan mengubah rumah-rumah lama mereka menjadi losmen maupun homestay. Sementara Yosi tidak, walaupun rumah keluarganya sempat dijadikan homestay pada mulanya.

Rumah lawas bergaya Jawa-Indis itu dia khususkan untuk tempat berkumpul keluarga besar. Yosi pun masih mempertahankan bangunan tersebut serta lahan luasnya. Ia memilih bertahan, sebagai bentuk baktinya terhadap pesan almarhum sang kakek.
“Sering rumah keluarga kami ditawar orang, apalagi jarangkan ada halaman luas seperti ini di tengah kota, tapi saya tolak. Bahkan ada yang menawar 3-4 miliar pun saya tolak,” ujar Yosi yang tak mau kehilangan kampung halamannya, sekaligus ingin menjaga warisan keluarganya.

Bahkan, ketika sebagian orang menjuluki kampungnya sebagai tempat lokalisasi, Yosi tak peduli. Dia cukup maklum dengan pendatang yang tak tahu sejarah Sarkem.
“Kalau yang banyak cewek-cewek itu di gang 3 (masuk kampung Sosrowijayan Kulon),” ujar Yosi.

Sementara menurut Yosi, banyak turis lebih sering menginap di gang 2 karena masih ada tempat ibadah seperti masjid, rumah makan, dan laundry. Bahkan, ada balai serba guna yang dulunya pernah menjadi tempat kampung baca tapi sudah tutup sejak tahun 2019, karena menurunnya generasi anak-anak maupun remaja di sana.

Walaupun dinamika penduduk aslinya mulai berubah dan generasi mudanya semakin berkurang, denyut kehidupan Sarkem sebagai pusat komersial pun seolah tak pernah mati.
LIHAT JUGA: The Lucky Boomerang 1995: Surga Buku Impor yang Bergaya Vintage di Tengah Sarkem Jogja atau konten Membidik Cerita (foto jurnalistik) Mojok lainnya di rubrik Bidikan