“Kami percaya bahwa tradisi nenek moyang juga punya peran penting sebagai pengingat bahwa di tengah suasana yang meriah, ramai orang membeli makanan dan beraktivitas, menjaga lingkungan tetap menjadi hal yang wajib dan tidak boleh terlupakan,” kata Director Communication Djarum Foundation, Mutiara Diah Asmara dalam sambutannya di Festival Dandangan, Kudus, Senin (9/2/2026).
***
Digelar setiap satu tahun sekali, Festival Dandangan tak hanya dinikmati oleh akamsi alias anak kampung Kudus. Tradisi yang digelar jelang bulan suci Ramadan ini mengundang banyak pengunjung dari berbagai daerah.
Sebelum ada pengumuman sidang isbat seperti sekarang, warga Kudus punya kebiasaan menarik, yakni menunggu pengumuman resmi awal puasa di Masjid Menara Kudus. Suasananya selalu ramai dari hari ke hari, karena waktu pemukulan bedug—tanda penetapan awal puasa tak diketahui pasti.
Keramaian di sekitar Masjid Menara tak pelak mengundang para pedagang makanan dan souvenir untuk membuka lapak, hingga akhirnya berkembang menjadi semacam pasar malam, Festival Dandangan yang dikenal sekarang.
Festival Dandangan selalu penuh oleh stand-stand pedagang. Untuk tahun 2026 ini, Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus mencatat, setidaknya ada 527 stand dan 450 pedagang kaki lima yang terdaftar.
“Di tahun 2025, perputaran uang dalam 10 hari mencapai Rp16,5 miliar, dan untuk tahun 2026 ini kami menargetkan perputaran uang mencapai Rp17 miliar lebih, mengingat antusiasme warga yang datang,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus, Eko Hari Djatmiko dalam sambutannya di sekitar Alun-alun Kudus, Senin (9/2/2026).

Namun, ada masalah yang tak kalah penting daripada pertumbuhan ekonomi yang terus melaju. Masalah itu adalah sampah. Tahun 2024, masyarakat Kudus turut menyumbang sekitar 0,45 persen sampah terhadap total tumpukan sampah nasional.
Festival Dandangan, dengan crowd massa yang selalu membeludak, dikhawatirkan menambah masalah tersebut sehingga perlu ditangani agar sampah-sampah konsumsi sepanjang festival bisa terkelola secara semestinya.
Pedagang Festival Dandangan rugi saat sampah dibuang sembarangan
Pada akhirnya, Pemerintah Kabupaten Kudus pun menyadari isu lingkungan tak boleh dipandang sebelah mata. Karena dampak kerusakan alamnya makin terasa. Awal Januari 2026 kemarin, Kudus tak terhindar dari bencana banjir dan longsor.
BPBD Kudus melaporkan ada 14.437 jiwa terdampak dan tiga di antaranya meninggal. Peristiwa ini seolah menjadi tamparan keras bagi warga Kudus agar tak lupa menjaga dan merawat lingkungan.
Sementara, dalam konteks Festival Dandangan, sampah juga mengganggu keindahan lapak pedagang dan kenyamanan pengunjung.
Sarminah (58) misalnya. Pedagang ketan di Festival Dandangan itu bercerita, dulu tak banyak pengunjung yang datang ke lapaknya karena berdekatan dengan tumpukan sampah. Selain bau, sampah itu juga tak enak dipandang.

“Apalagi lapakku ini kan dekat sungai ya Mbak, banyak orang biasanya buang sampah langsung ke situ,” kata Sarminah yang sudah 23 kali ini mengikuti Festival Dandangan. Lokasinya selalu sama, jarang berpindah. Situasi yang selama ini jelas tidak menguntungkannya.
Kini kecipratan untung justru tak jauh dari tempat sampah
Di Festival Dandangan 2026, Pemkab Kudus memang berkolaborasi dengan Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) untuk secara khusus membantu dalam pengelolaan sampah. Di antara support yang diberikan BLDF berupa tempat-tempat sampah berkategori: tempat untuk sampah organik, anorganik, dan residu.
Ada 60 tempat sampah yang tersebar di 20 lokasi strategis, salah satunya di dekat lapak Sarminah di gang Desa Demangan. Setiap tempat sampah akan dijaga oleh volunteer yang bertugas mengedukasi pengunjung. Dan setiap dua jam sekali, sampah akan diangkut oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kudus, apalagi jika terlihat sudah menumpuk.
Sedangkan khusus untuk sampah organik akan dikirim ke Pusat Pengolahan Organik (PPO) yang berada di kawasan Djarum Oasis Kretek Factory untuk diolah menjadi pupuk.
Itu memang inisiatif gerakan BLDF melalui program Kudus Apik Resik yang telah berjalan sejak 2022. Hingga saat ini, tercatat ada 490 mitra dari berbagai elemen masyarakat yang turut mendukung keberlangsungan pemilahan sampah sejak rumah tangga.
Pupuk-pupuk itu pun nantinya akan digunakan untuk program-program penghijauan di sekitar Kudus dan diberikan kepada masyarakat jika ada permintaan.

Penyediaan tempat sampah berkategori tersebut memang merupakan hal baru di Festival Dandangan. Namun, Koordinator acara Festival Dandangan, Anjas, mengaku senang karena alih-alih menolak perubahan, banyak masyarakat Kudus yang ikut mendukung dan mengapresiasi upaya tersebut.
Baca Halaman Selanjutnya…
Para pedagang di Festival Dandangan sudah sadar isu lingkungan














