Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Histori

Gedung Tua Surabaya Berusia 147 Tahun Diromantisasi Lagi, Saksi Pahit di Kota Pahlawan Sejak 1877

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
27 Juli 2024
A A
Gedung tua SIOLA di Jalan Tunjungan Punya Museum untuk Romantisasi Surabaya Menyusul Kota Lama MOJOK.CO

Ilustrasi - Gedung tua SIOLA di Jalan Tunjungan punya museum untuk romantisasi Surabaya selain Kota Lama. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Setelah peresmian Kota Lama, Surabaya akan memiliki tempat “romantisasi” lagi yang berada di kawasan Jalan Tunjungan. Yakni sebuah gedung tua berusia 147 tahun bernama SIOLA. Di dalamnya terdapat museum yang tengah dipersiapkan Pemerintah Kota (Pemkot) dengan wajah baru.

***

Jika melintas di kawasan Jalan Tunjungan Surabaya, ada sebuah gedung besar berwarna merah dan berkelir putih (saat ini) yang begitu mencolok. Gedung tua tersebut menjadi salah satu ikon di tengah Kota Pahlawan selain tentu mal-mal yang tinggi menjulang.

Gedung tua itu bernama SIOLA. Bangunan bersejarah yang saat ini difungsikan sebagai museum dan Mal Pelayanan Publik (MPP).

Bagi orang Surabaya, SIOLA sebenarnya sudah tak asing lagi. Namun, menjelang akhir Juli 2024 ini Pemkot tengah mempersiapkan museum di lantai 1 gedung tua itu dengan wajah baru: menjadi tempat romantisasi baru menyusul Kota Lama.

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, belakangan memang tengah gencar-gencarnya memoles kota pimpinannya sebagai kota wisata dan heritage. Kota Lama menjadi “produk” paling baru yang bisa dinikmati. Meskipun sejak peluncurannya awal Juli 2024 dibayangi dengan masalah parkir liar dan fotografer ugal-ugalan.

Gambaran perjalanan panjang Kota Pahlawan

Melansir dari website resmi Pemkot, museum Surabaya di gedung tua SIOLA tersebut akan menyuguhkan visualisasi perjalanan panjang Kota Pahlawan. Mulai dari zaman kerajaan, era Hindia Belanda, masa pendudukan Jepang, hingga situasi saat Sekutu tiba.

“Ada cerita tentang terjadinya Surabaya karena ada Kerajaan Demak sampai Hujung Galuh, lalu bercerita kapan terbentuknya Surabaya,” ujar Cak Eri, sapaan akrab Eri Cahyadi saat meninjau museum di gedung tua SIOLA pada Kamis, (25/7/2024).

“Lalu setelah Indonesia lepas dari Sekutu seperti apa? Di situ alat transportasinya tempo dulu seperti apa?,” sambungnya.

Tak sampai di situ, Cak Eri juga menghendaki adanya patung Presiden RI pertama, Ir. Soekarno (Bung Karno), dengan bentuk lebih besar. Hal tersebut sebagai bentuk kebanggaan karena Bung Karno lahir di kota yang kini ia pimpin tersebut.

Lengkap juga dengan kisah Bung Karno dari masa lahir, sekolah, indekos di rumah HOS Tjokroaminoto, hingga hasil-hasil perjuangannya memerdekakan Indonesia.

Mengenal orang-orang yang membesarkan Surabaya

Sajian lain dari musem di gedung tua SIOLA tersebut yakni penjelasan mengenai bentuk dan tata Kota Surabaya, transformasi Surabaya menjadi kota pelabuhan, sistem komunikasi hingga pemerintahan, lini masa moda transportasi, ekonomi dan mata uang, hingga sosio dan kultur budaya.

Dalam konteks ini, akan disuguhkan visualisasi para wali kota yang pernah memimpin Kota Pahlawan dari masa ke masa serta bagaimana tata kelola kota di masing-masing era.

Gedung tua SIOLA di Jalan Tunjungan Punya Museum untuk Romantisasi Surabaya MOJOK.CO
Museum di gedung tua SIOLA Surabaya siap hadirkan wajah baru. (Dok. Pemkot Surabaya)

“Jadi tahu setiap era kepemimpinan wali kota membangun ini. Lalu wali kota ini membangun ini. Karena karakter setiap wali kota berbeda-beda,” beber Cak Eri.

Iklan

Para musisi dan seniman yang membesarkan nama Surabaya, dari masa silam hingga sekarang, juga akan mengisi sudut-sudut museum di gedung tua SIOLA. Dari Gombloh hingga musisi ternama saat ini, lalu perwajahan Ludruk yang menjadi kesenian khas dari ibu kota Jawa Timur tersebut.

Gedung tua Surabaya pusat bisnis asing sejak 147 tahun lalu

Cak Eri tentu berharap wajah baru museum nantinya bisa menarik lebih besar minat pengunjung, terutama dari kalangan pelajar dan anak muda. Karena memang tujuannya adalah sebagai destinasi wisata edukasi sejarah.

Karena terlepas dari konteks museum, gedung tua SIOLA sendiri sebenarnya merekam perjalanan panjang dan bersejarah. Usianya tercatat sudah 147 tahun.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh SURABAYA • #exploresurabaya (@exploresurabaya)

Merangkum dari berbagai sumber sejarah, gedung tua SIOLA dibangun di kawasan Jalan Tunjungan pada 1877 oleh Robert Laidlaw, seorang investor berkebangsaan Inggris. Ia memberi nama gedung itu Het Engelsche Warenhuis sebagai pusat usaha tekstil bernama Whiteaway Laidlaw.

Pada 1935, perusahaan tersebut gulung tikar lantaran pengelolanya dari keluarga Laidlaw meninggal. Gedung tua itu lantas dibeli oleh pengusaha Jepang dan mengganti nama gedung menjadi Toko Chiyoda. Saat itu tercatat sebagai toko tas dan koper besar di Indonesia.

Gedung tua yang sempat mangkrak

Saat Sekutu tiba di Surabaya dan membuat Jepang tunduk, gedung tua di Jalan Tunjungan itu sempat kosong tak berpenghuni. Bahkan pada 1945 itu pula, gedung tua tersebut menjadi gedung pertahanan arek-arek Suroboyo menghadapi serangan dari Sekutu.

Efek perang membuatnya sempat rusak dan mangkrak. Sampai akhirnya pada 1950 Bung Karno mengambilalih gedung tua ini sebagai aset Pemkot Surabaya.

Lalu pada tahun 1960, lima orang pengusaha, Soemitro, Ing Wibisono, Ong, Liem dan Aang mengontrak gedung tersebut dari Pemkot Surabaya untuk membuka pusat grosir. Namanya kemudian diubah menjadi gedung SIOLA sebagai akronim dari nama mereka masing-masing.

Kejayaan SIOLA sebagai pusat grosir di Jalan Tunjungan berakhir pada 1998. SIOLA kalah saing dengan pusat perbelanjaan modern di Surabaya yang mulai menjamur. Antara lain Pasar Atum, Pasar Turi, Plaza Surabaya, hingga yang paling besar: Tunjungan Plaza.

Atas rentetan kegagalan dan kepahitan para pengusaha yang mengiringi gedung SIOLA, gedung tua tersebut kemudian dikembalikan ke Pemkot Surabaya. Hingga akhirnya pada 2015, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengalihfungsikannya sebagai museum bernama Museum Surabaya.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Hammam Izzuddin

BACA JUGA: Stadion Tambaksari Surabaya Saksi Banyak Peristiwa Sejak 1920 tapi Terpaksa Ditinggalkan, Mau Nostalgia pun Tak Bisa karena “Terhalang” GBT

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News.

 

 

Terakhir diperbarui pada 27 Juli 2024 oleh

Tags: gedung tua surabayajalan tunjungankota lama surabayamuseum surabayasiolaSurabayatempat bersejarah surabayawisata sejarah surabayawisata surabaya
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Kereta eksekutif murah selamatkan saya dari neraka kereta ekonomi. MOJOK.CO
Catatan

Penyesalan Kaum Mendang-mending yang Dilema Pakai Kereta Eksekutif hingga Memutuskan Tobat dari Kondisi “Neraka” Kereta Ekonomi

1 April 2026
Kerja Susah di Jogja, Diledek Orang Surabaya Gak Bakal Sukses. MOJOK.CO
Urban

Nekat Tinggalkan Surabaya untuk Meniti Karier di Jogja, Menyesal Tak Dengarkan Nasihat Orang Tua yang Terlanjur Kecewa

31 Maret 2026
Lolos Unair lewat jalur golden ticket tanpa SNBP. MOJOK.CO
Edumojok

Kisah Penerima Golden Ticket Unair dari Ketua Padus hingga Penghafal Al-Qur’an, Nggak Perlu “Plenger” Ikut SNBP-Mandiri untuk Diterima di Jurusan Bergengsi

30 Maret 2026
Cat therapy di Jalan Tunjungan Surabaya yang merawat 12 kucing. MOJOK.CO
Sosok

Kisah Pemilik “Cat Therapy” di Jalan Tunjungan, Rela Tinggalkan Rumah agar Bisa Merawat 12 Kucing dan Bikin Keluarga Kecil yang Bahagia

26 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ibu hamil kondisi mengandung bayi

Hampir Memiliki Anak Sudah Jadi Anugerah, Ibu Tak Apa Berjuang Mati-matian demi “Buah Hati” yang Belum Tentu Lahir ke Dunia

29 Maret 2026
Lewat Setu Sinau, Jalan Malioboro Kota Yogyakarta tidak hanya jadi tempat wisata. Tapi juga ruang edukasi untuk belajar budaya Jawa, termasuk aksara Jawa MOJOK.CO

“Setu Sinau” bikin Jalan Malioboro Tak Hanya Jadi Tempat Wisata, Tapi Juga Ruang Edukasi Aksara Jawa

29 Maret 2026
Realitas Pahit di Film “Tunggu Aku Sukses Nanti” yang Bikin Gen Z Menangis: Susah Cari Kerja dan “Dihina” Saat Kumpul Keluarga. MOJOK.CO

Realitas Pahit Film “Tunggu Aku Sukses Nanti” yang Bikin Gen Z Menangis: Susah Cari Kerja dan Dihina Saat Kumpul Keluarga

27 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Perjuangan UTBK SNBT demi lolos universitas terbaik di Semarang (Universitas Diponegoro alias Undip). Numpang di masjid hingga andalkan makan dari warga saat kelaparan MOJOK.CO

UTBK SNBT Modal Nekat dan Keberuntungan demi Undip: Tak Bawa Uang, Numpang Tidur di Masjid-Bergantung Makan dari Warga saat Kelaparan

30 Maret 2026
Berhenti Menyalahkan Anak Skena Jalan Gajahmada Semarang! MOJOK.CO

Berhenti Menyalahkan Anak Skena Jalan Gajahmada Semarang!

30 Maret 2026

Video Terbaru

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.