THR dari kantor belum juga cair, tapi sudah ludes bahkan sebelum masuk rekening. Begitulah yang dirasakan oleh pekerja urban di awal bulan Ramadan: menghitung isi kantong sebelum mudik lebaran.
***
Tulisan ini ditulis pada hari kelima Ramadan (versi pemerintah). Artinya masih 24/25 hari lagi menuju lebaran. Akan tetapi, pekerja urban sudah mulai berhitung sebelum pulang mudik ke kampung halaman.
THR ludes di kalkulator, padahal belum ditransfer
Saat sahur untuk hari kedua Ramadan (versi pemerintah) di sebuah warteg di kawasan Gubeng, Surabaya, Candra (27) menyantap menu sahur dengan tergesa. Ia sudah gatel untuk menghitung pembagian THR untuk lebaran nanti.
Setelah sepiring nasi tandas, ia lalu meraih ponsel yang sebelumnya tergeletak di meja, lalu masuk ke kalkulator untuk memasukkan angka demi angka.
THR Candra sebagai karyawan di perusahaan swasta sudah satu kali gaji. Gajinya Rp3,2 juta. Segitu juga angka yang bakal ia terima sebagai THR.
Setelah dihitung-hitung, sebagaimana yang sudah-sudah, THR tersebut akan ludes hanya dalam beberapa hari di rumah: dibagi-bagikan kepada orang tua, adik, dan sepupu-sepupu. Belum untuk membeli tambahan jajanan dan keperluan lebaran lain di rumah.
“Ya memang belum cair. Tapi anggap saja sudah habis ini. Karena berdasarkan hitungan kalkulator, THR-ku akan habis dibagi-bagi. Aku nggak bisa menikmati buat diri sendiri,” ujarnya.
Agar tidak terjebak dalam kesenangan sesaat
Di Ramadan tahun ini, Candra memang sengaja menghitung lebih awal, tanpa menunggu THR ditransfer oleh perusahaan. Ya meskipun ia sebenarnya sudah tahu hasil akhirnya: tidak kebagian apa-apa.
“Jadi ngitungnya bukan buat cari, aku dapat berapa. Tapi lebih ke membagi secara proporsional: kalau adik harusnya dapat berapa, kalau orang tua harusnya berapa. Simbah nanti berapa yang pantes, dan seterusnya,” beber Candra.
Selain itu, dengan menghitung lebih dulu, Candra bisa mengantisipasi jebakan kesenangan sesaat sebagaimana ia alami dalam momen mudik lebaran sebelum-sebelumnya.
Pasalnya, ketika THR sudah masuk ke rekening, Candra seketika langsung berasa “kaya raya”. Pulang ke kampung halamannya di Ngawi sudah berasa seperti sultan: pokoknya lhas lhos lhas lhos saat bagi-bagi duit.
Eh tahu-tahu duitnya sudah ludes begitu saja. “Perasaan baru pegang uang banyak. Lah kok ludes.”
THR tidak pernah bisa dinikmati untuk diri sendiri
Naila (28) pun sama juga. Perempuan asal Madiun yang bekerja di Solo tersebut juga harus menghitung pembagian THR ke sanak-saudara meski belum ditransfer. Hasilnya, ternyata ludes jauh sebelum Naila melihat bukti transferan di mobike banking-nya.
Naila pernah berbagi cerita ke Mojok pada Ramadan 2025 lalu. Gajinya Rp2 juta, THR-nya juga di angka Rp2 juta. Di momen mudik lebaran, jelas uang THR “setipis” itu jelas nggak kerasa: cepat habis.
“Tahun ini kalau mengikuti gajiku, sebenarnya Rp2,5 juta. Aku berharapnya, yang Rp500 ribu bisa buatku sendiri,” tutur Naila saat kembali dihubungi.
“Karena misalnya, walaupun gaji dan THR ditransfer bareng, aku nggak akan pakai gaji buat kebutuhan selama lebaran di rumah. Jadi memang kuamankan betul, walaupun memang kerap harus bobol juga,” ucap Naila.
Berbeda dengan Candra yang masih bisa menyisihkan uang untuk beli sesuatu untuk dirinya sendiri, Naila benar-benar kesulitan. Maka, seringnya tiap lebaran Naila tidak akan tampil dengan pakaian baru walaupun sebenarnya amat ingin.
Sebab, risiko jika ia terlalu enteng mengeluarkan uang di momen lebaran tanpa perhitungan, situasi yang terjadi malah bakal menyulitkannya saat kembali ke perantauan:
Gajian masih lama, hidup di perantauan dalam keprihatinan
Ketika THR sudah ludes, Naila akan kembali dengan perantauan dengan kembali mengandalkan uang gaji bulanan. Itu pun sudah terpotong untuk menambal kebutuhan bagi-bagi THR jika uang THR-nya tidak cukup.
Celakanya adalah jika tanggal gajian masih lama. Maka, untuk mengisi perut, Naila harus hidup dalam keprihatinan.
“Ya kalau balik pasti bawa sisa-sisa jajan dari rumah. Buat cemal-cemil biar nggak laper-laper banget dan nggak jajan di luar. Walaupun biasanya juga jarang jajan di luar ya haha,” ungkap Naila terkekeh.
Selain itu, demi menghemat pengeluaran, ia biasanya mengandalkan makan dari masak sendiri. Kalau tidak nasi+telur-kecap, ya nasi+telur+sambal. Kalau tidak telur ya lauknya tempe atau tahu. Tetap masuk di perut Naila, yang penting ada kerupuknya.
Tradisi bagi-bagi yang seolah lebih wajib dari permintaan tulus
Sebelumnya, Naila dengan terus-terang mengungkapkan kalau ia benci dengan tradisi bagi-bagi THR di momen lebaran, bisa dibaca dalam tulisan, “Membenci Tradisi Bagi-bagi THR: Kerja Mati-matian tapi Rela Gaji Ludes buat THR, Malah Dihujat Saudara Tak Tahu Diri“. Kalau berbagi ke orang tua saja, ia tidak masalah.
Masalahnya, tradisi yang sudah mengakar adalah juga berbagi dengan sanak saudara. Sementara ada model saudara yang tidak tahu diri: kalau dikasih nominal kecil, bukannya tetap berterima kasih, malah menghina-hina.
Candra pun sama halnya. Sebab, saking sudah mengakarnya tradisi tersebut, seolah-olah menjadi sebuah kewajiban. Lebih wajib ketimbang meminta maaf secara tulus kepada sesama.
“Kalau maaf-maafan itu kebanyakan cuma formalitas aja. Sok minal aidin wal faizin mohon maaf lahir batin. Biar pantes aja. Padahal aslinya, nggak setulus itu. Masih iri dengki lah, masih menyimpan dendam lah,” gerutu Candra.
“Padahal itu yang wajib: Idul Fitri, kembali ke fitrah, suci, itu salah satunya ya ketika semua saling memaafkan dengan tulus,” sambungnya.
Sementara kebanyakan orang tidak akan menyoal hal tersebut. Mereka akan mempermasalahkan secara terbuka ketika ada orang yang tidak tampak bagi-bagi lembaran uang. Tapi kalau lembaran uang yang diberikan dianggap kecil, ujung-ujungnya jadi rasan-rasan.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Mengapa Ormas Palak THR: Kerja Tak Menentu, Dibuat Cemburu Para Elite yang Pamer Hidup Mewah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














