Bagi Fahri (28), dulunya nongkrong adalah agenda wajib. Saat masih bujangan, ia hampir tidak pernah absen kalau ada teman yang mengajak kumpul sepulang kerja.
Duduk berjam-jam di kedai kopi sekadar buat membahas hal yang tidak penting, dan tertawa-tawa hingga larut malam adalah rutinitas normalnya. Teman menelepon mengajak pergi, Fahri biasanya langsung gas.
Namun, semua kebiasaan itu berubah total. Sejak anak pertamanya lahir pada akhir tahun 2025 lalu, karakter “anak nongkrong” dalam diri Fahri seperti hilang tidak bersisa.
Sekarang, jangankan untuk ikut datang, baru melihat pesan masuk di grup WhatsApp yang isinya ajakan kumpul saja rasanya sudah lelah duluan. Apalagi kalau dia tahu kumpul-kumpul itu ujungnya hanya untuk basa-basi, atau sekadar membicarakan keburukan orang lain.
“Dulu sih awal-awal masih nyari-nyari alasan buat nolak,” kata Fahri, Sabtu (9/5/2026). “Tapi kalau sekarang mah udah santai bilang lagi nggak mood nongkrong.”
Nongkrong cuma buang-buang uang
Tentu saja bukan tanpa alasan Fahri tiba-tiba berubah menjadi orang yang malas nongkrong, atau lebih sering pulang cepat. Di posisinya sekarang sebagai seorang ayah, ikut nongkrong di kafe berarti harus siap merogoh kantong.
“Minimal ada lah sekali nongkrong habis 50 ribuan. Buat kopi, rokok,” ujarnya.
Bagi Fahri, membuang uang sebesar itu hanya untuk mendengarkan obrolan basi-basi atau omong kosong terasa sangat konyol. Baginya, uang Rp50 ribu hari ini lebih penting di-spend buat kebutuhan anak atau istri.
“Uang segitu mending buat tambahan beli popok, atau jajanin makanan kesukaan istri. Jelas lebih ada gunanya,” kata Fahri.
Sering kangen anak dan lebih empati ke istri
Namun, alasan penolakannya bukan semata-mata karena perhitungan uang. Sekalipun ada teman yang memaksa mentraktir kopi dan makanannya, Fahri tetap merasa gelisah kalau harus duduk berlama-lama di luar. Ada rasa bersalah yang mengganjal kuat di dadanya.
Saat dia asyik bersantai dan tertawa di tempat nongkrong, dia tahu betul istrinya di rumah mungkin sedang kewalahan. Dia terbayang istrinya kelelahan menenangkan anak yang sedang rewel, atau menahan kantuk sendirian.
Selain rasa empati kepada sang istri, tarikan rindu juga sangat kuat. Tubuhnya mungkin ada di kafe, tapi pikirannya ingin cepat sampai rumah agar bisa bermain dengan bayinya sebelum anak itu tertidur lelap.
Melihat perubahan drastis pada diri Fahri, saya jadi menyadari satu hal penting. Ternyata, Fahri sama sekali tidak sendirian. Saya memiliki beberapa teman lain di usia akhir 20-an yang kelakuannya persis seperti Fahri setelah mereka berstatus sebagai seorang ayah.
Kondisi ini seolah menjadi fase evolusi yang pasti dialami oleh banyak bapak-bapak kelas menengah. Teman-teman saya yang dulunya tahan duduk nongkrong sampai jam satu atau jam dua pagi, perlahan-lahan berubah.
Mereka tiba-tiba menjadi orang yang selalu rajin melirik jam tangan. Kalau waktu sudah menunjukkan pukul delapan atau sembilan malam, mereka mulai gelisah mengecek layar HP untuk melihat pesan dari istri.
Alasan mereka saat berpamitan pulang duluan pun selalu seragam: tidak enak membiarkan istri mengurus anak sendirian di rumah.
Dicap “suami takut istri” karena jarang nongkrong
Di media sosial, fenomena bapak-bapak yang menolak nongkrong basa-basi ini juga menjadi topik yang ramai dibahas. Di platform seperti Facebook dan Threads, beberapa orang mengaku sering berada di posisi yang serba salah.
Ironisnya, keputusan wajar mereka untuk pulang cepat dan menghindari nongkrong yang tidak penting ini seringkali memancing cibiran. Mereka justru sering diledek oleh lingkaran pertemanannya sendiri, terutama oleh teman-teman yang masih lajang atau belum berkeluarga.
Ledekan standar seperti, “Suami takut istri”, atau “Bapak-bapak yang udah nggak asyik lagi,” adalah makanan sehari-hari.
Padahal, kalau mau melihat realitasnya, sikap itu sama sekali bukan karena mereka takut pada istri. Ini murni tentang prioritas hidup yang sudah bergeser.
Bagi para bapak baru ini, waktu luang dan sisa tenaga mereka setelah memeras keringat di tempat kerja sudah terlalu mahal. Sangat sayang rasanya jika energi yang tinggal sedikit itu harus dibakar habis hanya demi menjaga gengsi dan mencari validasi di meja tongkrongan.
“Kalau aku paling sering dibilang nggak asyik lagi. Tapi ya udah lah ya. Udah dewasa juga udah tahu prioritas,” ujar Fahri.
Tetap nongkrong, tapi dengan catatan khusus
Meski sudah banyak menghindari acara kumpul-kumpul, Fahri meluruskan bahwa dirinya tidak lantas menjadi orang yang antisosial. Dia masih mau keluar rumah dan berbaur, tetapi sekarang “filternya” lebih ketat.
Kalau ajakan ngopi di luar itu berkaitan dengan urusan pekerjaan, bertemu klien, atau obrolan yang mendatangkan peluang penghasilan, Fahri pasti akan menyempatkan diri untuk datang. Dia paham betul bahwa itu adalah investasi jaringan kerja yang ujungnya untuk keluarga juga.
“Sama teman-teman yang memang sangat dekat, udah jadi sahabat lah, juga masih sering. Meskipun aku udah komitmen di awal kalau nggak bisa sampai malam banget,” jelasnya.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Pertemanan di Usia 30 Memuakkan: Transaksional dan Isinya Cuma Adu Nasib, tapi Paling Mengajarkan Arti Ketulusan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
