Berprofesi sebagai pencuci piring dan gelas di rewang atau hajatan di desa adalah pekerjaan yang melelahkan. Sialnya, pekerjaan ini tidak pernah terlihat padahal menjanjikan dan menambah tabungan sosial yang besar.
***
Di balik hajatan yang ramai, ada pekerjaan yang jarang masuk hitungan orang ketika membicarakan kesibukan tuan rumah. Seseorang harus memastikan piring dan gelas kotor tidak menumpuk, air panas selalu tersedia, dan teh siap ketika tamu datang. Di kampung saya di Gamping, Sleman, pekerjaan itu menjadi tanggung jawab Anjar (32), seorang soblem.
Mengenal soblem, pencuci piring piring ketika rewang di desa
Di kampung saya, rewang atau ewuh menjadi bagian dari persiapan hajatan di desa. Ketika tetangga menggelar pernikahan atau acara keluarga, warga berdatangan untuk membantu. Ada yang memasak, menyiapkan perlengkapan, melayani tamu, hingga menjadi sinoman yang mengantarkan minuman.
Namun, ada satu pekerjaan yang tak kalah penting: mencuci piring dan gelas. Warga kampung saya menyebutnya soblem. Anjar menjadi salah satu orang yang biasa mengemban tugas tersebut.
“Kalau di tempat kita itu namanya soblem, tidak hanya mencuci piring dan gelas semata, namun juga mencuci perlengkapan dapur, dan menyiapkan teh untuk disuguhkan ke tamu oleh para sinoman,” ujar Anjar ketika saya hubungi melalui WhatsApp, Rabu (28/10/2026).
Tugas Anjar bukan sekadar membersihkan perkakas setelah orang makan dan minum. Ia juga memastikan kebutuhan air panas tersedia dan membantu menjaga urusan dapur tetap berjalan. Orang mungkin lebih mudah melihat hidangan yang tersaji di meja atau sinoman yang mondar-mandir membawa minuman. Sementara itu, Anjar sibuk di bagian belakang.
Mulai bekerja sejak tiga hari sebelum rewang
Pekerjaan soblem tidak selalu menunggu hari pelaksanaan hajatan. Di kampung saya, Anjar biasanya mulai bersiap sekitar tiga hari sebelumnya. Ia bahkan mengikuti perkembangan persiapan sejak rapat awal penentuan tanggal hajatan di desa.
“Misal hajatan itu di hari Minggu, berarti dari setidaknya Kamis malam saya sudah standby di dapur untuk merebus air dan mencuci perkakas dapur yang digunakan untuk mereka yang rewang,” jelasnya.
Sebab, sebelum tamu undangan memenuhi tempat hajatan, warga biasanya sudah berdatangan untuk nyumbang. Mereka datang membawa sumbangan sekaligus bersilaturahmi dengan tuan rumah. Pada saat itulah kebutuhan minuman dan perkakas bersih mulai muncul.
Anjar harus memastikan gelas tersedia ketika warga ingin minum teh. Setelah mereka selesai, ia kembali mencuci gelas yang kotor agar bisa digunakan lagi. Pekerjaan itu terus berulang mengikuti kedatangan warga.
Dengan begitu, jadwal kerja soblem tidak hanya bergantung pada ramainya acara utama. Sejak beberapa hari sebelumnya, Anjar sudah harus menyesuaikan waktunya dengan kebutuhan tuan rumah dan warga yang ikut rewang.
Makin banyak tamu, makin berat pekerjaan
Bagi Anjar, jumlah tamu dan keberadaan jasa katering sangat memengaruhi beratnya pekerjaan. Ketika tuan rumah mengundang ratusan orang tanpa menggunakan jasa katering, pekerjaan dapur menjadi lebih merepotkan.
“Wah, kalau melelahkan itu ketika tamu undangan bisa 500 lebih dan tidak menggunakan vendor katering, pasti nanti harus gotong royong sama sinoman untuk mengambil piring dan gelas kotornya, nanti tinggal setor ke aku dan aku yang mencuci semuanya,” terang Anjar.
Bayangkan saja, ketika ratusan tamu datang dan menggunakan piring serta gelas secara bergantian, Anjar harus menghadapi tumpukan perkakas kotor yang terus bertambah. Ia tidak bisa menyelesaikan semuanya sekali jalan karena tamu masih berdatangan dan membutuhkan perlengkapan bersih.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Statistik Sosial Budaya 2024 menunjukkan bahwa 46,96 persen penduduk berumur 10 tahun ke atas mengikuti kegiatan gotong royong dalam tiga bulan terakhir. Angka tersebut menggambarkan luasnya keterlibatan masyarakat dalam kegiatan bersama, meskipun tidak secara khusus mengukur tradisi rewang atau pekerjaan soblem.
Di dalam gotong royong itu, setiap orang memiliki tugas. Namun, pengalaman Anjar menunjukkan bahwa pembagian tugas tidak otomatis membuat beban setiap orang terasa sama. Ketika orang lain bisa berganti pekerjaan atau beristirahat, tumpukan piring kotor tetap menunggu seseorang untuk membersihkannya.
Empat hari bekerja, Rp500 ribu di tangan
Meski melelahkan, Anjar tidak menganggap pekerjaan soblem sebagai beban semata. Ada upah yang ia terima setelah membantu hajatan selama beberapa hari. Selain itu, tuan rumah menyediakan makanan, kopi, rokok, dan terkadang sembako sebagai tambahan.
“Kalau dibilang lelah, ya pasti lelah, karena harus standby dari jauh hari pelaksanaan hajatan di desa. Namun, ini juga menjadi pekerjaan yang menguntungkan karena pasti dapat uang, sekali menjadi soblem selama 4 hari itu saya bisa dikasih Rp500 ribu, itu di luar saya dikasih rokok dan sembako ketika hajatan sudah selesai. Makan juga pasti ditawarin sama tuan rumah, kopi bikin sendiri, rokok disediakan, kurang enak apa coba?” jelas Anjar.
Upah Rp500 ribu untuk empat hari berarti rata-rata Rp125 ribu per hari. Namun, hitungan tersebut belum memperhitungkan secara pasti berapa jam Anjar bekerja setiap harinya. Ia juga tidak menyebutkan bahwa semua hajatan memberikan upah dengan jumlah yang sama.
Karena itu, penghasilan soblem lebih tepat dipahami sebagai pendapatan tambahan yang bergantung pada kesempatan dan kesepakatan dengan tuan rumah. Bagi Anjar, pekerjaan ini melengkapi penghasilannya sebagai kuli bangunan dan penjaga malam gudang di kawasan Ringroad.
Srawung dalam rewang, lebih dari sekadar membantu hajatan
Pengalaman Anjar sebagai soblem memperlihatkan bahwa rewang tidak hanya berkaitan dengan urusan dapur. Ada hubungan sosial yang ikut tumbuh ketika warga berkumpul, berbagi pekerjaan, dan membantu tetangganya menggelar hajatan. Bagi Anjar, pekerjaan itu memberinya tambahan penghasilan sekaligus kesempatan untuk tetap srawung dengan warga kampung.
Penelitian Artia Siska Dewi, Erda Fitriani, dan Lia Amelia berjudul “Modal Sosial Tradisi Rewang pada Masyarakat Jawa Desa Beringin Talang Muandau Riau” yang terbit dalam Culture & Society: Journal of Anthropological Research pada 2022 menjelaskan bahwa rewang dapat menjadi modal sosial masyarakat. Penelitian tersebut menemukan tiga unsur penting, yakni jejaring sosial, kepercayaan, dan nilai sosial berupa tolong-menolong, timbal balik, serta sosialisasi.
Temuan itu relevan dengan pengalaman Anjar. Warga mempercayakan pekerjaan soblem kepadanya karena ia sudah terbiasa menangani urusan dapur ketika hajatan di desa berlangsung. Sementara itu, Anjar memperoleh upah dan kesempatan berinteraksi dengan tetangga. Hubungan tersebut tidak berhenti pada transaksi pekerjaan, tetapi juga berlangsung melalui kebiasaan saling membantu.
Penelitian Muhammad Romli dan Satriyo Wibowo tentang tradisi rewang di Desa Mulusan, Paliyan, Gunungkidul, yang terbit di JIPSINDO, juga menempatkan rewang sebagai bentuk kearifan lokal yang dinamis dan dapat berubah mengikuti perkembangan masyarakat.
Di Gamping, pengalaman Anjar menunjukkan bagaimana tradisi itu berjalan melalui pembagian tugas yang konkret. Ada warga yang memasak, ada sinoman yang melayani tamu, dan ada soblem yang memastikan piring serta gelas bersih kembali. Mereka mengerjakan bagian masing-masing agar hajatan berjalan lancar.
Bagi Anjar, srawung tidak harus berlangsung melalui obrolan panjang atau pertemuan khusus. Terkadang, hubungan dengan tetangga justru terjaga melalui pekerjaan sederhana yang ia lakukan berulang kali. Meski berdiri di bagian dapur yang jarang terlihat tamu, Anjar tetap mengambil bagian dalam kehidupan sosial kampungnya.
Soblem, pekerjaan cuci piring dan gelas kotor yang juga cara menjaga srawung dengan tetangga
Anjar tidak hanya melihat rewang sebagai kesempatan mendapatkan uang. Baginya, pekerjaan tersebut juga memberinya alasan untuk terus berinteraksi dengan tetangga. Ia bisa membantu warga yang menggelar hajatan sekaligus menjaga hubungan sosial yang sudah terjalin di kampung.
Ketika mendapat pekerjaan soblem, Anjar biasanya meminta izin kepada mandor proyek dan menyesuaikan tugasnya sebagai penjaga malam. Ia mengaku tetap mengecek gudang sesekali setiap malam agar pekerjaan utamanya tidak terbengkalai.
“Kalau ada pekerjaan soblem ini biasanya aku izin ke mandor proyeknya sama yang dijaga malam itu cuma aku cek sesekali saja setiap malamnya, jadi penghasilan aman, tambahan uang plus srawungnya juga jalan,” tutup Anjar.
Dari pengalaman Anjar, pekerjaan pencuci piring dalam rewang memang jarang menarik perhatian. Orang lebih mudah mengingat siapa yang memasak hidangan, siapa yang menerima tamu, atau bagaimana meriahnya sebuah hajatan. Padahal, tanpa orang yang membersihkan perkakas dan menyiapkan kebutuhan minuman, pekerjaan di dapur bisa tersendat.
Bagi Anjar, menjadi soblem bukan pekerjaan yang perlu dibesar-besarkan. Ia mendapat tambahan penghasilan, membantu tetangga, dan tetap punya kesempatan untuk srawung. Di tengah hajatan yang ramai, ia memilih mengerjakan bagiannya sendiri. Barangkali, justru dari pekerjaan yang jarang dilihat itulah rewang bisa terus berjalan.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Gen Z di Desa Ogah-ogahan Ikut Tahlilan Bikin Cemas Para Tetua: Bisa Hilang Budaya Srawung dan Peduli Tetangga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan