Menghitung hari baik pernikahan dalam tradisi Jawa biasanya memakai weton, yaitu gabungan hari lahir dan pasaran kedua calon mempelai. Caranya adalah dengan menjumlahkan neptu keduanya, lalu mencocokkan hasilnya dengan petung primbon. Dalam Islam, hitungan seperti ini tidak ada. Akad nikah baik dan sah dilaksanakan pada hari apa pun. Dalam Islam, hanya diajarkan untuk mencari waktu yang lapang bagi kedua keluarga, lalu mantapkan lewat doa.
Jika calonmu adalah orang Jawa, jangan kaget ketika orang tua pasanganmu bertanya, “Weton kalian berapa?” Kamu tersenyum canggung karena belum pernah menghitungnya. Jawaban itu biasanya untuk menentukan tanggal akad dan jadwal gedung.
Menghitung hari baik pernikahan terdengar seperti urusan mistis. Padahal semua ada hitungannya. Tradisi ini semacam membaca kalender yang memuat catatan watak. Orang Jawa mengaitkan hari dan pasaran dengan watak tertentu, lalu mencocokkannya dengan karakter calon pengantin.
Sementara itu, Islam menilai pernikahan dari niat dan restu keluarga. Karena itu, banyak keluarga Muslim Jawa memadukan kedua cara pandang tersebut. Mereka tetap menghitung hari baik sebagai bagian dari adat, tetapi menjalankan prosesi pernikahan sesuai dengan ajaran Islam.
Cara Menghitung Weton dan Neptu Calon Pengantin
Weton adalah gabungan hari lahir dan pasaran. Pasaran terdiri atas Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Hari dan pasaran membawa nilai yang bernama neptu. Kalau kamu lupa pasaran lahirmu, tanyakan ke orang tua atau cek kalender konversi Jawa di internet.
- Neptu hari: Minggu 5, Senin 4, Selasa 3, Rabu 7, Kamis 8, Jumat 6, Sabtu 9.
- Neptu pasaran: Legi 5, Pahing 9, Pon 7, Wage 4, Kliwon 8.
Pertama, cari weton keduanya. Kedua, jumlahkan neptu hari dan pasaran milik masing-masing mempelai. Ketiga, tambahkan hasil kedua orang itu. Terakhir, bagi total dengan lima dan lihat sisanya.
- Sisa 1: Pegat, artinya rawan perpisahan.
- Sisa 2: Ratu, artinya berwibawa dan dihormati.
- Sisa 3: Jodoh, artinya saling melengkapi.
- Sisa 4: Topo, artinya awal berat dan akhir bahagia.
- Sisa 0: Tinari, artinya rezeki mengalir lancar.
Contohnya, Raka lahir pada Senin Legi, sedangkan calon istrinya, Putri lahir pada Kamis Pon. Neptu Raka adalah 4 tambah 5, yaitu 9. Putri mendapat 8 tambah 7, yaitu 15. Total keduanya 24. Hasil bagi lima menyisakan 4, sehingga pasangan ini masuk kategori Topo.
Orang tua menafsirkan Topo sebagai pesan agar pasangan siap bekerja keras di awal. Lalu bagaimana jika hasilnya Pegat? Tenang, Banyak keluarga Jawa tetap melanjutkan pernikahan dengan hasil seperti itu. Paling kamu bakal dapat banyak wejangan sebagai pengingat untuk semakin menjaga komunikasi, komitmen, dan keharmonisan bersama.
Sebagian keluarga lain bakal mengadakan selamatan kecil dan meminta doa sesepuh sebelum melanjutkan. Keluarga lain mengajak pasangan membicarakan kekhawatiran mereka. Mendapatkan hasil pegat bukan berarti resepsi yang disiapkan berbulan-bulan otomatis kiamat, tapi sebagai pengingat bahwa harus selalu waspada dan hati-hati dalam menjaga keharmonisan rumah tangga kelak.
Bulan dan Hari yang Dihindari Sebagian Keluarga
Setelah weton dihitung, kamu masih perlu memilih tanggal. Sebagian keluarga Jawa menghindari bulan Sura karena menganggapnya bulan sakral untuk laku batin. Selain itu, mereka menghindari hari geblak, yaitu hari wafat orang tua atau kakek-nenek mempelai.
Misalnya, kalau ayah meninggal pada Selasa Kliwon, keluarga tidak memilih Selasa Kliwon untuk hajatan. Sebaliknya, banyak keluarga menganggap bulan Besar cocok untuk hajatan.
Cek juga jadwal gedung dan anggaran katering sebelum mengunci tanggal. Di desa, musim panen dan tanggal gajian menentukan jumlah tamu yang bisa hadir.
Menyusun Tiga Tanggal Kandidat
Agar lebih mudah, kamu dan calon pasangan bisa menentukan tiga pilihan tanggal pernikahan dalam bulan yang sama. Setelah itu, coret tanggal yang berbenturan dengan geblak, jadwal kerja keluarga inti, atau ketersediaan gedung.
Dari pilihan yang tersisa, keluarga bisa bermusyawarah untuk menentukan tanggal terbaik. Dengan cara ini, proses memilih tanggal jadi lebih praktis, mengurangi perdebatan panjang, dan menghindari drama.
Pandangan Islam soal Hari Baik untuk Akad
Akad sah pada Rabu, Kamis, maupun Sabtu selama rukun dan syaratnya lengkap. Muharram, yang bertepatan dengan Sura, termasuk bulan mulia. Islam tidak melarang pernikahan di bulan itu.
Bulan Syawal dan Hari Jumat
Meski begitu, ulama menyebut beberapa anjuran. Aisyah RA menceritakan bahwa Rasulullah SAW menikahinya pada bulan Syawal (HR Muslim). Karena itu, banyak ulama memandang Syawal sebagai waktu yang baik untuk menikah. Syawal juga bertepatan dengan libur Lebaran, sehingga keluarga besar mudah berkumpul.
Undangan pernikahan menumpuk di akhir pekan setelah Idul Fitri. Sebagian ulama menganjurkan akad pada hari Jumat karena menilai Jumat sebagai hari yang utama. Keduanya berstatus anjuran.
Istikharah dan Musyawarah
Ulama menganjurkan istikharah dan musyawarah dalam urusan pernikahan. Pasangan memohon petunjuk lewat salat istikharah. Setelah itu, mereka berembuk dengan wali dan keluarga.
Misalnya, jika hitungan weton jatuh pada 12 Desember, sementara gedung kosong pada 19 Desember, ajak keluarga duduk bersama, menimbang manfaat dan mudaratnya, lalu memutuskan.
Apapun argumen yang muncul, pegang syariat sebagai acuan utama.
Urusan Administrasi di KUA
Jangan sampai terlalu sibuk mengurus weton, menentukan tanggal pernikahan, dan mencari gedung sampai lupa mengatur jadwal akad di KUA. Waktu pelaksanaan akad juga perlu disesuaikan dengan jadwal Kantor Urusan Agama.
Akad di kantor KUA pada jam kerja tidak dikenakan biaya, sedangkan akad di luar kantor atau di luar jam kerja dikenakan biaya negara. Karena ketentuannya bisa berubah, sebaiknya tanyakan langsung kepada KUA setempat.
Agar tanggal pilihanmu tetap aman, daftarkan kehendak nikah jauh-jauh hari. Dengan begitu, kamu punya cukup waktu untuk melengkapi berkas dan mengantisipasi jika ada proses administrasi yang membutuhkan waktu lebih lama.
Pentingnya Angka Neptu
Saat menghitung hari baik pernikahan, kamu dan keluarga membuka percakapan yang jarang terjadi. Ibu bercerita soal weton simbah, Bapak bertanya soal biaya, dan Kamu juga bisa menyampaikan kekhawatiran lain yang mungkin masih mengganjal.
Angka neptu bisa menjadi awal untuk membuka obrolan. Setelah itu, mintalah petunjuk melalui istikharah dan tentukan tanggal bersama orang-orang yang kamu sayangi.