Banyak orang tua saat ini merasa bingung, bahkan stres, melihat anak-anak mereka yang sudah berusia 20-an atau bahkan 30-an, tapi seolah-olah belum “jadi orang”. Ada yang masih tinggal serumah, ada yang finansialnya belum stabil, atau ada yang terlihat belum punya arah hidup yang jelas.
Fenomena ini seringkali menimbulkan ketegangan. Orang tua merasa gagal mendidik anak agar mandiri, sementara sang anak merasa tertekan karena merasa selalu dikritik atau dianggap masih kecil.
Ternyata, pangkal masalah dari fenomena ini bukan cuma soal kemalasan atau “mental tempe”. Namun, ada ada alasan biologis dan sosial yang mendasarinya.
Ternyata, otak manusia belum “matang” di usia 21
Masalah di atas, dijelaskan secara terang oleh psikoterapis dan konselor anak asal Inggirs, Julia Samuel, dalam esai panjangnya di The Guardian. Salah satu poin paling kuat dalam artikel “Adolescence lasts into your 30s – so how should parents treat their adult children?” tersebut adalah hasil riset dari University of Cambridge.
Selama ini, anggapan orang tua, hukum, dan norma sosial menganggap usia 18 atau 21 tahun sebagai ambang batas kedewasaan. Namun, secara biologis, otak manusia belum selesai berkembang pada usia tersebut.
Penelitian menunjukkan bahwa fase perkembangan otak remaja sebenarnya berlangsung hingga seseorang menginjak usia 32 tahun. Bagian otak yang disebut prefrontal cortex–yang bertanggung jawab atas logika, pengendalian impuls, dan perencanaan masa depan–adalah yang terakhir mencapai kematangan.
Artinya, “anak-anak muda di usia 20-an hingga awal 30-an secara biologis memang masih berada dalam masa transisi,” kata Julia. Menurutnya, mereka sedang dalam fase “dewasa muda yang baru muncul” atau emerging adulthood, sebuah periode yang penuh dengan ketidakpastian, dan pencarian jati diri.
Bukan malas, tapi karena zaman telah berubah
Julia juga menekankan, kita tidak bisa mengabaikan bahwa dunia tempat anak muda tumbuh sekarang jauh lebih kejam secara ekonomi dibandingkan 30 atau 40 tahun lalu. Ia mencatat, sekitar sepertiga orang dewasa muda (usia 18-34) tetap tinggal bersama orang tua mereka.
Faktornya bukan sekadar kenyamanan, tetapi harga properti yang tidak masuk akal, biaya pendidikan yang makin tinggi, dan dunia kerja yang sangat kompetitif.
“Ketika hampir 60 persen orang tua tetap membantu anak mereka secara finansial, ini bukan semata-mata tanda ‘manja’, melainkan adaptasi kolektif terhadap realitas ekonomi yang sulit,” ungkap Julia.
Orang tua seringkali merasa terkuras secara emosional dan materi. Namun, mereka juga tidak tega melihat anak mereka kesulitan di luar sana.
Jebakan pengasuhan “helikopter”
Masalah sering timbul ketika cinta orang tua berubah menjadi kontrol yang berlebihan. Karena merasa dunia di luar sana berbahaya atau sulit, orang tua sering terjebak dalam gaya pengasuhan helicopter parenting–selalu siap “terbang” di atas kepala anak untuk membantu, mengarahkan, atau menyelamatkan mereka dari kesalahan.
Julia menekankan bahwa keterlibatan berlebihan ini justru berbahaya bagi kesehatan mental anak muda. Hal ini bisa mengikis rasa percaya diri anak.
“Jika anak tidak pernah dibiarkan gagal atau memecahkan masalahnya sendiri, mereka tidak akan pernah percaya bahwa mereka mampu bertahan hidup sebagai orang dewasa,” katanya.
Hal ini pun menciptakan lingkaran setan: orang tua cemas melihat anak tidak mandiri, lalu mereka membantu lebih banyak lagi, yang pada akhirnya justru membuat anak semakin tidak mandiri.
Orang tua harus bisa mengubah peran
Transisi yang paling sulit bagi orang tua adalah mengubah peran mereka. Selama 18 tahun pertama, peran orang tua adalah sebagai manajer–mengatur jadwal, memastikan sekolah beres, dan melindungi dari bahaya.
Namun, ketika anak mencapai usia dewasa, peran tersebut harus bergeser menjadi “saksi yang penuh hormat” (respectful witness).
Menjadi saksi berarti hadir untuk mendengarkan, memberikan dukungan emosional, dan menawarkan solusi (yang bijak) hanya jika diminta. Ini memerlukan kedewasaan emosional dari pihak orang tua untuk menahan diri agar tidak memberikan nasihat yang tidak diminta atau kritik yang menghakimi.
Orang tua harus membangun batasan di dalam rumah
Bagi keluarga yang tinggal bersama anak dewasa, Julia menyarankan komunikasi yang sangat jujur dan eksplisit. Sering kali konflik terjadi karena asumsi-asumsi yang tidak terucapkan. Ia menyarankan agar keluarga memiliki diskusi terbuka mengenai:
- Kontribusi Rumah Tangga: Anak dewasa bukan lagi tamu atau anak kecil. Mereka harus memiliki peran dalam mengurus rumah, baik secara finansial maupun tenaga.
- Privasi: Orang tua harus belajar untuk tidak mencampuri urusan pribadi anak, mulai dari hubungan asmara hingga bagaimana mereka mengelola keuangan atau ponsel mereka.
- Rencana Masa Depan: Memiliki exit plan atau rencana kapan anak akan mandiri secara bertahap membantu mengurangi rasa frustrasi orang tua yang merasa anaknya “terjebak” selamanya.
Pada akhirnya, tulisan di The Guardian tersebut memberikan pesan bahwa pengasuhan tidak pernah benar-benar selesai; ia hanya berkembang. Hubungan orang tua dan anak dewasa yang sehat adalah hubungan yang didasarkan pada rasa hormat yang setara.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Uneg-uneg dari Seorang Ibu yang Stres Anaknya Tidak Mempan dengan Ilmu Parenting atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














