Bagi Gen Z seperti Faiz dan Aya, menikah di gedung atau aula adalah pilihan terbaik daripada di rumah sendiri. Selain lebih praktis, kalau dihitung-hitung biaya nikah yang dikeluarkan ternyata lebih murah.
Namun, mereka harus menghadapi konsekuensi sosial yang tak bisa dihindari akibat pilihannya itu. Ya, jadi bahan omongan tetangga karena dianggap nggak srawung.
Budaya pernikahan mulai bergeser, terutama di kalangan Gen Z
Budaya dan cara pandang tentang pernikahan, perlahan mulai berubah di tangan Gen Z. Dulu, terutama bagi masyarakat yang tinggal di desa atau kawasan pinggiran kota, menikah di rumah sendiri adalah pilihan mutlak.
Menggelar hajatan dengan mendirikan tenda besar hingga menutup jalan desa dianggap sebagai bentuk kebanggaan sekaligus cara terbaik untuk merawat “rukun tetangga” atau srawung. Orang tua zaman dulu merasa bangga jika rumahnya ramai didatangi orang sekampung yang ikut membantu masak (rewang) atau sekadar nongkrong berhari-hari.
Namun, belakangan ini banyak anak muda, khususnya Gen Z, yang mulai meninggalkan tradisi tersebut. Mereka berbondong-bondong memilih untuk menyewa gedung, aula, atau tempat khusus pernikahan.
Keputusan ini seringkali ditentang oleh orang tua pada awalnya. Alasan para orang tua biasanya seragam: “Menikah di gedung itu buang-buang uang, harganya mahal, dan kesannya membatasi tamu. Nanti apa kata tetangga?”
Faktanya, anggapan bahwa menikah di rumah itu pasti lebih murah dan mudah adalah sebuah salah kaprah besar bagi kondisi zaman sekarang. Bagi Gen Z, menikah di gedung justru terbukti jauh lebih praktis. Dan jika dihitung dengan detail dan jujur, biayanya sering kali lebih murah dibandingkan hajatan di desa.
Lebih praktis, menyelamatkan jatah cuti dan bikin mental lebih waras
Faiz adalah salah satu Gen Z yang mengakui sisi praktis menikah di gedung pada pertengahan 2025 lalu. Ia adalah seorang karyawan swasta yang merantau dan bekerja di Sleman. Bagi pekerja seperti Faiz, waktu, tenaga, dan jatah cuti adalah hal yang sangat berharga.
“Jatah cuti nikah dari kantor itu cuma 3 hari. Kalau digabung sama sisa cuti tahunan, paling mentok saya cuma bisa libur seminggu,” ungkapnya, Sabtu (21/2/2026).
Jika Faiz menuruti kemauan awal keluarganya untuk menikah di rumah desa, waktu seminggu itu tidak akan pernah cukup. Menikah di rumah berarti ia dan keluarga intinya harus siap sedia alias standby sejak H-7 sebelum acara.
Rumah sudah mulai ramai oleh tetangga yang datang untuk membantu persiapan. Belum lagi, Faiz masih harus ikut begadang menemani bapak-bapak yang memasang tenda, sementara ibunya harus sibuk mengatur ibu-ibu yang rewang di dapur umum.
Kelelahan fisik ini belum seberapa dibanding kelelahan mental. Menyelenggarakan acara di rumah berarti harus membentuk panitia keluarga. Biasanya akan ada saja drama atau konflik kecil antar saudara, mulai dari urusan siapa yang bertugas menjaga buku tamu, siapa yang mengatur lauk pauk agar tidak cepat habis, dan sebagainya.
Di hari H, pengantin harus siap berdiri menyalami tamu sejak pagi hingga larut malam karena tamu di desa biasanya datang silih berganti tanpa jam yang pasti.
“Akhirnya saya dan pasangan sepakat pakai jasa WO (Wedding Organizer) dan sewa gedung saja. Semuanya jadi sangat praktis,” tegas Faiz.
Dengan menyewa gedung, ia memangkas semua kerumitan dan drama keluarga. Ia hanya perlu datang ke tempat acara, dirias, tersenyum menyambut tamu selama 3 hingga 4 jam, lalu acara selesai.
Setelah itu, Faiz dan keluarganya bisa langsung pulang ke rumah untuk mandi dan tidur nyenyak. Tidak ada tumpukan piring kotor, tidak ada sisa sampah berserakan di halaman, dan tidak ada tenda yang harus dibongkar keesokan harinya. Kewarasan mental dan fisik keluarga tetap terjaga.
“Jelas awalnya keluarga besar menolak. Tapi setelah diskusi panjang, mereka mau mengerti saya.”
Lebih murah karena nikah di desa biayanya sering “bocor alus”
Lalu, bagaimana dengan anggapan bahwa menikah di gedung itu mahal? Hal ini dibantah keras oleh Aya (25), seorang freelancer yang baru saja menikah dua bulan lalu.
Sejak awal merencanakan pernikahan, Aya langsung membuat simulasi hitung-hitungan di pengatur keuangan untuk meyakinkan orang tuanya bahwa menikah di rumah justru rawan membuat kantong jebol.
“Orang tua mikirnya kalau di rumah kan nggak usah bayar sewa gedung yang harganya belasan juta. Terus tenaga kerjanya gratis karena tetangga pada datang gotong royong (rewang). Padahal, yang namanya ‘gratis’ di desa itu nggak benar-benar gratis,” jelas Aya kepada Mojok, Minggu (22/2/2026), yang juga pernah membagikan keluhannya ini di Threads.
Aya membongkar apa yang sering disebut sebagai “bocor alus” atau biaya tak terduga dalam hajatan desa. Pengeluaran ini sering kali tidak terasa di awal, tapi mengalir deras setiap harinya. Pernikahan kakaknya dua tahun lalu menjadi contoh nyata.
Pertama, biaya makan harian. Ibu-ibu dan para rewang yang datang rewang seminggu sebelum hari H tidak dibayar dengan uang, tapi tuan rumah wajib menyediakan makan berat tiga kali sehari.
Kedua, biaya untuk bapak-bapak. Setiap malam menjelang hari H, bapak-bapak akan berkumpul untuk membangun tenda, menata kursi, atau sekadar berjaga malam. Tuan rumah harus menyediakan berbal-bal rokok dan berkilo-kilo kopi setiap malamnya.
“Dulu kakak sempat ngeluh, karena jika ditotal selama seminggu, uang untuk rokok dan makan harian ini angkanya besar banget.”
Ketiga, ada tradisi ater-ater atau punjungan. Di banyak desa, sebelum acara pernikahan dimulai, keluarga punya hajat wajib mengirimkan rantang atau kotak berisi nasi dan lauk pauk lengkap ke ratusan rumah tetangga dan kerabat sebagai bentuk undangan resmi. Biaya membuat ratusan kotak makanan ini jelas tidak murah.
Sementara keempat, dan yang paling menakutkan bagi anggaran, adalah tamu yang tak terbatas.
“Kalau kita sewa katering di gedung, kita bisa pesan pas 1.000 porsi untuk 500 undangan. Pintu masuk dijaga buku tamu. Kalau di desa, hajatan itu milik umum. Pengalaman nikahan kakak dulu, undangan yang disebar 500, yang datang bisa 800 atau malah 1.000 orang,” ujarnya.
Bahkan, lanjut Aya, biaya pernikahan kakaknya dulu sangat bengkak yang hingga sekarang malah bikin beban karena kudu mengangsur di bank.
Perbandingan biaya yang sebenarnya
Untuk memperjelas argumennya, Aya mengsimulasikan perbandingan kasar biaya pernikahan standar dengan target 500 undangan atau setara 1.000 porsi makan.
Dimulai dengan biaya menikah di gedung yang sifatnya pasti. Jika menggunakan sistem paket lengkap dari vendor, pengeluarannya sangat jelas dan berhenti di angka kesepakatan. Paket sewa gedung, katering untuk 1.000 porsi, dekorasi, rias pengantin, dokumentasi, hingga hiburan biasanya bisa dikunci di angka Rp 55.000.000.
“Dan itu semua sudah beres. Nggak ada risiko tambahan porsi makan mendadak karena durasi acara dibatasi dan akses tamu yang masuk selalu terkontrol,” ungkap Aya.
Sebaliknya, bagaimana jika menikah di rumah? Di atas kertas, biaya sewa tempat memang terlihat nol. Namun, jangan lupakan “pajak sosial” dan biaya tak terduga ke dalamnya. Pengeluaran pertama adalah menyewa tenda besar, kursi, alat makan, kipas blower, hingga sound system yang dihitung berhari-hari, memakan biaya sekitar Rp 15.000.000. Selanjutnya, bahan makanan untuk katering hari H bagi 1.000 porsi akan menghabiskan sekitar Rp 25.000.000.
Belum berhenti sampai di situ. Pengalaman pernikahan kakaknya Aya dulu, keluarga harus mengeluarkan sekitar Rp 10.000.000 untuk konsumsi harian puluhan tetangga yang rewang selama seminggu penuh. Ditambah lagi anggaran sekitar Rp 3.000.000 hanya untuk membeli rokok dan kopi bagi bapak-bapak yang begadang dari masa persiapan hingga bongkar tenda.
Ada juga biaya tradisi ater-ater atau hantaran nasi kotak untuk sekitar 200 tetangga terdekat yang menghabiskan dana Rp 6.000.000.
Terakhir, dan yang paling krusial, tuan rumah wajib menyiapkan dana darurat sekitar Rp 5.000.000 untuk menambah lauk dan beras jika tamu desa membeludak di luar undangan. Jika ditotal, biaya menikah di rumah ternyata mencapai angka Rp 61.000.000. Angka ini bahkan belum final dan sangat mungkin membengkak seiring berjalannya acara.
“Setelah keluarga hitung masak-masak, nyatanya biaya menikah di rumah ternyata justru lebih mahal, ditambah bonus badan lelah dan kondisi rumah yang berantakan berhari-hari.”
Kudu siap mental jadi bahan omongan tetangga
Meskipun secara angka dan logika menyewa gedung jauh lebih masuk akal, pilihan ini bukannya tanpa hambatan. Hambatan terbesarnya bukanlah uang, melainkan sanksi sosial dari lingkungan sekitar.
Keluarga yang memilih menggelar pernikahan anaknya di gedung sering kali harus siap telinganya panas. Tetangga biasanya akan mulai bergosip. Cap sebagai “keluarga pelit”, “sombong”, “merasa level kota”, atau “tidak mau berbaur dengan orang kampung” akan cepat menyebar. Apalagi, di lingkungan desa, tidak mengundang seluruh warga untuk makan-makan di rumah sering dianggap sebagai pelanggaran norma sosial.
Namun, di sinilah letak perbedaan mental Gen Z dengan generasi sebelumnya. Anak-anak muda sekarang cenderung lebih berani bersikap bodo amat terhadap tuntutan sosial yang merugikan mereka secara finansial.
Bagi mereka, berani mengambil keputusan yang logis untuk keuangan keluarga jauh lebih penting daripada sekadar menjaga gengsi di mata tetangga.
“Kalau aku aku sih tutup telinga aja, ya. Toh di sini semua nggak ada yang dirugikan, kan?” kata Aya.
Mereka sadar bahwa setelah pesta mewah selesai, yang menjalani kehidupan berumah tangga dan membayar tagihan adalah mereka sendiri, bukan tetangga yang sibuk berkomentar.
Prinsip Gen, sebagaimana disampaikan Aya, sangat sederhana dan tegas: lebih baik membiarkan tetangga bergosip selama satu atau dua bulan ke depan, daripada harus memaksakan diri menggelar hajatan di rumah hingga terpaksa berutang sana-sini, yang cicilannya baru bisa lunas bertahun-tahun kemudian.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Memilih Ngekos Setelah Menikah daripada Tinggal Bareng Ortu-Mertua, Finansial Memang Empot-empotan tapi Kesehatan Mental Aman atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














