Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Kereta Api Ekonomi Memang Nyiksa Punggung dan Dengkul, Tapi Penuh Pelajaran Hidup dan Kehangatan dari Orang-orang Tulus

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
13 Februari 2026
A A
Pelajaran hidup dari kereta api (ka) ekonomi MOJOK.CO

Ilustrasi - Pelajaran hidup dari kereta api (ka) ekonomi. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kereta api (KA) ekonomi memang kerap dikeluhkan, setidaknya untuk dua hal. Satu, kursi duduknya yang tegak lurus 90 derajat. Membuat punggung dan dengkul tersiksa sepanjang perjalanan. Apalagi jika dalam kursi dua kursi berkapasitas enam orang yang saling berhadapan itu penuh penumpang. 

Dua, sering kali ada drama menyebalkan dari penumpang lain. Misalnya, penumpang yang kalau tidur bokongnya nyerong hingga mengganggu penumpang di sebelahnya. Atau kepalanya ndlosor ke samping kiri dan kanan. Belum lagi penumpang yang “buta maps”: nomor kursinya di mana, eh duduknya di mana. 

Tapi begitulah gambaran realitas hidup—khususnya bagi kalangan kelas menengah ke bawah. Kalau pakai istilah Jawa: wong-wong kalahan (orang yang lebih sering kalah dengan nasib). Penuh dinamika, tapi harus dihadapi dan dijalani. 

Terlepas dari itu, bagi beberapa orang (users kereta api ekonomi), di dalam gerbong yang pendingin udaranya kembang kempis dan kursi 90 derajat itu, ada beberapa situasi yang menghangatkan batin. 

Leluasa berbagi cerita dan didengar di kereta api (KA) ekonomi

Sebagai users bus ekonomi, saya terbilang baru-baru ini menggunakan moda transportasi lokomotif. 1,5 tahun terakhir ini lah. Untuk rute perjalanan Jogja-daerah Jawa Timuran. 

Beberapa kali saya terlibat dengan perbincangan hangat dan deep dengan penumpang sebelah saya. Rata-rata justru yang berusia lebih tua: 30-an tahun ke atas. 

Awalnya sebenarnya dimulai dengan basa-basi biasa: bertanya ke mana tujuan saya? Pulang kampung kah? Atau kerja apa dan di mana? Tapi obrolan tidak berhenti di situ. Sebab, penumpang sebelah saya kemudian menjadi lebih leluasa berbagi cerita. 

Tentang situasi-situasi tak menyenangkan yang mereka hadapi di perantauan. Kesedihan karena belum bisa menetap di kampung halaman bersama orang tua karena harus mencari rezeki di kota orang, dan macam-macam. 

Saya menyimaknya dengan serius. Sesekali mengajukan pertanyaan balik. Dan itu membuat penumpang di sebelah saya makin leluasa bercerita. Kadang dengan semangat dan antusias, kadang dengan menyiratkan kegetiran. 

Apakah saya tidak terganggu? Seharusnya iya. Karena jika tidak diajak berbincang, saya bisa gunakan waktu untuk sekadar memejamkan mata atau nonton film di OTT. Tapi, beberapa kali mengalami hal yang sama (mendengar orang bercerita di kereta api ekonomi) membuat saya menyadari satu hal: mereka hanya perlu bercerita dan didengar. Karena itu bisa sedikit banyak meloloskan beban-beban yang mereka pendam dalam batin. 

Bagi saya, apa salahnya “membantunya”? Sebagai orang yang, lebih sering memendam sendiri kesulitan hidup yang saya hadapi, saya memahami betapa didengarkan itu sangat berpengaruh bagi kondisi batin.

Nasihat-nasihat kehidupan yang konkret dan tidak banyak teori ala content creator

Jujur. Saya nyaris selalu menutup telinga tiap kali ada nasihat atau motivasi dari content creator yang banyak muncul di setiap platform media sosial. Terlalu banyak teori. Dan, lagi pula, mereka berada di realitas yang berjarak dengan kondisi saya. 

Tapi saya pastikan, saya akan membuka telinga saya lebar-lebar dan memegang betul setiap nasihat kehidupan dari orang-orang yang saya temui di jalan—termasuk di kereta api ekonomi. Konkret dan realistis. 

Sesekali, ketika dalam keruwetan isi kepala karena kecemasan berlebihan terhadap hari esok, saya tidak hanya berposisi sebagai pendengar. Tapi juga giliran membagi cerita kepada penumpang di sebelah saya. 

Iklan

Dan sering kali saya mendapat nasihat-nasihat tak terduga. Salah satunya: orang-orang yang tak punya banyak pilihan seperti kita, yang mungkin adalah menciptakan bahagia versi diri sendiri. Misalnya, jika kita cukup bisa bahagia dengan sebatang rokok dan segelas kopi, makan nasi pecel di warung pinggiran, kenapa kita harus merasa tidak bahagia hanya karena tidak bisa jajan di mall atau restoran mewah? 

Di kereta api (KA) ekonomi, berbagi tidak harus saling mengenali

Sadiqa (22) setuju. Perempuan yang kerap melakukan perjalanan dengan kereta api ekonomi rute Surabaya-Madiun itu bahkan nyaris tidak mengeluhkan ketidaknyaman kursi tegak. Karena ia sadar, itulah yang bisa ia dapat dari harga Rp80 ribuan. 

“Kalau mau kursi nyaman, ya kan harus berani bayar mahal buat tiket KA eksekutif, to,” ucapnya melalui pesan singkat. Orang kelas menengah ke bawah seperti dirinya tidak punya keberanian untuk itu. Hanya menyisihkan opsi paling realistis: tiket murah kereta api ekonomi. Yang penting sampai ke tujuan dengan selamat, itu kenyamanan utamanya. 

Tapi ketidaknyamanan itu bukan berarti tidak menyisakan hal-hal baik secuil pun. Di kereta api ekonomi, Sadiqa mengaku kerap menerima perlakuan-perlakuan hangat. 

“Sering aku nemu penumpang lain berbagi makanan atau camilan yang dia bawa. Nggak sekadar basa-basi menawari. Tapi bener-bener ngasih,” ungkap Sadiqa.

Tentu tidak setiap tawaran makanan harus diterima. Sadiqa sendiri, biasanya akan menolak halus jika si pemberi adalah laki-laki. Tapi jika sesama perempuan, Sadiqa mempertimbangkan untuk menerima. 

“Apalagi kalau ibu-ibu. Pernah aku duduk sama ibu-ibu. Di mengeluarkan bekal kayak jajanan pasar. Aku dikasih, ya aku terima. Demi melegakan hati si ibu-ibu itu,” ucapnya. 

Kadang hanya sebatas saling berbagi. Tapi tak jarang pula, sebuah pemberian itu menjadi pintu masuk untuk saling berbincang. 

Berbagi bantuan pun amat sering ia dapati di kereta api ekonomi. Misalnya, ada perempuan (muda atau ibu-ibu) kesulitan menaikkan barang bawaan ke rak kabin. Situasi itu tidak mengharuskan seorang perempuan memanggil petugas atau porter. Ada laki-laki yang berinisiatif memberi bantuan menaikkan. Kalau tidak, menjawil orang untuk minta bantuan pun rasa-rasanya kecil kemungkinannya untuk diabaikan. 

Turun dengan rasa syukur yang berlipat ganda

Mirip dengan kasus saya, Dapin (24) mengaku kerap menemukan nasihat atau pelajaran hidup di kereta api ekonomi rute Jogja-Sidoarjo (Krian). 

Dapin mengaku sisi emosionalnya masing sering terombang-ambing. Kecenderungan Gen Z katanya. Atau kalau dalam fenomena psikologi usia awal 20-an: sedang di fase quarter life crisis. 

Kecemasan berlebihan sering Dapin hadapi di malam-malam lengang kamar indekosnya. Merasa gagal dan belum menjadi apa-apa. Merasa paling tidak beruntung karena nominal gaji yang diterima, dan seterusnya. 

“Di kereta KA ekonomi, aku bertemu dengan oran-orang yang bahkan hidupnya jauh lebih struggle dari hidupku. Mereka ngeluh, manusiawi. Tapi mereka memilih tetap tatag menjalani hidup sebagai sesuatu yang memang sudah semestinya dijalani,” ucap Dapin. 

Ya ada banyak lah cara pandang-cara pandang baru yang kemudian mempengaruhi Dapin dalam memandang hidup. Disampaikan dengan cara sederhana, tanpa kiasan-kiasan puitis, melankolis, atau nada meledak-ledak ala motivator.

Setiap turun di stasiun tujuan, Dapin lalu merasa jauh lebih bersyukur dari sebelumnya. Memang, labilitas Dapin masih tinggi. Sekejap bersyukur, tapi di titik tertentu juga gampang terdistraksi untuk overthinking kembali. 

Tapi, setidaknya, setiap hal yang ia cemaskan, selalu akan luruh dengan belajar dari cara hidup orang lain—sesama wong kalahan—-yang ia temui di sepanjang perjalanan dengan moda transportasi kereta api ekonomi. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Orang Desa Pertama Kali Naik Kereta Api Ekonomi: Banyak Gaya karena Bosan Naik Bus Ekonomi, Berujung Nelangsa Beli Nasgor di KAI atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 13 Februari 2026 oleh

Tags: ka ekonomikereta apikereta api ekonomikereta ekonomikursi tegak keretapelajaran hiduppelajaran hidup dari kereta api
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Kereta api ekonomi (KA) Ambarawa Ekspres menjadi saksi "kegilaan" Bonek di rute Grobogan - Stasiun Pasarturi demi Persebaya Surabaya di Stadion GBT MOJOK.CO
Urban

KA Ambarawa Ekspres Andalan Bonek Tempuh “Jalan Kegilaan” di Rute Grobogan – Pasarturi, Demi Ziarah ke Rumah Kedua

6 Maret 2026
User kereta api (KA) ekonomi Sri Tanjung pertama kali naik bus Eka PATAS ketimbang Sumber Selamat. Dari keterpaksaan menjadi ketagihan meski tetap tidak tenang MOJOK.CO
Sehari-hari

User KA Sri Tanjung Nyoba Bus Eka: Tak Seburuk Naik Kereta Ekonomi, Tapi Pikiran Dibuat Tak Tenang Meski di Kursi Nyaman

2 Maret 2026
User bus ekonomi Sumber selamat pertama kali makan di kantin kereta api. Termakan ekspektasi sendiri MOJOK.CO
Sehari-hari

User Bus Sumber Selamat Pertama Kali Makan di Kantin Kereta, Niat buat Gaya dan Berekspektasi Tinggi malah Berakhir Meratapi

25 Februari 2026
KA Airlangga, KA Taksaka, Pengalaman 22 Jam Naik Kereta Api Membelah Pulau Jawa MOJOK.CO
Ragam

Sebagai “Alumnus” KA Airlangga, Naik KA Taksaka Ibarat “Pengkhianatan Kelas” yang Sesekali Wajib Dicoba Untuk Kesehatan Mental dan Tulang Punggung 

30 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lulusan UT, Universitas Terbuka.MOJOK.CO

Diremehkan karena “Cuma” Lulusan UT, Tapi Bersyukur Nasib Lebih Baik daripada S1-S2 PTN Top yang Menang Gengsi tapi Nganggur

3 Maret 2026
Pekerja Jakarta vs pekerja Jogja yang slow living

Sebagai Pekerja Jakarta yang Terbiasa Kerja “Sat Set”, Saya Nggak Nyaman dengan Etos Orang Jogja yang Terlalu Santai

2 Maret 2026
Laki-laki gaji 3 juta tidak ada harganya. Standar sukses dan mapan ala TikTok adalah gaji 30 juta MOJOK.CO

Cowok Gaji 3 Juta Tak Ada Harganya di Mata Perempuan: Cuma Cukup buat Makan Anjing, Standar Mapan Itu Gaji 30 Juta buat Dapat Pasangan

3 Maret 2026
Yang paling berat dari mudik lebaran ke kampung halaman bukan pertanyaan kapan nikah atau dibandingkan di momen halal bihalal reuni keluarga, tapi menyadari orang tua makin renta dan apa yang terjadi setelahnya MOJOK.CO

Hal Paling Berat dari Mudik Bukan Pertanyaan atau Dibandingkan di Reuni Keluarga, Tapi Ortu Makin Renta dan Pamitan ke Perantauan

6 Maret 2026
Pantai Drini, Gunungkidul kehilangan keasrian dan identitas. Korban wisata Jogja yang dimirip-miripkan dengan Bali MOJOK.CO

Pantai Drini Gunungkidul Kehilangan Identitas dan Keasrian Alami, Korban Wisata Jogja yang Dimirip-miripkan Bali

5 Maret 2026
lolos snbp, biaya kuliah ptn.MOJOK.CO

Derita Kakak yang Jadi Tulang Punggung Keluarga: Adik Lolos SNBP Malah Overthinking, Pura-Pura Bahagia Meski Aslinya Menderita

2 Maret 2026

Video Terbaru

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026
Zen RS: Tan Malaka Tokoh Pemikir Bebas dan Pejuang yang Tidak Terikat Struktur Politik

Zen RS: Tan Malaka Tokoh Pemikir Bebas dan Pejuang yang Tidak Terikat Struktur Politik

3 Maret 2026
Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

28 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.