Perjalanan naik bus patas Haryanto rute Jogja – Kudus memberi kesan sendu dan muram. Bukan karena bus tersebut tidak nyaman. Tapi karena playlist alias lagu-lagu yang diputar sepanjang perjalanan membuat perasaan campur aduk antara senyum-senyum mengingat kenangan dan rintihan di masa sekarang.
Sebenarnya tidak sreg dengan sikap agen bus patas Haryanto di Terminal Jombor
Jika ke Terminal Jombor, Sleman, Jogja pada jam 9-an pagi, maka bus patas Haryanto lah yang akan menjadi tumpangan untuk rute Jogja-Magelang-Semarang-Kudus. Begitu yang dialami oleh Aji (26) dalam beberapa kali perjalanan pulang.
Sebenarnya Aji tidak begitu sering naik bus patas Haryanto. Ia justru lebih sering naik Ramayana. Oleh karena itu, pemuda asal Kudus itu mengaku sebenarnya tidak begitu sreg dengan sikap agen karcis bus Haryanto.
“Agen Ramayana di Terminal Jombor itu ibu-ibu. Ramah dia. Kalau ditanya apa, jawabnya juga enak. Tapi beda sama agen Haryanto yang lokasinya ada di dekat toilet. Bapak-bapak cuek dan jutek,” ungkap pemuda asal Kudus, Jawa Tengah itu berbagi cerita, Sabtu (7/3/2026).
Tapi ya sudah lah. Toh urusan Aji dengan si agen hanya saat itu saja (saat membeli tiket). Meski setelahnya ia kerap merasa jengkel dan tidak sabar juga karena jam keberangkatan bus yang molor.
Diserang lagu-lagu tahun 2000-an dalam bus patas Haryanto
Dari beberapa kali naik bus patas Haryanto, dalam dua momen kepulangan di awal 2026 lalu membuat Aji menyadari selera musik kru bus rute Jogja – Kudus tersebut.
Selama ini, tiap naik bus atau travel, Aji memang sering menyumpal telinganya dengan headset: mendengar musik dari band kesukaan atau sekadar menyimak podcast.
Pada momen kepulangan ke Kudus di awal 2026 lalu, telinga Aji yang belum terpasang headset dilewati suara yang seperti datang dari masa yang jauh: lagu-lagu 2000-an, lagu-lagu yang menemani masa remajanya. Dari nuansa berbunga-bunga hingga berselimut sendu.
Dari Sebelum Cahaya dan Permintaan Hati milik Letto, Merindukanmu dan Cinta Ini Membunuhmu D’Masiv, Pemilik Hati Armada, Separuh Aku dan Cinta Bukan Dusta milik Noah.
“Momen epic-nya kan waktu bus jalan, keluar Terminal Jombor, terus terdengar “deng-deng, denge-deng”, terbuai, aku hilang, terjatuh aku dalam keindahan penantian..,” ucap Aji. Setelah itu, ia telinga dan hatinya langsung terbawa hanyut untuk menyimak lagu demi lagu yang diputar di bus patas Haryanto Jogja – Kudus yang ia naiki itu.
“Apalagi saat mulai gerimis, terus di jendela ada bintik-bintik air, lagu yang muncul kan, ingatkah engkau kepada embun pagi bersahaja…, itu aku langsung nyandarin kepala di jendela, terseret ke masa lalu,” sambung Aji.
Senyum-senyum sendiri karena masa lalu
Ingatan-ingatan masa lalu saling berkelindan seiring lagu demi lagu yang diputar di dalam bus patas Haryanto. Sebab, lagu-lagu tersebut adalah lagu-lagu yang menjadi bagian dari hidup Aji remaja.
“Aku dulu bahkan punya kaset bajakan kompilasi video klip band-band 2000-an. Kalau hari Minggu kuputar kenceng-kenceng, terus aku ikut nyanyi sambil memeragakan seolah aku bintang dalam video klip,” kata Aji sembari terkekeh.
Lagu-lagu tersebut memang menemani cerita romansa remaja Aji. Masa-masa cinta monyet lah. Ada masa berbunga-bunga saat sedang jatuh cinta. Ada masa galau dan sedihnya ketika bertepuk sebelah tangan.
Kenangan-kenangan itu membuat Aji senyum-senyum sendiri di dalam bus patas Haryanto rute Kudus – Jogja. Kata Aji, lucu saja ketika dulu menembak teman sekelas, tapi setelahnya nyaris tidak pernah jalan bareng. Hanya sekadar berkirim pesan romantis dan gombal melalui SMS.
“Waktu aku SMP dulu kan, yang disebut pacaran, pokoknya nembak dan diterima. Setelah itu nggak jalan bareng pun nggak masalah. Yang penting orang tahu kalau aku pacaran sama dia. Aku bisa kirim-kiriman SMS gombal ke dia. Kan cuma sebatas itu,” ucap Aji. “Paling mentok kan membelikan kado hadiah ulang tahun.”
Seketika sendu dan muram, membenci masa sekarang
Hanya saja, terselip di antara kenangan-kenangan itu: kenyataan sendu dan muram bahwa masa-masa remaja sudah tertinggal jauh di belakang. Yang ada adalah hari ini, masa kini, dan hari esok penuh ketidakpastian.
Tiba-tiba saja, di tengah alunan lagu-lagu Noah di dalam bus patas Haryanto Kudus – Jogja, suasana batin Aji berubah menjadi sendu dan muram.
“Rasanya baru kemarin aku masih SD, terus beranjak remaja. Nggak mikir suatu saat bakal kerja apa, punya uang cukup nggak buat hidup? Eh tiba-tiba ada di masa sekarang. Masa serba overthinking karena merasa gagal, merasa belum bisa ngejar standar-standar hidup tertentu,” ucap Aji.
Kenyataan itu membuat Aji mengusap wajahnya berkali-kali. Di satu titik bahkan ia nyaris menangis meratapi nasibnya. Sebab, ternyata menjadi dewasa tidak semenyenangkan yang dibayangkan.
Itu membuat Aji, kalau bisa memilih, mending memilih terjebak di masa kanak-kanak atau remaja, tanpa pernah beranjak dewasa. Tidak masalah jika terikat aturan “tidak boleh pulang larut malam” atau terhalang batas “anak kecil tahu apa?”.
“Rasa-rasanya itu tidak lebih buruk dari kehidupan orang dewasa: gaji imut masih harus mikir THR buat saudara. Sudah kerja mati-matian tapi nggak kaya-kaya, dianggap anak gagal di kampung halaman,” tutup Aji.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: User KA Sri Tanjung Nyoba Bus Eka: Tak Seburuk Naik Kereta Ekonomi, Tapi Pikiran Dibuat Tak Tenang Meski di Kursi Nyaman atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













