Standar sukses dan pencapaian hidup ala orang lain memang sulit dikejar. Bagaimana tidak. Sebelumnya Mojok mendapat cerita: mudik ke desa naik motor jadi simbol gagal. Sekarang Mojok mendapat cerita lain: sudah pakai mobil pribadi pun, masih dianggap kurang kalau mobilnya tidak sesuai dengan standar keren saudara. Inilah cerita pengalaman keluarga Braja (34): mudik ke desa naik mobil Honda Brio, niat ingin pamer sukses tapi tetap saja tidak luput dari hinaan. Jan tenan!
***
Braja sebenarnya ogah kalau harus mudik ke desa mertua (desa sang istri) di Jawa Tengah. Pasalnya, omongan-omongan saudara sang istri kerap tidak mengenakkan hati karena membanding-bandingkan pencapaian dengan standar sukses mereka sendiri.
Masalahnya, Braja sudah tidak punya orang tua. Alhasil, mau tidak mau setiap momen lebaran, ia harus mengikuti sang istri mudik ke desanya.
Muak dihina, tapi tabungan hanya cukup buat beli mobil Honda Brio bekas
Di antara hinaan yang kerap Braja terima dari saudara-saudara adalah: udah kerja bertahun-tahun di Tangerang, masa kalau ke mana-mana istri cuma diboncengin motor. Panas kepanasana, hujan basah kuyup.
“Istriku selalu bilang, nggak usah dengerin kalau ada yang bilang begitu. Tapi sebagai laki-laki, aku tetap tersenggol,” ucap Braja berbagi cerita, Minggu (1/3/2026).
Braja muak direndahkan tiap momen kumpul keluarga saat mudik ke desa istri. Pasalnya, selalu saja Braja dibanding-bandingkan dengan saudara atau keluarga tetangga: lama di kota tapi hasilnya berupa mobil pribadi yang bisa dibawa ke mana-mana. Tidak hanya untuk berkendara sendiri, tapi juga untuk angkut keluarga jalan-jalan.
Oleh karena itu, Braja mencoba meloloskan sejumlah uang tabungan untuk membeli mobil pribadi. Tentu setelah berunding dan mendapat persetujuan dari istri.
Hanya saja, uang tabungan Braja hanya cukup untuk membeli mobil Honda Brio satya tahun tua (2016). Jelas bekas. Mobil itu terbeli menjelang Ramadan tahun 2024 silam, sebagai persiapan untuk mudik ke desa.
Mobil Honda Brio bikin percaya diri dan siap sombong saat mudik ke desa
Pada awalnya, Braja meminta sang istri untuk tidak usah bilang-bilang ke orang tua kalau mereka baru saja membeli mobil pribadi. Rencananya akan sengaja Braja pamerkan setelah mudik ke desa.
Namun, ada situasi yang membuat Braja keceplosan. Yakni ketika istri menelepon kakak perempuannya: mengabarkan akan mudik tanggal sekian.
“Naik apa? Bus? Motor? Duh, kalau punya mobil sendiri, mesti enak, Dek,” ujar kakak perempuan istri dari seberang telepon. “Itu tetangga kita sudah ada yang mudik, sekeluarga rombongan naik mobil.”
Padahal kakak perempuan istri Braja dan suaminya juga tidak punya mobil. Hanya saja dimaklumi karena mereka tinggal di desa, tidak seperti Braja dan istri yang tinggal di Tangerang karena menyesuaikan pekerjaan.
“Kami naik mobil pribadi. Sudah beli. Nggak ada istilah kepanasan-kehujanan naik motor atau desak-desakan naik bus,” sahut Braja ketus. Jawaban itu langsung direspons agak berbeda oleh kakak perempuan istri: menyiratkan kekaguman karena Braja dan istri sudah mampu membeli mobil pribadi sendiri.
“Ya nanti di rumah kita agendakan jalan-jalan ke mana, Ja,” ucap si kakak ipar perempuan Braja.
“Iya,” jawab Braja singkat.
Maka, sepanjang perjalanan mudik ke desa istri, Braja benar-benar membusungkan dada. Dalam kepalanya, ia sudah membayangkan: saat mobil Honda Brio miliknya itu masuk ke halaman rumah, pasti akan membungkam suara-suara yang selama ini merendahkan dan membanding-bandingkannya.
Baca halamana selanjutnya…
Malah makin direndahkan karena tak sesuai standar, pilih putus hubungan keluarga














