Salah Kaprah soal Healing: Anak Muda Terjebak Keborosan, padahal “Penyembuhan Sejati” Itu Gratis dan Sering Kali Tak Estetik

Frugal Living, healing, MOJOK.CO

Ilustrasi isu kesehatan mental anak muda (Mojok.co/Ega Fansuri)

Belakangan ini, kata healing rasanya sudah berubah menjadi kosakata wajib bagi anak muda. Sedikit-sedikit merasa capek kerja, solusinya butuh healing. Sedikit-sedikit merasa stres berhadapan dengan kemacetan kota, langsung buka aplikasi pemesanan tiket liburan.

Untuk melihat seberapa kelirunya kita memaknai kata ini, mari kita berkaca pada cerita Rina (25). Ia adalah seorang karyawan swasta di Sleman yang pernah berada di titik terendah kelelahan mental, atau yang sering disebut burnout

Setiap hari, Rina harus berhadapan dengan bosnya yang toksik. Jam kerjanya pun sering bablas sampai larut malam tanpa uang lembur.

“Mana kerjaan nggak pernah nggak numpuk. Weekend pun nggak nyaman karena kita di kos, tapi pikiran kita lagi di kantor,” ujarnya, Senin (25/5/2026).

Melihat teman-temannya di media sosial rajin mengunggah foto liburan dengan caption “healing”, Rina pun tergiur. Ia merasa sangat berhak untuk menyembuhkan dirinya. Karena sudah tidak tahan lagi dengan tekanan di kantor, Rina memutuskan mengambil cuti empat hari untuk pergi ke Bali.

Masalahnya, tabungan Rina sebenarnya sangat pas-pasan. Namun, karena telanjur merasa “pantas mendapatkan liburan”, ia nekat menggunakan fasilitas paylater untuk melunasi tiket pesawat pulang-pergi dan menyewa sebuah penginapan yang agak mahal. 

Selama empat hari itu, Rina merasa luar biasa damai. Ia bisa sejenak lari dari rutinitas kerja, menghabiskan waktu hanya untuk sekadar ngopi atau mendatangi tempat-tempat yang belum pernah ia kunjungi.

Akan tetapi, kedamaian itu berumur pendek. Saat masa cutinya selesai, Rina harus kembali duduk di depan laptop dan berhadapan dengan bos yang masih sama galaknya.

Parahnya lagi, tingkat stres Rina kini melonjak tajam karena ia harus memutar otak untuk mencicil tagihan paylater yang nominalnya mencapai jutaan rupiah.

Perbedaan antara healing dan liburan

Kasus yang dialami Rina adalah cermin dari fenomena salah kaprah yang menimpa banyak anak muda hari ini. Kita, sering kali mengira sedang melakukan penyembuhan batin, padahal kenyataannya kita sekadar sedang melakukan rekreasi.

Galang Lufityanto, seorang psikolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM), pernah memberikan penjelasan untuk meluruskan kerancuan ini. Menurut Galang, tren healing yang diwujudkan dengan cara staycation, jalan-jalan, atau liburan ke luar kota sebenarnya lebih tepat disebut sebagai mekanisme pelarian sementara atau coping mechanism

“Itu bukanlah healing atau penyembuhan psikologis yang sesungguhnya,” kata Galang.

Liburan itu murni rekreasi. Tujuannya hanya untuk mengalihkan pikiran sejenak dari rasa penat yang menumpuk. Rekreasi memang memberikan rasa senang dan segar, tapi ia tidak pernah menyentuh apalagi menyembuhkan akar masalahnya.

Jika diibaratkan, rekreasi itu seperti meminum obat pereda nyeri saat gigimu berlubang. Rasa nyerinya memang akan hilang selama beberapa jam, dan kamu bisa kembali tersenyum. 

Namun, obat itu tidak menambal gigi yang berlubang. Kalau kamu merasa stres karena pekerjaan yang menumpuk atau lingkungan kantor yang merusak mental, pergi berlibur ke tempat yang sunyi tidak akan membuat pekerjaan itu selesai dengan sendirinya. 

Begitu masa liburanmu habis dan kamu melangkah masuk ke ruang kantor, sumber masalah aslinya akan langsung menyambutmu lagi dengan tangan terbuka.

Istilah medis yang “dibajak” industri fesyen

Lalu, pertanyaan besarnya: kenapa anak muda sekarang sangat terobsesi dengan gaya healing yang boros dan menguras kantong ini?

Jawabannya cukup sederhana. Istilah medis dan psikologis ini telah dibajak oleh industri gaya hidup dan kapitalisme. Dr. Pooja Lakshmin, seorang psikiater asal Amerika Serikat dan penulis buku laris Real Self-Care (2023), punya istilah yang sangat pas untuk menggambarkan fenomena ini. 

Ia menyebut tren ini sebagai “Faux Self-Care” alias perawatan diri palsu.

Pihak industri, mulai dari agen pariwisata, perhotelan, merek skincare, hingga kedai kopi kekinian, secara tidak langsung menyetir opini publik lewat trik pemasaran. Mereka berhasil menciptakan ilusi di kepala Gen Z bahwa healing itu adalah sesuatu yang wajib dibeli.

Merasa penat dengan hidup? Solusinya adalah “membeli” tiket pesawat, “menyewa” kamar hotel bintang empat, “membayar” segelas kopi seharga lima puluh ribu rupiah, atau “memesan” layanan spa mahal. 

“Kata healing sengaja dijadikan barang dagangan supaya kita rela membuka dompet lebar-lebar,” kata Dr. Lakshmin.

Ia mengibaratkan healing berbayar ini layaknya menempelkan plester luka pada infeksi yang dalam. Plester berwujud liburan mahal ini memang menutupi luka dari luar dan membuat kita merasa lebih baik sesaat. Kita pun terlihat bahagia di media sosial. 

Namun, plester itu sama sekali tidak menyembuhkan infeksi di dalam dagingnya. Selama infeksinya dibiarkan saja, lukanya akan terus membusuk. 

“Pada akhirnya, begitu uang liburanmu habis, infeksi stres itu akan meledak kembali menjadi rasa cemas yang jauh lebih parah,” ungkapnya.

Healing itu gratis (dan sering kali tidak estetik)

Jika liburan estetik yang mahal itu hanyalah perawatan diri yang palsu, lantas seperti apa bentuk healing yang asli?

Dr. Lakshmin menegaskan pentingnya konsep real self-care. Baginya, penyembuhan mental yang sesungguhnya adalah proses yang terjadi secara internal, dari dalam diri kita sendiri. Ia bukanlah barang atau jasa eksternal yang bisa dibeli, apalagi harganya mahal.

Dan, ini adalah fakta pahit yang jarang mau diakui oleh anak muda: healing yang sesungguhnya itu sering kali terasa sangat tidak nyaman, berat, membosankan, dan sama sekali tidak estetik untuk diunggah ke Instagram Story. Kabar baiknya, healing sejati itu sebenarnya bisa dilakukan secara gratis.

Kata Dr. Lakshmin, proses penyembuhan sejati sangat berkaitan erat dengan keberanian kita untuk menetapkan batasan hidup. Jika kita kembali melihat kasus Rina di atas, misalnya, healing yang sebenarnya bukanlah lari dari masalah dengan pergi ke Bali. 

Healing paling efektif bagi Rina, idealnya, adalah mengumpulkan keberanian untuk bilang “tidak” saat bosnya memintanya bekerja tanpa upah lembur di akhir pekan.

Bentuk healing sejati lainnya bisa berupa hal-hal praktis, tapi menuntut ketegasan. Beberapa contohnya (diambil dari ilustrasi di buku Real Self-Care):

Semua proses tersebut jelas tidak semenyenangkan liburan atau staycation. Berlatih menolak permintaan atasan bisa membuat perut mulas dan jantung berdebar karena cemas. Memulai percakapan sulit dengan pasangan untuk menyelesaikan masalah rumah tangga sering kali mengundang pertengkaran dan air mata.

Namun, kata Dr. Lakshsmin, rasa tidak nyaman saat berhadapan dengan masalah inilah wujud dari “antibiotik” yang sebenarnya. Ia bekerja secara perlahan, membunuh sumber penyakit mental kita langsung dari akarnya.

Sesekali merencanakan liburan, staycation, atau sekadar jajan makanan enak untuk menghibur diri itu tentu sah-sah saja. Hal-hal tersebut tetap sangat dibutuhkan agar hidup tidak terlalu kaku. Akan tetapi, kita harus mulai berhenti melabeli aktivitas berbayar tersebut sebagai sebuah proses healing.

Mari kita sebut kegiatan itu dengan nama aslinya: liburan, rekreasi, atau bersenang-senang.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Saat Healing Malah Jadi Toxic: Kecanduan Gim Bisa Bikin Mental dan Fisik Anak Muda Awut-awutan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version