ADVERTISEMENT

Kerja Sesuai Hobi Bikin Menderita: Kita Jadi Tak Lagi Punya Tempat Menenangkan Pikiran Saat Muak dengan Pekerjaan

Pekerja Jakarta, WFH, kerja sesuai hobi.MOJOK.CO

Hobi main game juga menghasilkan uang

Hobi yang berubah jadi beban ini ternyata tidak hanya memonopoli anak-anak desain atau pekerja seni. Pola yang persis sama juga mencekik mereka yang mencari uang di dunia hiburan digital. Alfian (24) adalah salah satu orang yang memutuskan nyebur kerja sesuai hobi.

Sama seperti Rida yang menjadikan gambar sebagai medium pelarian, bagi Fian, bermain game adalah cara terbaik untuk melupakan kerasnya realitas kehidupan

Setelah seharian kuliah atau kerja paruh waktu, masuk ke dunia game online dan bermain santai bersama teman-teman adalah hiburan yang paling manjur.

Merasa punya jam terbang tinggi, Fian iseng membuka jasa joki game pada 2025 lalu. Pikirannya saat itu sangat sederhana. Kapan lagi bisa main game kesukaan sambil tiduran di kamar, tapi saldo rekening terus bertambah.

“Pikiran awam kan gitu semau, ‘enak ya, ngelakuin hobi tapi dapat duit’,” kata Fian. 

Kesenangan main game jadi hilang seketika

Ekspektasi itu hancur berantakan dalam hitungan minggu. Ketika hobi diubah menjadi “kewajiban yang dibayar”, bermain game tak lagi terasa menyenangkan. 

Ia justru berubah menjadi tempat keringat diperas. Demi memenuhi pesanan klien yang menuntut akunnya cepat naik ke peringkat tertinggi, Fian terpaksa harus duduk menatap layar handphone selama sepuluh hingga dua belas jam dalam sehari.

“Padahal dulu ya, kuat-kuat aja. Sekarang rasanya berat banget. Mungkin sih karena dulu cuma buat having fun aja,” kata dia.

Alhasil, punggungnya sering encok, matanya merah karena terlalu sering begadang, dan jari-jarinya langganan kram. Namun, siksaan terberat kerja sesuai hobi justru ada pada mentalnya. Ia tidak lagi bermain untuk bersenang-senang. Ia bermain murni di bawah tekanan target orang lain.

Pernah suatu ketika, Fian sedang mengerjakan pesanan di jam tiga pagi. Matanya sudah sangat berat dan konsentrasinya buyar. Ia kalah tiga kali berturut-turut, membuat peringkat akun kliennya turun. 

Tak lama, pesan WhatsApp masuk bertubi-tubi. Klien tersebut memakinya dengan kata-kata kasar karena menganggapnya tidak becus. Ia hanya bisa menahan amarah.

“Dulu main game itu murni buat buang stres. Sekarang, game itu sendiri yang malah bikin stres makin numpuk,” keluh Reza.

Kini, Fian tak mau lagi masuk ke dunianya yang lama. “Seriusan mending kerja yang lain di luar hobi. Biar kalau kita sumpek, ya kita bisa mainin hobi kita.”

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Kerja di Kebayoran Baru Jaksel: Cuma Kelihatan Elite tapi Work Life Balance Sulit, Resign Tak Selesaikan Masalah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 18 Mei 2026 oleh .

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Exit mobile version