Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
1 April 2026
A A
kerja di kafe Jogja stres. MOJOK.CO

kerja di kafe nggak nyaman karena gerombolan mahasiswa Jogja. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kerja di kafe jadi tren anak muda sekarang. Fenomena ini tak hanya terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, tapi juga merambah ke daerah seperti Jogja. Khusunya bagi pelajar dan pekerja. Masalahnya, kedua entitas ini tidak bisa menyatu. Beberapa orang yang pernah kerja di Jakarta mengaku tidak nyaman saat kerja di kafe Jogja.

***

Komunitas Kopi Indonesia mencatat, ada sekitar 3 ribu kedai yang tersebar luas di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Tak hanya itu, kebanyakan pembelinya adalah anak muda seperti mahasiswa maupun pekerja, mengingat Yogyakarta sebagai Kota Pelajar yang berisi banyak kampus seperti Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Institut Seni Indonesia (ISI) hingga Universitas Amikom.

Yogyakarta juga dikenal sebagai kota industri berbasis kreatif, riset, dan kuliner. Sebuah penelitian dari UGM bersama Jogjakarta Incorporated mengungkap, Jogja juga berpotensi sebagai kota industri riset.

Tak pelak, ada banyak warga dari luar daerah yang tergiur untuk kerja di Jogja. Salah satunya Kenia (30) dan Channia (26) yang pernah kerja di Jakarta. Menurut mereka, kerja di kafe Jogja jadi menyebalkan karena isinya banyak mahasiswa.

Realita karyawan di Jogja yang kerja di kafe sampai lembur

Baik Kenia dan Channia mengaku, awalnya suka kerja di kafe karena lebih kondusif dibandingkan rumah. Sehingga, alih-alih pulang ke rumah setelah ngantor, mereka lebih memilih kerja di kafe sampai malam.

“Sebagai perempuan yang sudah menikah, aku pasti terdistraksi terutama dengan pekerjaan rumah. Jadi kurang nyaman untuk bekerja. Keinginan tidur semakin besar,” kata Channia saat dihubungi Mojok, Rabu (1/3/2026).

Begitu pula Kenia, pekerja industri kreatif yang lebih suka kerja di kafe karena lingkungannya lebih kondusif. Namun, keduanya mengaku, akhir-akhir ini kafe bukan jadi tempat yang nyaman lagi. Selain bikin boros, lingkungan kafe kini tidak lagi cocok untuk kerja, apalagi kafe yang dekat dengan kampus.

Kerja di kafe bareng mahasiswa nggak beretika

Channia sendiri sering kerja di kafe sekitar UGM, karena rumahnya dekat dari sana. Kalau tidak karena terpaksa work from home, Channia tidak akan ke sana karena saking ramainya pengunjung yang kebanyakan adalah mahasiswa.

“Kalau ramai aku susah fokus, aku juga introvert yang energinya cepat habis di tengah lautan manusia,” kata Channia yang pernah kerja di Jakarta.

Tapi mau bagaimana lagi, dibandingkan ketiduran di rumah, Channia akhirnya pergi juga untuk kerja di kafe. Namun, ada satu kejadian yang akhirnya bikin dia menyerah dan jengkel saat kerja di kafe.

“Awalnya aku mau ketemu sama teman di salah satu kafe di Jogja. Kami sengaja pilih ruangan sepi seperti indoor. Tak lama kemudian, ada rombongan mahasiswa masuk. Aku tahunya mereka mahasiswa karena mereka kenceng banget ngobrol soal departemen tempat mereka kuliah,” tutur Channia. 

Gerombolan yang dimaksud Channia tak hanya 3-5 orang, lebih dari itu mereka seolah tak memikirkan pengunjung lain yang terganggu dengan kebisingan yang mereka hasilkan. 

Bahkan, Channia saja yang duduk di samping mereka tak bisa fokus mendengarkan pembicaraan salah satu orang, karena saat ada satu orang yang berbicara, orang lainnya langsung merespons dengan suara yang keras disusul dengan banyak tawa.

Iklan

“Jujur sangat berisik dan mengganggu, sampai aku dan temanku memutuskan pindah ke ruangan lain,” kata Channia.

Sebetulnya, kata Channia, wajar saja jika pengunjung datang untuk ngobrol tapi kalau sudah mengganggu sampai sebegitunya, wajar saja ia merasa kesal. Sebab, kafe tersebut adalah tempat umum untuk semua orang, kecuali jika mereka menyewa satu ruangan privat sehingga tak bikin pengunjung lain risih dan merasa terusir.

“Aku berharap untuk lebih banyak kafe yang menyediakan tempat untuk bekerja (focus area) dan mungkin kesadaran diri masing-masing orang untuk bisa menghargai satu sama lain,” ucapnya.

Bikin daftar hitam kafe “redflag“

Kejadian yang dialami Channia juga pernah dirasakan Kenia. Ia paham, kafe adalah tempat umum sehingga tak bisa menegur langsung pengunjung lain yang datang karena ramai.

Namun, sepengalamannya menjajal kerja di kafe sekitar Jogja, ada saja pengunjung yang tetap tidak tahu aturan atau mengabaikan etika bersama. Dan kebanyakan mereka adalah mahasiswa jika dilihat dari kesibukan dan obrolan mereka soal kuliah.

“Walaupun ada tanda dilarang berisik untuk menjaga ketenangan, mereka masih berisik,” kata Kenia bersungut-sungut, “kayak mereka yang paling sibuk sedunia saja,” lanjutnya.

Karena tak mungkin pindah ke kafe lain untuk kerja, Kenia memilih diam, pasang headset dan menyalakan musik dengan kencang alih-alih menegur. Esoknya, ia memasukkan kafe tersebut ke daftar hitam—kafe yang nggak layak dikunjungi untuk kerja.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Nongkrong Sendirian di Kafe Menjadi “Budaya” Baru Anak Muda Jaksel Untuk Menjaga Kewarasan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 1 April 2026 oleh

Tags: anak muda pekerjaJogjakafe jogjakerja di kafeKota PelajarMahasiswa Jogjapekerjatren anak mudaYogyakarta
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Kereta eksekutif murah selamatkan saya dari neraka kereta ekonomi. MOJOK.CO
Catatan

Penyesalan Kaum Mendang-mending yang Dilema Pakai Kereta Eksekutif hingga Memutuskan Tobat dari Kondisi “Neraka” Kereta Ekonomi

1 April 2026
KA Eksekutif, Kereta eksekutif KAI Jogja ke Jakarta nggak nyaman. MOJOK.CO
Catatan

Backpackeran Naik KA Eksekutif Jogja-Jakarta Demi Menyembuhkan Luka, Malah Dibuat Kesal dengan Kelakuan Norak Penumpangnya

1 April 2026
KA Eksekutif, Kereta eksekutif KAI Jogja ke Jakarta nggak nyaman. MOJOK.CO
Sehari-hari

Penyesalan Penumpang Kereta Eksekutif: Bayar Mahal untuk Layanan Mewah, Malah Lebih Nyaman Pakai Kereta Gaya Lama

31 Maret 2026
Kerja Susah di Jogja, Diledek Orang Surabaya Gak Bakal Sukses. MOJOK.CO
Urban

Nekat Tinggalkan Surabaya untuk Meniti Karier di Jogja, Menyesal Tak Dengarkan Nasihat Orang Tua yang Terlanjur Kecewa

31 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Work from home (WFH) untuk ASN tidak peka kondisi pekerja informal MOJOK.CO

WFH 1 Hari ASN Perlu Lebih Peka terhadap Kondisi Pekerja Informal

30 Maret 2026
Kerja Susah di Jogja, Diledek Orang Surabaya Gak Bakal Sukses. MOJOK.CO

Nekat Tinggalkan Surabaya untuk Meniti Karier di Jogja, Menyesal Tak Dengarkan Nasihat Orang Tua yang Terlanjur Kecewa

31 Maret 2026
Naik pesawat Super Air Jet untuk mudik Lebaran ke Jogja

Terpaksa Naik Super Air Jet karena Tiket Murah, tapi Malah Dibikin “Plonga-plongo” karena Kelakuan Sok Asik Awak Kabin

1 April 2026
Metode Soft Saving ala Gen Z dan Milenial bahaya untuk pensiun. MOJOK.CO

Peringatan untuk Gen Z si Paling Soft Saving: Boleh Nabung Sambil Menikmati Hidup di Masa Kini, tapi Masa Tua Jangan Sampai Jadi Beban

28 Maret 2026
Na Willa, film anak yang obati inner child

‘Na Willa’, Merangkul Inner Child dan Kebutuhan akan Film Anak dari Muaknya Komodifikasi Ketakutan

27 Maret 2026
Jalan rusak di Taniwel, Maluku. MOJOK.CO

Ratusan Anak Sekolah di Kabupaten Seram Bagian Barat Dibiarkan Menderita dari Tahun ke Tahun oleh Maluku

30 Maret 2026

Video Terbaru

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.