Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Alasan Saya Bertahan Pakai Honda Scoopy untuk Mudik Surabaya-Lumajang, meski Tertipu dengan Tampang dan “Fitur” Biasa Saja yang Menyiksa

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
25 Februari 2026
A A
Honda Scoopy membawa maut saat dipakai mudik Surabaya ke Lumajang. MOJOK.CO

ilustrasi - mudik dari Surabaya ke Lumajang terasa menegangkan bersama Honda Scoopy. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sebetulnya, Honda Scoopy bukanlah pilihan utama Ari Dwi (23) saat membeli motor untuk pertama kali. Hanya karena orang tuanya menghadiahi Ari tanpa diminta, mau tak mau ia akhirnya menerima. Tanpa disangka, Honda Scoopy jadi motor favoritnya hingga kini, bahkan sering ia gunakan untuk mudik dari Surabaya ke Jombang, lalu lanjut ke Lumajang.

Dengan kecepatan 60 kilometer per jam, Ari bisa menghabiskan waktu selama 2 jam dari Surabaya ke Jombang dengan jarak sekitar 88 kilometer. Sementara, ia harus menempuh perjalanan selama 5 jam untuk pergi dari Jombang ke Lumajang yang jaraknya lebih dari 170 kilometer.

Perempuan Surabaya itu rela menghabiskan waktu di jalan untuk menemui keluarganya yang ada di desa, serta mengunjungi makam para leluhurnya. Hitung-hitung healing, karena sudah suntuk dengan suasana kota. 

Gaya retro Honda Scoopy bikin jatuh hati 

Terhitung, sudah 8 tahun ini Ari menggunakan Honda Scoopy berwarna coklat miliknya. Tepatnya sejak duduk di bangku kelas 2 SMK hingga sekarang bekerja. Salah satu alasan yang bikin Ari tergila-gila adalah idling stop system (ISS) yang ada pada Honda Scoopy.

“Jadi mesinnya bakal otomatis mati kalau kita berhenti selama lebih dari 3 detik, apalagi di Surabaya itu terkenal dengan macetnya kan. Fitur ini bikin hemat bensin,” kata Ari yang asli orang Surabaya, Selasa (24/2/2026).

Untuk menghidupkan Honda Scoopy kembali, Ari hanya perlu memutar gas tanpa perlu menekan tombol starter, sehingga tak perlu buru-buru menghidupkan saat berada di traffic light. Selain itu, ada pula fitur suara answer back system yang memungkinkan motor bersuara ‘bip’ diiringi dengan lampu sein yang berkedip.

“Buat aku yang pelupa, fitur ini membantu banget apalagi saat di parkiran,” ucapnya.

Fitur-fitur di atas memang disediakan khusus dari Honda. Mulai dari motor PCX, Vario, BeAT, ADV, dan Scoopy. Namun, dari semua jenis motor Honda, ayah Ari lebih menyukai tampilan Scoopy yang terlihat lucu untuk anak perempuan bungsunya.

“Katanya, beliau suka dengan desain retro-nya yang manis. Nggak banyak juga motor matic yang punya desain seperti ini,” ujar Ari.

Menyibak kemacetan Probolinggo ke Lumajang 

Namun, Ari baru sadar. Membeli motor seharusnya tidak hanya dilihat dari segi tampang melainkan performa. Perempuan asal Surabaya itu mengaku Honda Scoopy miliknya tak cocok untuk dipakai berkelana atau mudik ke luar daerah, khususnya Jombang–tempat kelahiran orang tuanya.

Meski terkesan sebagai motor andalan keluarga, Honda Scoopy nyatanya punya kekurangan yang tertutupi berkat desainnya yang lucu. Tahun 2024 lalu, untuk yang ketujuh kalinya, Ari mudik dari Surabaya ke Lumajang. Dengan Honda Scoopy-nya, Ari membonceng ayahnya yang duduk di belakang. 

Kemacetan pun tak terhindarkan saat mereka memasuki area Probolinggo. Di sana, Ari harus bertarung bersama pemudik lainnya untuk menyalip bus dan truk berukuran besar. Masalahnya, tampilan bulat Honda Scoopy yang tak ramping dibanding motor lainnya, bikin Ari tak bisa menyelinap asal-asalan di sela-sela mobil, bus, atau truk. 

“Kalau sudah begitu, aku mending kasih jarak jauh karena takut malah keserempet, terus jatuh dan kelindas,” kata Ari.

Bahaya mengintai saat melewati tanjakan dengan Honda Scoopy 

Beberapa jam berlalu, Ari akhirnya berhasil terbebas dari kemacetan. Namun, tantangan datang lagi saat ia melintasi area Leces, Probolinggo–jalan menanjak di sekitar pabrik kertas. Konon, pabrik yang sudah ada sejak zaman Hindia Belanda itu menjadi pabrik kertas terbesar di Jawa, tapi kemudian pailit pada 2018, hingga akhirnya dibubarkan di tahun 2023. 

Iklan

Siapa sangka, jalanan yang biasanya sepi, kini malah ramai saat musim lebaran. Jalanan itu, kata Ari, ibarat jalan tikus bagi pengendara motor yang ingin menghindari kemacetan. Tapi bukannya terhindar dari kemacetan, Ari dan ayahnya justru tak terlepas dari musibah.

“Awalnya, aku yang bonceng ayah tapi karena jalannya menanjak aku minta gantian agar lebih aman. Tapi ayah malah nggak mau, katanya biar aku sekalian latihan padahal kondisi di sekitar Leces itu lagi macet dan chaos banget,” tutur Ari yang masih ragu-ragu memenuhi permintaan ayahnya.

Bingung dengan kondisi yang tak seperti biasanya, ayah Ari mulai mencari informasi penyebab kemacetan di Jalan Leces. Rupanya, ada kecelakaan antara mobil dan mobil yang menyebabkan salah satu kaca depan mobil pecah dan penyok. 

Mereka pun memutuskan menunggu selama beberapa menit hingga jalanan kembali lancar. Tak lama kemudian, jalanan mulai lengang. Setidaknya, pengendara motor bisa saling menyalip. Melihat kondisi tersebut, ayah Ari makin mantap mendorongnya berlatih mengendarai Honda Scoopy di jalan tanjakan.

Tampilan lucu Honda Scoopy yang menipu

Ari yang awalnya yakin karena merasa bawaan motornya ringan selama ini, jadi ragu saat berada di jalan tanjakan. Pikirannya pun kalang kabut, takut membayangkan dirinya justru membahayakan nyawa keluarganya karena tidak bisa memainkan rem dengan benar. Salah-salah, mereka bisa meluncur ke bawah dan menabrak pengendara lain.

“Dari situ, aku sudah panik banget karena mau nyalip juga nggak bisa. Mau stuck di sana juga capek tarik rem,” ujarnya.

Apalagi, rem Honda Scoopy terbilang standar. Tidak terlalu istimewa karena sistemnya memang menyasar pemula dan pengguna muda. Bukan rahasia lagi kalau pengendara Honda Scoopy sering merasa rem bagian belakangnya kurang pakem atau menggigit.

Hal ini bikin kampas rem cenderung cepat habis. Apalagi, Ari sering membawa beban berat dalam jok besarnya saat mudik, sehingga pengereman terasa makin kasar. 

Tak hanya Ari, Ipang (38) yang juga merupakan pengguna Honda Scoopy berwarna merah merasa, motor miliknya tak cocok digunakan untuk ngebut di jalan. 

Meskipun kapasitas tangkinya lebih besar dari Honda Mio dan BeAt, kata dia, Honda Scoopy rawan dipakai dengan kecepatan lebih dari 60 kilometer per jam. “Setirnya goyang-goyang nggak nyaman dipakai,” ujarnya.

Lebih dari itu, beberapa kekurangan fitur Honda Scoopy di area penting juga bisa membahayakan penggunanya di jalan. Untungnya, selama perjalanan dari Surabaya ke Lumajang itu, Ari dan ayahnya masih selamat. Pengalaman itu bikin Ari sadar, pentingnya membeli motor dengan mengutamakan performa ketimbang visual.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Nasib Punya Motor Honda ADV 160: Jadi Simbol Kesuksesan di Desa, tapi Diolok-olok dan Dicap Norak oleh Orang Kota atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 25 Februari 2026 oleh

Tags: honda scoopyLebaranlumajangmotor untuk mudikMudikmudik pakai motorScoopySurabaya
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Sarjana (lulusan S1) susah cari kerja. Sekali kerja di Sidoarjo dapat gaji kecil bahkan dapat THR cuma Rp50 ribu MOJOK.CO
Urban

Ironi Sarjana Kerja 15 Jam Perhari Selama 3 Tahun: Gaji Kerdil dan THR Cuma 50 Ribu, Tak Cukup buat Senangkan Ibu

17 Maret 2026
Kursi kereta eksekutif dibandingkan kereta ekonomi premium lebih nyaman untuk mudik Lebaran
Catatan

Saya Tak Sudi Mudik dengan Kereta Ekonomi Premium, Ditipu Embel-embel Mirip Eksekutif padahal Hampir “Mati” Duduk di Kursi Tegak

15 Maret 2026
Bus ekonomi jalur Jogja Jambi menyiksa pemudik. MOJOK.CO
Sehari-hari

Ujian Terberat Laki-laki yang Lebih Kejam dari Menahan Rindu: Dihajar Rute Bus Ekonomi Jogja Jambi hingga Terserang “Man Flu”

13 Maret 2026
Lebaran, mudik, s2.MOJOK.CO
Edumojok

Bawa Pulang Gelar S2 Saat Mudik ke Desa Dicap Gagal, Bikin Tetangga “Kicep” Usai Buatkan Orang Tua Rumah

13 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ilustrasi mudik lebaran, perumahan.MOJOK.co

Enaknya Lebaran di Perumahan Kota yang Tak Dirasakan Pemudik di Desa, Dianggap Kesepian padahal Lebih Tenang

11 Maret 2026
Orang Jawa desa pertama kali coba menu aneh (gulai tunjang) di warung makan nasi padang (naspad). Lidah menjerit dan langsung merasa goblok MOJOK.CO

Orang Jawa Desa Nyoba “Menu Aneh” Warung Nasi Padang, Lidah Menjerit dan Langsung Merasa Goblok Seketika

15 Maret 2026
Burger Aldi Taher Juicy Lucy Mahalini Rizky Febian DUAR CUAN! MOJOK.CO

Memahami Bagaimana Aldi Taher dan Jualan Burgernya yang Cuan Mampus dan Berhasil Menampar Ilmu Marketing Ndakik-Ndakik

17 Maret 2026
Rela Melepas Upah 75 Juta di Prancis demi Pulang ke Tanah Air, Kini Menikamti Hidup Sebagai Pengajar Bergaji Pas-pasan.MOJOK.CO

Rela Melepas Upah 75 Juta di Prancis demi Pulang ke Tanah Air, Kini Menikamti Hidup Sebagai Pengajar Bergaji Pas-pasan

10 Maret 2026
Perantau Minang di kantin kereta api Indonesia (KAI) dalam perjalanan mudik Lebaran

Perantau Minang Gabut Mudik Bikin Tanduk Kerbau dari Selimut KAI, Tak Peduli Jadi Pusat Perhatian karena Suka “Receh”

13 Maret 2026
Sesal suka menolong orang lain usai ketemu lima jenis orang yang tidak layak ditolong meski kesusahan. Dari tukang judi slot hingga orang susah bayar utang MOJOK.CO

Kapok Suka Menolong Orang Lain usai Ketemu 4 Jenis Manusia Sialan, Benar-benar Nggak Layak Ditolong meski Kesusahan

12 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.