Bagi sebagian besar pekerja, terutama Gen Z dan milenial, kata “bukber” atau buka puasa bersama biasanya identik dengan momen hangat bareng teman lama atau keluarga. Namun, ceritanya bakal berubah 180 derajat kalau imbuhannya adalah “bukber kantor” atau “bukber instansi” seperti ASN.
Alih-alih, jadi ajang kumpul dan senang-senang, acara ini seringkali berubah jadi simulasi lembur yang dibungkus dengan embel-embel “silaturahmi”.
Bagi para Gen Z, datang ke bukber kantor, terutama ASN, bukan cuma soal rasa malas, tapi juga kelelahan mental. Ada tuntutan untuk tampil sempurna, tertawa pada candaan yang tidak lucu, hingga menelan komentar-komentar kasar yang dibalut label “bercanda”.
Bukber ASN, “haram” untuk ditolak
Vito (25), adalah salah satu Gen Z yang mengalami hal ini. Ia merupakan seorang tenaga honorer di sebuah instansi pemerintahan. Bagi Vito, undangan bukber dari kantornya bukan sekadar ajakan makan, tapi perintah halus yang kalau ditolak risikonya adalah masa depan karier.
“Jujur saja, sebagai honorer, posisi saya ini paling bawah. Kalau saya nggak datang, nanti pas perpanjangan kontrak tahun depan, wajah saya yang nggak muncul di bukber bakal diingat,” tawa Vito, Jumat (20/2/2026).
Vito bercerita bahwa ia sebenarnya ingin sekali pulang ke rumah. Namun, ia harus tetap di kantor sampai jam 8 malam, duduk di pojokan, sambil mendengarkan ocehan bosnya.
“Makanannya sih enak, tapi makannya sambil nahan kantuk dan dengerin bos pamer pencapaian. Rasanya kenyang di perut, tapi pegel di hati,” tambahnya.
Hal senada diungkapkan oleh Maya (27), seorang staf di instansi pemerintahan yang lingkungannya sangat kaku. Menurutnya, bukber kantor itu “haram” untuk ditolak karena adanya budaya “nggak enakan”.
“Kalau kita izin nggak ikut, besoknya di kantor pasti bakal ditanya-tanya terus. ‘Wah, Maya nggak kompak nih’, atau ‘Sombong banget nggak mau kumpul’. Akhirnya ya terpaksa datang, meski hati dongkol banget,” ujarnya.
Rangkaian acara bukber kantor sering nggak jelas
Satu hal yang paling bikin muak dari bukber formal dengan ASN adalah susunan acaranya. Seringkali, panitia membuat agenda yang terlalu panjang dan membosankan.
Harusnya, poin utama bukber adalah saat adzan Maghrib berkumandang dan orang-orang makan. Tapi di acara kantor, makan adalah urutan kesekian.
Biasanya, acara dimulai dengan sambutan-sambutan. Mulai dari ketua panitia, kepala divisi, sampai pimpinan tertinggi. Celakanya, sambutan ini sering kali berubah jadi rapat evaluasi terselubung.
“Pernah sekali, bos sambutan sampai 45 menit. Isinya yapping soal urusan pemerintahan sama pamer pencapaian, padahal itu sudah tinggal 5 menit lagi adzan. Kita yang dengerin sudah muak,” keluh Maya.
Belum lagi sesi foto yang tidak ada habisnya. Foto per divisi, foto per lantai, foto bareng pimpinan dengan gaya mengepalkan tangan seolah-olah semangat kerja. Padahal, menurut Maya, saat itu semua orang cuma pengen cepat-cepat pulang.
Jokes cringe, seksis, dan misoginis
Yang paling menyakitkan dari bukber dengan orang-orang “berpangkat” adalah ketika suasana mulai cair, tapi cairnya ke arah yang salah. Sering kali, para senior ASN atau atasan mengeluarkan candaan yang sangat tidak pantas atau cringe.
Maya bercerita betapa seringnya ia mendengar jokes yang menyerang fisik atau status personal.
“Ada senior yang bilang ke staf perempuan, ‘Wah, puasa kok malah makin subur? Nanti baju batiknya nggak muat lho’. Atau bercanda soal istri muda di depan semua orang. Itu nggak lucu sama sekali, tapi kita semua dipaksa ketawa. Kalau kita nggak ikut ketawa, nanti dibilang baperan atau nggak punya selera humor.”
Budaya misoginis ini sering kali dianggap normal dalam lingkup ASN. Perempuan sering dijadikan objek candaan, mulai dari urusan dapur sampai urusan ranjang yang dibalut kiasan-kiasan kasar. Bagi staf muda, ini adalah momen paling menyiksa karena mereka harus menelan kekesalan demi menjaga suasana tetap kondusif.
“Bulan puasa setan dikerangkeng, eh malah setan lain muncul di kantor.”
Tempatnya para atasan gosipin rekan kerja
Setelah sesi makan utama selesai, biasanya acara bukber tidak langsung bubar. Inilah saatnya “menu utama” yang sebenarnya keluar: gosip. Di meja-meja bundar itu, para ASN mulai saling sikut dan membicarakan rekan mereka yang tidak hadir atau mereka yang sedang jadi “incaran” kantor.
“Bukber itu jadi ajang verifikasi gosip,” kata Maya. “Siapa yang mau resign, siapa yang lagi dekat sama siapa, sampai siapa yang kerjanya nggak bener, semua dibahas di sana. Bukannya jadi makin akrab secara positif, malah jadi makin tahu busuknya masing-masing.”
Parahnya lagi, sering terjadi penghakiman terhadap cara berpakaian. Jika ada yang berpakaian terlalu santai, bakal jadi bahan omongan selama seminggu ke depan. Bahkan, sesepele ada yang mengambil makanan terlalu banyak saja, dicap nggak tahu diri.
“Benar-benar lingkungan yang melelahkan. Benar-benar ujian puasa yang sesungguhnya.”
Kenapa tetap bertahan?
Pertanyaannya: kalau memang sememuakkan itu, kenapa nggak ada yang berani protes? Jawabannya sederhana: hierarki dan senioritas.
Di Indonesia, relasi kuasa di kantor, apalagi instansi pemerintahan (ASN) itu sangat kuat. Seorang staf biasa atau honorer tidak punya daya tawar untuk mengubah budaya ini.
Bukber kantor akhirnya menjadi semacam “bentuk pengorbanan”. Bagi Maya, ia hadir bukan untuk makan, tapi untuk setor wajah agar namanya tetap aman di dalam daftar absensi “pegawai baik”.
Alhasil, bukber kantor hanyalah sebuah panggung sandiwara tahunan. Semua orang memakai topeng terbaik mereka, memaksakan senyum di depan kamera, dan pura-pura menikmati rendang yang rasanya hambar karena suasana hati yang tertekan.
“Kita semua tahu itu membosankan, kita semua tahu itu penuh kepalsuan, tapi kita semua juga tahu kalau besok pagi kita masih butuh gaji dari tempat yang sama,” pungkasnya.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














