Metode menabung santai alias soft saving sedang tren di kalangan Gen Z maupun milenial. Padahal, cara ini dinilai berisiko untuk memperoleh dana pensiun di masa depan. Guna menghindari risiko tersebut, baik Gen Z maupun milenial harus memiliki prinsip ini.
***
Di era sekarang, Gen Z dan milenial terkenal sebagai generasi yang sedang aktif-aktifnya. Berbagai kegiatan produktif kerap mereka ikuti. Khususnya, kegiatan yang dapat menunjang kebutuhan mereka saat ini, seperti mengejar passion hingga menikmati gaya hidup.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, generasi saat ini seperti Gen Z banyak melakukan pendekatan soft saving alias menabung dengan prinsip santai dan fleksibel. Dalam peribahasa, mereka lebih memilih menabung sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit sambil menikmati kehidupan masa kini.
Melansir dari laman resmi sebuah perusahaan manajer investasi, PNM Investment Management, metode soft saving berbeda dengan metode tradisional yang memerlukan pengaturan dan kedisiplinan. Dengan perkembangan teknologi saat ini, Gen Z dapat memanfaatkan berbagai alat atau aplikasi untuk menabung secara alami tanpa mengkhawatirkan masa depan.
Sekilas, pendekatan ini tampak baik untuk mengelola uang secara bijaksana tanpa merasa tertekan. Namun, soft saving juga tidak terlepas dari tantangan yang perlu diwaspadai. Salah satunya ialah, uang yang ditabung secara perlahan kemungkinan tidak bakal mencukupi kebutuhan mendesak atau tujuan yang lebih besar. Apalagi, untuk mengumpulkan dana pensiun di masa tua.
Padahal, dana pensiun penting untuk menjamin kemandirian finansial maupun mempertahankan gaya hidup layak saat kita tidak lagi bekerja. Dengan begitu, masa pensiun dapat dinikmati secara mandiri tanpa bergantung pada anak atau keluarga.
Bahaya soft saving tanpa memikirkan dana pensiun
Sejatinya, persiapan pensiun tetap penting meski Gen Z ingin menerapkan soft saving, mengingat populasi Indonesia akan bergeser menuju populasi menua dalam 20 tahun ke depan. Artinya, kaum muda perlu mempersiapkan dana pensiun lebih awal agar tetap mandiri secara finansial di masa tua.
Sayangnya, perencanaan dana pensiun belum menjadi prioritas Gen Z dan milenial. Sebuah riset dari Bank DBS Indonesia bertajuk “Ageing Society 2025” mencatat, sebanyak 19 persen responden usia 22-27 tahun (Gen Z) di Asia Tenggara mengaku belum berkomitmen menabung untuk masa tua. Hal serupa juga dialami oleh responden usia 28-43 tahun alias milenial, yang mana 19 persen dari mereka juga belum berkomitmen menabung untuk masa tua.
Artinya, Gen Z yang baru memasuki fase awal karier, maupun milenial yang berada di fase produktif yang lebih matang, masih menunjukkan tingkat komitmen yang cukup rendah terhadap perencanaan pensiun.
Di Indonesia, sekitar 100 juta masyarakat berpotensi tidak memiliki dana pensiun pada tahun 2038. Salah satu penyebabnya adalah rendahnya tingkat menabung, di mana rata-rata masyarakat Indonesia hanya menyisihkan sekitar 3 persen pendapatan, jauh di bawah rekomendasi ideal minimal 10 persen untuk mencapai kemandirian finansial.
Agar tidak kesulitan memenuhi kebutuhan dasar dan biaya kesehatan, sampai harus ketergantungan pada orang lain, Gen Z dan milenial saat ini perlu membuat perencanaan yang memadai. Berikut tips dari Bank DBS Indonesia, selain menerapkan metode soft saving:
#1 Soft saving bisa dilakukan asal konsisten
Gen Z termasuk beruntung karena masih punya waktu yang panjang sebelum mereka pensiun. Oleh karena itu, ia masih bisa menerapkan metode soft saving meski nominal uang yang ditabung terbilang kecil. Namun, hal ini tetap perlu dilakukan secara konsisten dalam jangka puluhan tahun.
Menurut Bank DBS Indonesia, nominal kecil yang diinvestasikan secara rutin tetap berpotensi berkembang signifikan berkat efek compounding, yaitu keuntungan yang terus bertumbuh dan menghasilkan keuntungan tambahan seiring waktu.
Sebaliknya, menunda justru membuat target dana pensiun semakin berat karena waktu pertumbuhan aset menjadi lebih pendek.
Selain itu, mulailah lebih awal sehingga strategi investasi Anda juga dapat disesuaikan seiring perubahan kondisi ekonomi, terutama dalam mengambil risiko. Dalam perjalanan jangka panjang menuju pensiun, akan selalu ada siklus pasar yang berbeda, sehingga konsistensi berinvestasi sejak dini dapat membantu Gen Z memanfaatkan berbagai peluang, sekaligus membangun kebiasaan finansial yang disiplin.
#2 Dana pensiun tak sekadar kebutuhan pokok
Banyak orang terjebak menyiapkan dana pensiun hanya untuk kebutuhan pokok seperti makan, tempat tinggal, dan biaya kesehatan. Padahal, masa pensiun yang nyaman tidak hanya soal bertahan hidup, tetapi juga menjaga kualitas hidup. Aktivitas seperti olahraga, traveling, atau menjaga relasi dengan teman tetap membutuhkan biaya agar keseharian tetap bermakna dan menyenangkan.
Karena itu, penting untuk menghitung kebutuhan pensiun secara lebih realistis sejak awal, termasuk pengeluaran untuk gaya hidup dan aktivitas yang mendukung kesehatan fisik maupun mental. Alih-alih, hanya memprioritaskan metode soft saving.
Dengan perencanaan yang lebih komprehensif, dana pensiun tidak hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga memungkinkan seseorang menikmati masa tua dengan lebih aktif, mandiri, sejahtera, dan menyenangkan.
Untuk membantu proses ini, kamu bisa mencoba Retirement Goal Calculator dari Bank DBS Indonesia. Kalkulator ini dirancang untuk membantu menghitung kebutuhan dana pensiun secara lebih menyeluruh, termasuk komponen gaya hidup yang ingin dipertahankan, sekaligus menunjukkan apakah kondisi finansial saat ini sudah cukup untuk mencapai tujuan tersebut.
#3 Metode selain soft saving
Bagi gen Z maupun milenial yang baru merintis karier, pendapatan yang terbatas sering kali menjadi tantangan dalam mengatur keuangan. Maka wajar jika Gen Z lebih memilih metode soft saving. Meski begitu, penting untuk menyusun anggaran bulanan yang realistis dan disiplin dalam mengelolanya.
Alih-alih menggunakan metode soft saving, salah satu cara yang bisa diterapkan adalah metode rasio 50-30-20. Dengan metode ini, 50 persen dari pendapatan dialokasikan untuk kebutuhan pokok (needs), seperti biaya makan, sewa tempat tinggal, transportasi, dan tagihan rutin.
Lalu, 30 persen dapat digunakan untuk memenuhi keinginan pribadi (wants), seperti hobi, hiburan, atau liburan. Sementara itu, 20 persen sisanya sebaiknya disisihkan untuk tabungan dan investasi, yang menjadi langkah awal dalam mempersiapkan dana pensiun dan mencapai tujuan keuangan jangka panjang.
#4 Investasi sesuai dengan fase hidup
Selain menabung dengan metode soft saving, Gen Z dan milenial perlu berinvestasi. Investasi bisa dioptimalkan dengan strategi yang disesuaikan dengan kondisi dan tujuan masing-masing individu. Bagi milenial, fokus investasi umumnya berada pada keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas.
Biasanya, sekitar 60-70 persen investasi mereka dialokasikan pada instrumen berbasis saham untuk mengejar pertumbuhan nilai. Lalu, 20-30 persen pada obligasi guna menjaga stabilitas, serta 10-15 persen pada alternatif investasi seperti properti, komoditas, atau emas.
Hal ini sedikit berbeda dengan Gen Z yang baru memulai investasi. Mereka lebih mengutamakan instrumen berisiko rendah dengan arus kas rutin, seperti obligasi ritel dan reksa dana pendapatan tetap karena dirasa aman.
Terlepas dari pilihan instrumen, baik milenial maupun Gen Z perlu menekankan pentingnya memulai sejak dini dan berinvestasi secara konsisten melalui kontribusi berkala, pemantauan portofolio secara rutin, serta penyesuaian strategi sesuai kondisi ekonomi, agar tujuan finansial jangka panjang dapat tercapai secara berkelanjutan.
#5 Pahami siklus ekonomi
Merencanakan dana pensiun itu bukan cuma soal rutin investasi atau sekadar pakai metode soft saving, tapi juga soal peka terhadap siklus ekonomi. Setiap fase ekonomi, baik dalam kondisi pemulihan (recovery) maupun perlambatan atau resesi, selalu menghadirkan peluangnya masing-masing.
Dengan memahami siklus ekonomi, kamu bisa lebih bijak memilih instrumen yang sesuai dengan kondisi saat itu. Misalnya, ada fase di mana instrumen yang lebih agresif bisa dioptimalkan, tapi di fase lain mungkin perlu lebih defensif untuk menjaga nilai portofolio.
Karena itu, strategi investasi tidak bisa bersifat statis. Kuncinya adalah melakukan review strategi pensiun secara rutin dan disiplin. Evaluasi portofolio, sesuaikan komposisi investasi bila diperlukan, dan pastikan semuanya tetap sejalan dengan target dana pensiun.
Pada akhirnya, tujuannya bukan hanya mengejar imbal hasil yang tinggi, tetapi memastikan dana pensiun tetap aman dan cukup saat waktunya tiba.
***
Meskipun terkesan menakutkan, menyiapkan dana pensiun sebenarnya tidak harus rumit. Dengan perencanaan yang tepat, kamu bisa menikmati masa tua tanpa harus khawatir masalah keuangan. Ingat, fokus utama bukan hanya pada besar kecilnya nominal, tetapi bagaimana membangun kebiasaan yang sehat, mulai dari meningkatkan kapasitas pendapatan, mengalokasikan dana secara disiplin, hingga merasakan motivasi ketika melihat aset keuangan bertumbuh.
Sumber: Bank DBS Indonesia
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Nasib WNI 10 Tahun Lagi: Terancam Tua Miskin karena Tak Punya Jaminan untuk Tabungan Pensiun dari Negara atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













