Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Peringatan untuk Gen Z si Paling Soft Saving: Boleh Nabung Sambil Menikmati Hidup di Masa Kini, tapi Masa Tua Jangan Sampai Jadi Beban

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
28 Maret 2026
A A
Metode Soft Saving ala Gen Z dan Milenial bahaya untuk pensiun. MOJOK.CO

ilustrasi - soft saving yang tren di kalangan Gen Z. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Metode menabung santai alias soft saving sedang tren di kalangan Gen Z maupun milenial. Padahal, cara ini dinilai berisiko untuk memperoleh dana pensiun di masa depan. Guna menghindari risiko tersebut, baik Gen Z maupun milenial harus memiliki prinsip ini.

***

Di era sekarang, Gen Z dan milenial terkenal sebagai generasi yang sedang aktif-aktifnya. Berbagai kegiatan produktif kerap mereka ikuti. Khususnya, kegiatan yang dapat menunjang kebutuhan mereka saat ini, seperti mengejar passion hingga menikmati gaya hidup.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, generasi saat ini seperti Gen Z banyak melakukan pendekatan soft saving alias menabung dengan prinsip santai dan fleksibel. Dalam peribahasa, mereka lebih memilih menabung sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit sambil menikmati kehidupan masa kini.

Melansir dari laman resmi sebuah perusahaan manajer investasi, PNM Investment Management, metode soft saving berbeda dengan metode tradisional yang memerlukan pengaturan dan kedisiplinan. Dengan perkembangan teknologi saat ini, Gen Z dapat memanfaatkan berbagai alat atau aplikasi untuk menabung secara alami tanpa mengkhawatirkan masa depan.

Sekilas, pendekatan ini tampak baik untuk mengelola uang secara bijaksana tanpa merasa tertekan. Namun, soft saving juga tidak terlepas dari tantangan yang perlu diwaspadai. Salah satunya ialah, uang yang ditabung secara perlahan kemungkinan tidak bakal mencukupi kebutuhan mendesak atau tujuan yang lebih besar. Apalagi, untuk mengumpulkan dana pensiun di masa tua. 

Padahal, dana pensiun penting untuk menjamin kemandirian finansial maupun mempertahankan gaya hidup layak saat kita tidak lagi bekerja. Dengan begitu, masa pensiun dapat dinikmati secara mandiri tanpa bergantung pada anak atau keluarga. 

Bahaya soft saving tanpa memikirkan dana pensiun

Sejatinya, persiapan pensiun tetap penting meski Gen Z ingin menerapkan soft saving, mengingat populasi Indonesia akan bergeser menuju populasi menua dalam 20 tahun ke depan. Artinya, kaum muda perlu mempersiapkan dana pensiun lebih awal agar tetap mandiri secara finansial di masa tua.

Sayangnya, perencanaan dana pensiun belum menjadi prioritas Gen Z dan milenial. Sebuah riset dari Bank DBS Indonesia bertajuk “Ageing Society 2025” mencatat, sebanyak 19 persen responden usia 22-27 tahun (Gen Z) di Asia Tenggara mengaku belum berkomitmen menabung untuk masa tua. Hal serupa juga dialami oleh responden usia 28-43 tahun alias milenial, yang mana 19 persen dari mereka juga belum berkomitmen menabung untuk masa tua.

Artinya, Gen Z yang baru memasuki fase awal karier, maupun milenial yang berada di fase produktif yang lebih matang, masih menunjukkan tingkat komitmen yang cukup rendah terhadap perencanaan pensiun. 

Di Indonesia, sekitar 100 juta masyarakat berpotensi tidak memiliki dana pensiun pada tahun 2038. Salah satu penyebabnya adalah rendahnya tingkat menabung, di mana rata-rata masyarakat Indonesia hanya menyisihkan sekitar 3 persen pendapatan, jauh di bawah rekomendasi ideal minimal 10 persen untuk mencapai kemandirian finansial. 

Agar tidak kesulitan memenuhi kebutuhan dasar dan biaya kesehatan, sampai harus ketergantungan pada orang lain, Gen Z dan milenial saat ini perlu membuat perencanaan yang memadai. Berikut tips dari Bank DBS Indonesia, selain menerapkan metode soft saving:

#1 Soft saving bisa dilakukan asal konsisten

Gen Z termasuk beruntung karena masih punya waktu yang panjang sebelum mereka pensiun. Oleh karena itu, ia masih bisa menerapkan metode soft saving meski nominal uang yang ditabung terbilang kecil. Namun, hal ini tetap perlu dilakukan secara konsisten dalam jangka puluhan tahun. 

Menurut Bank DBS Indonesia, nominal kecil yang diinvestasikan secara rutin tetap berpotensi berkembang signifikan berkat efek compounding, yaitu keuntungan yang terus bertumbuh dan menghasilkan keuntungan tambahan seiring waktu. 

Iklan

Sebaliknya, menunda justru membuat target dana pensiun semakin berat karena waktu pertumbuhan aset menjadi lebih pendek. 

Selain itu, mulailah lebih awal sehingga strategi investasi Anda juga dapat disesuaikan seiring perubahan kondisi ekonomi, terutama dalam mengambil risiko. Dalam perjalanan jangka panjang menuju pensiun, akan selalu ada siklus pasar yang berbeda, sehingga konsistensi berinvestasi sejak dini dapat membantu Gen Z memanfaatkan berbagai peluang, sekaligus membangun kebiasaan finansial yang disiplin.

#2 Dana pensiun tak sekadar kebutuhan pokok

Banyak orang terjebak menyiapkan dana pensiun hanya untuk kebutuhan pokok seperti makan, tempat tinggal, dan biaya kesehatan. Padahal, masa pensiun yang nyaman tidak hanya soal bertahan hidup, tetapi juga menjaga kualitas hidup. Aktivitas seperti olahraga, traveling, atau menjaga relasi dengan teman tetap membutuhkan biaya agar keseharian tetap bermakna dan menyenangkan.

Karena itu, penting untuk menghitung kebutuhan pensiun secara lebih realistis sejak awal, termasuk pengeluaran untuk gaya hidup dan aktivitas yang mendukung kesehatan fisik maupun mental. Alih-alih, hanya memprioritaskan metode soft saving.

Dengan perencanaan yang lebih komprehensif, dana pensiun tidak hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga memungkinkan seseorang menikmati masa tua dengan lebih aktif, mandiri,  sejahtera, dan menyenangkan.

Untuk membantu proses ini, kamu bisa mencoba Retirement Goal Calculator dari Bank DBS Indonesia. Kalkulator ini dirancang untuk membantu menghitung kebutuhan dana pensiun secara lebih menyeluruh, termasuk komponen gaya hidup yang ingin dipertahankan, sekaligus menunjukkan apakah kondisi finansial saat ini sudah cukup untuk mencapai tujuan tersebut. 

#3 Metode selain soft saving

Bagi gen Z maupun milenial yang baru merintis karier, pendapatan yang terbatas sering kali menjadi tantangan dalam mengatur keuangan. Maka wajar jika Gen Z lebih memilih metode soft saving. Meski begitu, penting untuk menyusun anggaran bulanan yang realistis dan disiplin dalam mengelolanya. 

Alih-alih menggunakan metode soft saving, salah satu cara yang bisa diterapkan adalah metode rasio 50-30-20. Dengan metode ini, 50 persen dari pendapatan dialokasikan untuk kebutuhan pokok (needs), seperti biaya makan, sewa tempat tinggal, transportasi, dan tagihan rutin. 

Lalu, 30 persen dapat digunakan untuk memenuhi keinginan pribadi (wants), seperti hobi, hiburan, atau liburan. Sementara itu, 20 persen sisanya sebaiknya disisihkan untuk tabungan dan investasi, yang menjadi langkah awal dalam mempersiapkan dana pensiun dan mencapai tujuan keuangan jangka panjang.

#4 Investasi sesuai dengan fase hidup

Selain menabung dengan metode soft saving, Gen Z dan milenial perlu berinvestasi. Investasi bisa dioptimalkan dengan strategi yang disesuaikan dengan kondisi dan tujuan masing-masing individu. Bagi milenial, fokus investasi umumnya berada pada keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas.

Biasanya, sekitar 60-70 persen investasi mereka dialokasikan pada instrumen berbasis saham untuk mengejar pertumbuhan nilai. Lalu, 20-30 persen pada obligasi guna menjaga stabilitas, serta 10-15 persen pada alternatif investasi seperti properti, komoditas, atau emas.

Hal ini sedikit berbeda dengan Gen Z yang baru memulai investasi. Mereka lebih mengutamakan instrumen berisiko rendah dengan arus kas rutin, seperti obligasi ritel dan reksa dana pendapatan tetap karena dirasa aman. 

Terlepas dari pilihan instrumen, baik milenial maupun Gen Z perlu menekankan pentingnya memulai sejak dini dan berinvestasi secara konsisten melalui kontribusi berkala, pemantauan portofolio secara rutin, serta penyesuaian strategi sesuai kondisi ekonomi, agar tujuan finansial jangka panjang dapat tercapai secara berkelanjutan.

#5 Pahami siklus ekonomi

Merencanakan dana pensiun itu bukan cuma soal rutin investasi atau sekadar pakai metode soft saving, tapi juga soal peka terhadap siklus ekonomi. Setiap fase ekonomi, baik dalam kondisi pemulihan (recovery) maupun perlambatan atau resesi, selalu menghadirkan peluangnya masing-masing. 

Dengan memahami siklus ekonomi, kamu bisa lebih bijak memilih instrumen yang sesuai dengan kondisi saat itu. Misalnya, ada fase di mana instrumen yang lebih agresif bisa dioptimalkan, tapi di fase lain mungkin perlu lebih defensif untuk menjaga nilai portofolio.

Karena itu, strategi investasi tidak bisa bersifat statis. Kuncinya adalah melakukan review strategi pensiun secara rutin dan disiplin. Evaluasi portofolio, sesuaikan komposisi investasi bila diperlukan, dan pastikan semuanya tetap sejalan dengan target dana pensiun. 

Pada akhirnya, tujuannya bukan hanya mengejar imbal hasil yang tinggi, tetapi memastikan dana pensiun tetap aman dan cukup saat waktunya tiba.

***

Meskipun terkesan menakutkan, menyiapkan dana pensiun sebenarnya tidak harus rumit. Dengan perencanaan yang tepat, kamu bisa menikmati masa tua tanpa harus khawatir masalah keuangan. Ingat, fokus utama bukan hanya pada besar kecilnya nominal, tetapi bagaimana membangun kebiasaan yang sehat, mulai dari meningkatkan kapasitas pendapatan, mengalokasikan dana secara disiplin, hingga merasakan motivasi ketika melihat aset keuangan bertumbuh.

Sumber: Bank DBS Indonesia

 

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Nasib WNI 10 Tahun Lagi: Terancam Tua Miskin karena Tak Punya Jaminan untuk Tabungan Pensiun dari Negara  atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 29 Maret 2026 oleh

Tags: dana pensiunDBS IndonesiaGen Zliterasi keuanganmetode menabungmilenialsoft saving
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Realitas Pahit di Film “Tunggu Aku Sukses Nanti” yang Bikin Gen Z Menangis: Susah Cari Kerja dan “Dihina” Saat Kumpul Keluarga. MOJOK.CO
Seni

Realitas Pahit Film “Tunggu Aku Sukses Nanti” yang Bikin Gen Z Menangis: Susah Cari Kerja dan Dihina Saat Kumpul Keluarga

27 Maret 2026
Tabungan soft saving ala gen Z
Sehari-hari

Soft Saving, Jalan Pintas Gen Z Ingin Menabung Ala Kadarnya tapi Masih Prioritaskan Penuhi Gaya Hidup Usia Muda

25 Maret 2026
Alumnus UT Dapat Cuan dari Tren Foto Newspaper Photobooth di Jalan Tunjungan Surabaya. MOJOK.CO
Sosok

Alumnus UT Buka Bisnis Foto ala Newspaper di Jalan Tunjungan, Satu Cetak Hanya Rp5 Ribu tapi Untungnya Bisa Sejuta dalam Sehari

25 Maret 2026
Gen Z dapat THR saat Lebaran
Urban

3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan

18 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dosa Mahasiswa Interior di Surabaya: Memuja Garis Presisi di Studio, tapi Menyembah Kue Lembek di Dapur MOJOK.CO

Dosa Mahasiswa Interior di Surabaya: Memuja Garis Presisi di Studio, tapi Menyembah Kue Lembek di Dapur

25 Maret 2026
Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026
Kerja WFH - WFA dengan kantor di Jakarta Barat. Awalnya enak karena slow living, ternyata menjebak MOJOK.CO

Tergiur Kerja WFH WFA karena Tampak Enak dan Slow Living tapi Ternyata Menjebak: Gaji, Skill, dan Karier Mentok

27 Maret 2026
Na Willa, film anak yang obati inner child

‘Na Willa’, Merangkul Inner Child dan Kebutuhan akan Film Anak dari Muaknya Komodifikasi Ketakutan

27 Maret 2026
Tabungan soft saving ala gen Z

Soft Saving, Jalan Pintas Gen Z Ingin Menabung Ala Kadarnya tapi Masih Prioritaskan Penuhi Gaya Hidup Usia Muda

25 Maret 2026
Membuat ibu sangat menyayangi kucing padal awalnya sangat tak suka. Setelah memelihara malah merawat seperti anak sendiri dan sangat terpukul ketika si anabul mati MOJOK.CO

Ibu Jadi Sayang Kucing padahal Awalnya Benci: Dirawat Seperti Anak Sendiri, Terpukul dan Trauma saat Anabul Mati dalam Dekapan

27 Maret 2026

Video Terbaru

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026
Hantu Jawa dalam Naskah Kuno dan Maknanya di Zaman Modern

Hantu Jawa dalam Naskah Kuno dan Maknanya di Zaman Modern

26 Maret 2026
Tirta Aji Mulih Deso: Pemancingan Ikan Predator dengan Sistem Catch and Release (CNR)

Tirta Aji Mulih Deso: Pemancingan Ikan Predator dengan Sistem Catch and Release (CNR)

23 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.