Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

5 Penginapan di Lasem: Dari Megahnya Bangunan Tionghoa hingga Sunyinya Pengunjung

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
3 Februari 2026
A A
Rekomendasi penginapan di Lasem, Rembang. MOJOK.CO

ilustrasi - 5 tempat penginapan di Lasem, Rembang bergaya khas Tionghoa. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tak perlu susah-susah mencari rumah berarsitektur Tionghoa di Indonesia. Sebab di negeri Tiongkok Kecil bernama Lasem ini, kamu bisa menjumpainya di setiap gang Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Beberapa rumah bahkan masih dihuni oleh peranakan Tionghoa.

Saking berharganya kawasan ini, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah menganggarkan dana sekitar Rp88,13 miliar pada tahun 2021, guna menata sekaligus merawat bangunan yang diduga cagar budaya tersebut.

Melansir dari YouTube Pusat Dokumentasi Arsitektur, komunitas Lasem Berdaya mencatat setidaknya ada 362 objek yang diduga sebagai cagar budaya. Mulai dari struktur jalanan, bangunan, dan situs. 

Beberapa bangunan bahkan dikomersialkan sebagai tempat penginapan di Lasem. Misalnya, Rumah Merah Heritage Lasem, Guest House Nyah Lasem, Rumah Oei, Omah Idjo, hingga Lasem Boutique Hotel.

#1 Rumah Merah Heritage

Tak afdal rasanya jika ke Lasem tak mengunjungi Rumah Merah Heritage. Penginapan di Desa Karangturi, Gang 4, Nomor 7, Rembang ini memiliki arsitektur khas Tionghoa-Hindia. Ia berdiri sejak tahun 1800-an tapi baru dibuka sebagai penginapan umum di Lasem tahun 2016. 

Melansir dari Instagram resmi @rumahmerahheritagelasem, penginapan di Lasem tersebut menawarkan berbagai fasilitas dengan harga yang berbeda setiap kamar. Ada yang tipe deluxe berisi king bed alias muat dua orang. Ada pula yang tipe eksklusif.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Rumah Merah Heritage Lasem (@rumahmerahheritagelasem)

Untuk tipe deluxe, harganya Rp360 ribu per malam. Fasilitasnya meliputi WiFi, AC, Televisi, kamar mandi dalam, air panas, hingga sarapan. Untuk tipe eksklusif, fasilitasnya tak jauh beda tapi harganya Rp450 ribu per malam. 

Meskipun tak menginap di sini, kamu tetap bisa touring ke dalam untuk mengenal sejarah Rumah Merah Heritage Lasem. Kamu hanya perlu masuk menuju loket dan membayar biaya tour guide seharga Rp10 ribu.

#2 Guest House Nyah Lasem

Sama seperti Rumah Merah Heritage Lasem, penginapan Nyah Lasem juga memiliki arsitektur bergaya Tionghoa-Hindia. Tak heran, karena lokasi keduanya tak terlalu jauh. Hanya terpisah dari gang-gang yang berjarak satu kilometer jika dilihat dari peta Google. 

Pengurus Museum Nyah Lasem, Agik NS berujar kamar-kamar di sana biasa disewa oleh peneliti baik dari lokal maupun luar negeri. Tak jarang, ia meminta tanda tangan mereka di balik pintu-pintu kamar sebagai kenang-kenangan. Meski begitu, ia tak membatasi wisatawan yang ingin menginap.

Iklan

“Kami punya dua kamar di bagian tengah dan belakang yang terdiri dari dua sampai tiga ranjang,” ucapnya sembari memperlihatkan ruangan kamar di samping kiri joglo utama.

Museum Nyah Lasem. MOJOK.CO
Agik NS, pengurus Museum Nyah Lasem. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Wisatawan yang datang rombongan dikenai harga Rp100 ribu per malam untuk 3 ranjang dan Rp150 ribu untuk 3 ranjang. Kalau datang sendiri, wisatawan hanya membayar Rp50 ribu per orang. 

Sementara itu, joglo utama berfungsi sebagai museum dan biasa dipakai untuk acara. Misalnya pameran maupun aktivitas komunitas sejarah Lasem di Rembang. Di sana, pengunjung juga bisa menyimak silsilah keluarga Nyah lasem. 

Tak hanya itu, wisatawan juga bisa melihat replika altar Dewa Dapur hingga arsip jaringan dagang batik di Lasem pada awal abad ke-20. Salah satunya cerita dari Tan Welis dan Tan Lena, kakak beradik dari sepuluh bersaudara yang merupakan penerus dari usaha batik Dua Putri.

#3 Wisma Pamilie di Rumah Oei

Wisma Pamilie di Jalan Jatirogo, Desa Karangturi, Nomor 10 ini sebenarnya bangunan yang baru dibuka sejak 2016, karena bangunan utamanya (Omah Gedhe) sempat vakum lebih dari 70 tahun. 

Dibanding Rumah Merah Heritage Lasem di Rembang, Wisma Pamilie memiliki lebih banyak ruangan, yakni 15 kamar yang terdiri dari lantai pertama dan kedua. Ada tiga tipe kamar yang ditawarkan. Pertama, kamar quadruple yang berisi 4 kasur king size. Kedua, kamar keluarga berisi 5 kasur single. Terakhir, penginapan berisi 5 kasur single bertingkat.

Rumah Oei Am. MOJOK.CO
Penginapan Rumah Oei Am di Lasem yang berdiri sejak taun 1818. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Penjaga di sana menyarankan agar memesan langsung lewat WhatsApp: 08112611010 untuk tahu jika sewaktu-waktu ada diskon. Harganya sendiri dipatok dari Rp360 ribu per malam dan akan naik sesuai tipe kamar yang dipilih.

Selain menginap, banyak warga lokal maupun wisatawan yang berkunjung ke sana untuk nugas atau sekadar nongkrong di pelataran Omah Gedhe–tempat ibadah khusus keluarga serta berisi peninggalan bersejarah. Sementara di bagian pelatarannya tersedia banyak kursi besi dan meja dari kafe terkenal yang menyediakan kopi lelet, serta toko oleh-oleh.

#4 Omah Idjo

Tak jauh dari Rumah Oei, kamu bisa melihat penginapan berarsitektur Persia dengan corak warna hijau tua. Saat saya ke sana, bangunan ini hampir tak terlihat karena tertutup gerobak pedagang dan pohon rimbun di depannya. 

Untungnya, perhatian saya masih tertuju pada sebuah menara Merbabu yang terlihat menghias langit. Di sana, pelanggan yang menginap dapat menikmati keindahan Rembang dari atas. Melansir dari foto-foto Instagram @omahidjo_lasem, fasilitas yang disediakan di penginapan ini tak jauh beda dengan Wisma Pamilie. 

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Omah Idjo Lasem (@omahidjo_lasem)

Hanya saja, nuansanya berwarna hijau khas Timur Tengah yang berakulturasi dengan budaya Jawa. Sedangkan, Wisma Pamilie lebih dominan berwarna merah dengan bangunan khas Tiongkok.

Konon, pemilik dari kedua penginapan itu sama, yakni keluarga Oei yang sekarang dikelola oleh keturunan ketujuh mereka. Maka tak heran, penataan serta fasilitasnya hampir mirip.

Hanya saja, seperti yang saya katakan tadi, Omah Idjo relatif sepi saat saya lewat di Desember 2025 lalu. Unggahan di Instagram-nya pun terakhir terjadwal di tahun 2019 dan belum ada update.

#5 Lasem Boutique Hotel

Menurut informasi di Instagram @lasemboutiquehotel, bangunan ini dulunya terpilih jadi salah satu tempat pelaksanaan street party dalam rangka Peranakan Convention 2018. Dan baru berubah menjadi hotel sekitar Januari 2019.

Fasilitasnya meliputi TV, AC, WiFi, kamar mandi, air panas dan air dingin, sarapan, kereta wisata, hingga sepeda ontel yang dapat disewa. Pemesanan dapat dilakukan lewat nomor WhatsApp: 081299661353.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Lasem Boutique Hotel (@lasemboutiquehotel)

Sebetulnya, lokasi dari penginapan-penginapan di atas tak terlalu berjauhan. Tapi, jika diukur dari Masjid Jami’ Baiturrahman Lasem–pusat syiar Islam yang terletak di alun-alun, lokasi Lasem Boutique Hotel berjarak kurang lebih 550 meter. Lebih jauh dibanding penginapan selainnya di Rembang.

Namun, ia jadi satu-satunya penginapan yang terdekat dari Klenteng Cu An Kiong serta kediaman Rumah Candu atau Lawang Ombo. Keduanya merupakan tempat ikonik di Lasem yang rasanya sayang jika tak dikunjungi.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Pertama Kali Jalan-jalan ke “Negeri Tiongkok Kecil” Lasem, Banyak Situs Sejarah Mangkrak Tak Terawat atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 3 Februari 2026 oleh

Tags: bangunan bersejarahbudaya tionghoalasempenginapan Lasemrekomendasi penginapan Lasemrembangtiongkok kecil
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Masjid Menara Kudus yang dibangun Sunan Kudus. MOJOK.CO
Bidikan

Menapaki Minaret Pertama di Indonesia untuk Mendalami Pesan Tersirat Sunan Kudus

19 Februari 2026
TKI-TKW Rembang dan Pati, bertahun-tahun kerja di luar negeri demi bangun rumah besar di desa karena gengsi MOJOK.CO
Urban

Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti

7 Februari 2026
Rekomendasi penginapan di Lasem, Rembang. MOJOK.CO
Urban

Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal

6 Februari 2026
Suasana "Tiongkok Kecil" di Lasem. MOJOK.CO
Catatan

Pertama Kali Jalan-jalan ke “Negeri Tiongkok Kecil” Lasem, Banyak Situs Sejarah Mangkrak Tak Terawat

27 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

kerja di jepang, merantau.MOJOK.CO

Ironi Kerja di Jepang: Banting Tulang Hingga 5 Kali Lebaran Tak Pulang, tapi Setelah Sukses Hasilnya Tak Bisa Dinikmati

23 Februari 2026
pertamina bikin mudik lewat jalan tol semakin mudah.MOJOK.CO

Mobil Pribadi Pilihan Terbaik Buat Mudik Membelah Jawa: Pesawat Terlalu Mahal, Sementara Tiket Kereta Api Ludes Dibeli “Pejuang War” KAI Access

20 Februari 2026
gen z, biaya nikah, nikah di gedung, pernikahan.MOJOK.CO

Lebih Baik Nikah di Gedung daripada di Desa: Lebih Praktis dan Murah, tapi Harus Siap Dinyiyiri Tetangga

22 Februari 2026
Wawancara beasiswa LPDP

Niat Daftar LPDP Berujung Kena Mental, Malah Diserang Personal oleh Pewawancara dan Tak Diberi Kesempatan Bicara

20 Februari 2026
Gagal seleksi CPNS dan tidak tembus beasiswa LPDP untuk kuliah S2 di luar negeri pilih mancing, dicap tidak punya masa depan oleh keluarga MOJOK.CO

Gagal LPDP dan Seleksi CPNS Pilih Nikmati Hidup dengan Mancing, Nemu Rasa Tenang meski Dicap Tak Punya Masa Depan

22 Februari 2026
Kapok dan muak buka bersama (bukber) di restoran atau tempat makan bareng orang kaya. Cerita pelayan iga bakar Jogja jadi korban arogansi MOJOK.CO

Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan

20 Februari 2026

Video Terbaru

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026
Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

19 Februari 2026
Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.