Magis Kaki Kanan yang Mengirim Tangis bagi Srikandi Kota Pahlawan 

Magis Kaki Kanan yang Mengirim Tangis bagi Srikandi Kota Pahlawan (dok. MLSC)

Tribun Super Soccer Arena, Kudus, bergemuruh riuh tatkala peluit panjang dibunyikan pada Sabtu (27/6/2026) siang. 

Di tengah pesta tuan rumah merayakan tiket final MilkLife Soccer Challenge (MLSC) All Stars 2026, Agnia F. N. Rohman tertunduk lesu. Air mata striker andalan Surabaya All Stars itu menetes tak terbendung, bahkan terbawa hingga sesi konferensi pers.

Surabaya, yang tampil meyakinan sejak awal turnamen, baru saja tersingkir usai kalah tipis 1-2 dari Kudus All Stars. Bagi Agnia, kekalahan tersebut terasa sesak lantaran dipicu oleh sebuah insiden pada menit ke-15. 

Kala itu, kiper Surabaya terjatuh di atas rumput akibat benturan. Wasit tidak meniup peluit pelanggaran. Gawang dalam keadaan melompong, menyisakan dua bek yang bersiaga panik.

Dari jarak nyaris setengah lapangan, Renanthera A. Addya Putri melihat ruang kosong tersebut. Tanpa ragu, gelandang Kudus itu melepaskan sepakan spekulasi. 

Bola meluncur mulus masuk ke gawang Surabaya. Kudus memimpin 1-0.

Putri Kudus yang tak henti melatih kaki

Tangisan Agnia siang itu seolah menjadi vonis atas kontroversi keputusan wasit. Namun, jika kita mencermati lengkungan bola yang dilesakkan Thera–sapaan akrab Renanthera–pada menit ke-15 tersebut, sudut pandang ceritanya bergeser. 

Thera, Kudus.MOJOK.CO
There bercerita, gol jarak jauhnya adalah buah dari melatih kaki kanan yang selama tiga ratus enam puluh lima hari ia jalani. (dok. MLSC)

Sepakan jarak jauh itu bukanlah hasil keberuntungan, bukan tembakan asal-asalan. Ia adalah buah dari melatih kaki kanan yang selama tiga ratus enam puluh lima hari ia jalani.

“Memang saya pribadi ada latihan khusus buat melatih tendagan,” ujar Thera, saat ditemui Mojok, seusai laga.

Thera mengaku menyimpan sebuah memori yang baginya terasa memalukan. Pada edisi MLSC tahun lalu, Kudus memang berhasil keluar sebagai juara turnamen. 

Namun, di tengah pesta pengangkatan trofi, batin Thera justru merana. Penyebabnya, ia mengakhiri kompetisi tanpa menyumbang satu gol pun. Bahkan, pemain belia ini secara jujur mengaku dahulu dirinya tidak bisa menendang bola dengan teknik yang benar.

Selebrasi tim Kudus All Stars usai memastikan kemenangan 2-1 atas Surabaya. (dok. MLSC)

“Dulu nggak bisa nendang. Cuma pelan dan asal-asalan,” jelasnya.

Rasa mengganjal dan sedikit kecewa itu akhirnya ia bawa pulang. 

Latihan ala “Shaolin Soccer”

Sejak saat itu, halaman rumahnya bersalin rupa menjadi sasana latihan yang mengingatkan kita pada adegan film Shaolin Soccer.

Bersama sang ayah, Thera merancang cara latihan unik. Setiap hari, ia berlatih menendang bola sekeras mungkin menghantam tembok beton rumahnya. Pantulan dari dinding semen itu ia jadikan alat ukur untuk mengukur seberapa kuat tendangannya. 

“Iya sih, mirip di Shaolin Soccer,” terangnya, diikuti tawa.

Setelah fasih mengukur tenaga, sang ayah naik peran menjadi pagar betis hidup. Ia berdiri merentangkan tangan di halaman, sementara putrinya bertugas melengkungkan bola melewati rintangan tubuhnya.

Suasana tribun Super Soccer Arena yang bergemuruh menyambut kemenangan Kudus atas Surabaya. (dok. MLSC)

Berbulan-bulan memukul tembok dan melompati kepala ayahnya membentuk spesialisasi yang langka di kelompok umur U-12 putri: eksekutor bola mati dan sepakan jarak jauh. 

Sepanjang gelaran turnamen tahun ini, Thera baru mencetak dua gol. Gol pertamanya lahir lewat tendangan bebas saat Kudus membungkam Bandung 3-0 di fase grup. Gol keduanya adalah sepakan menghukum Surabaya hari ini.

Dua gol tersebut menjelaskan seluruh transformasinya. Dua dol dia cetak dengan cara yang sama-sama sulit.

Menerima kekalahan atas Kudus, fokus menatap laga lanjutan

Surabaya sejatinya sempat memberikan perlawanan. Tertinggal lewat gol yang memantik perdebatan, Agnia beserta rekan-rekannya menolak runtuh. Lewat kesabaran menyusun serangan pendek dari kaki ke kaki, Agnia sukses mencetak gol penyama kedudukan tepat pada detik-detik terakhir sebelum babak pertama usai (menit ke-20). 

Skor 1-1 menutup paruh pertama.

Sayangnya, kebangkitan Surabaya berumur pendek. Babak kedua baru berputar hitungan detik (menit ke-21), Kudus mencuri gol kedua lewat sontekan Rara Z Fatin.

Pelatih Surabaya, Saidong, mengakui bahwa gol kilat Rara menghancurkan ekuilibrium taktik timnya. Skema operan pendek yang diracik di kamar ganti langsung menguap. 

“Secara psikologis, sejak gol itu jelas anak-anak terkena beban,” jelasnya, dalam sesi jumpa pers.

Para pemain Surabaya, ia akui, diliputi kepanikan dan bermain terburu-buru. Mereka mulai melancarkan umpan panjang spekulatif ke depan yang dengan mudah dipatahkan bek Kudus, hingga skor 2-1 bertahan sampai akhir laga.

Seusai pertandingan, Agnia menyeka kelopak matanya yang basah. Ia memang kecewa terhadap keputusan pengadil lapangan, tetapi sikap lapang dadanya menerima kekalahan dan tekadnya menyapu bersih tempat ketiga layak mendapat penghormatan.

“Kita jelas bakal menatap hari besok, di perebutan ketiga melawan Jogja,” pungkas Saidong.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Redemsi Yogyakarta All Stars, Menolak Pulang Lebih Awal atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version