Pernahkah kamu membayangkan berada di posisi ini: mendapat tawaran pekerjaan di luar negeri dengan gaji puluhan juta rupiah, fasilitas lengkap, dan karier cemerlang di depan mata.
Apakah kamu akan menerimanya, atau justru memilih pulang ke kampung halaman yang gajinya jauh lebih kecil? Bagi kebanyakan orang, jawabannya mungkin sudah jelas. Namun, tidak bagi Prof. Dr. Tran Thi Thanh Van.
Pada awal tahun 2025, nama Tran Thi Thanh Van ramai diperbincangkan. Ia baru saja dinobatkan sebagai profesor perempuan termuda di Vietnam untuk bidang Fisika. Di balik gelar mentereng tersebut, terselip sebuah kisah pilihan hidup yang berani.
Ia rela meninggalkan tawaran menggiurkan di Prancis dan memilih kembali mengabdi di negaranya sendiri.
Tak pernah membayangkan jadi profesor
Kisah ini bermula dari sebuah desa di Provinsi Binh Dinh. Van tumbuh sebagai gadis desa biasa yang punya rasa ingin tahu besar terhadap dunia di sekitarnya.

Ketertarikannya pada ilmu fisika tidak lahir dari rumus-rumus rumit di papan tulis, tetapi dari fenomena alam sehari-hari yang ia temui.
Misalnya, ia mengaku takjub melihat bagaimana pelangi bisa terbentuk setelah hujan atau bagaimana cahaya bisa membiaskan bayangan di dalam air.

Berangkat dari rasa penasaran itulah, ia mulai menekuni fisika. Menariknya, saat itu Van remaja sama sekali tidak punya ambisi besar untuk menjadi seorang profesor atau ilmuwan kelas dunia.
“Cita-cita saya sangat sederhana. Saya hanya ingin lulus kuliah dan menjadi guru fisika biasa di sekolah menengah,” akunya sebagaimana Mojok kutip dari laman Vietnam.vn, Selasa (10/3/2026).
Tolak gaji besar di Prancis
Namun, jalan hidup membawanya terbang jauh hingga ke Prancis untuk menempuh pendidikan doktor (S3). Begitu masa studinya selesai, sebuah tawaran emas datang menghampiri.
Ia ditawari pekerjaan sebagai peneliti di Prancis dengan bayaran sekitar 2.500 Euro per bulan (sekitar 75 juta Dong atau Rp42 juta). Angka ini tentu sangat besar, apalagi selama masa studi ia hanya hidup dari uang beasiswa sebesar 700 Euro.
Ada satu momen yang sangat membekas di ingatan Van, yakni percakapan terakhirnya dengan sang dosen pembimbing di Prancis. Dosen tersebut bertanya dengan nada realistis, “Berapa mereka akan membayarmu jika kamu pulang ke Vietnam?”
Mendengar pertanyaan itu, Van terdiam. Ia merasa sedikit malu untuk mengakui fakta yang sebenarnya. Saat itu, gaji di kampusnya di Vietnam bahkan tidak sampai 5 juta Dong sebulan. Agar tidak terdengar terlalu miris, Van akhirnya “membulatkan” angka tersebut saat menjawab.
“Saya mengatakan gaji saya di Vietnam sekitar 6 juta Dong,” ungkapnya.
Sang pembimbing terkejut. Beliau meminta Van memikirkan ulang keputusannya karena selisih antara 2.500 Euro (75 juta Dong) dan 200 Euro (6 juta Dong) sangatlah jomplang, lebih dari 10 kali lipat. Meski begitu, tekad Van sudah bulat. Baginya, selesai menimba ilmu berarti sudah waktunya untuk pulang ke rumah.
Pulang kampung, rela jadi pengajar dengan gaji 10 kali lebih sedikit
Tentu saja, realita pulang kampung tidak selamanya manis. Pada masa-masa awal kembali ke Vietnam, Van harus berhadapan dengan kenyataan hidup yang cukup berat.
Selain gaji yang pas-pasan, kondisi kesehatannya saat itu juga sedang kurang baik. Semuanya terasa menumpuk dan menjadi beban pikiran.
Beruntung, ia berada di lingkungan yang tepat. Guru-guru senior dan rekan sejawatnya di kampus memberikan dukungan penuh hingga ia berhasil melewati masa-masa krisis tersebut.
Selain lingkungan kerja, peran keluarga juga menjadi kunci utama. Suami Van, yang bekerja di bidang berbeda, sangat memahami ritme kerja istrinya.

Sang suami tidak segan untuk mengambil alih urusan rumah tangga dan mengasuh dua anak mereka ketika Van harus lembur, rapat, atau pergi dinas ke luar negeri. Kerjasama inilah yang membuat Van bisa tetap fokus pada penelitiannya tanpa harus mengorbankan kehangatan keluarga.
Seimbangkan peran sebagai pengajar sekaligus ibu
Di kampus, ia adalah seorang profesor fisika yang disegani. Namun, di rumah, ia adalah seorang ibu biasa yang juga menghadapi berbagai tantangan pengasuhan. Suatu hari, anaknya pernah melancarkan protes ringan kepadanya. “Ibu jadi profesor malah bikin aku tertekan. Ibu terlalu ketat!” keluh sang anak.
Rupanya, anak-anaknya hanya ingin Van menjadi sosok ibu pada umumnya, tanpa embel-embel gelar akademis yang seolah menuntut kesempurnaan.

Protes jujur itu justru menjadi teguran positif bagi Van. Ia menyadari bahwa anak-anaknya butuh ruang untuk tumbuh secara alami.
Sejak saat itu, gaya asuhnya menjadi jauh lebih santai. Ia tidak pernah menuntut anak-anaknya untuk selalu mendapat nilai sempurna atau memaksa mereka mengikuti berbagai macam les tambahan.
Bagi Van, menyeimbangkan peran sebagai ilmuwan dan ibu memang butuh seni tersendiri. Rahasianya: berdamai dengan keadaan dan mencari kebahagiaan-kebahagiaan kecil di tengah rutinitas harian untuk melepas penat.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
Sumber: Vietnam.vn
BACA JUGA: Curhatan Alumni LPDP yang Merasa “Downgrade” Ketika Balik ke Indonesia, Susah Cari Kerja Hingga Banting Setir demi Bertahan Hidup atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














