Skripsi menjadi bagian yang benar-benar malas Dori (29), nama samaran, hadapi saat masih menjadi mahasiswa di sebuah PTN di Jawa Timur sejak 2016. Maka copy paste (copas) menjadi cara yang ia ambil demi lulus tepat waktu.
Gairah Dori terhadap kuliah mulai terasa menyusut sejak semester 3. Ada beberapa alasan: merasa tidak bersemangat dengan sistem belajar di kelas yang monoton hingga kesibukan di organisasi mahasiswa ekstra (ormek) yang menyita waktu dan energi.
Sibuk di organisasi mahasiswa ekstra (ormek), jadi beban kelompok saat ada tugas atau copas
Dori merasa punya tempat di organisasi mahasiswa ekstra (ormek). Itulah kenapa ia lebih banyak menyibukkan diri di dalamnya. Walaupun kesibukan itu berupa ngopi-ngopi tidak produktif dari malam hingga Subuh.
“Karena aku lebih percaya, daripada kelas, organisasi mahasiswa (ormek) membuatku punya banyak jejaring. Yang katanya jejaring itu sangat berguna buat nanti setelah lulus,” ungkap Dori, Minggu (12/4/2026).
Kini setelah lulus, Dori akhirnya berpikir, betapa kesalnya teman-teman mahasiswa sekelas kalau kebetulan ada tugas yang satu kelompok dengan Dori. Sebab, sejak semester 3, Dori nyaris tidak peduli dengan tugas-tugas kuliah.
Pokoknya ia benar-benar menjadi beban kelompok. Tidak ikut mengerjakan, tapi ikut presentasi. Tidak ikut susah payah riset, tapi tetap dapat nilai karena namanya dicantumkan. Sementara kalau diajak mengerjakan bareng, ada saja alasannya yang bersangkutan dengan kesibukan di ormek.
“Mereka tahu, kalau aku dikasih bagian mengerjakan, pasti nggak kepegang. Akhirnya mereka garap sendiri. Dan mungkin karena mereka nggak mau ribet urusan dengan aku yang punya teman banyak di organisasi mahasiswa ekstra, namaku tetap dicantumin,” kata Dori.
“Kalau untuk tugas-tugas pribadi, aku mengandalkan copy paste (copas). Tinggal parafrase, beres,” sambungnya.
Tekad lulus PTN tepat waktu tapi malas garap skripsi, nggak ada duit buat joki
Meski separuh dirinya berada di ormek, tapi Dori tetap punya tekad lulus dari PTN Jawa Timur itu tepat waktu. Pasalnya, banyak teman-teman seangkatannya yang sejak semester 5 saja sudah mulai menyiapkan judul skripsi untuk diajukan.
Ia tidak mau ketinggalan. Selain juga karena sudah muak dengan perkuliahan.
Setelah masa pengajuan judul dan di-acc, Dori sempat berupaya untuk mengerjakan skripsi. Sayangnya, kemalasan membuat skripsinya mandek hanya di bab 1. Menulis beberapa paragraf pertama untuk bab 2 beratnya minta ampun. Apalagi, selalu ada distraksi untuk meninggalkan skripsi: ajakan ngopi dari teman-teman ormek.
“Aku males banget mengerjakan skripsi. Tapi nggak mungkin juga kutinggalkan, masa DO? Sementara kalau bayar joki, nggak ada duit lah,” ungkap Dori.
Skripsi modal copas, ternyata bisa lulus tepat waktu dari PTN tanpa hambatan
Maka, sebagaimana kebiasaannya mengerjakan tugas dengan model copas, Dori pun nekat mengerjakan skripsi modal copas. Apa itu mencari sumber di Mendeley? Apa itu pinjam buku di perpustakaan? Bab demi bab ia ambil dari skripsi-skripsi lama mahasiswa jurusannya yang berserak di internet.
“Tentu saja parafrase tipis-tipis,” tutur Dori.
Sebenarnya Dori sempat waswas ketahuan. Bisa kelar kalau sampai itu terjadi. Tapi, sepanjang masa bimbingan, dosen pembimbingnya nyatanya tidak menaruh curiga.
Momen paling deg-degan tentu saja ketika mengecek Turnitin. Apalagi saat pengecekan pertama, tingkat plagiarisme skripsi Dori melebih batas maksimal yang ditetapkan jurusan (20%).
“Tapi ujungnya ya cuma revisi aja. Nggak yang gimana-gimana. Kurevisi tipis-tipis lagi, dan berikutnya lolos sampai sidang dan lulus dari PTN itu,” beber Dori. “Kalau aku jadi mahasiswa di era sekarang, pasti pakai AI.”
Sebenarnya Dori lulus di semester 9. Tidak tepat waktu-tepat waktu amat. Tapi paling tidak, ia tidak harus molor hingga belasan semester seperti yang kemudian terjadi di kalangan teman-temannya di organisasi mahasiswa ekstra (ormek).
Berakhir susah kerja, jejaring organisasi mahasiswa (ormek) nggak berguna
Dori memang lulus dari PTN itu tepat waktu. Ia bisa pamer foto wisuda bareng keluarga lebih cepat dari teman-temannya yang masih sibuk di ormek. Namun, skripsi modal copas tersebut ternyata punya dampak panjang bagi hidup Dori.
Dori kini menyadari, praktik copas tersebut adalah bentuk ketidakjujuran dan kecurangan. Alhasil, imbasnya benar-benar buruk bagi hidupnya.
Pasalnya, sejak lulus kuliah, Dori amat kesulitan mencari pekerjaan. Hidupnya terasa seperti terlunta-lunta. Ijazahnya seperti tidak laku di mana-mana. Sampai sekarang, pekerjaannya pun masih serabutan.
“Ironisnya, jejaring dari ormek juga nggak berguna selain cuma buat info-info ngopi. Bisa diitung jari siapa yang kariernya bagus. Sisanya ada yang akhirnya DO, lulus molor, tapi setelah itu ya nasibnya nggak jauh berbeda denganku: susah nyari kerja,” papar Dori. Sementara yang punya karier bagus pun tidak bisa menolong.
Tak pelak jika akhirnya Dori merenung: jangan-jangan ini semua adalah karma dari menyepelekan kuliah dan lulus dengan skripsi modal copas. Walaupun beberapa teman ormeknya selalu bilang: sarjana kesulitan mencari kerja adalah salah negara karena absen menyediakan lapangan kerja.
“Yawis apa jaremu wae, Cok (Ya sudah terserah apa katamu aja, Cok),” begitu respons Dori.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Kuliah di Jurusan Paling Dicari di PTN, Setelah Lulus bikin Ortu Kecewa karena Kerja Tak Sesuai Harapan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














