Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Edumojok

Sesal Mahasiswa Malaysia Kuliah di UIN demi Murah, Hadapi Banyak Hal Tak Mutu dan Lulusan UIN yang “Mentok Segitu”

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
26 Maret 2026
A A
Mahasiswa Malaysia menyesal kuliah di Universitas Islam Negeri di Indonesia. Lulusan UIN mentok gitu-gitu aja MOJOK.CO

Ilustrasi - Mahasiswa Malaysia menyesal kuliah di Universitas Islam Negeri di Indonesia. Lulusan UIN mentok gitu-gitu aja. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) bagi mahasiswa asal Malaysia, awalnya menjadi tawaran menarik. Namun, pada akhirnya justru menyesal karena merasa tidak dapat apa-apa. Terlebih lulusan UIN ternyata tidak begitu dipertimbangkan di dunia kerja karena dianggap minim keterampilan. 

***

Panggil saja Haliza (27), perempuan asal Malaysia. Ia mengenal Universitas Islam Negeri (UIN) dari brosur digital yang ia dapat dari kakak tingkatnya semasa “SMA” yang sudah lebih dulu kuliah di PTN Islam tersebut. 

Dari si kakak tingkat, Haliza tahu kalau ternyata ada beberapa mahasiswa asal Malaysia yang kuliah di UIN (maksudnya UIN dalam brosur itu). 

“Masa itu memang ingin rasakan kuliah di luar Malaysia. Lalu mencoba kuliah UIN. Terutama karena saya tertarik jurusan Sejarah Kebudayaan Islam. Dan karena informasi biaya kuliah lebih murah,” ujar Haliza, Rabu (25/3/2026). 

Jika di Malaysia biaya persemester bisa menyentuh Rp10 jutaan dalam mata uang rupiah, di UIN bisa mendapat umumnya Rp1 juta-Rp2 jutaan pada tahun-tahun saat Haliza kuliah (2017). 

Toh tidak butuh adaptasi lama juga. Bahasa relatif tidak ada kendala. Sementara soal makanan, kata kakak tingkat Haliza, juga cenderung mudah diterima. Singkat cerita, pada akhirnya Haliza pun kuliah di sebuah Universitas Islam Negeri di Indonesia.

“Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam, dari brosur yang saya baca, kurikulumnya ada juga Filologi. Saya nak belajar karena siapa tahu kelak jadi Filolog. Indonesia kan dikenal kaya dengan naskah-naskah kuno,” ucap Haliza. 

Banyak mahasiswa Indonesia malah pertanyakan keputusan kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN)

Selama menjadi mahasiswa UIN, Haliza tinggal satu kontrakan dengan komunitas mahasiswa asal Malaysia. Meski begitu, ia tidak menutup pertemanan dengan mahasiswa asal Indonesia. 

Tahu kalau Haliza dari Malaysia, ada saja yang beraksi mempertanyakan. Pasalnya, mahasiswa asal Indonesia saja kerap mencari-cari beasiswa untuk kuliah di Malaysia. 

Sebab, temannya itu mengakui, di mata orang Indonesia sendiri UIN adalah universitas yang kerap diremehkan dari banyak hal. Orang-orang yang kuliah di UIN pun tidak sedikit yang hanya sebatas pelarian karena tidak diterima di PTN impian. 

“Saya pun pada dasarnya memang pelarian. Karena saya tidak berhasil ke universitas impian di Malaysia. Tapi kalau lihat di brosur digital kan kualitasnya bagus. Biaya murah terutama. Walaupun sejak pertama kali, teman di komunitas Malaysia sudah memperingatkan jangan pasang ekspektasi tinggi-tinggi,” beber Haliza. 

Kuliah di Universitas Islam Negeri seperti kuliah di gedung mangkrak

Kekagetan pertama mahasiswa asal Malaysia itu saat kuliah di UIN adalah kesan seperti kuliah di gedung mangkrak. 

Katanya, dari bagian depan kampus sebenarnya memang terlihat mewah. Namun, ke bagian belakang, bukan gedung bagus yang ia dapati. Melainkan sebuah gedung yang seperti mangkrak tidak terurus. Tembok retak di mana-mana. Cat mengelupas dan berwarna kusam di sana-sini. 

Iklan

“Jadi seperti kamuflase. Bagian depan tampak elite. Tapi bagian belakang berbeda sama sekali,” kata Haliza.

Lebih-lebih di gedung fakultas Haliza kuliah, banyak ruang kelas yang AC-nya tidak berfungsi. Mengandalkan AC alami berupa jendela yang tetap tidak bisa menangkal panasnya cuaca. 

Bangku-bangku yang tersedia sekadarnya. Beberapa bahkan masih menggunakan kayu yang bagian mejanya ada yang sudah patah. Suasananya benar-benar seperti berada di dunia pasca-apokaliptik.

“Hanya kalau benar-benar beruntung kalau dapat mata kuliah di ruang lebih bagus. Soal toilet pun sama halnya. Jorok sekali. Lebih bagus toilet semasaku sekolah di Malaysia dulu,” ujar lulusan UIN tersebut. 

Haliza sempat menyatakan kekagetannya itu kepada teman-teman sesama dari Malaysia. Teman-teman Haliza justru meresponsnya dengan tawa. Ya memang sejak awal Haliza sudah diperingatkan agar buang jauh-jauh ekspektasi. 

“Lantas kenapa kalian tetap kuliah di sini?” Tanya Haliza.

“Karena kami mengincar murah. Kalau kamu kan awalnya mencari pelarian. Maka seperti ini lah kualitas universiti pelarian,” jawab teman Haliza. 

Perkuliahan di kelas tidak memberi apa-apa

Lebih parah, metode pembelajaran yang Haliza dapatkan—setidaknya di jurusannya—baginya terasa ala kadarnya. Bahkan cenderung tidak niat, baik dari sisi dosen maupun mahasiswa UIN sendiri. 

Dosen jarang masuk banyak. Lebih banyak lagi dosen yang sistem mengajarnya hanya memberi tugas, presentasi, lalu selesai. Semua terasa sangat teoretis dan formalitas belaka. Seperti tidak ada kesan untuk benar-benar mempersiapkan lulusan UIN nantinya bakal bagaimana. 

“Mahasiswa pun sama hal. Hanya mengerjakan tugas sekadarnya. Tidak sungguh-sungguh belajar. Diajak cari referensi di perpustakaan susah sekali,” kata Haliza.

“Masa itu, ada mahasiswa yang suka copy paste dari internet. Presentasi hanya dibaca saja,” sambungnya. 

Suasana perkuliahan benar-benar monoton. Dari semester ke semester tidak berubah. Justru semakin membosankan karena metode yang begitu-begitu saja. 

“Ada pengalaman lucu. Ada mata kuliah yang mengharuskan kuliah lapangan. Misalnya arkeologi. Tapi kami bingung harus buat apa, karena hanya lihat-lihat makam kuno,” ungkap Haliza. 

Dibetah-betahkan meski merasa salah kampus dan hadapi guyonan tidak mutu dari mahasiswa Indonesia

Sejak memasuki semester 3, Haliza sebenarnya sudah merasa tidak betah kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) dengan kualitas pendidikan semacam itu. Namun, saat itu, rasanya sepertinya akan melelahkan jika ia harus mengulang lagi mendaftar kuliah di Malaysia. 

Setelah berbincang dengan teman-temannya sesama mahasiswa Malaysia, sudah kepalang tanggung nyebur kuliah di UIN. Jadi harus dituntaskan. 

Walaupun, selain persoalan fasilitas dan metode di kelas, ada satu hal lagi yang harus kuat-kuatan para mahasiswa Malaysia hadapi: guyonan tidak mutu. Misalnya: 

“Kamu dari Malaysia? Apanya Kampung Durian Runtuh? (kampung dalam serial Upin Ipin).”

“Kamu tetangganya Tok Dalang?.”

“Due…. tige….”

“Ada juga yang berlagak dekat, memanggil saya “Kak Ros” bahkan “Mak Cik”. Saya tersenyum saja. Cara berguraunya aneh,” keluh Haliza. 

Lulusan UIN mentok gitu-gitu aja

Dengan segala dinamika itu, Haliza akhirnya lulus kuliah pada 2022. Ia kemudian kembali ke Malaysia. Karena ingin balas dendam setelah melalui kuliah sekadarnya di UIN, ia pun melanjutkan S2 di sebuah universitas di Malaysia. 

Karena ia sadar betul, label lulusan UIN yang menjalani kuliah seperti Haliza, rasa-rasanya akan susah berkarier di Malaysia. Serba nanggung. Skill tidak bisa ditawarkan, intelektual juga pas-pasan. 

“Faktanya, teman-teman saya mahasiswa Malaysia dulu akhirnya juga banyak ambil S2 di universitas Malaysia. Kalau tidak S2, ada yang meneruskan bisnis keluarga,” kata Haliza. 

“Sedangkan teman saya lulusan UIN di Indonesia, begitu-begitu saja. Tidak beranjak kariernya. Saya masih terhubung dengan beberapa teman. Banyak yang jadi guru (honorer) dengan gaji kecil sangat. Banyak juga yang bekerja informal, sama sekali tidak ada hubungannya dengan jurusan semasa kuliah,” pungkasnya. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Kuliah di UIN Jadi Tahan Penderitaan Hidup: Kumpul Mahasiswa “Modal Iman”, Terbiasa Mbambung dan Lapar atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 26 Maret 2026 oleh

Tags: biaya kuliah malaysiabiaya kuliah uinjurusan uinlulusan UINmahasiswa malaysiaprospek kerja uinuinUKT UINuniversitas malaysia
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Ortu dihina karena miskin. Anak kuliah sebagai mahasiswa jurusan Psikologi UIN buktikan lulusan PTN ecek-ecek malah hidup lebih terhormat MOJOK.CO
Edumojok

Ortu Miskin Dihina Saudara Kaya saat Anak Kuliah di UIN, Dicap PTN Ecek-ecek tapi Lulus Punya Karier Lebih Terhormat

25 Maret 2026
Będą gaya mahasiswa yang kuliah di PTN Universitas Islam Negeri (UIN) dulu dan sekarang MOJOK.CO
Edumojok

Untung Kuliah di UIN Era Dulu meski Ala Kadarnya, Beda Gaya dengan Mahasiswa Sekarang yang Bikin Terintimidasi

5 Maret 2026
Kuliah kampus/PTN Islam Universitas Islam Negeri (UIN) bikin tahan penderitaan hidup gara-gara kumpul mahasiswa modal iman MOJOK.CO
Catatan

Kuliah di UIN Jadi Tahan Penderitaan Hidup: Kumpul Mahasiswa “Modal Iman”, Terbiasa Mbambung dan Lapar

2 Maret 2026
Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) kerap disalahpahami mahasiswa PTN atau PTS umum lain MOJOK.CO
Edumojok

4 Hal yang Sudah Dianggap Keren dan Kalcer di Kalangan Mahasiswa UIN, Tapi Agak “Aneh” bagi Mahasiswa PTN Lain

28 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lontong dan kangkung, kuliner tua Lasem dalam khazanah suluk Sunan Bonang MOJOK.CO

Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan

21 Maret 2026
mudik gratis Lebaran dari Pertamina. MOJOK.CO

Program Mudik Gratis Mengobati Rindu Para Perantau yang Merasa “Kalah” dengan Dompet, Kerja Bagai Kuda tapi Nggak Kaya-kaya

19 Maret 2026
Tirta Aji Mulih Deso: Pemancingan Ikan Predator dengan Sistem Catch and Release (CNR)

Tirta Aji Mulih Deso: Pemancingan Ikan Predator dengan Sistem Catch and Release (CNR)

23 Maret 2026
Mahasiswa Malaysia menyesal kuliah di Universitas Islam Negeri di Indonesia. Lulusan UIN mentok gitu-gitu aja MOJOK.CO

Sesal Mahasiswa Malaysia Kuliah di UIN demi Murah, Hadapi Banyak Hal Tak Mutu dan Lulusan UIN yang “Mentok Segitu”

26 Maret 2026
Duka merantau lama: nelangsa dengan pertanyaan dan permintaan ibu yang sebenarnya sangat sederhana MOJOK.CO

Pertanyaan dan Permintaan Ibu yang Bikin Saya Nelangsa dan Bersalah karena Merantau Lama, Padahal Ia Tak Banyak Menuntut

24 Maret 2026
Memelihara kucing.MOJOK.CO

Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya

20 Maret 2026

Video Terbaru

Tirta Aji Mulih Deso: Pemancingan Ikan Predator dengan Sistem Catch and Release (CNR)

Tirta Aji Mulih Deso: Pemancingan Ikan Predator dengan Sistem Catch and Release (CNR)

23 Maret 2026
Tiyo Ardianto BEM UGM: Transformasi Gerakan Mahasiswa di Tengah Krisis Politik dan Ekonomi

Tiyo Ardianto: BEM UGM dan Transformasi Gerakan Mahasiswa di Tengah Krisis Politik dan Ekonomi

23 Maret 2026
Catatan Tan Malaka tentang Perburuan Aktivis 1926 yang Terlupakan

100 Tahun Naar De Republiek: Catatan Gelap Tan Malaka

20 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.