Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Edumojok

Lulusan Beasiswa Australia Tolak Tawaran Karier Mentereng, Lebih Pilih Jadi Guru Kampung karena Terbayang Masa Lalu

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
10 Maret 2026
A A
Cerita Felix. Kuliah di universitas Australia berkat beasiswa LPDP usai diejek dan ditertawakan. Tolak tawaran kerja dewan demi ajar anak-anak di kampung pedalaman MOJOK.CO

Ilustrasi - Cerita Felix. Kuliah di universitas Australia berkat beasiswa luar negeri LPDP usai diejek dan ditertawakan. Tolak tawaran kerja dewan demi ajar anak-anak di kampung pedalaman. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Siapa nyana, dari mimpi yang ditertawakan kemudian bisa kuliah ke luar negeri (Australia) dengan beasiswa LPDP. Setelah lulus harusnya punya kesempatan karier mentereng di Ibu Kota: sebagai staf anggota dewan. Tapi tawaran itu ditolak demi mengabdikan diri di kampung halamannya di pedalaman. 

***

Ingatan pada kondisi kampung halaman melatar belakangi pilihan Felix Degei untuk pulang, alih-alih mengejar karier di kota besar atau luar negeri. Meski, sebagai alumnus universitas di Australia, ia sebenarnya punya daya tawar lebih. 

Felix lahir di kampung Putaapa, Distrik Mapia Tengah, Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua Tengah. Dulu, semasa ia kecil, ia merasakan bagaimana sekolahnya hanya menyediakan sampai kelas empat SD saja. 

Untuk melanjutkan dua kelas berikutnya (kelas 5 dan 6), tidak ada cara lain selain harus berangkat menuju kampung tetangga: Modio. Jaraknya 26 kilometer dari Putaapa. 

Cerita Felix. Kuliah di universitas Australia berkat beasiswa LPDP usai diejek dan ditertawakan. Tolak tawaran kerja dewan demi ajar anak-anak di kampung pedalaman MOJOK.CO
Cerita Felix. Kuliah di universitas Australia berkat beasiswa luar negeri LPDP usai diejek dan ditertawakan. Tolak tawaran kerja dewan demi ajar anak-anak di kampung pedalaman. (Dok. LPDP)

Untuk menempuhnya, tidak ada transportasi selain kaki dan kondisi fisik sendiri. Karena memang rute perjalanan ke sekolah harus membelah hutan dan sungai saban hari.

“Pulang pergi itu pagi berangkat subuh sudah mulai jalan (kaki). Lalu habis sekolah pulang lagi. Begitu terus selama dua tahun,” tutur laki-laki kelahiran 1988 itu mengenang masa kecilnya, sebagaimana dituturkan dalam kisah-kisah awardee beasiswa kuliah luar negeri LPDP. 

Ditertawakan karena mimpi kuliah di universitas Australia

Mimpi bisa kuliah di universitas Australia sebenarnya sudah terpupuk sejak kecil. Meski kala itu Felix sebenarnya belum punya gambaran juga perihal tersebut. 

Jangan jauh-jauh Australia. Saat SMP saja Felix mengira kalau kuliah paling prestisius adalah sekolah tinggi di Nabire. Jayapura terasa jauh, apalagi luar negeri. 

Namun, sejak mendengar nama “Melbourne, Australia” melalui sebuah radio Tiens milik sang ayah, ada letupan mimpi dalam diri Felix. 

Radio itu menangkap siaran jauh dari Melbourne. Setiap kali penyiar menyebut, “Radio Australia dari Melbourne,”  Felix berbisik dalam hati, “Suatu hari aku akan sampai di sana.” 

Mimpi itu ditertawakan oleh teman-teman Felix. Karena faktanya memang: untuk mencapai kampung ibu kota distrik saja sulit, apalagi sampai ke kota besar seperti Nabire atau malah ke luar negeri.

Akan tetapi Felix tidak ciut hati karena berpegang pada petuah sang ayah yang seorang pensiunan Guru Agama Katolik di SD Negeri Inpres 1 Bumi Mulia Wanggar Nabire. “Kalau mau lihat orang yang beda warna kulit, beda rambut, mau ingin coba makanan yang beda dengan kita, mau ingin mengalami iklim, cuaca yang berbeda, ya harus belajar, teko lah, yang artinya sekolah,” kenang Felix atas petuah-petuah sang ayah. 

Sempat gagal saat kejar beasiswa kuliah luar negeri sebelum kenal LPDP

Lulus dari SMA YPPK Adhi Luhur Nabire, Felix melanjutkan kuliah S1 Bimbingan dan Konseling di Universitas Cenderawasih dan lulus pada 2012. Ia sempat menjadi asisten dosen. 

Iklan

Motivasi dari seorang pastor yang bisa menembus Vatikan membuat tekad Felix untuk kuliah ke universitas di Australia semakin kuat. Maka ia kemudian memulai “perjalanan” mencari-cari beasiswa kuliah luar negeri. 

Pada tahun 2013, Felix mendapat kesempatan kursus bahasa Inggris di Indonesia Australia Language Foundation (IALF) Denpasar Bali. Di sanalah ia mulai mengenal berbagai beasiswa internasional seperti Australia Awards, Fulbright, Chevening, dan ada LPDP.

Saat itu Felix mencoba melamar Australia Awards. Sayangnya gagal. 

Tidak menyerah, Felix mengikuti pelatihan English Language Training Assistance (ELTA) yang didanai Kedutaan Australia. Ia kemudian mencoba mendaftar beasiswa lagi. Namun, kabar baik tidak kunjung datang. Sampai kemudian ia mencoba mendaftar beasiswa LPDP. 

“Jadi sejak saat itu yang sebelumnya hanya menaruh hati ke Australia Award Scholarship (AAS) itu, saya berpikir kalau LPDP juga bagus ini. Karena sebelumnya belum terlalu tahu soal LPDP,” ucap Felix.

“Puji Tuhan, Tuhan buka jalan, dan saya di 2016 itu menjadi salah satu penerima LPDP,” sambung Felix mengenang masa itu.

Pada Januari 2017, Felix pun berangkat ke Australia untuk menempuh Master of Education di The University of Adelaide. 

Survival anak kampung pedalaman saat kuliah di universitas Australia, sisihkan uang beasiswa buat biaya kuliah adik

Setiba di Australia, Felix benar-benar harus survive. Sebelum berangkat, Felix melacak jejaringnya saat di ELTA dan persiapan AAS kala itu. Ia kemudian menemukan seorang guru asal Merauke yang sedang studi di Flinders University. 

“Kakak, ibu kita sama-sama dari pedalaman Papua, saya ada rencana seperti ini, saya ingin lanjut dan kiranya ibu bisa bantu saya untuk setelmennya dulu?” sapa Felix saat menghubungi guru tersebut dari media sosial.

Syukur guru tersebut ringan tangan membantu Felix: menjemput Felix saat pertama kali tiba di Australia hingga menampung Felix di dua minggu pertama sampai mendapat share house tidak jauh dari universitas. 

Cerita Felix. Kuliah di universitas Australia berkat beasiswa LPDP usai diejek dan ditertawakan. Tolak tawaran kerja dewan demi ajar anak-anak di kampung pedalaman MOJOK.CO
Cerita Felix. Kuliah di universitas Australia berkat beasiswa luar negeri LPDP usai diejek dan ditertawakan. Tolak tawaran kerja dewan demi ajar anak-anak di kampung pedalaman. (Dok. LPDP)

“Saya tinggal delapan orang. Saya satu-satunya yang berasal dari Indonesia. Kalau mau survive, mau komunikasi dengan mereka, harus pakai bahasa Inggris,” ujar Felix. 

“Puji Tuhan saya tidak mengalami culture shock yang terlalu berlebihan, karena saya memang datang untuk belajar. Yang saya tidak tahu, saya tanya,” imbuhnya. Dan memang begitulah Felix pada akhirnya: mencoba memanfaatkan setiap kesempatan untuk menambah wawasan dan keterampilan. 

Tidak hanya itu, Felix ternyata juga menyisihkan dana beasiswa kuliah yang ia terima untuk membantu membiayai kuliah S1 kedua adiknya di APMD (Akademi Pembangunan Masyarakat Desa) Yogyakarta dan Universitas Cenderawasih sampai keduanya lulus. 

Tolak tawaran karier di dewan demi mengajar anak-anak kampung pedalaman 

Sebagai lulusan sebuah universitas di Australia, Felix jelas punya daya tawar lebih. Ia bisa menjadi dosen tetap di Universitas Cenderawasih. Ia bahkan sempat diminta membantu staf atau tenaga ahli dari seorang anggota DPD RI di Jakarta. 

Namun tawaran tersebut justru Felix tolak. Ia lebih memikirkan kampung halamannya: Putaapa. Ia memikirkan sekolah-sekolah di pedalaman dengan gedung tanpa guru. Ia memikirkan siswa SMA yang belum lancar membaca dan berhitung. Ia terbayang masa lalunya ketika Bahasa Indonesianya menjadi bahan ejekan saat SMA.

“Kalau saya menghilang, itu tidak baik,” katanya pelan. Oleh karena itu ia memilih kata hatinya untuk pulang ke Nabire, menjadi seorang guru. 

Sejak 2019, rutinitas Felix nyaris tanpa jeda. Pagi hari ia mengajar di SMA Negeri 1 Plus KPG (Kolese Pendidikan Guru) Nabire sebagai guru honorer. Siang hingga sore ia mengajar di Unit Pelaksana Program PGSD milik Universitas Cenderawasih di Nabire. Ia juga mengajar di Universitas Satya Wiyata Mandala (USWIM) dan menjadi tutor Bahasa Inggris di sekolah persiapan Imam Katolik.

Anak-anak SMA  yang Felix ajar mayoritas berasal dari pedalaman baik pesisir maupun pegunungan. Ia mendapati betapa banyak anak-anak SMA belum bisa baca tulis dan perkalian.

“Jadi perkalian 1 sampai 10 itu kita harus tunggu sampai menit, sampai lama keringatan mereka melafalkan membaca dengan lancar. Berbicara dengan baik itu jauh dari yang seharusnya di tingkat SMA,” tuturnya menerangkan kondisi anak-anak di sekolahnya.

Tidak jarang beberapa guru pendatang yang bukan orang Papua kerap terheran: apakah mereka salah masuk kelas? Dan karena itulah merasa perlu mengabdikan dirinya untuk mereka: anak-anak Papua, mengantarkan mereka meraih mimpi yang lebih tinggi. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

Sumber: LPDP

BACA JUGA: Kuliah Teknik Pertambangan UNHAS hingga Dapat Beasiswa LPDP ke Tiongkok, Ubah Nasib Driver Ojol Jadi Supervisor atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 10 Maret 2026 oleh

Tags: beasiswabeasiswa australiabeasiswa lpdpbeasiswa luar negerikuliah di australiaKuliah luar negeriLPDPuniversitas australia
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Rela Melepas Status WNI demi Hidup Sejahtera di Norwegia, Karier Melejit berkat Beasiswa Luar Negeri MOJOK.CO
Edumojok

Rela Melepas Status WNI karena “Technical Stuff” di Norwegia, Karier Melejit berkat Beasiswa Luar Negeri

27 Februari 2026
Penerima beasiswa LPDP serba salah, penerima beasiswa LPDP dalam negeri dan LPDP luar negeri diburu
Edumojok

Penerima LPDP Dalam Negeri Terkena Getah Awardee Luar Negeri yang “Diburu” Seantero Negeri, padahal Tak Ikut Bikin Dosa

25 Februari 2026
KIP Kuliah.MOJOK.CO
Edumojok

Mahasiswa KIP Kuliah Ikut Dihujat Imbas “Oknum” yang Foya-Foya Pakai Duit Beasiswa, Padahal Beneran Hidup Susah hingga Rela Makan Sampah di Kos

25 Februari 2026
lulusan LPDP, susah cari kerja.MOJOK.CO
Edumojok

Curhatan Alumni LPDP yang Merasa “Downgrade” Ketika Balik ke Indonesia, Susah Cari Kerja Hingga Banting Setir demi Bertahan Hidup

23 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Modernitas dan Tradisi Menyatu dalam Perayaan Dua Dekade Plaza Ambarrukmo.MOJOK.CO

Modernitas dan Tradisi Menyatu dalam Perayaan Dua Dekade Plaza Ambarrukmo

6 Maret 2026
Kuliner Sunda yang tidak ada di Jogja, seblak buat perantau ingin mudik Lebaran

Alasan Orang Sunda Ingin Mudik Bukan Hanya Keluarga, tapi Tak Tahan Siksaan Makanan Jogja yang Rasanya “Hambar”

10 Maret 2026
Pemuda Kediri Nekat kerja di luar negeri (Selandia Baru) sebagai Tukang Cukur. MOJOK.CO

Pemuda Kediri Nekat ke Selandia Baru sebagai Tukang Cukur usai Putus Cinta dan Ditolak Ratusan Lamaran Kerja

10 Maret 2026
Bus patas Haryanto rute Jogja - Kudus beri suasana batin muram dan sendu gara-gara lagu-lagu 2000-an yang ingatkan masa lalu MOJOK.CO

Naik Bus Haryanto Jogja – Kudus Campur Aduk, Batin Seketika Muram dan Sendu karena Suasana dalam Bus Sepanjang Jalan

9 Maret 2026
KA bengawan, KA Airlangga, KA Taksaka, Pengalaman 22 Jam Naik Kereta Api Membelah Pulau Jawa MOJOK.CO

User KA Bengawan Merasa Kesepian Saat Beralih ke Kereta Eksekutif KA Taksaka, “Kereta Gaib” Harga Rp74 Ribu Tetap Juara Meski Bikin Badan Pegal

9 Maret 2026
Orang "Gagal" yang Dihina Hidupnya, Buktikan Bisa Lolos CPNS hingga PNS. MOJOK.CO

Dulu Kerap Dihina, Ditolak Kampus Top hingga Nyaris DO dan Beasiswa Dicabut, Kini Buktikan Bisa Lolos Seleksi CPNS

10 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.