Arum (bukan nama sebenarnya) (23) adalah lulusan salah satu PTN terbaik di Indonesia. Ia lulus kuliah dari salah satu program studi di rumpun sosial humaniora (soshum) dan berhasil menyandang gelar cum laude. Dalam bayangannya, Arum seharusnya mendapatkan pekerjaan stabil yang membuatnya merasa sukses menjadi “orang” untuk membanggakan orang tua, tapi kenyataan justru berkata sebaliknya.
***
Kurang lebih satu tahun yang lalu, Arum lulus kuliah dari PTN yang menyandang gelar tiga terbaik di Indonesia. Tidak lama setelah itu, ia langsung mendapatkan tawaran pekerjaan dari salah seorang relasinya.
Tanpa berpikir panjang, Arum menerima tawaran tersebut.
Setelah hampir satu tahun bekerja, perempuan ini mulai menyesali keputusannya. Ia menyadari, mungkin bukan hanya keputusan itu yang membuatnya merasa sesak, tetapi fakta bahwa hidupnya belum terasa membanggakan sebagai lulusan kampus terbaik, serta sebagai anak bagi kedua orang tuanya.
Pekerjaan tak penuhi ekspektasi, meski lulus dari PTN top 3
Berbagai keresahan mulai menggeluti diri Arum. Ia mulai mempertanyakan dirinya sendiri, bahkan pekerjaannya yang tidak membuatnya merasa sebagai wong sukses setelah lulus kuliah.
“Aku sering bertanya, ‘aku nih kerja nggak sih?,” kata Arum kepada Mojok, Minggu (5/4/2026).
Meski memiliki pekerjaan tetap, Arum tidak merasa sepenuhnya terjamin. Ia bekerja dari Senin sampai Jumat, tidak dapat diganggu selama jam kerja mulai dari pukul 09.00 hingga 17.00 WIB, tetapi tidak merasakan perubahan dari kehidupannya.
Soal gaji, Arum bahkan masih menerima kiriman dari orang tuanya. Mulai dari biaya kos per bulan hingga uang saku, masih Arum dapatkan.
Sebagian orang akan mengatakan, gaji Arum utuh untuk dirinya. Padahal kenyataannya, gaji yang diterima Arum tak seberapa dibandingkan seluruh tenaga dan pikiran yang dikerahkannya untuk pekerjaan yang juga tidak terlalu membanggakan untuk dirinya.
Sebuah riset yang dilakukan LPEM FEB UI menyatakan, sekitar 14 juta pekerja di Indonesia masih menerima upah di bawah Upah Minimum Provinsi dan Upah Minimum Kota/Kabupaten (UMK). Sebagian besar dari mereka adalah lulusan sarjana.
Persoalan gaji ini selanjutnya merembet pada permasalahan lain yang lebih besar, yakni rasa gagal Arum setelah lulus kuliah.
“Gajiku nggak nutup apa-apa, tapi ini cuma sebagian kecil,” kata dia.
Merasa menjadi investasi “bodong” bagi orang tua
Bagi Arum, gaji menjadi gambaran kecil permasalahan yang sedang dihadapinya. Entah pekerjaannya yang memang tidak layak untuk dilakukan, atau dirinya yang belum bisa mengelola keuangan dengan benar.
Namun masalahnya, alasan manapun yang mendasarinya sama-sama membuat dirinya merasa belum berhasil sampai dengan lebih dari dua puluh tahun hidupnya.
Orang tua yang sudah membiayainya sedari kecil masih harus menanggung beban kehidupan Arum yang seharusnya sudah bisa berdiri di atas kaki sendiri, sebagaimana orang-orang mengatakan kalau mereka yang sudah lulus dari kuliah sudah seharusnya bisa lepas dari tanggungan orang tua.
Sayangnya, Arum belum bisa.
Arum juga merasa orang tuanya telah berinvestasi bodong kepadanya, kalau mengingat adanya pandangan anak sebagai investasi orang tua.
“Lebih ke, aku ini semua udah difasilitasin, tapi ibarat kalau bikin bisnis nggak balik modal,” kata dia.
“Padahal, aku bukan pemberi modal juga,” kata dia menambahkan.
Perasaan belum berhasil membuat Arum bertanya-tanya kapan waktunya tiba untuknya merasakan kebanggaan, serta menjadi seseorang yang bisa membanggakan bagi kedua orang tuanya.
Sebab, dirinya mengaku telah mencoba keluar dari pekerjaan, serta menemukan kesempatan lain yang lebih baik, tetapi malah belum menemukan tanda-tanda keberhasilan.
“Katanya, orang gagal itu yang berhenti nyoba, tapi mau sampai kapan?” katanya.
Baca halaman selanjutnya…
Muak gagal dan dipandang sebelah mata karena bukan lulusan STEM













