Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Edumojok

Penerima LPDP Dalam Negeri Terkena Getah Awardee Luar Negeri yang “Diburu” Seantero Negeri, padahal Tak Ikut Bikin Dosa

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
25 Februari 2026
A A
Penerima beasiswa LPDP serba salah, penerima beasiswa LPDP dalam negeri dan LPDP luar negeri diburu

Ilustrasi - Penerima beasiswa LPDP serba salah, penerima beasiswa LPDP dalam negeri dan LPDP luar negeri merasa was-was (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Polemik beasiswa LPDP masih berlanjut. Kali ini, para penerima beasiswa yang tidak terlibat langsung dalam perdebatan—bahkan tidak bersinggungan—terkena getahnya, termasuk penerima LPDP dalam negeri. Mereka merasa “diawasi” dan tidak nyaman setelah viralnya berita penerima LPDP luar negeri yang belum kembali ke Tanah Air.

Akibatnya, muncul perasaan harus berhati-hati agar tidak gegabah, padahal tidak berbuat salah.

Beasiswa LPDP dan perdebatan yang tidak ada habisnya

Apabila ditarik mundur untuk mengetahui titik permasalahan LPDP, jawabannya adalah tidak bisa diidentifikasi.

Atau bisa jadi, masih bisa diidentifikasi, tetapi terlalu banyak variabelnya. Kemudian, permasalahan ini akan terjadi secara berulang pada persoalan yang tidak kunjung sempurna untuk lolos dari perdebatan.

Makanya, ketika LPDP kembali ramai diberitakan, Nizar (27) sudah menduga bahwa perdebatan ini akan berbuntut panjang. Alias, tidak ada habisnya.

Nizar bersikap lebih dulu dengan me-”woro-woro” dirinya akan kemungkinan terseret, meski tidak terlibat. Sebab, menurutnya, hak dan kewajiban LPDP adalah hal yang mengikat bagi semua penerima, serta seharusnya sudah dipahami dengan jelas tanpa didebatkan.

Sayangnya, berkaca dari kasus “Cukup Saya WNI, Anak Jangan”, tidak semua menyadarinya.

“Kalau aku sebenarnya sudah tahu dari awal kalau sewaktu-waktu bakal ada kasus seperti ini,” aku Nizar, Rabu (25/2/2026)

“Karena terkait isu yang berkaitan dengan hak dan kewajiban awardee kepada negara memang sudah jelas tertera ya, terutama terkait pengabdian dan kontribusi buat negara,” jelasnya menambahkan.

Penerima beasiswa LPDP dalam negeri di salah satu kampus negeri di Jogja ini, menyayangkan sikap awardee yang justru sebaliknya. Baginya, penyalahgunaan inilah yang menjadi salah satu sumber persoalan awardee dijadikan sorotan. Belum lagi, permasalahan semacam ini mengakar sampai hal-hal terkecil.

Sebagai contohnya, Nizar menyebut ada upaya “mengakali” dana pendidikan oleh penerima kepada pihak LPDP. Contoh kecil ini, kata Nizar, dianggap remeh, tetapi berpengaruh terhadap integritas penerima dan beasiswa itu sendiri.

“Yang aku rasain sebagai awardee, meskipun dalam negeri, di luar konteks pengabdian, ngerasa kalau gerak-gerik kami lebih disorot aja. Apalagi buat yang udah jelas-jelas ngerasa menyalahgunakan dana masing-masing karena banyak juga yang ketahuan memalsukan nota reimburse dana gitu,” jelasnya.

Imbasnya awardee LPDP diburu dan dicap “buruk”

Akibat tindakan tidak bertanggung jawab, sampai hal paling kecil itu, penerima LPDP lainnya terpengaruh.

Khususnya, setelah kejadian penerima beasiswa LPDP yang viral berujung pada tindakan tegas dari pihak LPDP. Hal ini membuat awardee-hunter bermunculan untuk menguliti dan mengawasi tindak-tanduk penerima beasiswa.

Iklan

Salah seorang publik figur, Tasya Kamila, adalah contohnya. Ia menerima LPDP luar negeri untuk S2 di Columbia University, kemudian melaporkan kontribusi dan pengabdiannya setelah lulus di Instagram.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Tasya Kamila (@tasyakamila)

Namun setelah bersikap terbuka pun, Tasya masih dilemparkan kritik dari berbagai pihak.

Hal ini yang sekiranya menjadi bayangan bagaimana Nizar merasa harus was-was di ruang publik, baik online maupun offline. Melihat respons yang diberikan kepada Tasya, penerima LPDP seakan dicap “buruk” terlebih dulu sebelum diberi kesempatan menyanggahnya.

“Nggak ngelak juga, semenjak isu ini ramai di medsos, jadi lebih hati-hati lagi. Terutama, buat ngelakuin hal-hal yang berkaitan dengan penggunaan dana,” katanya.

Laki-laki asal Nusa Tenggara Barat ini mengatakan, harus lebih menahan diri untuk bijak dalam berbagi hal-hal yang sudah biasa dibagikannya. Bahkan, sudah menjadi bagian dari diri “Nizar” sendiri.

Gangguan semacam ini tidak dipungkiri telah masuk ke ruang pribadi Nizar.

“Sekarang semakin merasa diawasi gitu, bahkan sempat mau arsip postingan-postingan tertentu,” ujarnya.

Dibebani moral menjadi “panutan”, padahal tidak bisa disamaratakan

Tidak sampai di situ, Nizar merasa diberikan beban tambahan secara moral. Ia mengaku, merasa harus menampilkan (hanya) sisi positif karena menjadi awardee.

“Mungkin lebih ngeliatin sisi ‘oh iya, aku awardee. Jadi, attitude-nya harus lebih mencerminkan aja gitu’,” katanya.

Namun, di sinilah letak permasalahannya. Menurutnya, kesadaran tersebut dibayarkan dengan beban moral. Ia merasa seakan-akan harus menjadi “panutan” bagi semua orang karena dibiayai beasiswa pendidikan oleh negara.

“Beban moralnya makin kerasa,” kata Nizar.

Pengalaman serupa juga dirasakan Krisna (25). Krisna juga merasa menjadi sorotan seiring dengan isu LPDP ini, buktinya ia merasakan peningkatan dari pengunjung media sosial Instagramnya.

Menurut Krisna, angka insight Instagramnya naik cukup pesat dibandingkan biasanya. 

“Reels aku terakhir lebih tinggi aja insights-nya dari reels sebelumnya,” kata dia. 

Hal ini membuatnya menyadari bahwa sensitivitas masyarakat terhadap awardee LPDP terbilang masih sengit. Namun, ia memahami bahwa perdebatan penerima beasiswa yang dibiayai kuliahnya dengan uang pajak ini adalah bentuk kepedulian terhadap penggunaan uang negara dengan semestinya.

Akan tetapi, Krisna bilang, tidak seharusnya menyamaratakan penerima yang berulah dengan mereka yang tidak melakukan kesalahan. “Karena yang bertingkah tuh kan personal ya, jangan disamaratakan aja,” katanya.

Terlebih, soal perhitungan biaya beasiswa yang dinilai “mewah” oleh sebagian orang. Krisna meyakini, sudah ada perhitungan khusus dari LPDP untuk menjamin biaya pendidikan, meliputi biaya hidup selama pendidikan. 

“Awardee LPDP itu dianggap banyak duit dan sejahtera lho di pandangan kebanyakan orang,” kata Krisna.

Dengan uang saku yang diberikan, ia menilai, tujuannya adalah untuk mengoptimalkan penerima beasiswa dalam berkuliah. Namun persoalan penggunaan, itu dikembalikan kepada penerima sebagai bentuk tanggung jawabnya masing-masing.

“Sebenarnya, negara yang udah hitam di atas putih secara hukum menanggung pendidikan lewat beasiswa untuk rakyatnya. Masa iya, mau menelatarkan dengan biaya yang kurang?” ujarnya.

“Pasti semua itu udah diperhitungkan untuk jadi biaya hidup yang pas untuk bisa bertahan di rantau, tinggal gimana masing-masing individu mengolah dana yang berikan dengan bertanggung jawab dan dipergunakan untuk menunjang pendidikan,” tutup Krisna.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Derita Orang Biasa yang Ingin Daftar LPDP: Dipukul Mundur karena Program Salah Sasaran, padahal Sudah Susah Berjuang dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 25 Februari 2026 oleh

Tags: awardee lpdpbeasiwa LPDPcara mendaftar lpdpkewajiban awardee lpdpkewajiban lpdpkontribusi lpdpkuliah s2lolos LPDPLPDPlpdp dalam negerilpdp luar negeripenerima lpdpuang lpdp
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

lulusan LPDP, susah cari kerja.MOJOK.CO
Edumojok

Curhatan Alumni LPDP yang Merasa “Downgrade” Ketika Balik ke Indonesia, Susah Cari Kerja Hingga Banting Setir demi Bertahan Hidup

23 Februari 2026
Penerima beasiswa LPDP prasejahtera asal Ngawi lolos S2 di UGM Jogja (Mojok.co/Ega Fansuri)
Edumojok

Pernah Hidup dari Belas Kasih Tetangga, Anak Muda Asal Ngawi Lolos Beasiswa S2 LPDP UGM padahal Merasa “Tidak Pantas”

23 Februari 2026
Mekanisme beasiswa LPDP untuk kuliah di luar negeri masih silang sengkarut, awardee cemas jadi "WNI" MOJOK.CO
Tajuk

Mekanisme dalam Beasiswa LPDP (Masih) Silang Sengkarut: Awardee Cemas Jadi WNI, Negara Punya PR yang Harus Diberesi

23 Februari 2026
Beasiswa LPDP selamatkan hidup seorang difabel yang kuliah S2 di Amerika Serikat (AS). MOJOK.CO
Edumojok

Bangkit usai “Kehilangan” Kaki dan Nyaris Gagal Jadi Sarjana, Akhirnya Lolos LPDP ke AS agar Jadi Ahli IT Pustakawan di Indonesia

22 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

3 Dosa Indomaret yang Bikin Kecewa karena Terpaksa (Unsplash)

3 Dosa Indomaret yang Membuat Pembeli Kecewa tapi Bisa Memakluminya karena Keadaan lalu Memaafkan

21 Februari 2026
THR belum cair, tapi sudah ludes dalam hitungan di kalkulator. Mudik lebaran memang tidak menyenangkan MOJOK.CO

THR Belum Cair tapi Sudah Jelas Ludes buat Dibagi-bagi, Yang Pasti Tak Ada Bagian untuk Diri Sendiri

23 Februari 2026
PGPAUD, Guru PAUD.MOJOK.CO

Nekat Kuliah di Jurusan PGPAUD UNY demi Wujudkan Mimpi Ibu, Setelah Lulus Harus ‘Kubur Mimpi’ karena Prospek Kerja Suram

19 Februari 2026
Masjid Menara Kudus yang dibangun Sunan Kudus. MOJOK.CO

Menapaki Minaret Pertama di Indonesia untuk Mendalami Pesan Tersirat Sunan Kudus

19 Februari 2026
KA Airlangga, KA Taksaka, Pengalaman 22 Jam Naik Kereta Api Membelah Pulau Jawa MOJOK.CO

Pengalaman Nekat 24 Jam Naik Kereta Api Jogja-Jakarta, Cuma Habis Rp80 Ribuan tapi Berujung Meriang dan Dihina “Miskin”

19 Februari 2026
Omong kosong menua dengan bahagia di desa: menjadi orang tua di desa harus memikul beban berlipat dan bertubi-tubi tanpa henti MOJOK.CO

Omong Kosong Menua Tenang di Desa: Menjadi Ortu di Desa Tak Cuma Dituntut Warisan, Harus Pikul Beban Berlipat dan Bertubi-tubi Tanpa Henti

21 Februari 2026

Video Terbaru

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026
Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

19 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.