Pengumuman lolos SNBP seharusnya menjadi hari yang paling membahagiakan bagi keluarga Hafid (begitu namanya ingin ditulis). Namun, sebagai anak pertama sekaligus tulang punggung keluarga, pengumuman malah menimbulkan dilema. Di satu sisi, ia senang adiknya berhasil kuliah. Namun, di sisi lain ia juga harus berpikir keras untuk membayar biaya kuliah PTN yang sangat tinggi.
***
Sore itu, tahun 2024, saat pria 24 tahun tersebut sedang menjaga toko elektronik di kawasan Godean, Sleman, ponselnya berdering. Adiknya menelepon sambil menangis bahagia karena akhirnya lolos SNBP.
Sang adik diterima di salah satu perguruan tinggi negeri (PTN) favorit di Malang, Jawa Timur. Di ujung telepon sana, terdengar juga suara ibunya yang ikut bersyukur.
Hafid bercerita bahwa ia hanya bisa tersenyum. Ia kemudian mengucapkan selamat dan menyuruh adiknya merayakan kabar baik itu.
“Tapi begitu telepon aku tutup, yang ada justru rasa panik. Rasanya ada sedih-sedihnya gitu, meski aku nggak bisa ngomong ke mereka,” kata Hafid, Minggu (1/3/2026).
Bagi Hafid, menanggung biaya kuliah PTN bukanlah perkara gampang. Ia sendiri pernah terpaksa mengubur mimpinya dalam-dalam demi keluarga.
Kakak tertua, mengorbankan diri tak kuliah demi keluarga
Cerita pahit lolos SNBP ini bermula pada 2021 lalu. Saat itu, Hafid baru saja lulus SMA dan sedang semangat-semangatnya ingin mendaftar kuliah. Namun, musibah datang. Ayahnya meninggal dunia karena gelombang Covid-19. Keadaan ekonomi keluarga langsung berantakan.
Sebagai anak pertama dari dua bersaudara, Hafid sadar diri. Ia memilih menunda kuliah atau gap year. Sepanjang tahun 2021, ia bekerja menjadi tenaga kebersihan di kantor kelurahan dekat rumahnya.
“Tapi gajinya saat itu hanya seadanya. ‘Seikhlasnya’ meski aku nerimanya aja nggak ikhlas,” ujarnya.
Masuk tahun 2022, kondisi keuangan keluarganya tidak juga membaik. Uang pensiunan almarhum ayahnya hanya pas-pasan untuk makan ibunya sehari-hari. Sadar bahwa biaya kuliah PTN itu sangat besar, Hafid akhirnya membuat keputusan berat. Ia batal kuliah secara permanen dan memilih ikut sepupunya merantau ke Yogyakarta.
Sejak saat itu, ia bekerja di sebuah toko elektronik di Godean dan resmi menjadi tulang punggung keluarga.
Meski gagal kuliah, Hafid tidak mau adiknya bernasib sama. Ia selalu berpesan agar adiknya rajin belajar supaya bisa lolos SNBP dan masuk perguruan tinggi.
“Tapi kalau bisa harus pakai beasiswa,” kata Hafid mengingat pesannya kala itu.
Ia tahu betul, meski nanti adiknya lolos SNBP, kalau statusnya harus bayar penuh tanpa bantuan dari pemerintah, keluarganya tidak akan sanggup bayar.
Adik lolos SNBP, tak sepenuhnya bahagia karena biaya mahal
Harapan Hafid ternyata hanya terkabul, tapi cuma “setengah”. Adiknya memang pintar dan lolos SNBP, tapi gagal mendapat beasiswa.
Alasan penolakannya pun terasa menyesakkan. Karena almarhum ayahnya dulu adalah seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS), adiknya dianggap berasal dari keluarga mampu secara sistem. Alhasil, ia tidak berhak mendapat bantuan KIP-Kuliah.
Padahal, kenyataannya jauh dari kata mampu. Uang pensiunan janda yang diterima ibunya setiap bulan jumlahnya sangat kecil. Uang itu murni hanya cukup untuk kebutuhan dasar keluarga di desa.
Alhasil, Hafid kini harus memutar otak menghadapi tagihan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang menjadi bagian utama biaya kuliah PTN adiknya. Besarannya lebih dari Rp4 juta lebih per semester.
“Bagi orang berduit, uang segitu mungkin tidak seberapa. Tapi bagiku yang gajinya pas-pasan, ya itu mengerikan.”
Pikirannya terus berhitung. Gaji bekerja berkisar di angka Rp2,7 juta. Biarpun sudah lolos SNBP, kalau adiknya jadi berangkat ke Malang, biaya yang dikeluarkan bukan cuma untuk bayar UKT. Ada biaya sewa kos yang rata-rata termurah sudah menyentuh angka Rp 700 ribu sampai satu juta rupiah per bulan. Belum lagi uang makan, transportasi, dan kebutuhan tugas kuliah yang setidaknya butuh Rp1 hingga Rp1,5 juta sebulan.
“Kalau ditotal kasar, pengeluaran adikku di Malang bisa mencapai dua juta lebih per bulan,” ujarnya.
Adik lolos SNBP di Malang, malah overthinking pergaulan bebas
Beban Hafid nyatanya bukan cuma soal memikirkan biaya kuliah PTN. Sebagai kakak laki-laki yang kini menggantikan peran ayah, ia juga punya beban batin melepas adik perempuannya merantau jauh ke Malang.
Selama hampir tiga tahun tinggal di Jogja, mata Hafid terbuka lebar melihat bagaimana pergaulan mahasiswa di kota besar. Ia melihat sendiri gaya hidup anak muda yang bebas, kebiasaan nongkrong sampai malam, hingga tuntutan gengsi pergaulan kampus.
Ia khawatir, hal yang sama bisa terjadi di Malang, yang juga dikenal sebagai kota rujukan ribuan mahasiswa dari seluruh Indonesia. Di matanya, pergaulan mahasiswa di kota-kota besar itu rawan membuat anak rantau salah arah.
“Takut pergaulan bebas,” ujarnya.
Jarak Jogja dan Malang cukup jauh. Hafid sadar ia tidak akan bisa mengawasi adiknya setiap saat. Ketakutan bahwa adiknya akan salah pergaulan, terpengaruh gaya hidup boros, atau tidak fokus belajar, terus menghantuinya. Ia takut keringatnya mencari uang akhirnya sia-sia.
Pura-pura bahagia di depan keluarga memang melelahkan, tapi ia merasa tidak punya pilihan lain. Ia tidak mungkin tega menyuruh adiknya mundur setelah berhasil lolos SNBP dan melepaskan kursi kampus negeri yang sudah susah payah didapatkan. Itu sama saja menghancurkan impian adiknya.
Pada akhirnya, Hafid menelan rasa takut dan pusingnya sendirian. Ia sadar, mulai hari ini, ia harus bekerja jauh lebih keras dan memutar otak mencari uang tambahan.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














