Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Edumojok

Mahasiswa KIP Kuliah Ikut Dihujat Imbas “Oknum” yang Foya-Foya Pakai Duit Beasiswa, Padahal Beneran Hidup Susah hingga Rela Makan Sampah di Kos

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
25 Februari 2026
A A
KIP Kuliah.MOJOK.CO

Ilustrasi - KIP Kuliah (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ketika penerima beasiswa KIP Kuliah yang salah sasaran asyik foya-foya beli iPhone hingga dugem, mahasiswa yang benar-benar miskin juga kena imbasnya. Mereka ikutan dihujat. Padahal, ada yang sampai rela makan sampah demi bertahan hidup di perantauan.

***

Belakangan ini, media sosial sedang ramai-ramainya membahas beasiswa LPDP. Pemicunya, banyak netizen yang kesal melihat kelakuan oknum penerima beasiswa yang melanggar aturan pengabdian 2n+1. 

Mereka dibiayai negara memakai uang pajak rakyat, tapi setelah lulus malah enggan pulang dan memilih menetap di luar negeri. Amarah publik pun meledak.

Namun, keramaian ini ternyata merembet liar ke mana-mana. Ibarat bola salju, perdebatannya bergeser. Kalau kamu belakangan ini sering membuka grup Facebook antarmahasiswa, seperti Info KIP Kuliah dan Keluh Kesah Ngampus (KKN), obrolannya sekarang pindah haluan menyasar penerima Kartu Indonesia Pintar Kuliah atau KIP Kuliah. 

Topiknya masih sama: beasiswa yang dianggap tidak tepat sasaran. Bedanya, kali ini yang digeruduk adalah mahasiswa S1. Hujatan dan nyinyiran berseliweran sana-sini, memukul rata seolah-olah semua penerima KIP Kuliah adalah parasit, aji mumpung uang negara.

Kelakuan penerima KIP Kuliah yang salah sasaran memang bikin darah tinggi

Harus diakui, narasi bahwa KIP Kuliah sering salah sasaran itu muncul bukan tanpa alasan. Stigma ini keburu melekat kuat di kepala masyarakat gara-gara kelakuan segelintir oknum yang memang bikin gedek. Kenyataannya, memang ada mahasiswa yang secara ekonomi sebenarnya mampu, tapi nekat dan sukses lolos menjadi penerima bantuan pemerintah ini.

Parahnya lagi, uang beasiswa yang seharusnya dipakai untuk beli kebutuhan kuliah atau membayar kos, malah dipakai untuk menunjang gaya hidup. Misalnya, seringkali kita dengar atau lihat sendiri di lingkungan kampus, ada mahasiswa KIP Kuliah yang enteng saja gonta-ganti ponsel dan pamer iPhone keluaran terbaru. 

Bahkan, ada juga yang uang beasiswanya rutin dipakai buat jalan-jalan ke luar kota. Bahkan, yang paling parah dan kerap jadi sasaran amuk netizen, ada oknum yang tanpa rasa bersalah memakai uang beasiswa untuk dugem.

Ulah oknum-oknum bermental parasit inilah yang akhirnya memancing kemarahan publik. Masalahnya, netizen di media sosial seringkali malas memilah. Mereka langsung menyamaratakan semua penerima KIP Kuliah. 

Imbasnya sangat menyakitkan: mahasiswa penerima KIP Kuliah yang benar-benar berasal dari keluarga prasejahtera dan hidupnya susah, malah ikut kena getahnya. Mereka ikut dihujat, dicurigai, dan dipandang sinis.

Benar-benar miskin, sampai rela freelance buat makan

Padahal, di luar sana ada banyak sekali penerima KIP Kuliah yang hidupnya jauh dari kata foya-foya. Salah satunya adalah Anggraini (21), seorang mahasiswi di sebuah PTN Jogja. Buat Anggraini, uang KIP Kuliah itu murni untuk menyambung napas supaya ia tidak putus kuliah tengah jalan.

Kondisi ekonomi keluarga Anggraini benar-benar sulit. Ayahnya hanyalah seorang buruh bangunan lepas yang tidak setiap hari mendapat panggilan kerja. Kalau tidak ada proyek, ya otomatis tidak ada pemasukan. 

Sementara itu, ibunya berjualan di pasar tradisional. Keuntungan dari hasil jualan ibunya ini sering kali cuma pas-pasan untuk makan keluarga hari itu saja. Tidak ada sisa uang untuk ditabung, apalagi untuk membiayai kuliah anak di kota orang.

Iklan

“Tanpa KIP Kuliah, saya nggak bisa kuliah. Penghasilan bapak sama ibu sebulan kalau digabung paling nggak menyentuh 3 juta. Itu cuma cukup untuk kebutuhan keluarga di kampung,” ungkap Anggraini, membagikan kisahnya kepada Mojok, Selasa (24/2/2026) malam.

Bagi Anggraini, nominal KIP Kuliah yang cair tiap semester itu tidak pernah meninggalkan sisa untuk bersenang-senang. Begitu uang masuk ke rekening, uang itu ibarat cuma numpang lewat. Langsung ditarik habis untuk membayar sewa kos dan menutupi kebutuhan wajib kuliah lainnya. 

Sisanya sangat tipis. Bahkan untuk urusan makan sehari-hari dan mengisi bensin motor, Anggraini harus memutar otak dan hidup sangat prihatin. 

“Boro-boro kepikiran beli iPhone, bisa makan nasi pakai sayur dan telur setiap hari saja sudah sangat saya syukuri,” ujarnya.

Demi bisa bertahan hidup dan memastikan perutnya tidak keroncongan, Anggraini tidak bisa cuma pasrah mengandalkan uang beasiswa yang mepet itu. Ia terpaksa mengorbankan waktu istirahat dan belajarnya untuk bekerja freelance.

Setiap tiga hari dalam seminggu, ia menempuh perjalanan dari kosnya ke kawasan Bantul. Di sana, ia mengajar les privat untuk anak-anak SD. Tahu berapa upahnya? Cuma Rp200 ribu per minggu.  Uang Rp200 ribu inilah yang ia atur sedemikian rupa supaya cukup untuk biaya makannya selama tujuh hari penuh. 

Sistem KIP Kuliah bermasalah, bikin rawan salah sasaran

Melihat fenomena ini, kita mungkin bertanya-tanya: kenapa masalah beasiswa salah sasaran ini terus berulang dari tahun ke tahun? Kenapa oknum “kaya” bisa lolos, sementara yang benar-benar butuh malah sering kesulitan?

Berdasarkan realita di lapangan, akar masalahnya kerap kali bermuara pada sistem verifikasi yang masih banyak celahnya. Sistem seleksi administrasi seringkali cuma mengandalkan dokumen di atas kertas. 

Salah satu syarat utamanya adalah melampirkan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Masalahnya, di tingkat desa atau kelurahan, SKTM ini kadang masih gampang “diakali” atau dikondisikan oleh keluarga yang sebenarnya mampu secara finansial. Saya sendiri saksinya.

Di sisi lain, pihak kampus juga punya keterbatasan tenaga. Kuota surveyor dari kampus biasanya tidak sebanding dengan jumlah pendaftar. Sangat sulit untuk melakukan home visit atau survei langsung ke rumah setiap calon penerima, apalagi mereka yang tinggal di pelosok daerah lintas provinsi. 

Akibatnya, oknum yang pintar memanipulasi berkas birokrasi ini bisa lolos dengan mudah. Mereka merampas jatah mahasiswa miskin yang mungkin dokumennya tidak rapi karena ketidaktahuan.

Rela makan sampah demi bertahan hidup

Melihat ramainya hujatan netizen yang memukul rata penerima KIP Kuliah belakangan ini, dada saya rasanya ikut sesak. Ingatan saya langsung ditarik mundur ke masa-masa saat saya masih kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) beberapa tahun silam. Saat itu, program bantuan dari pemerintah ini belum bernama KIP Kuliah, melainkan masih bernama Bidikmisi.

Saya memiliki seorang teman seangkatan yang hidupnya sungguh nestapa. Panggil saja Maria. Apesnya, meski penampilannya sangat sederhana, ia juga sering kena nyinyir dan mendapat tatapan curiga dari mahasiswa lain. 

Mungkin karena saat itu isu “Bidikmisi salah sasaran” juga sedang ramai-ramainya, sehingga semua penerima dicurigai. Padahal, teman saya ini benar-benar miskin. Buat gaya? Jelas tidak mungkin. Buat menyambung hidup sehari-hari saja ia sering kehabisan akal, apalagi kalau jadwal pencairan beasiswa dari pusat sedang molor.

Saat uang beasiswa terlambat turun, teman saya ini benar-benar tak punya uang sepeser pun untuk beli makan. Rasa gengsi sudah ia buang jauh-jauh. Kisah Maria pernah saya tulis dalam liputan berjudul “Nestapa Mahasiswa Bidikmisi: Dianggap Foya-foya, Padahal Buat Makan Saja Pernah Mengais Nasi Sisa Seminar”.

Biasanya, kalau ada acara seminar atau kuliah umum di kampus, Maria dan teman-temannya sengaja berkeliaran dan menunggu sampai acara itu benar-benar bubar. Saat panitia dan peserta sudah pulang sehingga selasar gedung mulai sepi, insting bertahan hidup mereka bekerja. 

Mereka mendatangi tempat sampah, membongkar tumpukan kotak nasi box sisa konsumsi acara tersebut. Mereka memunguti nasi dan lauk sisa yang kira-kira belum basi dan masih layak makan, lalu membawanya pulang. 

Di dalam kamar kos yang sempit, nasi sisa dari tempat sampah tersebut mereka telan sambil menahan tangis demi meredam lapar.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Mahasiswa Penerima Beasiswa KIP Kuliah ISI Jogja Dihujat karena Flexing dan Dianggap Glamor, padahal Hidupnya Nelangsa atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 24 Februari 2026 oleh

Tags: Beasiswa KIP Kuliahbeasiswa lpdpbeasiswa tidak tepat sasaranBidikmisi UNYkip kuliahkip kuliah salah sasaranmahasiswa miskinpilihan redaksisyarat KIP Kuliah
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Perempuan Jawa Timur kerja di luar negeri rata-rata menjadi ART dan perawat lansia (Caregiver) di Taiwan karena mudah dan gaji besar MOJOK.CO
Urban

Susah Payah Kerja di Taiwan: Gaji Rp13 Juta tapi Hampir Gila, Keluarga Tak Pernah Peduli Kabar tapi Cuma Peras Uang

24 Februari 2026
Bertahun-tahun Jadi User Motor Matic, Memilih Beralih ke Honda Revo yang Nggak “Good Looking” demi Selamatkan Dompet dan Nyawa MOJOK.CO
Sehari-hari

Bertahun-tahun Jadi User Motor Matic, Memilih Beralih ke Honda Revo yang Nggak “Good Looking” demi Selamatkan Dompet dan Nyawa

24 Februari 2026
lulusan LPDP, susah cari kerja.MOJOK.CO
Edumojok

Curhatan Alumni LPDP yang Merasa “Downgrade” Ketika Balik ke Indonesia, Susah Cari Kerja Hingga Banting Setir demi Bertahan Hidup

23 Februari 2026
Penerima beasiswa LPDP prasejahtera asal Ngawi lolos S2 di UGM Jogja (Mojok.co/Ega Fansuri)
Edumojok

Pernah Hidup dari Belas Kasih Tetangga, Anak Muda Asal Ngawi Lolos Beasiswa S2 LPDP UGM padahal Merasa “Tidak Pantas”

23 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Beasiswa LPDP selamatkan hidup seorang difabel yang kuliah S2 di Amerika Serikat (AS). MOJOK.CO

Bangkit usai “Kehilangan” Kaki dan Nyaris Gagal Jadi Sarjana, Akhirnya Lolos LPDP ke AS agar Jadi Ahli IT Pustakawan di Indonesia

22 Februari 2026
Perempuan Jawa Timur kerja di luar negeri rata-rata menjadi ART dan perawat lansia (Caregiver) di Taiwan karena mudah dan gaji besar MOJOK.CO

Susah Payah Kerja di Taiwan: Gaji Rp13 Juta tapi Hampir Gila, Keluarga Tak Pernah Peduli Kabar tapi Cuma Peras Uang

24 Februari 2026
Kapok dan muak buka bersama (bukber) di restoran atau tempat makan bareng orang kaya. Cerita pelayan iga bakar Jogja jadi korban arogansi MOJOK.CO

Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan

20 Februari 2026
Pemilik kos di Depok, Sleman, Jogja muak dengan tingkah mahasiswa asal Jakarta yang kuliah di PTN/PTS Jogja MOJOK.CO

Pemilik Kos di Jogja Muak dengan Tingkah Mahasiswa Jakarta: Tak Tahu Diri dan Ganggu Banget, Ditegur Malah Serba Salah

20 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026
Salat tarawih 8 rakaat di masjid 23 rakaat. Siasat mengejar sunnah di tengah lelah MOJOK.CO

Tarawih 8 Rakaat di Masjid yang Jemaahnya 23 Rakaat, Ganggu karena Pulang Dulu tapi Jadi Siasat Mengejar Sunnah di Tengah Lelah

19 Februari 2026

Video Terbaru

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026
Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

19 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.