Ketika penerima beasiswa KIP Kuliah yang salah sasaran asyik foya-foya beli iPhone hingga dugem, mahasiswa yang benar-benar miskin juga kena imbasnya. Mereka ikutan dihujat. Padahal, ada yang sampai rela makan sampah demi bertahan hidup di perantauan.
***
Belakangan ini, media sosial sedang ramai-ramainya membahas beasiswa LPDP. Pemicunya, banyak netizen yang kesal melihat kelakuan oknum penerima beasiswa yang melanggar aturan pengabdian 2n+1.
Mereka dibiayai negara memakai uang pajak rakyat, tapi setelah lulus malah enggan pulang dan memilih menetap di luar negeri. Amarah publik pun meledak.
Namun, keramaian ini ternyata merembet liar ke mana-mana. Ibarat bola salju, perdebatannya bergeser. Kalau kamu belakangan ini sering membuka grup Facebook antarmahasiswa, seperti Info KIP Kuliah dan Keluh Kesah Ngampus (KKN), obrolannya sekarang pindah haluan menyasar penerima Kartu Indonesia Pintar Kuliah atau KIP Kuliah.
Topiknya masih sama: beasiswa yang dianggap tidak tepat sasaran. Bedanya, kali ini yang digeruduk adalah mahasiswa S1. Hujatan dan nyinyiran berseliweran sana-sini, memukul rata seolah-olah semua penerima KIP Kuliah adalah parasit, aji mumpung uang negara.
Kelakuan penerima KIP Kuliah yang salah sasaran memang bikin darah tinggi
Harus diakui, narasi bahwa KIP Kuliah sering salah sasaran itu muncul bukan tanpa alasan. Stigma ini keburu melekat kuat di kepala masyarakat gara-gara kelakuan segelintir oknum yang memang bikin gedek. Kenyataannya, memang ada mahasiswa yang secara ekonomi sebenarnya mampu, tapi nekat dan sukses lolos menjadi penerima bantuan pemerintah ini.
Parahnya lagi, uang beasiswa yang seharusnya dipakai untuk beli kebutuhan kuliah atau membayar kos, malah dipakai untuk menunjang gaya hidup. Misalnya, seringkali kita dengar atau lihat sendiri di lingkungan kampus, ada mahasiswa KIP Kuliah yang enteng saja gonta-ganti ponsel dan pamer iPhone keluaran terbaru.
Bahkan, ada juga yang uang beasiswanya rutin dipakai buat jalan-jalan ke luar kota. Bahkan, yang paling parah dan kerap jadi sasaran amuk netizen, ada oknum yang tanpa rasa bersalah memakai uang beasiswa untuk dugem.
Ulah oknum-oknum bermental parasit inilah yang akhirnya memancing kemarahan publik. Masalahnya, netizen di media sosial seringkali malas memilah. Mereka langsung menyamaratakan semua penerima KIP Kuliah.
Imbasnya sangat menyakitkan: mahasiswa penerima KIP Kuliah yang benar-benar berasal dari keluarga prasejahtera dan hidupnya susah, malah ikut kena getahnya. Mereka ikut dihujat, dicurigai, dan dipandang sinis.
Benar-benar miskin, sampai rela freelance buat makan
Padahal, di luar sana ada banyak sekali penerima KIP Kuliah yang hidupnya jauh dari kata foya-foya. Salah satunya adalah Anggraini (21), seorang mahasiswi di sebuah PTN Jogja. Buat Anggraini, uang KIP Kuliah itu murni untuk menyambung napas supaya ia tidak putus kuliah tengah jalan.
Kondisi ekonomi keluarga Anggraini benar-benar sulit. Ayahnya hanyalah seorang buruh bangunan lepas yang tidak setiap hari mendapat panggilan kerja. Kalau tidak ada proyek, ya otomatis tidak ada pemasukan.
Sementara itu, ibunya berjualan di pasar tradisional. Keuntungan dari hasil jualan ibunya ini sering kali cuma pas-pasan untuk makan keluarga hari itu saja. Tidak ada sisa uang untuk ditabung, apalagi untuk membiayai kuliah anak di kota orang.
“Tanpa KIP Kuliah, saya nggak bisa kuliah. Penghasilan bapak sama ibu sebulan kalau digabung paling nggak menyentuh 3 juta. Itu cuma cukup untuk kebutuhan keluarga di kampung,” ungkap Anggraini, membagikan kisahnya kepada Mojok, Selasa (24/2/2026) malam.
Bagi Anggraini, nominal KIP Kuliah yang cair tiap semester itu tidak pernah meninggalkan sisa untuk bersenang-senang. Begitu uang masuk ke rekening, uang itu ibarat cuma numpang lewat. Langsung ditarik habis untuk membayar sewa kos dan menutupi kebutuhan wajib kuliah lainnya.
Sisanya sangat tipis. Bahkan untuk urusan makan sehari-hari dan mengisi bensin motor, Anggraini harus memutar otak dan hidup sangat prihatin.
“Boro-boro kepikiran beli iPhone, bisa makan nasi pakai sayur dan telur setiap hari saja sudah sangat saya syukuri,” ujarnya.
Demi bisa bertahan hidup dan memastikan perutnya tidak keroncongan, Anggraini tidak bisa cuma pasrah mengandalkan uang beasiswa yang mepet itu. Ia terpaksa mengorbankan waktu istirahat dan belajarnya untuk bekerja freelance.
Setiap tiga hari dalam seminggu, ia menempuh perjalanan dari kosnya ke kawasan Bantul. Di sana, ia mengajar les privat untuk anak-anak SD. Tahu berapa upahnya? Cuma Rp200 ribu per minggu. Uang Rp200 ribu inilah yang ia atur sedemikian rupa supaya cukup untuk biaya makannya selama tujuh hari penuh.
Sistem KIP Kuliah bermasalah, bikin rawan salah sasaran
Melihat fenomena ini, kita mungkin bertanya-tanya: kenapa masalah beasiswa salah sasaran ini terus berulang dari tahun ke tahun? Kenapa oknum “kaya” bisa lolos, sementara yang benar-benar butuh malah sering kesulitan?
Berdasarkan realita di lapangan, akar masalahnya kerap kali bermuara pada sistem verifikasi yang masih banyak celahnya. Sistem seleksi administrasi seringkali cuma mengandalkan dokumen di atas kertas.
Salah satu syarat utamanya adalah melampirkan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Masalahnya, di tingkat desa atau kelurahan, SKTM ini kadang masih gampang “diakali” atau dikondisikan oleh keluarga yang sebenarnya mampu secara finansial. Saya sendiri saksinya.
Di sisi lain, pihak kampus juga punya keterbatasan tenaga. Kuota surveyor dari kampus biasanya tidak sebanding dengan jumlah pendaftar. Sangat sulit untuk melakukan home visit atau survei langsung ke rumah setiap calon penerima, apalagi mereka yang tinggal di pelosok daerah lintas provinsi.
Akibatnya, oknum yang pintar memanipulasi berkas birokrasi ini bisa lolos dengan mudah. Mereka merampas jatah mahasiswa miskin yang mungkin dokumennya tidak rapi karena ketidaktahuan.
Rela makan sampah demi bertahan hidup
Melihat ramainya hujatan netizen yang memukul rata penerima KIP Kuliah belakangan ini, dada saya rasanya ikut sesak. Ingatan saya langsung ditarik mundur ke masa-masa saat saya masih kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) beberapa tahun silam. Saat itu, program bantuan dari pemerintah ini belum bernama KIP Kuliah, melainkan masih bernama Bidikmisi.
Saya memiliki seorang teman seangkatan yang hidupnya sungguh nestapa. Panggil saja Maria. Apesnya, meski penampilannya sangat sederhana, ia juga sering kena nyinyir dan mendapat tatapan curiga dari mahasiswa lain.
Mungkin karena saat itu isu “Bidikmisi salah sasaran” juga sedang ramai-ramainya, sehingga semua penerima dicurigai. Padahal, teman saya ini benar-benar miskin. Buat gaya? Jelas tidak mungkin. Buat menyambung hidup sehari-hari saja ia sering kehabisan akal, apalagi kalau jadwal pencairan beasiswa dari pusat sedang molor.
Saat uang beasiswa terlambat turun, teman saya ini benar-benar tak punya uang sepeser pun untuk beli makan. Rasa gengsi sudah ia buang jauh-jauh. Kisah Maria pernah saya tulis dalam liputan berjudul “Nestapa Mahasiswa Bidikmisi: Dianggap Foya-foya, Padahal Buat Makan Saja Pernah Mengais Nasi Sisa Seminar”.
Biasanya, kalau ada acara seminar atau kuliah umum di kampus, Maria dan teman-temannya sengaja berkeliaran dan menunggu sampai acara itu benar-benar bubar. Saat panitia dan peserta sudah pulang sehingga selasar gedung mulai sepi, insting bertahan hidup mereka bekerja.
Mereka mendatangi tempat sampah, membongkar tumpukan kotak nasi box sisa konsumsi acara tersebut. Mereka memunguti nasi dan lauk sisa yang kira-kira belum basi dan masih layak makan, lalu membawanya pulang.
Di dalam kamar kos yang sempit, nasi sisa dari tempat sampah tersebut mereka telan sambil menahan tangis demi meredam lapar.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Mahasiswa Penerima Beasiswa KIP Kuliah ISI Jogja Dihujat karena Flexing dan Dianggap Glamor, padahal Hidupnya Nelangsa atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













