Belajar seharusnya menjadi hak setiap orang. Akan tetapi, untuk bisa menimba ilmu kembali setelah lulus dari SMA, Nurul Fajriatussaadah harus menghadapi halang-rintang karena hanya berstatus sebagai anak petani dari pelosok desa. Jadilah, bisa kuliah hingga menjadi lulusan terbaik S2 di UIN Walisongo Semarang terasa seperti mimpi baginya.
Diragukan bisa kuliah karena berasal dari keluarga sederhana
Nurul, nama panggilannya, lahir sebagai anak perempuan pertama di sebuah desa pelosok dengan akses pendidikan terbatas.
Ia tumbuh dalam keluarga sederhana dengan status ekonomi yang tidak tergolong berada. Bisa dikatakan, ekonomi keluarganya terbilang menengah ke bawah. Ayahnya adalah seorang petani dengan penghasilan tidak tetap, sedang sang ibu adalah seorang guru ngaji.
Kondisi keluarganya di desa membuat Nurul menerima keraguan dan cemoohan dari orang-orang di sekelilingnya. Bukan satu dua kali, Nurul disebut tidak mungkin duduk di bangku kuliah.
Saking seringnya, ia dan kedua orang tuanya merasa hal tersebut mustahil.
“Banyak yang meragukan dan mencemooh ketidakmungkinan saya melanjutkan pendidikan,” kata Nurul, seperti dikutip dari laman UIN Walisongo, Senin (30/3/2026).
Namun, hinaan itu tidak lantas membuat Nurul menyerah. Ia berusaha mencari beasiswa yang dapat memfasilitasinya untuk melanjutkan kuliah. Hasilnya, semua tidak sia-sia.
Nurul tidak hanya bisa melanjutkan kuliahnya pada jenjang S1, melainkan juga meneruskannya hingga S2 di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Semarang.
“Namun melalui beasiswa sejak S1 hingga S2, semua keraguan itu berubah menjadi tangisan haru,” kata dia.
Mati-matian bekerja sambil kuliah S2 di UIN
Meski begitu, perjuangan Nurul tidak berhenti sampai dirinya bisa melanjutkan kuliah. Ia masih harus berjuang mati-matian selama berkuliah S2 di Semarang untuk membiayai kebutuhan hidup mandiri tanpa membebani orang tua.
Nurul melakoni dua pekerjaan sekaligus secara part-time dan work from home (WFH).
Kedua pekerjaan tersebut diimbangi dengan jadwal perkuliahannya yang padat sehingga Nurul harus berusaha membaginya sebaik mungkin. Mulai dari pagi sampai sore pada hari kuliah, ia akan pergi ke kampus untuk belajar. Akhir pekannya digunakan untuk pekerjaan freelance, sedang sisa waktunya dimanfaatkan untuk pekerjaan lain dan pengerjaan tugas kuliah.
Dengan kata lain, rutinitas Nurul dipenuhi cara berjuang bertahan hidup selama S2.
“Hari kuliah saya belajar dari pagi sampai sore, lalu lanjut kerja. Akhir pekan saya ambil tugas freelance,” kata dia.
Kendati seakan-akan tidak ada istirahat dalam agendanya, Nurul memastikan dia menyelesaikan semua tugas kuliahnya sebelum tenggat waktu. Sebagai bentuk keseriusan dalam menjalani kuliah S2, Nurul juga menyempatkan belajar di tengah kegiatannya.
“Prinsip saya, semua tugas harus selesai sebelum deadline,” kata Nurul.
“Saya tidak belajar setiap hari, tapi saat belajar, saya pastikan waktunya berkualitas,” katanya menambahkan.
Berhasil menjadi lulusan S2 terbaik berkat doa ayah
Berkat kerja kerasnya, Nurul tidak hanya berhasil lulus dengan gelar magister. Mahasiswi Program Studi S2 Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), ini juga dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik Jenjang Magister pada wisuda periode Februari 2026 di UIN Walisongo Semarang pada Sabtu (7/2/2026) lalu.
Kuliah yang sebelumnya hanya menjadi mimpi Nurul, kini diwujudkan dalam pencapaian yang lebih baik, yakni sebagai wisudawan terbaik.
Padahal, dirinya sempat menganggap kesempatan kuliah sebagai sesuatu yang mustahil. Tidak ada yang menyangka bahwa perempuan dari desa akan mendapatkan beasiswa hingga menjadi lulusan terbaik. Karena itulah, gelar ini seakan-akan menjadi kado terindah bagi kedua orang tuanya di kampung halaman.
Saat mengirimkan foto mengenakan selempang bertuliskan “Wisudawan Terbaik” kepada orang tuanya, sang ayah memberikan reaksi begitu bangga terhadapnya.
Ayah, kata Nurul, adalah sosok yang paling optimistis terhadap kemampuannya sejak awal.
“Benar kan, doa saya dikabulkan,” ujar sang ayah kepada Nurul.
Tak dipungkiri, doa ayah-ibu sebagai kedua orang tuanya mengiringi langkah Nurul dalam menggapai kesuksesan. Karena itu, Nurul tetap rendah hati, gelar tersebut bukanlah penentu masa depan baginya.
Demikian pula Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) nyaris sempurna yang didapatkan Nurul. Nilai 3,92 menjadi dorongan bagi Nurul untuk dapat berkontribusi ke depannya.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Kisah “Mahasiswa Abadi” di UNY Nyaris Kena DO hingga Beasiswa Dicabut, Kini Buktikan Bisa Lolos CPNS usai Wisuda dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














