Menemukan “rumah” yang mendorongnya kuliah di UT
Selang beberapa bulan, Bariah masih melakoni pekerjaannya sebagai ART. Namun kali ini, dia memutuskan untuk merantau ke Depok dengan harapan dapat memperbaiki hidupnya kelak. Perlahan-lahan, mimpi itu mulai terwujud.
Setelah merantau ke Depok, Bariah diterima kerja di sebuah Lembaga Sertifikasi Profesi Teknologi Digital atau LSPTD. Di tempat itulah Bariah merasa menemukan tempat pulang. “Rumah” dengan keluarga kecil yang mau menerimanya.
Bahkan Bariah mengaku bosnya jauh dari kata killer. Justru dia lah yang memberi motivasi Bariah untuk kuliah di UT. UT menjadi satu-satunya pilihan Bariah karena jam kuliahnya yang fleksibel. Dengan begitu, tugas kuliah dan kerjanya dapat dilakukan beriringan.
“Kalau kampus lain kayaknya saya nggak sanggup. Biaya beda, terus harus datang ke kelas. UT itu fleksibel banget,” kata Bariah.
Apalagi, bosnya juga ikut membantu kuliah Bariah dengan memberikan subsidi dan pelatihan komputer khusus, sehingga Bariah tak ketinggalan mengikuti perkuliahan.
“Saya ikut banyak pelatihan dan bos saya juga yang memfasilitasi semuanya,” kata Bariah.
Lebih dari dukungan orang sekitar, bagi Bariah, UT memberi kesempatan luas bagi penyandang disabilitas seperti dirinya. Bahkan bagi mereka yang berada di lapisan sosial paling bawah.
Sebab, UT memiliki nilai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas dan SDG 10 tentang pengurangan ketimpangan, yang menekankan kesetaraan kesempatan bagi semua.
Disabilitas bukan alasan berhenti berkembang
Selama kuliah di UT, Bariah mengaku pola pikirnya berubah. Dia mendapat banyak perspektif baru, termasuk tentang status pekerjaannya saat ini. Dari yang tadinya hanya ART dengan upah Rp600 ribu per bulan, kini Bariah punya potensi diproyeksikan naik jabatan sebagai asesor sertifikasi. Tugasnya merencanakan hingga mengevaluasi uji kompetensi asesi secara objektif.
“Pendidikan juga mengubah pola pikirku untuk pandai meregulasi emosi. Dulu kalau ada masalah, emosi. Sekarang lebih tenang, bisa mikir solusi,” kata Bariah.
Siapa sangka, Bariah akhirnya menyandang gelar Sarjana Manajemen dari Universitas Terbuka pada Minggu (1/2/2026) lalu. Baginya, momen wisuda terasa personal. Bukan hanya soal ijazah, melainkan tentang pembuktian.
“Pengalaman-pengalaman sebelumnya cukup membekas, dan hari ini menjadi pembuktian bagi saya bahwa saya mampu menyelesaikan pendidikan hingga meraih gelar sarjana di UT meskipun dengan berbagai keterbatasan yang ada,” ucap sarjana UT itu.
“Nggak ada kata terlambat buat belajar. Disabilitas bukan alasan berhenti berkembang,” lanjutnya.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Alasan Saya Mengabaikan Pengumuman Lolos di UGM, Lebih Pilih Kuliah di Universitas Terbuka Malang untuk Bertahan Hidup dan artikel Mojok lainnya di rubrik Liputan














