Saya nekat melakukan perjalanan selama 24 jam dalam kereta api Jogja-Jakarta demi nonton konser. Uang yang saya keluarkan sangat hemat: cuma Rp80 ribuan. Meskipun ada risiko lain yang harus saya tanggung: berujung sakit dan dihina miskin.
***
Banyak orang memilih duduk manis di kursi empuk KA Jaka Tingkir atau KA Argo Lawu untuk bepergian dari Jogja ke Jakarta. Durasi perjalanan pun normal, cuma butuh delapan jam. Namun, bagi orang nekat (dan berdompet tipis) seperti saya, tak masalah perjalanan lebih lama dan melelahkan asalkan bisa dapat harga lebih murah.
Uang cuma tersisa 300 ribu, ribet mencari alternatif termurah tiket kereta api Jogja-Jakarta
Satu setengah tahun yang lalu, pada 2024, saya ngebet nonton konser Deafheaven di Jakarta. Nama mereka memang sedang naik daun di kalangan pecinta musik keras (meskipun nggak keras-keras amat).
Masalahnya, saya tidak punya cukup uang ekstra untuk ongkos. Uang saya sudah habis buat beli tiket, booking penginapan, dan uang makan selama di Jakarta. Seingat saya hanya tersisa Rp300 ribu di dompet.
Sialnya, ketika membuka aplikasi KAI Acces, harganya paling murah untuk rute Jogja-Jakarta berkisar di angka Rp300 ribu, untuk satu kali jalan. Kalau saya beli tiket itu, uang saya langsung habis sebelum sampai di Jakarta.
Jujur, saya sempat terpikir untuk naik bus, tapi harganya juga tidak jauh beda, sekitar 200 ribu rupiah. Belum lagi risiko macet dan mabuk perjalanan yang bisa membuat kondisi badan saya tidak segar saat ngonser nanti.
Akhirnya, setelah mencari informasi ke sana kemari, saya menemukan satu cara yang sangat murah. Salah satu akun Twitter (sekarang X), yang ketika kami berkenalan ia bernama asli Ades, memberitahukan caranya.
Kata dia, naik kereta api Jogja-Jakarta secara estafet atau menyambung dari satu stasiun ke stasiun lain, dari satu kereta ke kereta lain. Ades, yang pernah melakukan trik ini, total cuma mengeluarkan biaya Rp82 ribu.
Memang terdengar tidak mungkin. Pertama kali mendengarkan, saya juga meragukan cerita Ades. Sampai akhirnya, saya nekat mencoba dan jadi saksi hidupnya.
Step #1, menggunakan KA Prameks Jogja-Kutoarjo
Perjalanan saya dimulai dari Stasiun Tugu. Namun, saya tidak mencari kereta api Jogja-Jakarta, tetapi mencari KA Prameks.
Kereta ini adalah kereta api lokal tujuan Stasiun Kutoarjo, Purworejo. Harga tiketnya sangat murah, hanya Rp8 ribu. Saya mengambil jadwal paling pagi, yaitu sekitar pukul setengah tujuh.
Perjalanannya pun cukup singkat, hanya sekitar satu jam. Saya sampai di Stasiun Kutoarjo jam 07.45 WIB. Di sini saya tidak langsung berangkat lagi, saya harus menunggu sekitar dua jam di stasiun.
Waktu tunggu ini saya gunakan untuk sarapan di warung sekitar stasiun yang harganya masih sangat terjangkau. Maklum, ketika di Jogja, perut saya benar-benar dalam keadaan kosong.
Step #2, gunakan kereta api rute Kutoarjo-Bandung
“Etape” kedua adalah bagian yang paling lama, dan bagi saya, paling menguras tenaga. Dari Stasiun Kutoarjo, saya naik KA Kutojaya Selatan. Kereta ini melayani rute Kutoarjo sampai Stasiun Kiaracondong di Bandung.
Harga tiketnya, seringat saya, cuma Rp62 ribu. Menurut beberapa informasi, KA Kutojaya Selatan adalah kereta api ekonomi subsidi pemerintah.
Kereta berangkat jam 09.40 WIB. Di dalam kereta, saya harus duduk di kursi ekonomi yang tegak dengan formasi tiga orang di satu sisi dan dua orang di sisi lainnya.
Perjalanan ini memakan waktu sekitar tujuh jam. Saya sampai di Bandung pukul 16.35 WIB. Sepanjang jalan saya hanya mencoba untuk istirahat agar tenaga saya tidak habis, karena perjalanan masih berlanjut.
Step #3 etape terakhir, Bandung-Jakarta
Setelah sampai di Stasiun Kiaracondong, Bandung, saya tinggal menempuh perjalanan terakhir menuju Jakarta (meskipun secara itung-itungan bakal sampai esok hari). Sebelumnya, dari Stasiun Kiaracondong, saya melanjutkan perjalanan ke Purwakarta via KA Commuter Line Bandung Raya. Jadwal pukul sembilan malam dengan budget Rp7 ribu.
Sekitar pukul satu malam, saya sampai di Purwakarta. Di sini, saya cukup “ngepunk” sampai pukul lima pagi, menunggu KA Commuter Line Walahar yang akan membawa saya ke Cikarang. Biaya yang saya keluarkan sekitar Rp4 ribu saja. Hingga akhirnya, saya sampai di Cikarang dan siap-siap rebutan tempat di KRL menuju Jakarta bersama para pekerja. Budget untuk tiket KRL Cikarang-Jakarta sebesar Rp5 ribu.
Jika ditotal semua ongkos tiketnya adalah: Rp86 ribu.
Perjalanan ini memang tidak nyaman jika dibandingkan dengan naik kereta eksekutif. Total waktu yang saya habiskan dari pagi sampai malam hampir mencapai 24 jam karena ada waktu tunggu saat transit. Punggung saya terasa pegal karena duduk di kursi tegak dalam waktu lama. Namun, bagi saya yang memang hampir tak punya opsi lain, cara ini sangat membantu.
Saya bisa menghemat uang sekitar 200 ribu rupiah dibandingkan jika saya naik kereta api Jogja-Jakarta langsung. Uang sisa itu sangat berarti untuk makan saya selama beberapa hari di Jakarta.
Meski demikian, ada harga yang harus saya bayar dalam bentuk lain: kesehatan fisik. Gara-gara nyaris 24 jam terjaga, kondisi fisik saya menjadi rapuh. Sesampainya di Jakarta, saya demam. Untung saja, karena tiba di malam hari, sesampainya di penginapan saya bisa langsung minum obat dan tidur buat mengistirahatkan tubuh.
Besoknya, saya ceritakan pengalaman nekat ini kepada kawan-kawan di Jakarta. Beberapa memberikan “respect”, menganggap saya “punk sejati”. Namun, tak sedikit juga yang dengan nada bercanda menyebut saya “miskin”. Sebab, saya rela mati-matian menghemat biaya perjalanan meski harus mengorbankan kondisi fisik.
Tips agar perjalananmu mulus
Kunci dari trik perjalanan kereta api Jogja-Jakarta seharga Rp80 ribuan ini hanya satu: kalian harus memesan tiket jauh-jauh hari melalui aplikasi karena tiket kereta subsidi seperti Kutojaya Selatan sangat cepat habis. Selain itu, saya sarankan membawa bekal makanan dan minuman sendiri agar tidak perlu membeli makanan di atas kereta yang harganya bisa seharga tiket perjalanan itu sendiri.
Bagi teman-teman yang punya waktu luang dan ingin menghemat biaya perjalanan secara maksimal, cara estafet ini bisa dicoba. Tidak perlu malu terlihat susah, yang penting tujuannya tercapai dan isi dompet tetap aman. Perjalanan ini membuktikan bahwa dengan rencana yang tepat, jarak Jogja-Jakarta bisa ditempuh dengan modal yang sangat minim.
Berikut ini hal-hal penting yang kudu kalian catat:
- Pemesanan Tiket: Jangan go-show! KA Kutojaya Selatan adalah primadona karena murah, jadi tiketnya harus kamu amankan di aplikasi Access by KAI maksimal H-7 atau jauh-jauh hari.
- Stasiun Keberangkatan Prameks: Di Yogyakarta, kamu bisa naik Prameks dari Stasiun Yogyakarta (Tugu). Pastikan datang 30 menit sebelum jadwal keberangkatan jam 06:37 pagi.
- Logistik: Karena ini perjalanan “hemat”, bawalah botol minum yang bisa diisi ulang dan bekal makanan sendiri. Harga makanan di atas kereta jarak jauh (Kutojaya) biasanya berkisar Rp35.000, yang mana hampir separuh harga tiketmu sendiri!
- Powerbank: Pastikan baterai ponsel penuh. Kamu akan menghabiskan banyak waktu untuk menunggu dan navigasi. Di KA Kutojaya Selatan ada colokan listrik, tapi biasanya rebutan atau posisinya di bawah meja kursi 3-2 yang sempit.
- Etape Terakhir (Bandung-Jakarta): Selain KA Commuter Line Garut/Bandung Raya menuju Purwakarta, lalu menyambung Commuter Line Walahar menuju Cikarang/Jakarta, kamu bisa menggunakan KA Cikuray. Durasi perjalanan lebih singkat, tetapi mungkin secara harga lebih mahal.
Catatan penting: trik ini saya lakukan satu setengah tahun lalu, medio 2024, sehingga kurang begitu memahami apakah masih bisa works hari ini. Namun, buat kalian yang penasaran (dan kepepet), trik ini bisa kalian coba.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Kereta Api Ekonomi Memang Nyiksa Punggung dan Dengkul, Tapi Penuh Pelajaran Hidup dan Kehangatan dari Orang-orang Tulus atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














