Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Sedihnya SGPC Bu Wiryo Kalau Presiden Indonesia Datang ke Warungnya, Saksi Suksesnya Alumni UGM

Agung Purwandono oleh Agung Purwandono
18 Februari 2024
A A
Sedihnya SGPC Bu Wiryo Kalau Presiden Indonesia Datang ke Warungnya dan Saksi Suksesnya Alumni UGM MOJOK.CO

Ilustrasi Sedihnya SGPC Bu Wiryo Kalau Presiden Indonesia Datang ke Warungnya dan Saksi Suksesnya Alumni UGM. (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Biasanya kalau presiden datang sebuah warung makan, pengelolanya akan bersuka cita. Namun, Sego Pecel Bu Wiryo atau SGPC Bu Wiryo 1959 justru lain, pengelolannya justru sedih. 

***

Bagi alumni UGM angkatan 1959 hingga 1994, SGPC Bu Wiryo bukan hanya sebagai tempat makan, tapi juga menjadi saksi hidup mereka selama kuliah di kampus biru. Tidak sedikit mahasiswa yang menggantungkan urusan perutnya di warung ini. 

 

Tidak sedikit pula yang melakukan “Dharmaji”, yaitu dhahar siji, ngomong siji atau makan lima, bilangnya satu. Tahun 1959 hingga 1994, SGPC Bu Wiryo masih berada di lingkungan kampus UGM. 

Tahun 1994, Bu Wiryo pindah ke warung SGPC milik anaknya yang berada di pinggir Selokan Mataram, tepatnya Jalan Agro No.10, Kocoran, Caturtunggal, Sleman.

“Jadi saya mendirikan SGPC sendiri di tahun 1988, ibu saat itu masih jualan di dalam kampus UGM. Pas ibu sakit-sakitan di tahun 1994, baru ikut ke warung ini,” kata anak pertama almarhum Bu Wiryo, Kelik Indarto (58) beberapa waktu silam kepada Mojok.

Saya sendiri bukan alumnus UGM, tapi karena kampus saya tak jauh dari kampus ini, maka dulu di awal tahun 2000-an sering lewat di depannya. Begitu juga ketika main ke kos kawan di daerah Klebengan, warung ini hanya bisa saya sawang tanpa berani untuk mampir makan di sana. Harga menunya nggak cocok untuk kantong mahasiswa seperti saya yang awal-awal kuliah hanya bermodal jalan kaki ke kampus.

Baru ketika menjadi wartawan, dan ada jumpa pers di tempat tersebut saya bisa menikmati nasi pecel atau sop daging sapi sambil menyaksikan dan mendengarkan musik keroncong.

SGPC Bu Wiryo yang hidup lagi setelah tinggalkan pasar mahasiswa

Rupanya di pertengahan tahun 1990-an hingga tahun 2000, SGPC Bu Wiryo mengalami masa-masa sulit. Bahkan di tahun 2000 hampir tutup. Efek dari krisis moneter yang berkepanjangan masih warung ini rasakan. 

“Harga menunya sudah nggak nututi kalau pasarnya mahasiswa, dulu ibu kan pasarnya mahasiswa jadi memang harganya murah, nah itu nggak bisa nutup biaya produksi,” kata Kelik Indarto. Apalagi di tahun-tahun itu, banyak bermunculan tempat makan kekinian dengan harga murah. 

Ia urung menutup warungnya setelah ingat pesan almarhum Bu Wiryo yang meninggal di tahun 1995. Pesan itu agar SGPC Bu Wiryo tidak tutup. Sebagai solusi, Kelik Indarto kemudian mengubah konsep SGPC dari warung kelas mahasiswa menjadi warung dengan sasaran keluarga. 

Banyak yang menganggap perubahan konsep tersebut langkah salah karena menjadikan harga di menu SGPC Bu Wiryo jadi mahal. Namun, kalau itu tidak dilakukan risikonya warung tersebut tutup. 

Pada akhirnya perubahan konsep tersebut awalnya membantu SGPC Bu Wiryo terus hidup. Apalagi kemudian warung ini jadi klangenan alumninya yang sukses dalam kariernya. 

Iklan

Peninggalan alumni UGM di SGPC Bu Wiryo, dari SDSB hingga Sup Pegatan

Ikatan batin antara alumni UGM dan karyawan SPGC Bu Wiryo sangat kuat. Salah satunya saat masih jualan di UGM SPGC adalah warung satu-satunya yang ada lingkungan kampus. Kelik menceritakan, dulu ia dan karyawan SPGC kerap membantu mahasiswa yang punya kegiatan, misalnya jadi suporter atau event-event di Gelanggang Mahasiswa UGM. 

Alumni UGM dan keluarganya jadi pelanggan di SGPC Bu Wiryo. (Agung P/Mojok.co)

Salah satu bukti kedekatan SGPC Bu Wiryo dengan mahasiswa UGM terlihat dari menu-menu di warung ini. Sebagian besar merupakan ciptaan mahasiswa UGM pada masa lalu. Menu-menu itu misalnya, SDSB (sup daging sayur bayam), Sup Tanpa Kawat (sup tanpa soun), Sup Bubrah (sup diberi bubu kacang pecel), Sup Tanpa Truk (sup tanpa kol, kobis), Sup Pegatan (sup dan nasi dipisah), Pecel Kramas (pecel dengan telur puyuh lima butir), Pecel Diuwel-uwel (pecel dibungkus).

Selain itu, ibunya sebenarnya tahu ada mahasiswa yang “dharmaji” tapi tetap membiarkan karena mungkin tahu kondisi mahasiswa tersebut juga sedang sulit. Di kemudian hari, Bu Wiryo menerima kiriman wesel dari mahasiswa-mahasiswa “dharmaji” tersebut.

Tidak sedikit juga orang-orang penting baik di instansi swasta atau pemerintahan datang lagi ke SGPC Bu Wiryo untuk membayar utangnya karena dulunya tergolong “dharmaji”. Bedanya orang-orang tersebut tidak minta kembalian.

Kelik Indarto juga tidak perlu lagi banyak berpromosi karena dengan sendirinya alumni UGM membantu promosinya. Bahkan tiap akhir pekan SGPC Bu Wiryo jadi semacam titik kumpul alumni UGM untuk sekadar kangen-kangenan atau membuat acara. 

Sebagian mahasiswa UGM juga jadi langganan. Ini karena mereka diperkenalkan oleh orang tuanya yang dulunya jadi pelanggan warung ini. 

Baca halaman selanjutnya

Cerita Kelik yang sedih kalau presiden dan wapres datang ke warungnya

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 18 Februari 2024 oleh

Tags: alumni UGMmahasiswa ugmnasi pecelSGPC Bu WiryoUGM
Agung Purwandono

Agung Purwandono

Jurnalis di Mojok.co, suka bercocok tanam.

Artikel Terkait

Honda Supra X 125
Sehari-hari

Maunya Motor Matic, tapi Terpaksa Pakai Supra buat Kuliah di Fakultas “Elite” di UGM demi Menyenangkan Ayah

24 Februari 2026
Lulusan S1 UGM bikin skripsi soal perumahan rakyat di Belanda. MOJOK.CO
Edumojok

Skripsi tentang Perumahan Rakyat di Belanda vs Indonesia bikin Saya Lulus dari UGM dengan Predikat Cumlaude

18 Februari 2026
GoCar Instant di RSUP Sardjito Anti Ribet: Jawaban Buat Kamu yang Ingin Cepat, Murah, dan Tetap Aman di Jalan.MOJOK.CO
Urban

GoCar Instant di RSUP Sardjito Anti Ribet: Jawaban Buat Kamu yang Ingin Cepat, Murah, dan Tetap Aman di Jalan

12 Februari 2026
Diancam Pihak Resto karena Telat Antar Makanan Lebih Mudah Diterima daripada Gagal Jadi Sarjana Hukum UGM MOJOK.CO
Edumojok

Perjuangan Ojol sambil Kuliah: Pernah Diancam Pihak Resto karena Telat Antar Makanan, Kini Lulus Jadi Sarjana Hukum UGM

5 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Perbandingan pengguna iPhone vs Android (Infinix dan Samsung)

8 Tahun Pakai iPhone, Ternyata Saya Dibutakan Gengsi padahal Android Lebih Praktis dan Nyaman

25 Februari 2026
Yamaha Grand Filano lebih cocok untuk jarak jauh daripada BeAT. MOJOK.CO

Di Balik Tampang Feminin Yamaha Grand Filano, Ketangkasannya Bikin Saya Kuat PP Surabaya-Sidoarjo Setiap Hari Ketimbang BeAT

26 Februari 2026
Mie ayam surabaya untuk quality time. MOJOK.CO

Makan Mie Ayam, “Quality Time” Orang Surabaya dan Balas Dendam Terbaik untuk Melampiaskan Getirnya Hidup

25 Februari 2026
UMR Jakarta, merantau ke jakarta, kerja di jakarta.MOJOK.CO

Modal Ijazah S1, Nekat Adu Nasib ke Jakarta: Sudah Bikin Syukuran karena Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Pertama Belum Turun

26 Februari 2026
Gagal seleksi CPNS dan tidak tembus beasiswa LPDP untuk kuliah S2 di luar negeri pilih mancing, dicap tidak punya masa depan oleh keluarga MOJOK.CO

Gagal LPDP dan Seleksi CPNS Pilih Nikmati Hidup dengan Mancing, Nemu Rasa Tenang meski Dicap Tak Punya Masa Depan

22 Februari 2026
Minyak Jelantah Warga Jogja Kini Dibeli Pertamina Rp5.500 Per Liter, Cek 10 Titik Tukarnya! MOJOK.CO

Minyak Jelantah Warga Jogja Kini Dibeli Pertamina Rp5.500 Per Liter, Cek 10 Titik Tukarnya!

23 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.