Mie ayam Pak Man Surabaya cocok untuk semua kalangan
Bahkan saat SMA, saya masih menjadi pelanggan setia mie ayam Pak Man di Surabaya. Saya juga kerap bertemu dengan teman satu SMA yang juga suka ngandok di sana. Berliana (26), kakak tingkat saya itu mengaku dulunya juga sering mengajak ayahnya ke sana.
“Aku pernah ajak bapakku ke sini, beliau juga senang banget katanya. Murah, porsi banyak, dan enak. Antrenya pun juga nggak terlalu lama. Emang the best sih ini!” kata Berliana, saat saya hubungi Kamis (19/2/2026).
Sepulang dari kegiatan ekstrakurikuler, Berliana juga sering mengajak teman-temannya ngandok di mie ayam Pak Man Surabaya. Rasanya, kata mereka, tak pernah mengecewakan. Cocok sebagai balas dendam setelah dihajar mata pelajaran matematika, kimia, fisika, dan lanjut latihan Paskibra dalam satu hari.
Saat memasuki fase kuliah, mie ayam Pak Man di Surabaya masih menjadi jujugan kami. Lambat laun saya mengerti, alasan mie ayam Pak Man banyak digandrungi. Selain karena mie ayam adalah comfort food bagi semua kalangan, karakteristik Pak Man sebagai pedagang adalah kuncinya.
Pedagangnya tampak cuek tapi berhati hangat
Pak Man tak banyak bicara. Pernah suatu hari Zahra (25), yang juga pelanggan mie ayam Pak Man di Surabaya, mencoba bergurau dengan beliau. Dia melontarkan banyak pertanyaan, seperti sudah berapa lama dia jualan, kenapa kemarin tidak buka, harganya kok nggak pernah naik? Tapi Pak Man tetap bergeming.
Dilihat dari raut wajahnya, Pak Man bukannya terganggu tapi tampak kebingungan karena banyaknya pertanyaan tersebut. Barangkali dia bingung harus menjawab pertanyaan Zahra yang mana dulu. Alhasil, dia hanya menyunggingkan sedikit senyum.
Saya sendiri jarang melihat Pak Man mengobrol dan hanya fokus memasak. Kadang-kadang dia harus bolak-balik sendiri mengantar pesanan. Ia pun hanya sesekali melontarkan pertanyaan jika pelanggannya tak menyampaikan pesanan secara lengkap.
“Pakai sayur?” ujarnya.
“Pakai sambal?” lanjutnya.
Meski terlihat cuek, Pak Man sebenarnya perhatian. Pernah suatu kali saya kesulitan makan semangkuk mie ayam dengan porsi banyak tersebut, tangan kiri saya yang sering kali gemetar untuk memegang mangkuk jadi tak bisa mencampur mie ayam dengan baik.
Pak Man yang melihat kesulitan itu tiba-tiba membawakan kursi plastik kotak untuk saya pakai sebagai meja. Ia memang tidak menyediakan banyak kursi, karena sudah ada dua kursi panjang dari kayu yang terletak di pinggir dinding sementara tengah jalan sering dilalui oleh pengendara motor.
Alasan mie ayam Pak Man Surabaya dirindukan
Barangkali, memang begitulah karakter Pak Man. Tampak keras dari luar, tapi punya hati yang hangat. Tanpa banyak bicara, racikan bumbu mie ayam bikinannya mampu mengobati jiwa-jiwa yang lelah. Biarlah, masalah itu larut dalam adukan mie ayam yang terasa gurih.
Pada akhirnya, saya sadar mengapa mie ayam Pak Man Surabaya masih menjadi kuliner favorit saya bahkan setelah saya merantau ke Jakarta dan Jogja. Di balik gerobak biru mie ayam milik Pak Man itu lah, perjalanan saya terpotret.
Hari di mana saya stres hanya karena tugas sekolah dan drama kehidupan remaja yang menyenangkan. Selepas itu, saya harus menghadapi fase dewasa yang lebih melelahkan. Namun, di mana pun saya berada dan bagaimana pun kondisinya, mie ayam Pak Man di Surabaya tetap menjadi pilihan saya untuk singgah.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














