Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Niat Ingin Lebih Cepat Naik Travel Malah Bikin Trauma, Sopir Tak Tahu Aturan dan Penumpang Tidak Tahu Diri

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
12 Maret 2026
A A
Mudik Lebaran dengan travel mobil

Ilustrasi - Mudik Lebaran dengan travel mobil (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Dua tahun lalu, perjalanan mudik Lebaran saya hampir mustahil untuk langsung sampai ke kota asal. Akibatnya, harus melanjutkan dengan mobil travel yang berujung membuat trauma. Saya tidak mau naik travel lagi.

***

Setibanya dengan pesawat, saya masih harus beralih moda transportasi untuk mudik Lebaran setidaknya sampai dua tahun lalu. Biasanya, dengan penerbangan yang landas pada pukul 10.00 WIB, waktu keberangkatan mobil travel paling sesuai dan tidak terburu-buru adalah pukul 13.00.

“Sudah mama pesan ya, travel jam 1,” begitu dahulu ibu selalu mengabari.

Kebetulan, untuk travel yang digunakan adalah agen yang beberapa kali sudah pernah digunakan keluarga kami. Namun ketika saya sebut agen travel, bukan berarti kami tahu siapa supir yang akan mengemudi. Inilah permasalahannya.

Supir travel tak tahu aturan

Waktu keberangkatan travel berlaku sama pada rute kepulangan setelah libur Lebaran berakhir. Kira-kira pada Mei 2024 lalu, saya kembali menaiki travel untuk kembali ke Jogja.

“Jam 1 travelnya?”

“Iya, jam 1 aja.”

Jadilah, saya menjadi salah satu dari lima penumpang (tidak terhitung satu supir) yang duduk bersama dalam satu mobil. Tepatnya, saya duduk di kursi tengah dekat jendela—posisi yang biasanya menguntungkan, setidaknya begitu yang saya pikirkan awalnya.

Sebab, saya adalah penumpang pertama yang dijemput.

“Jemput yang lain dulu ya,” kata si sopir mobil.

Lalu, secara perlahan, saya tahu keberuntungan berubah menjadi kesialan. Dimulai dari si sopir travel yang membawa kendaraan roda empat dengan ugal-ugalan. Kecepatannya menunjukkan ambisi menjadi pembalap F1, serta kenekatan sopir dalam menyalip kendaraan besar bukan main. Bukan main membahayakan nyawa penumpang.

Kalau saja ini bukan di jalan antardaerah Kalimantan yang tidak ada polisinya, tidak banyak yang melaporkan juga, nasib sopir ini bisa jadi berakhir seperti sopir JakLingo di Jakarta, yakni diberhentikan atau diganti.

Tidak cukup sampai di situ, sopir yang membuat saya trauma untuk menaiki travel ini mulai membakar rokoknya dan membuka jendela. Tanpa mematikan ac. Cukup kompleks, ada udara alami, air conditioner, dan asap rokok.

Iklan

Sungguh tidak taat terhadap UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Nomor 11 Tahun 2009 yang berbunyi:

“Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi di Jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak Rp750.000,00 (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah).”

Kombo penumpang tidak tahu diri

Kesialan saya tidak habis pada sopir yang tidak tahu aturan. Melainkan, masih dilanjutkan dengan salah satu penumpang yang membuat saya merasa tidak nyaman sepanjang perjalanan.

Ceritanya, memang saya adalah satu-satunya penumpang perempuan. Namun, ini bukan masalah. Tidak ada perbedaan yang harusnya dilayangkan antara penumpang perempuan atau laki-laki.

Terkecuali, ketika salah satu mulai menyalahgunakan kewenangannya.

Salah satunya, dengan duduk selebar mungkin dan mengambil ruang duduk penumpang lain. “Laki-laki emang harus duduk begitu?” saya ingat mengirimkan pesan ini kepada salah seorang kawan.

Siapapun tahu, bukan itu pertanyaannya. Bukan juga mempertanyakan mengenai posisi duduk, tetapi etika berbagi kursi dalam satu mobil yang sama. 

Seakan tidak cukup menyiksa dengan mencoba menahan diri dalam ruang terbatas, si penumpang di samping yang sudah mendapat lebih banyak tempat justru menyandarkan kepala selama hampir setengah perjalanan. Di titik ini, rasa ingin marah-marah tentu memuncak, kalau saja tidak menyadari bahwa kendaraan yang sedang dinaiki adalah travel.

“Travel ya, agak susah disalahkan,” kata salah seorang teman yang bereaksi terhadap cerita saat itu.

Ia lalu menanyakan, “Kurang berapa jam lagi harus menahan itu?”

“Lima jam,” jawab saya. 

Sungguh keberuntungan sedang tidak bersama saya hari itu. Mulai saat itu juga, travel akan menjadi pilihan terakhir (sekalipun hanya ada dua pilihan antara travel mobil atau bus) untuk perjalanan mudik Lebaran di Kalimantan.

Gambling kenyamanan mudik Lebaran dengan travel

Beberapa teman juga pernah mengalami hal serupa dalam perjalanan mereka dengan travel. Lisa (23) salah satunya. Berbanding terbalik dengan saya yang harus menghadapi sopir mobil yang “berulah“, ia justru dihadapkan dengan rasa frustasi dan takut yang bercampur aduk sepanjang perjalanan.

“Pernah tuh aku, travelnya kayak sakit gitu lho,” katanya, Kamis (12/3/2026).

Melihat kondisi sopirnya saat itu, bukannya merasa takut kalau akan terjadi hal yang tidak diinginkan kepada dirinya dan seluruh penumpang. Lisa menjadi ketar-ketir kalau si pengemudi akan mengalami kejadian yang tidak diinginkan.

“Itu deg-degan sepanjang jalan, takut ia kenapa-kenapa,” ujarnya.

“Soalnya sopirnya, kayak orang stroke,” ujar dia menambahkan.

Namun, Lisa hanya bisa pasrah. Sebagaimana penumpang travel umumnya, Lisa bilang, tidak ada yang tahu siapa yang akan mengemudikan kendaraan travel yang ditumpangi. Jadilah, tidak ada banyak hal yang bisa diperbuat.

“Karena random, gak tahu akan siapa orangnya. Kita cuman tahu agen doang, tapi gak tahu siapa yang nyetir,” katanya.

Namun di lain sisi, pengalaman naik travel ini barang tentu tidak bisa disamaratakan—seperti kata Lisa soal pemilihan pengemudi yang random. Sebagai penumpang juga, saya tidak mengatakan menolak untuk menaiki travel selamanya. Contoh travel di Jogja, salah satu yang dinaungi Blue Bird, adalah pilihan yang jarang keliru.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Saya Tidak Peduli Keluar Duit Lebih Banyak demi Tak Mengorbankan Kenyamanan, Pilih Mudik dengan Pesawat daripada Mode Apa Pun atau artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 12 Maret 2026 oleh

Tags: Arus MudikMobil Mudik'motor untuk mudikMudikmudik dengan travelmudik lebarantips memilih mobil traveltraveltravel mobiltravel semarang jogjatravel terbaik
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

Ilustrasi mudik lebaran, perumahan.MOJOK.co
Sehari-hari

Enaknya Lebaran di Perumahan Kota yang Tak Dirasakan Pemudik di Desa, Dianggap Kesepian padahal Lebih Tenang

11 Maret 2026
Mudik Lebaran naik bus murah berujung menyesal. MOJOK.CO
Sehari-hari

Habiskan Waktu 78 Jam di Bus untuk Mudik Berujung Kapok dan Frustrasi: Harus Tahan Bau Badan, BAB, hingga “Ditakuti” Teman Sebangku

11 Maret 2026
Mudik Lebaran dengan pesawat
Urban

Saya Tidak Peduli Keluar Duit Lebih Banyak demi Tak Mengorbankan Kenyamanan, Pilih Mudik dengan Pesawat daripada Mode Apa Pun

11 Maret 2026
Kuliner Sunda yang tidak ada di Jogja, seblak buat perantau ingin mudik Lebaran
Kuliner

Alasan Orang Sunda Ingin Mudik Bukan Hanya Keluarga, tapi Tak Tahan Siksaan Makanan Jogja yang Rasanya “Hambar”

10 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kupat Keteg: kuliner warisan Sunan Giri jadi medium dakwah di Giri Kedaton, Gresik MOJOK.CO

Rasa Sanga (4): Tasawuf Ala Sunan Giri dalam Olahan Kuliner Kupat Keteg yang Dibuat di Tengah Perbukitan Kapur

6 Maret 2026
Hilangnya kumpul keluarga saat Lebaran setelah nenek tiada

Lebaran Jadi Momen Menyedihkan usai Nenek Tiada, Keluarga Sudah Nggak Mau Kumpul apalagi “Sungkeman”

5 Maret 2026
Modernitas dan Tradisi Menyatu dalam Perayaan Dua Dekade Plaza Ambarrukmo.MOJOK.CO

Modernitas dan Tradisi Menyatu dalam Perayaan Dua Dekade Plaza Ambarrukmo

6 Maret 2026
wayang, plaza ambarrukmo.MOJOK.CO

Di Balik Pagelaran Wayang 20 Jam Nonstop: Menaklukkan Angin, Hujan, dan 40 Kepala Manusia di Atap Mal

8 Maret 2026
Kereta api ekonomi (KA) Ambarawa Ekspres menjadi saksi "kegilaan" Bonek di rute Grobogan - Stasiun Pasarturi demi Persebaya Surabaya di Stadion GBT MOJOK.CO

KA Ambarawa Ekspres Andalan Bonek Tempuh “Jalan Kegilaan” di Rute Grobogan – Pasarturi, Demi Ziarah ke Rumah Kedua

6 Maret 2026
Nelangsa pemuda desa saat teman sepantaran yang kerja di perantauan mudik ke desa (pulang kampung): tertekan dan tersisihkan MOJOK.CO

Nelangsa Pemuda Desa saat Teman Pulang dari Perantauan, Tertekan dan Tersisihkan karena Kesan Tertinggal tapi Tak Punya Banyak Pilihan

9 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.