Menjadi orang tua hingga menua di desa tidak lebih seperti kutukan yang sulit diputus. Sebab, orang tua di desa nyatanya tidak hanya berpikir soal membagi warisan ke anak-cucu. Akan tetapi, sepanjang hidupnya harus siap memikul beban yang tidak habis-habis.
***
Belakangan, karena menjadi lebih sering pulang ke desa saya di Rembang, Jawa Tengah, saya akhirnya terlibat obrolan intens dengan sejumlah orang tua.
Sebelumnya, saya sempat menyimak keluhan orang tua yang nelangsa melihat anak-anaknya berebut warisan, padahal orang tuanya masih hidup dan segar bugar.
Sementara baru-baru ini, saya menyimak pengakuan jujur, betapa tidak ada istilah menua dengan bahagia di desa. Sebab, menjadi orang tua, seiring anak dewasa dan umur orang tua bertambah, bebannya ternyata turut bertambah. Bahkan makin berat.
Dari obrolan-obrolan itu, jika dirangkum, kira-kira berikut inilah beban-beban orang tua di desa yang akan dipikul sampai mati, yang tidak kalah berat dari menyiapkan warisan untuk anak-anak:
#1 Penuhi permintaan anak yang tidak tahu diri dan bertubi-tubi
Bagi beberapa orang tua di desa, sial betul menjadi orang tua untuk anak-anak generasi sekarang. Menjadi orang tua bagi anak-anak yang hidup di era modern terasa seperti kutukan.
Pasalnya, kebutuhan anak-anak zaman sekarang tidak hanya berkutat pada makan, jajan, dan sekolah. Tapi juga harus mengikuti perkembangan zaman.
Saat ini, anak bisa dengan mudah minta dibelikan hp atau motor bahkan sejak baru masuk sekolah dasar.
Itu pun tidak akan selesai di situ. Sebab, membeli hp artinya orang tua juga harus menyiapkan uang bulanan untuk membeli paket internet. Membelikan motor artinya harus menyisihkan uang bensin harian hingga pajak tahunan.
Belum urusan maintenance jika hp atau motor perlu diservis. Keluar biaya lagi. Sialnya, permintaan semacam itu—yang mengikuti tren zaman—seperti tidak ada habisnya. Selalu ada saja yang baru.
Yang lebih menyebalkan dan membebani adalah: punya anak tidak tahu diri. Tak bisa mengukur kondisi orang tua. Apapun permintaannya harus dituruti.
Misalnya, orang tua hanya mampu membelikan hp android Rp2 jutaan. Tapi anak memaksa dibelikan iPhone keluaran terbaru. Orang tua hanya bisa membelikan motor matic di harga Rp18 jutaan. Sialnya anak menuntut dibelikan motor besar Rp30 jutaan seperti Aerox, NMax, dan sejenisnya.
Bagaimana mau sediakan warisan, aset ludes untuk kebutuhan
Sering kali orang tua di desa luluh dengan tuntutan sang anak. Bukan karena memanjakan. Tapi lebih karena tak ingin sang anak merasakan apa yang pernah orang tua rasakan di masa mudanya: menahan banyak keinginan karena orang tua tidak mampu membelikan.
Alhasil, yang terjadi adalah, antara orang tua mengajukan pinjaman ke bank atau menjual aset yang dipunya (misalnya beberapa petak sawah).
Karena aset terus menyusut, otomatis jatah buat warisan ke anak pun berkurang. Maka itu bisa memicu masalah lain lagi nantinya: dibenci anak sendiri gara-gara meninggal tanpa memberi warisan.
#2 Tak ada istilah menua bahagia di desa: orang tua tanggung anak dari menikah hingga berumah tangga
Bagaimana mau menua dengan bahagia di desa kalau seumur hidup saja harus menanggung hidup anak-anaknya.
Sebab, di desa, sering kali jika anak hendak menikah memang tinggal bilang ke orang tua. Maka orang tua lah yang akan ubet mencari uang untuk menggelar pesta pernikahan.
Apalagi jika si anak adalah perempuan, yang secara hukum sosial memang tidak diharuskan untuk bekerja. Sehingga orang tua memang harus menanggung penuh biaya pernikahan anaknya tersebut.
Bahkan untuk anak yang sudah bekerja sekalipun, ada model seperti ini: anak bekerja itu sebagai penanda kalau setelah menikah ia bakal bertanggung jawab pada keluarganya. Karena sudah bisa mencari uang sendiri. Sementara untuk urusan menikah, biayanya tetap berasal dari orang tua.
Tapi nyatanya ada kasus orang tua masih harus menanggung anaknya yang sudah menikah itu setelah mereka menikah. Misalnya saat si anak tidak bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka dengan baik.
Belum lagi jika nanti si anak melahirkan. Maka orang tua menjadi orang paling repot. Dari menanggung biaya syukuran (akikah) hingga nanti membantu momong. Ada loh anak yang enggan menceboki dan mencuci pakaian kotor bayinya. Dan orang tua akan dengan ringan tangan membantunya.
#3 Sandwich generation: rawat orang tua, anak, dan cucu sekaligus
Bahkan hingga menjadi orang tua pun ada loh orang tua yang menjadi sandwich generation: punya tanggungan ganda.
Satu sisi mereka harus merawat orang tua mereka sendiri yang masih hidup dan telah renta. Di saat bersamaan juga harus mengurus anak dan cucu, karena kondisi ekonomi si anak yang belum stabil.
Sejujurnya, mereka merasa tidak begitu bahagia menua di desa seperti itu. Mereka hanya mencoba tabah menjalaninya karena menganggapnya dalam koridor dua hal.
Satu, situasi semacam itu merupakan takdir Tuhan yang harus dijalani dengan penuh keikhlasan dan berserah diri. Dua, rasa-rasanya tidak pantas kalau mengeluh dalam menanggung hidup anak, cucu, atau orang tua sendiri. Karena itu merupakan tanggung jawab dan kewajiban.
“Sampai kapan pun, orang tua tetaplah orang tua yang harus dihormati dan gantian dirawat di masa rentanya. Anak tetaplah anak kecil kita meski sudah berumah tangga. Dan cucu, kasih sayang simbah ke cucu biasanya justru jauh lebih besar,” begitu pedoman yang mereka pegang.
#4 Tidak ada menua bahagia di desa: jika tak punya warisan, maka harus siap tersisihkan dari rumah sendiri
Jika orang tua tidak punya tanah atau aset lebih untuk dijadikan sebagai warisan pada anak, maka harus siap-siap tersisihkan dari rumah sendiri.
Sebab, jika rumah menjadi satu-satunya aset yang dimiliki, maka sebagian besarnya harus dibagi untuk dijadikan rumah bagi si anak. Sementara orang tua sering kali harus tersisih ke petak rumah paling kecil dan paling belakang. Pokoknya asal muat buat tidur dan masak.
Itu pun, dari mengundang tukang untuk mengubah denah rumah, juga menggelar selametan atas “renovasi” rumah tersebut (sebagaimana lazimnya berlangsung di desa), orang tua lah yang akan keluar uang lebih banyak.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Saudara Kandung di Desa Itu Bak Mafia, Justru Jadi Orang Paling Busuk dan Licik demi Sikat Sertifikat Tanah Saudara Sendiri atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














