Standard Ganda: Orang Kota Sok Lebih Berkelas, Padahal di Mata Orang Desa Sama Noraknya

orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO

Ilustrasi slow living di desa. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Orang kota kerap mengejek kelakuan orang desa. Padahal, kebiasaan mereka saat datang ke desa justru jauh lebih norak, bahkan nirempati.

***

Saat momen Lebaran lalu, dua belas anak muda dari pelosok desa saya rela memacu sepeda motor lebih dari dua jam hanya demi makan Mie Gacoan. Saat fenomena ini saya ceritakan ke kawan-kawan di kota, kelakuan mereka segera menjadi bulan-bulanan.

Cap “jamet”, “FOMO”, hingga “norak”, diarahkan kepada anak desa ini.

Kisah mereka pernah saya refleksikan dalam tulisan Makan Mie Gacoan adalah Kemewahan bagi Anak Muda Desa, Rela Motoran 2 Jam Demi Makanan yang “Menyiksa” Mulut Mereka”.

Di waktu yang lain, saya jadi teringat kisah tetangga yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta buat merantau. Saat di ibu kota, ia tak pernah berhenti mengagumi kemegahan Tugu Monas dan deretan gedung pencakar langit berbalut kaca di kawasan Sudirman. 

Apa yang dia dapatkan? Sekali lagi, julukan “kampungan” dengan enteng disematkan kepadanya oleh kawan-kawannya yang sudah lebih dulu menetap di ibu kota.

Bagi orang kota, kekaguman orang desa pada gedung tinggi atau mi pedas tadi adalah sebuah lelucon yang pantas ditertawakan. Orang kota merasa berhak duduk di atas takhta peradaban dan menunjuk siapa saja yang tertinggal. 

Namun, kalau kita balik situasinya, sebenarnya orang kota itu sama “noraknya” dengan orang desa yang mereka kata-katai itu.

Orang kota norak, kagum dengan kandang sapi

Saya jadi ingat kejadian beberapa tahun lalu, saat saudara-saudara dari kota datang ke desa untuk liburan mudik. Setibadanya di desa, anak-anak balita mereka, yang terbiasa didandani dengan baju jenama berkelas, mendadak tantrum. 

Ya, mereka menangis histeris meminta diajak ke kandang sapi di belakang rumah saya hanya untuk memberi makan ternak. Bau kotoran yang menyengat sama sekali dihiraukan.

Sesuatu yang absurd, bukan?

Bagi anak-anak kota ini, kandang sapi belakang rumah tadi sudah seperti Taman Safari. Mereka dibikin takjub melihat sesuatu yang, bagi anak desa, adalah rutinitas paling banal, kotor, dan membosankan setiap sore.

Kelakuan orang dewasanya, ternyata jauh lebih parah. Momen paling norak terjadi ketika mereka melihat seorang lansia menggendong kayu bakar dan karung pakan ternak yang berat.

Orang-orang kota ini buru-buru merogoh saku, mengeluarkan ponsel pintar. Dengan mata berbinar, mereka memotret dan merekam si Mbah dari berbagai sudut. 

Katanya, “buat konten”. “Estetik,” imbuh mereka.

Sementara itu, bisa ditebak, si Mbah yang tiba-tiba dijadikan objek tontonan hanya bisa tersenyum canggung. Merasa sangat risih.

Orang desa memandang orang kota norak, tapi memilih tak ngata-ngatain

Melihat fenomena memuakkan ini, saya jadi teringat dengan salah satu cerita dalam buku sosiolog John Urry. Ia menceritakan bagaimana kaum menengah perkotaan di Inggris pada masa lalu, gemar berwisata ke desa-desa miskin atau bekas kawasan tambang kumuh. 

Kaum borjuis itu tidak melihat kemiskinan yang mencekik, apalagi paru-paru buruh yang rusak akibat debu. Mereka justru menganggap pemandangan orang-orang melarat itu sebagai sesuatu yang “autentik”, “indah”, dan “romantis”.

Dari cerita tersebut, Urry mendeskripsikan apa yang disebut The Tourist Gaze. Yakni sebuah kecenderungan orang kota untuk memandang ruang hidup orang lain semata-mata sebagai objek eksotis demi memuaskan kebosanan mereka dari rutinitas urban.

Barangkali, orang kota yang memotret lansia di desa saya mengidap “penyakit” ini. Ada kecenderungan mereka secara sadar meromantisisasi penderitaan. Kekaguman turis kota pada momen tersebut, bisa jadi, menjadi bentuk kebutaan empati yang disamarkan sebagai “apresiasi”.

Namun, bagi saya pribadi, itu adalah norak dalam bentuk lain. Kalau orang desa dianggap norak hanya karena kagum dengan sesuatu yang jarang mereka lihat (gedung tinggi, mie gacoan), orang kota pun sama. Hanya saja, orang-orang desa tak memiliki tenaga buat ngata-ngatain.

Standard ganda memang sejahat itu

Pertanyaannya, jika kegirangan melihat kotoran sapi itu sama noraknya, mengapa orang desa nyaris tidak pernah membalas mencaci tamu mereka dengan sebutan “kampungan”?

Barangkali, orang desa diam karena mereka pemaaf. Masih memegang teguh unggah-ungguh dan tata krama. 

Namun, sosiolog Pierre Bourdieu punya kacamata lain untuk membaca keluguan ini. Bourdieu, dalam salah satu bukunya, pernah menjelaskan bahwa penindasan yang paling sempurna adalah ketika si korban bahkan tidak sadar bahwa dirinya sedang ditindas. 

Ia menyebut fenomena ini sebagai “kekerasan simbolik”.

Tidak ada kekerasan bersenjata di sini. Senjatanya hanya berupa monopoli standard kelayakan. Karena orang kota memegang penuh kendali atas media, tren, dan definisi “gaul”, mereka berhak mencetak stempel “norak” kepada siapa saja yang gaya hidupnya tidak sesuai dengan standard mereka.

Celakanya, kekerasan simbolik ini bekerja begitu rapi hingga orang desa menelan mentah-mentah label tersebut. Saat diejek kampungan karena FOMO Mie Gacoan, misalnya, orang desa secara tidak sadar mengakui bahwa mereka memang tertinggal. 

Secara struktur sosial, mereka merasa tidak punya otoritas kelas untuk membalas menertawakan kelakuan ajaib orang kota di kampung mereka. Akhirnya, orang desa memilih diam dan tetap memuliakan tamunya, meski tamu tersebut sedang berlaku sangat norak di tanah mereka sendiri.

Artinya, semua orang itu punya sisi norak masing-masing. Hanya saja, ada yang dengan enteng melabelinya ke orang lain, tapi ada juga yang memilih diam. Standard ganda memang sejahat itu.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Seporsi Kekalahan Sarjana di Sleman: Susah Payah Dapat Ijazah S1, Ujung-ujungnya Kerja Setara Lulusan SMA karena Tak Punya Pilihan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version