Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Standard Ganda: Orang Kota Sok Lebih Berkelas, Padahal di Mata Orang Desa Sama Noraknya

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
21 Juli 2026
A A
orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO

Ilustrasi slow living di desa. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Orang kota kerap mengejek kelakuan orang desa. Padahal, kebiasaan mereka saat datang ke desa justru jauh lebih norak, bahkan nirempati.

***

Iklan

Saat momen Lebaran lalu, dua belas anak muda dari pelosok desa saya rela memacu sepeda motor lebih dari dua jam hanya demi makan Mie Gacoan. Saat fenomena ini saya ceritakan ke kawan-kawan di kota, kelakuan mereka segera menjadi bulan-bulanan.

Cap “jamet”, “FOMO”, hingga “norak”, diarahkan kepada anak desa ini.

Kisah mereka pernah saya refleksikan dalam tulisan “Makan Mie Gacoan adalah Kemewahan bagi Anak Muda Desa, Rela Motoran 2 Jam Demi Makanan yang “Menyiksa” Mulut Mereka”.

Di waktu yang lain, saya jadi teringat kisah tetangga yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta buat merantau. Saat di ibu kota, ia tak pernah berhenti mengagumi kemegahan Tugu Monas dan deretan gedung pencakar langit berbalut kaca di kawasan Sudirman. 

Apa yang dia dapatkan? Sekali lagi, julukan “kampungan” dengan enteng disematkan kepadanya oleh kawan-kawannya yang sudah lebih dulu menetap di ibu kota.

Bagi orang kota, kekaguman orang desa pada gedung tinggi atau mi pedas tadi adalah sebuah lelucon yang pantas ditertawakan. Orang kota merasa berhak duduk di atas takhta peradaban dan menunjuk siapa saja yang tertinggal. 

Namun, kalau kita balik situasinya, sebenarnya orang kota itu sama “noraknya” dengan orang desa yang mereka kata-katai itu.

Orang kota norak, kagum dengan kandang sapi

Saya jadi ingat kejadian beberapa tahun lalu, saat saudara-saudara dari kota datang ke desa untuk liburan mudik. Setibadanya di desa, anak-anak balita mereka, yang terbiasa didandani dengan baju jenama berkelas, mendadak tantrum. 

Ya, mereka menangis histeris meminta diajak ke kandang sapi di belakang rumah saya hanya untuk memberi makan ternak. Bau kotoran yang menyengat sama sekali dihiraukan.

Sesuatu yang absurd, bukan?

Bagi anak-anak kota ini, kandang sapi belakang rumah tadi sudah seperti Taman Safari. Mereka dibikin takjub melihat sesuatu yang, bagi anak desa, adalah rutinitas paling banal, kotor, dan membosankan setiap sore.

Kelakuan orang dewasanya, ternyata jauh lebih parah. Momen paling norak terjadi ketika mereka melihat seorang lansia menggendong kayu bakar dan karung pakan ternak yang berat.

Iklan

Orang-orang kota ini buru-buru merogoh saku, mengeluarkan ponsel pintar. Dengan mata berbinar, mereka memotret dan merekam si Mbah dari berbagai sudut. 

Katanya, “buat konten”. “Estetik,” imbuh mereka.

Sementara itu, bisa ditebak, si Mbah yang tiba-tiba dijadikan objek tontonan hanya bisa tersenyum canggung. Merasa sangat risih.

Orang desa memandang orang kota norak, tapi memilih tak ngata-ngatain

Melihat fenomena memuakkan ini, saya jadi teringat dengan salah satu cerita dalam buku sosiolog John Urry. Ia menceritakan bagaimana kaum menengah perkotaan di Inggris pada masa lalu, gemar berwisata ke desa-desa miskin atau bekas kawasan tambang kumuh. 

Kaum borjuis itu tidak melihat kemiskinan yang mencekik, apalagi paru-paru buruh yang rusak akibat debu. Mereka justru menganggap pemandangan orang-orang melarat itu sebagai sesuatu yang “autentik”, “indah”, dan “romantis”.

Dari cerita tersebut, Urry mendeskripsikan apa yang disebut The Tourist Gaze. Yakni sebuah kecenderungan orang kota untuk memandang ruang hidup orang lain semata-mata sebagai objek eksotis demi memuaskan kebosanan mereka dari rutinitas urban.

Barangkali, orang kota yang memotret lansia di desa saya mengidap “penyakit” ini. Ada kecenderungan mereka secara sadar meromantisisasi penderitaan. Kekaguman turis kota pada momen tersebut, bisa jadi, menjadi bentuk kebutaan empati yang disamarkan sebagai “apresiasi”.

Namun, bagi saya pribadi, itu adalah norak dalam bentuk lain. Kalau orang desa dianggap norak hanya karena kagum dengan sesuatu yang jarang mereka lihat (gedung tinggi, mie gacoan), orang kota pun sama. Hanya saja, orang-orang desa tak memiliki tenaga buat ngata-ngatain.

Standard ganda memang sejahat itu

Pertanyaannya, jika kegirangan melihat kotoran sapi itu sama noraknya, mengapa orang desa nyaris tidak pernah membalas mencaci tamu mereka dengan sebutan “kampungan”?

Barangkali, orang desa diam karena mereka pemaaf. Masih memegang teguh unggah-ungguh dan tata krama. 

Namun, sosiolog Pierre Bourdieu punya kacamata lain untuk membaca keluguan ini. Bourdieu, dalam salah satu bukunya, pernah menjelaskan bahwa penindasan yang paling sempurna adalah ketika si korban bahkan tidak sadar bahwa dirinya sedang ditindas. 

Ia menyebut fenomena ini sebagai “kekerasan simbolik”.

Tidak ada kekerasan bersenjata di sini. Senjatanya hanya berupa monopoli standard kelayakan. Karena orang kota memegang penuh kendali atas media, tren, dan definisi “gaul”, mereka berhak mencetak stempel “norak” kepada siapa saja yang gaya hidupnya tidak sesuai dengan standard mereka.

Celakanya, kekerasan simbolik ini bekerja begitu rapi hingga orang desa menelan mentah-mentah label tersebut. Saat diejek kampungan karena FOMO Mie Gacoan, misalnya, orang desa secara tidak sadar mengakui bahwa mereka memang tertinggal. 

Secara struktur sosial, mereka merasa tidak punya otoritas kelas untuk membalas menertawakan kelakuan ajaib orang kota di kampung mereka. Akhirnya, orang desa memilih diam dan tetap memuliakan tamunya, meski tamu tersebut sedang berlaku sangat norak di tanah mereka sendiri.

Artinya, semua orang itu punya sisi norak masing-masing. Hanya saja, ada yang dengan enteng melabelinya ke orang lain, tapi ada juga yang memilih diam. Standard ganda memang sejahat itu.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Seporsi Kekalahan Sarjana di Sleman: Susah Payah Dapat Ijazah S1, Ujung-ujungnya Kerja Setara Lulusan SMA karena Tak Punya Pilihan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 21 Juli 2026 oleh

Tags: kampungankekerasan simbolikKesenjangan sosial desa kotamasyarakat desa vs kotanorakorang desaorang kotaOrang kota norakstandard gandaStandard ganda kelas menengah
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Derita Orang Rembang, Makan Mie Gacoan Harus ke Tuban MOJOK.CO
Catatan

Makan Mie Gacoan adalah Kemewahan bagi Anak Muda Desa, Rela Motoran 2 Jam Demi Makanan yang “Menyiksa” Mulut Mereka

14 Juli 2026
logika ekonomi orang desa.MOJOK.CO
Sehari-hari

Logika Ekonomi Orang Desa yang Bisa Menyelamatkan Anak Muda dari Masalah Finansial, Tapi Kerap Terlupakan

20 Mei 2026
Sewa iPhone biar dianggap keren daripada pengguna Android
Catatan

iPhone XR, Bikin Menderita Orang Kota tapi Jadi Standard “Keren” Pemuda di Desa: Rela Gadaikan Barang demi Penuhi Gengsi

17 April 2026
disertasi rieke diah pitaloka mojok.co
Kotak Suara

Yuk, Intip Isi Disertasi Rieke Diah Pitaloka: Kekerasan Negara Hadir Lewat Pendataan

9 Februari 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO

Standard Ganda: Orang Kota Sok Lebih Berkelas, Padahal di Mata Orang Desa Sama Noraknya

21 Juli 2026
Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia MOJOK.CO

Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia

15 Juli 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026
Anak miskin di Yogyakarta masuk Sekolah Rakyat. MOJOK.CO

Saat Kemiskinan Memaksa Anak Lebih Dewasa sebelum Waktunya, Sekolah Rakyat Jadi Pilihan Satu-satunya

20 Juli 2026
Beli Saham karena Finfluencer, Rugi Ditanggung Sendiri? MOJOK.CO

Beli Saham karena Finfluencer, Rugi Ditanggung Sendiri?

20 Juli 2026
Pemuda lulusan SMK tidak menyerah mencari kerja dengan modal ijazah SMK demi orang tua MOJOK.CO

Modal Ijazah SMK dan Pengalaman Tak Nyerah Cari Kerja demi Orang Tua, Meski Sering Terima “Penolakan” karena Fisik

21 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.