Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Mudik Lebaran Jadi Ajang Sepupu Minta Kerjaan, tapi Sadar Tak Semua Orang Layak Ditolong

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
10 Maret 2026
A A
lowongan kerja, kerja di kota, lebaran.MOJOK.CO

Ilustrasi - Kerja di kota (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Banyak orang terpaksa mengajak sepupu atau tetangga kerja di kota. Biasanya, momen itu terjadi saat lebaran tiba. Sialnya, niat baik itu malah kerap jadi bumerang. Seseorang harus menanggung malu bahkan kehilangan kepercayaan di tempat kerja, gara-gara salah “bawa” orang.

***

Setiap kali momen mudik Lebaran tiba, terutama saat masuk hari kedua atau ketiga, coba buka media sosial seperti X atau Threads. Isinya bisa ditebak. Linimasa pasti penuh dengan keluhan para perantau yang baru saja “disidang” oleh keluarga besarnya di kampung.

Topik sidangnya bukan lagi sekadar pertanyaan lawas seperti “kapan nikah?” atau “kapan lulus?”. Ada satu pertanyaan horor yang kini selalu berulang tiap tahun: “Di kantormu ada lowongan, nggak? Tolong bawa sepupumu ini ke kota dong, biar ikut sukses.”

Bagi orang di kampung, ada sebuah pemahaman umum yang diam-diam disepakati bersama. Mereka mengira kalau kita sudah merantau ke kota besar, pulang pakai baju yang rapi, bawa oleh-oleh lumayan banyak, atau menyetir mobil (padahal hasil sewa), kita ini otomatis jadi orang penting di kantor. Kita dianggap punya wewenang sekelas HRD atau bos besar yang bisa memasukkan orang bekerja lewat “jalur orang dalam”.

Padahal, realitasnya sungguh jauh dari itu. Di kantor, kita ini kebanyakan cuma karyawan biasa. Staf yang kalau tanggal tua juga masih rajin makan mie instan. Jangankan membawa orang lain masuk kerja, buat mempertahankan posisi sendiri saja kadang kita harus banting tulang.

Masalahnya, saat kita dihadapkan pada situasi ini di ruang tamu rumah, di depan sepupu, paman, atau bibi, kita langsung terjebak dalam dilema yang tidak menyenangkan. Kalau ditolak mentah-mentah, kita pasti dicap sombong atau pelit. Tapi kalau disanggupi, ya kita ini siapa di kantor?

“Ajarin kerja freelance, dong!”

Saya pribadi pernah merasakan posisi canggung ini. Kejadiannya pada Lebaran tahun 2022 lalu. Waktu itu saya belum bekerja penuh waktu di kantor, melainkan masih kerja lepasan alias freelance. 

Saya sering menggarap beberapa proyek tulisan dan riset secara mandiri. Keuntungannya, jam kerja saya sangat fleksibel. Saya bisa bekerja dari kamar kos atau kafe, dan bahkan beberapa kali kerja di ruang keluarga saat mudik.

Gaya kerja ini ternyata diperhatikan oleh sepupu dan beberapa tetangga saya. Mereka melihat saya santai, cuma duduk di depan laptop, sesekali ngopi, tapi tetap punya penghasilan. Karena kepincut, mulailah mereka mendekat.

“Ajarin kerja freelance dong. Biar bisa santai kayak kamu,” kata salah satu sepupu saya waktu itu.

Mendengar itu, saya cuma bisa tersenyum kecut. Mereka tidak paham apa itu kerja lepasan. Di kepala mereka, freelance itu adalah nama sebuah pekerjaan nyata yang ada wujud pabrik atau kantornya, bukan sekadar metode atau cara kita bekerja.

Saya harus pelan-pelan menjelaskan bahwa saya tidak punya perusahaan yang bisa menerima mereka bekerja. Saya tidak punya kekuasaan untuk membagikan proyek yang saya kerjakan. Tentu saja, penjelasan panjang lebar saya hanya dibalas dengan tatapan bingung dan sedikit raut kecewa. Di mata mereka, saya mungkin dianggap banyak alasan karena tidak mau berbagi rezeki.

Gegara gembar-gembor ibu, jadi kena getahnya

Namun, pengalaman saya itu belum ada apa-apanya dibandingkan cerita kawan saya, Rofi (27). Kejadian ekstrem ini ia alami pada Lebaran tahun 2025 lalu. Rofi adalah seorang staf operasional biasa di sebuah perusahaan di Jakarta.

Iklan

Petaka Rofi bermula dari ibunya sendiri. Seperti kebanyakan ibu yang bangga melihat anaknya merantau, ibu Rofi sering memuji-muji anaknya di depan tetangga dan keluarga besar. 

Sang ibu sering gembar-gembor kalau Rofi di kota kerjanya enak, ruangannya pakai AC, gajinya besar, dan puncaknya, sang ibu sesumbar: “Kalau butuh kerjaan, minta tolong ke anak saya aja di Jakarta.”

Kalimat terakhir itulah yang jadi bom waktu. Saat Lebaran tiba, rumah Rofi berubah jadi “job fair”. Banyak sepupu yang menagih omongan ibunya dan minta diajak merantau ke Jakarta.

“Gila aja, mulai yang baru lulus SMP sampai yang lama nganggur, minta kerjaan semua,” ujarnya kepada Mojok, Senin (9/3/2026).

Rofi benar-benar terjepit. Kalau dia menolak, dia tidak hanya dibilang sombong, tapi juga akan membuat ibunya malu besar karena “ketahuan” melebih-lebihkan cerita. Tapi kalau dia mengiyakan, itu hanya janji kosong belaka karena dia sadar posisinya di kantor tidak memungkinkan untuk merekrut orang.

Akhirnya, Rofi mengambil jalan tengah yang sering dipilih oleh orang yang “nggak enakan”. Ia tersenyum dan menjawab, “Wah, kalau sekarang belum bisa bawa kalian ke Jakarta. Tapi nanti ya, kalau ada lowongan, pasti saya kabari.”

Bawa orang kerja ke kota malah berujung petaka

Rofi berharap janji itu akan dilupakan seiring berjalannya waktu. Sayangnya, takdir berkata lain. Hanya dua minggu setelah Lebaran usai, seorang teman Rofi kebetulan sedang mencari Office Boy (OB) untuk kantornya. Syaratnya sangat mudah. Tidak butuh ijazah tinggi, tidak butuh keahlian khusus, yang penting jujur dan mau bekerja keras.

Mendengar kabar itu, Rofi teringat pada janji Lebarannya. Karena merasa punya utang omongan, dan merasa syarat OB itu cocok untuk sepupunya di kampung, Rofi pun merekomendasikan sepupunya itu kepada temannya. Sang sepupu dipanggil ke Jakarta. Gayung pun bersambut, sepupunya langsung diterima bekerja.

“Wah, itu gembar-gembar ibu makin-makin aja,” jelasnya.

Di minggu-minggu pertama, semua tampak baik-baik saja. Rofi merasa lega karena sudah menunaikan janjinya dan menyelamatkan muka sang ibu. Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama.

Belum genap satu bulan sepupunya bekerja, teman Rofi menelepon dengan nada marah sekaligus kecewa. Ada kasus besar di kantornya. Sepupu Rofi terekam kamera CCTV sedang mencuri barang dan sejumlah uang tunai di kantor.

Setelah diusut lebih jauh, ternyata selama di kota, sang sepupu punya kebiasaan buruk yang tidak pernah diketahui keluarga di kampung: dia kecanduan judi online. Uang hasil curiannya ternyata dipakai untuk menutupi utang dan modal berjudi.

Reputasi hancur karena “nggak enakan”

Kejadian itu membuat Rofi hancur lebur. Temannya memang pada akhirnya tidak memperpanjang masalah ke polisi dan hanya memecat sepupunya. Temannya itu juga bilang bahwa ini sudah jadi risiko menerima karyawan, dan tidak menyalahkan Rofi sepenuhnya.

Namun, tetap saja, bagi Rofi, trauma itu membekas sangat dalam. Rasa tidak enaknya berubah menjadi rasa malu yang luar biasa. Bagaimana tidak? Dia yang merekomendasikan, dia yang menjamin, tapi orang yang dibawa malah bikin masalah kriminal. 

Di mata teman sekantornya, nama baik Rofi pasti ikut tercoreng. Sindiran batin seperti, “Bisa-bisanya kamu ngajak orang yang kelakuannya begini,” terngiang-ngiang di kepalanya.

Dari pengalamannya tersebut, Rofi memetik satu pelajaran penting, tapi sering diabaikan banyak orang: “Tidak semua keluarga atau kerabat layak untuk kita tolong, apalagi untuk urusan pekerjaan profesional.”

“Jadi, untuk Lebaran nanti, nggak perlu lagi merasa bersalah saat menolak permintaan sepupu yang ngode ingin ikut ke kota. Menjadi orang yang serba ‘nggak enakan’ dalam urusan pekerjaan itu sangat berbahaya,” jelasnya.

Rofi bahkan punya prinsip, lebih baik dicap pelit dan sombong oleh keluarga di kampung karena tidak mau berbagi lowongan, daripada kita harus menanggung malu, kehilangan kepercayaan di tempat kerja, dan mempertaruhkan reputasi yang sudah kita bangun susah payah. Toh, di akhir hari, yang membayar tagihan hidup kita di kota adalah keringat kita sendiri, bukan validasi dari keluarga besar saat sungkeman.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: “Bohong” ke Keluarga Saat Mudik Lebaran: Rela Habiskan Uang Berjuta-juta agar Dicap Sukses padahal Cuma Karjimut di Jogja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 10 Maret 2026 oleh

Tags: freelancekerjakerja di kotaLebaranmerantaumerantau ke kotaMudikorang tuapilihan redaksisepupuTetangga
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Kuliner Sunda yang tidak ada di Jogja, seblak buat perantau ingin mudik Lebaran
Kuliner

Alasan Orang Sunda Ingin Mudik Bukan Hanya Keluarga, tapi Tak Tahan Siksaan Makanan Jogja yang Rasanya “Hambar”

10 Maret 2026
Rasa Sanga (5): Docang, “Makanan Orang Susah” yang Lekat dengan Ajaran Rendah Hati Sunan Gunung Jati di Cirebon.,MOJOK.CO
Lipsus

Rasa Sanga (5): Docang, “Makanan Orang Susah” yang Lekat dengan Ajaran Rendah Hati Sunan Gunung Jati

9 Maret 2026
Jogja macet saat mudik Lebaran
Urban

Sebagai Warlok, Saya Tidak Sedih karena Tak Bisa Mudik tapi Jengkel Satu Indonesia Pindah ke Jogja

9 Maret 2026
Membenci tradisi tukar uang alias penukaran uang baru menjelang lebaran untuk bagi-bagi THR MOJOK.CO
Sehari-hari

Tak Ikut Tukar Uang Baru buat THR ke Saudara karena Tradisi Toxic: Pilih Jadi Pelit, Dibacotin tapi Bahagia karena Aman Finansial

9 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jogja macet saat mudik Lebaran

Sebagai Warlok, Saya Tidak Sedih karena Tak Bisa Mudik tapi Jengkel Satu Indonesia Pindah ke Jogja

9 Maret 2026
SPBU Diserbu Jadi Bukti Buruknya Komunikasi Pemerintah MOJOK.CO

SPBU Diserbu: Isu Stok BBM 20 Hari Bikin Panik Menjadi Wujud Buruknya Komunikasi Pemerintah dan Publik Sulit untuk Percaya

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Anak Akuntansi UGM burnout. MOJOK.CO

Bela-belain Kuliah di UGM Sampai Kena Mental demi Bahagiakan Ayah Ibu yang Hanya Lulusan SD hingga Jadi Wisudawan Terbaik

6 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026
lolos snbp, biaya kuliah ptn.MOJOK.CO

Senyum Palsu Anak Pertama Saat Adik Lolos PTN Impiannya, Pura-Pura Bahagia Meski Aslinya Penuh Derita dan Pusing Mikir Biaya

10 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.