Saat kecil saya hampir tidak pernah absen menonton serial anime Jepang Doraemon di stasiun televisi RCTI. Saban Minggu pagi, saya bakal langsung bangun, lalu duduk di depan televisi sembari menanti OST “Doraemon no Uta”. Lagu pembuka versi Indonesia yang sepenggal liriknya berbunyi, “Aku ingin begini, aku ingin begitu, ingin ini itu banyak sekali~”.
Lagu itu terasa candu. Bahkan, saat OST “Doraemon no Uta” diganti dengan “Doraemon Ekaki Uta” versi Indonesia, saya pernah merasa kecewa hingga kembali terbiasa. Sebab selain mudah dihafal, liriknya juga menggambarkan impian tanpa batas yang dimiliki seorang anak.
Setidaknya, lagu itu bikin saya tak kesepian di rumah. Sebab di hari Minggu, orang tua saya masih bekerja dari pagi. Sementara teman-teman di sekitar rumah saya sibuk pergi liburan dengan keluarga mereka masing-masing. Alhasil, tersisa saya sendiri tanpa agenda selain menonton televisi.

Sayangnya, serial animasi karya Fujiko F. Fujio dari Jepang ini resmi berhenti tayang di RCTI terhitung sejak 29 Desember 2025. Meski RCTI belum mengeluarkan pernyataan resmi, tapi tanda-tandanya sudah terlihat dari jadwal siaran mereka, yang tidak mencantumkan serial Doraemon lagi dalam daftarnya.
Sontak, kabar ini menjadi perbincangan hangat di media sosial. Banyak warganet yang kecewa dan mengenang cerita masa kecilnya. Begitu pula saya yang nostalgia dengan persahabatan antara Nobita dan Doraemon–robot kucing berwarna biru yang selalu sebal jika disebut rakun.
Penderitaan Doraemon dan Nobita
Tumbuh bersama dengan serial Doraemon membuat saya lebih berempati, berani bermimpi, dan rajin belajar (agar tidak dimarahi ibu hehe). Bayangkan, saya saja kesal saat melihat karakter Nobita yang suka bermalas-malasan dan selalu bergantung pada Doraemon, apalagi ibu Nobita.
Di sisi lain, saya juga merasa kasihan saat Nobita dimarahi ibunya atau di-bully oleh Giant dan Suneo. Beruntung, Nobita masih punya teman seperti Shizuka, terutama Doraemon yang selalu membantunya tiap waktu.
Kehadiran Doraemon bagai aji mumpung, sebab ia selalu membantu Nobita dengan alat-alat ajaibnya dari masa depan. Meski begitu, Doraemon sesungguhnya tak lebih menderita.

Doraemon merupakan produk robot gagal yang dilelang kepada keluarga miskin dan terlilit utang. Keluarga itu tak lain adalah keluarga Nobita Nobi di masa depan. Sebelum dijual, ia pernah menjadi penjaga bayi setelah gagal tes di Akademi Robot.
Telinganya pun hancur akibat gigitan dari robot tikus, sehingga menyebabkan dirinya sering dikira rakun ketimbang kucing. Setelah dibeli keluarga Nobita, Doraemon dikirim kembali ke masa lalu (sekitar 250 tahun lalu) untuk memperbaiki kehidupan mereka.
Cerita antara Doraemon dan Nobita pun terus berkembang. Tak hanya memberikan pesan moral seputar persahabatan tapi juga memasukkan nilai-nilai positif lain yang berdampak bagi kehidupan.
Dalam jurnal ilmiah berjudul “Makna Kehidupan dalam Film Kartun Doraemon”, Fujiko F. Fujio selaku pengarang juga memasukkan nilai-nilai seperti integritas, keberanian, kekeluargaan, kehormatan, ketekunan, perlindungan lingkungan berunsur sejarah.
Saya ingat betul serial petualangan berjudul “Doraemon: Nobita dan Dinosaurus” yang mengingatkan saya dengan hewan peliharaan saya yang meninggal saat kecil. Tak pelak, kisah tersebut jadi salah satu film yang sukses membuat saya menangis di ending.
“Phi…” ujar bayi Futabasaurus yang tak ingin ditinggalkan Nobita saat dewasa.
“Pisuke, selamat tinggal,” teriak Nobita bersama teman-temannya di atas mesin waktu.
Kisah menyentuh yang dirindukan penonton

Barangkali, kisah menyentuh itu pula yang menjadikan beberapa penggemar kecewa saat serial Doraemon berhenti tayang di RCTI, dan sekaligus membuat film animasi seperti “Jumbo” ikut meledak di bioskop.
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Novin Farid Setyo Wibowo menyebut salah satu alasan “Jumbo” viral karena kerinduan penonton terhadap film animasi berkualitas dan sudah lama dinanti.
“Alur cerita ‘Jumbo’ terlihat sederhana dengan latar belakang yang kelam, karena tidak memiliki orang tua terasa berat untuk sebagian penonton anak,” kata Novin dikutip dari laman resmi UMM, Rabu (7/1/2026).
Nyatanya, alur cerita menyentuh yang berisi pesan moral tersebut justru mendapat respons positif dari masyarakat. Begitu pula dengan animasi Upin & Ipin, Nussa, hingga Adit Sopo Jarwo.
Barangkali, itu juga alasan Doraemon disukai oleh penonton di Indonesia. Apalagi, Nobita and friends sudah menemani mereka selama kurang lebih 35 tahun di RCTI. Meski serial Doraemon berakhir tayang di RCTI, penggemar masih bisa menantikan kisahnya di stasiun TV lain. Hal itu diungkapkan oleh pengisi suara Suneo.
Penggemar juga bisa menonton film “Stand by Me”. Bahkan di Jepang, kisah “Stand by Me 3” bakal dirilis pada April 2026 mendatang. Ceritanya berfokus pada Dorami–robot kucing berwarna kuning yang merupakan adik dari Doraemon.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Film Jumbo Bukan Animasi Biasa, Tapi Realitas Sosial Anak-anak Indonesia yang Tumbuh Tanpa Kasih Sayang Orangtua atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














