Dilema Hadiri Nikahan Rekan Kerja di Jakarta, Gaji Tak Seberapa tapi Gengsi kalau Isi Amplop Sekadarnya

Ilustrasi - Amplop nikah (Mojok.co/Ega Fansuri)

Hidup tidak berhenti setelah lulus kuliah adalah benar. Banyak hal baru diketahui setelah menyandang gelar sarjana, atau menjadi fresh graduate. Salah satunya, persoalan memberi amplop. Bayangkan saja, misal, baru bekerja dengan gaji UMP Jakarta, tapi sudah diundang oleh beberapa rekan ke pernikahan, bagaimana tidak kebingungan?

Pertama kali bekerja, bingung dapat dua undangan pernikahan di Jakarta

Circa 2024, saya menerima dua undangan pernikahan dalam waktu berdekatan. Tidak terlalu dekat, tetapi selang beberapa bulan dua undangan ini diterima melalui WhatsApp.

Saat itu juga, obrolan WhatsApp saya dipenuhi dengan pertanyaan—yang saya ajukan sendiri—kepada beberapa teman. Isi pertanyaannya berbunyi, “Berapa amplop pernikahan di Jakarta yang layak?”

Dalam bayangan saya, di kota dengan biaya hidup yang tinggi, nominal amplop pernikahannya pasti tidak sama dengan kota lainnya. Angka yang dianggap sudah cukup besar, bisa jadi masih tidak seberapa di Jakarta.

Bagaimana tidak, data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat biaya hidup di Jakarta pada 2022 mencapai Rp14,88 juta per bulan. Hingga hari ini, Upah Minimum Provinsi (UMP) Jakarta sebesar Rp5,73 juta saja belum mampu mencapainya. Padahal, besaran gaji ini tertinggi di Indonesia. 

Upah Minimum Provinsi di Indonesia
Upah Minimum Provinsi di Indonesia (Sumber: databooks)

Ketiga teman yang ditanyai memberikan jawaban serupa, menunjukkan standar amplop pernikahan yang sama. Mereka bilang, standar amplop bisa dimulai dari Rp100 ribu hingga Rp150 ribu untuk fresh graduate, ditentukan berdasarkan kedekatan dengan rekan kerja.

Dua dari tiga juga menambahkan catatan, mengingat gaji fresh graduate yang masih tak seberapa, nominal Rp50 ribu masih terbilang pantas untuk diberikan pada amplop pernikahan. 

Perkiraan biaya pantas untuk “amplop” pernikahan di Jakarta

Namun permasalahannya, amplop untuk pernikahan di Jakarta tidak lagi diberikan secara tunai atau cash. Amplop pernikahan di Jakarta diberikan dengan cara transfer langsung ke nomor rekening penganting, yang disertakan pada undangan pernikahan. Artinya, pengantin memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk langsung tahu besaran uang yang diberikan dalam amplop tersebut.

Sebab, nominal yang dikirimkan akan langsung tertera pada informasi uang yang diterima di rekening.

Maka, beberapa pertimbangan yang mendasari amplop pernikahan di Jakarta ini setidaknya meliputi beberapa faktor. Dimulai dari hubungan dengan pengantin, seperti yang dikatakan oleh teman-teman yang lebih dulu akrab dengan budaya amplop di pernikahan di Jakarta. Semakin dekat dengan mempelai, nominal amplop semakin besar.

Estimasi amplop kondangan berdasarkan kedekatan (Sumber: Hello Brides Wedding Organizer, diolah: Shofiatunnisa Azizah/Mojok.co)

Selain itu, pertimbangan nominal juga menyangkut lokasi dan skala acara, hadir atau tidaknya, jumlah tamu yang hadir, serta kemampuan finansial. Pertimbangan terakhir memiliki porsi paling besar sebab dapat dibayangkan, dengan gaji pas-pasan, bagaimana mungkin memberikan amplop pernikahan sebesar Rp1,5 juta kepada atasan?

Padahal, gaji atasan sudah berkali-kali lipat lebih besar.

Menyesuaikan besaran amplop dengan kemampuan sebagai “karjimut”

Aish (25) juga memiliki pengalaman serupa. Ia bekerja di Jakarta untuk pertama kali dengan status fresh graduate, tetapi langsung mendapatkan beberapa undangan untuk menghadiri kondangan sekaligus.

Perempuan ini mengaku, mengalami kebingungan saat memutuskan untuk memberikan amplop pada acara tersebut. Dengan gaji pas-pasan yang hanya senilai upah minimum Jakarta saat itu, belum tentu cukup untuk hidup sehari-hari, tetapi ada keinginan untuk memberikan amplop pernikahan dalam nominal besar.

Namun kemudian, Aish menyadari bahwa ia tidak bisa melakukan itu sebagai karyawan bergaji imut “karjimut” yang masih harus menyisihkan sebagian besar uang untuk bertahan hidup di Jakarta. Ia selanjutnya mencoba mengabaikan keinginan ngamplop dengan nilai besar, lalu menimbang nominal berdasarkan kedekatan dengan sang mempelai yang disadarinya hanya sebatas teman saja.

“Karena teman aja, aku amplop Rp50 ribu,” kata dia kepada Mojok, Jumat (24/4/2026).

Aish bercerita, bahkan setelah memberi, ia sempat risau kalau nominal yang dikirimkan dianggap sepele. Akan tetapi, ia bilang, bagi sebagian orang, nominal yang dikirimkan tidak terlalu dianggap berarti. Justru, kehadiran, termasuk melalui amplop yang diberikan.

“Buat orang-orang itu malah bukan uangnya yang penting, tapi kehadiran kitanya,” kata dia.

Karena kesadaran itu, Aish belajar dari pengalamannya sebagai fresh graduate untuk tidak ambil pusing perihal nominal amplop di nikahan. Ia memang menimbang berdasarkan beberapa faktor, seperti kedekatan dan kehadiran.

Namun utamanya, Aish mengatakan, tetap memprioritaskan kemampuannya dalam memberikan amplop di pernikahan. Pasalnya, akan sulit ketika ingin memberi banyak, tetapi tidak sadar dengan kemampuan diri sendiri.

“Aku sekarang bisa bagi karena banyak dapat undangan. Mana yang kuberi berapa, aku hadiri, karena kan kalau nggak ya gimana,” kata dia.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Soft Living, Gaya Hidup Gen Z yang Memilih Menyerah tapi Tenang ketimbang Mengejar Mimpi “Besar” Tak Pasti dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version